Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Arsip
"Jika kita tertangkap di sini, tidak akan ada jalan keluar, Elara," bisik Zian.
Elara menoleh sedikit, matanya bertemu dengan mata abu-abu Zian yang tajam dalam keremangan cahaya merah. "Aku tahu. Tapi bukankah kau bilang kau butuh seseorang yang bisa menembak kepalamu? Jika kita tertangkap, aku akan memastikan kau tidak akan pernah diinterogasi oleh Gedeon."
Zian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini terasa familiar bagi Elara. "Selalu optimis, Mayor."
Lift berhenti dengan dentingan halus. Pintu terbuka ke sebuah koridor panjang yang dijaga oleh dua orang penjaga bersenjata lengkap. Sebelum para penjaga itu sempat mengangkat senjata mereka, Zian dan Elara bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna.
Zian menerjang ke depan, menjatuhkan penjaga pertama dengan hantaman popor senjata ke rahangnya. Sementara itu, Elara melakukan tendangan putar yang mengenai leher penjaga kedua, lalu menguncinya dalam sleeper hold hingga pria itu jatuh pingsan. Semuanya terjadi dalam kurang dari lima detik. Tanpa satu pun tembakan dilepaskan.
Mereka mencapai pintu ruang arsip digital. Elara memasukkan kode akses yang ia curi dari memori Jenderal Marek.
"Selamat datang, Jenderal Marek," suara komputer yang datar menyambut mereka.
Pintu terbuka, memperlihatkan deretan server hitam yang menyimpan semua dosa negara ini. Zian segera memasang perangkat penyalin data (data skimmer) ke server utama.
"Mencari file 'Operation Iron Hammer'..." gumam Zian.
Bar progres di layar mulai bergerak. 10%... 20%...
"Cepat, Zian. Keamanan pasti sudah mendeteksi gangguan di lantai ini," desak Elara sambil memantau layar CCTV melalui tabletnya. Di layar, terlihat satu peleton pasukan taktis sedang menaiki tangga darurat.
"Sedikit lagi..."
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah pintu.
Zian dan Elara seketika berbalik dengan senjata terhunus. Di ambang pintu, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan rambut kelabu yang disisir klimis. Bukan Gedeon, melainkan Kolonel Tristan—mantan tunangan Elara dan saingan terberat Zian di militer.
"Luar biasa, Elara. Selalu punya cara untuk masuk ke tempat yang paling dilarang," ujar Tristan dengan nada menghina. Di belakangnya, selusin moncong senapan mesin mengarah tepat ke dada Zian dan Elara.
Elara membeku. "Tristan? Kau bekerja untuk Gedeon sekarang?"
"Gedeon adalah masa depan, sayangku. Sementara kau... kau hanyalah tentara seksi yang tersesat di antara pria-pria yang bermain api," Tristan melangkah masuk, matanya menatap Zian dengan kebencian murni. "Arkana. Akhirnya aku punya alasan resmi untuk melubangi kepalamu."
Zian tidak menurunkan senjatanya. "Kau selalu banyak bicara, Tristan. Itulah sebabnya kau tidak pernah dipromosikan ke Phoenix."
"Tutup mulutmu!" bentak Tristan. "Serahkan alat penyalin data itu, atau aku akan memerintahkan mereka untuk menembak Elara terlebih dahulu. Aku ingin kau melihatnya mati sebelum giliranmu."
Elara melirik bar progres di layar server. 95%... 98%...
"Tristan, kau tidak tahu apa yang kau bela," kata Elara, mencoba mengulur waktu. "Gedeon menjual negara ini. Dia membiayai musuh kita!"
"Aku tidak peduli pada moralitas, Elara! Aku peduli pada kekuasaan!" Tristan memberi aba-aba pada anak buahnya untuk bersiap menembak.
Ping!
Suara halus dari server menandakan penyalinan data selesai.
Zian beraksi. Dia tidak menembak ke arah Tristan, melainkan menembak ke arah pipa pemadam kebakaran di langit-langit. Air bertekanan tinggi menyembur keluar bersamaan dengan gas kimia pemadam api yang tebal, menciptakan tabir putih yang membutakan seluruh ruangan.
