Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Yang Cemburu
*****
" Amel." Panggil Ariana saat di Marvin berdiri di depan pintu rumah nya.
Amelia yang tengah belajar di kamar nya langsung berlari sewaktu suara sang kakak memanggil nya.
CEKLEK
" Lama banget. Lagi ngapain sih?" Dumel Ariana.
Belum sempat Amelia menjawab, Marvin sudah lebih dulu menyapa Amelia.
" Hai Amel..." Sapa Marvin.
" Kak Marvin? Ih udah lama banget nggak main ke rumah. Kirain udah nggak kerja bareng kak Ari lagi." Balas Amelia terlihat begitu akrab dengan Marvin.
" Sengaja kakak jarang main ke sini. Biar kamu kangen dulu." Goda Marvin mencibir Amelia.
" Biar di bilang apa coba?"
" Biar di bilang kangen saja. Oh ya..."
Marvin pun mengeluarkan bungkusan yang sejak tadi dia sembunyikan di belakang nya.
" Nih... kak Marvin bawain rolling chese kesukaan nya kamu. Plis ekstra toping." Ujar Marvin menyodorkan bungkusan itu pada Amelia.
Amelia terlihat sangat sumringah menerima bungkusan itu dan membawa nya masuk ke dalam rumah.
" Tuh anak kebiasaan. Belum bilang terima kasih malah main di bawa masuk saja." Gumam Ariana menggeleng.
" Nggak papa, Ari. Kan saya beli nya memang untuk dia."
" Terima kasih, Pak."
" Baiklah. Kalau begitu saya langsung pulang dulu ya. Lain kali saya akan mampir lebih lama lagi." Pamit Marvin.
Tak lama saat mobil Marvin memghilang, Ariana pun masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu nya dengan rapat.
*
*
*
Tok
Tok
Tok
" Siapa tuh? Kak Marvin?" Tanya Amelia heran saat mendengar seseorang mengetuk pintu rumah nya.
" Kamu sih belum bilang terima kasih sama kak Rocky. Bukain gih... kakak mau mandi. Udah gerah." Kata Ariana.
Amelia setengah berlari membukakan pintu dan langsung melotot saat melihat seseorang yang begitu dia rindukan berdiri di hadapan nya.
" Kak Rocky?" Pekik Amelia kaget.
Ariana yang hampir mendekati kamar nya berhenti sejenak saat mendengar Amelia menyebut nama Rocky. Dia bergegas meletakkan tas nya dan menyusul ke depan.
" Kak Rocky apa kabar? Amel nyariin tau nggak. Terakhir ketemu kak Rocky nggak bilang kalau mau pergi ke luar negeri." Ujar Amelia di dalam pelukan Rocky.
" Maaf. Kak Rocky nggak bilang karena takut Amelia marah. Lagian sekarang kak Rocky kan sudah di sini."
Sejak berpacaran dengan Ariana, Rocky sangat dekat dengan Amelia. Bahkan Rocky sudah menganggap Amelia seperti adik nya sendiri. Dan Rocky juga yang . Amelia sampai bisa masuk universitas kedokteran.
" Mumpung kak Rocky di sini, ayo masuk. Amel ada rolling chesee di dalam. Makan rame - rame pasti seru." Ajak Amelia menarik tangan Rocky masuk ke dalam rumah nya.
Ariana yang berdiri di kejauhan hanya bisa terpaku dalam kesunyian, matanya terpaku menyaksikan adiknya dengan berani menarik tangan mantan kekasih nya masuk ke dalam rumah.
Rocky, dengan tatapan dingin yang hanya sekejap melintas pada Ariana, seolah menyisakan bekas luka yang semakin menganga. Keheningan tersebut membungkus Ariana, membenamkan dia dalam pusaran kekecewaan dan pengkhianatan yang mendalam.
*
*
*
Ariana tengah sibuk di teras rumah nya sambil menggoyangkan jari - jari nya yang lentik di atas keyboard saat Rocky berjalan akan pulang.
" Ari." Panggil Rocky berdiri di ambang pintu.
Ariana mengangkat kepala nya tanpa mau menoleh.
" Sejak kapan kalian tinggal di sini?" Tanya Rocky.
" Bukan nya tadi Ariana sudah menjelaskan semua nya sama kamu. Jadi untuk apa lagi bertanya dengan ku?"
" Aku hanya ingin dengar langsung dari mulut mu."
Bukan nya menjawab, Ariana malah membereskan semua barang - barang laptop nya dan bangkit akan pergi. Namun dengan cepat, Rocky mencekal lengan Ariana.
" Kita perlu bicara, Ari. Aku perlu tahu alasan kamu meninggalkan aku dulu. Bagaimana bisa kamu dan Amel tinggal di tempat seperti ini sekarang?" Bisik Rocky di telinga Ariana.
Ariana melepaskan dengan paksa tangan Rocky dan menatap nya tajam.
" Mungkin tempat ini tidak cocok dengan kamu. Tapi ini adalah tempat yang terbaik untuk kami. Kami hidup dengan tenang di sini. Jadi tolong... jangan mengganggu kenyamanan kami. Lebih baik kamu pulang. Apa nanti kata tetangga kalau tahu ada pris selarut ini di rumah kami." Ucap Ariana meninggalkan Rocky dan masuk ke dalam rumah nya.
*
*
*
" Den Rocky sudah pulang? Mau bibik siapkan makan malam nya?" Tanya Bik Irah kepada Rocky saat melihat anak majikan nya itu sampai di rumah setelah lewat jam makan malam.
" Nanti saja Bik. Saya sudah kenyang. Mau istirahat dan jangan ada yang mengganggu saya." Ujar nya tegas.
" Iya, Den." Bik Irah tak lagi bicara. Dia memilih pergi dari sana ketimbang kemarahan Rocky berimbas pada nya.
Sisa kemarahan masih terlihat jelas dari sorot mata tajam baga hewan buas yang siap menerkam mangsa nya.
Bagaimana tidak marah, setelah tiga tahun Rocky berjuang melupakan Ariana. Tuhan justru mempertemukannya kembali dengan sang mantan kekasih.
Hati yang perlahan mulai terobati kini kembali berdarah tatkala melihat Ariana bercanda gurau dengan bahagia nya dengan laki - laki lain.
Rocky kembali mengayunkan langkah nya yang tegap