"Sekarang!" teriak Zian.
Di tengah kekacauan, Elara menerjang Tristan. Dia menghantamkan sikutnya ke hidung Tristan dan merebut alat penyalin data dari server. Zian melepaskan rentetan tembakan penutup sambil menarik Elara menuju jendela kaca besar di ujung ruangan.
"Zian! Itu lantai sepuluh!" teriak Elara saat melihat Zian mengeluarkan tali rappel darurat dari sabuknya.
"Lebih baik jatuh daripada membusuk di penjara Tristan! Lompat!"
Mereka menghantam kaca hingga pecah berantakan dan terjun ke kegelapan malam, berayun di antara gedung-gedung tinggi pusat kota sementara peluru-peluru Tristan menghujani udara di atas mereka.
Saat mereka mendarat di atap sebuah gedung yang lebih rendah, Elara terengah-engah, jantungnya berpacu gila-gilaan. Dia menatap alat penyalin di tangannya.
"Kita mendapatkannya," bisik Elara.
Zian berdiri di depannya, wajahnya berdarah karena serpihan kaca, namun matanya bersinar dengan kemenangan. Dia mendekati Elara, mengambil alat itu, lalu tiba-tiba menarik Elara ke dalam pelukannya. Bukan pelukan rekan kerja, tapi pelukan yang penuh dengan rasa syukur karena masih hidup.
"Kau luar biasa, Elara," bisik Zian di telinganya.
Elara membalas pelukan itu, merasakan detak jantung Zian yang sama kencangnya dengan miliknya. Di tengah kepungan musuh dan pengkhianatan, mereka baru saja melakukan hal yang mustahil. Tapi Elara tahu, Tristan tidak akan berhenti. Dan Gedeon akan mengerahkan seluruh kekuatan militer untuk merebut kembali data ini.
"Ini baru permulaan, bukan?" tanya Elara.
Zian melepaskan pelukannya dan menatap cakrawala kota yang mulai diterangi lampu-lampu generator darurat. "Ya. Sekarang, kita bukan lagi buronan. Kita adalah bukti."
*
Angin malam menusuk kulit saat Elara dan Zian berayun di kabel baja, meluncur turun dari ketinggian lantai sepuluh gedung PIN. Di bawah mereka, aspal jalanan pusat kota tampak berkilau akibat gerimis tipis. Begitu kaki mereka menyentuh atap gedung parkir yang lebih rendah, suara raungan mesin motor sport terdengar memecah kesunyian.
"Tristan tidak akan membiarkan kita bernapas, Zian!" teriak Elara sambil mencabut pistol cadangan dari pergelangan kakinya.
Dua lampu depan motor sport muncul dari arah landasan helikopter gedung sebelah. Mereka adalah pengendara elit Black-Ops, menggunakan motor yang dimodifikasi untuk kecepatan dan pertempuran urban. Mereka melompat dari gedung ke gedung menggunakan tanjakan darurat yang tampaknya sudah disiapkan untuk mengantisipasi pelarian ini.
"Ambil motor itu!" Zian menunjuk ke arah sebuah Ducati hitam yang terparkir di pojok atap.
Zian menyambar kunci motor dengan tendangan ke arah pemilik gedung parkir yang ketakutan, sementara Elara melompat ke kursi belakang. Sebelum mesin sempat panas, Zian sudah memacu gas hingga maksimal. Ban motor itu berdecit, meninggalkan jejak karet hitam saat mereka meluncur turun melalui ram spiral gedung parkir.
"Pegangan yang erat, Mayor!"
Zian membawa motor itu melompati palang pintu parkir dan masuk ke arus lalu lintas kota. Di belakang mereka, tiga motor Black-Ops mengejar dengan lincah, menembakkan senapan mesin ringan dari balik kemudi.
Ta...ta...ta...ta...ta!
Peluru-peluru menghantam mobil-mobil warga sipil di sekitar mereka. Elara memutar tubuhnya ke belakang, berpegangan pada pinggang Zian dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengarahkan Glock ke arah pengejar paling depan.
"Jangan tembak pengendaranya, Elara! Tembak garpu depannya!" instruksi Zian di tengah desingan angin.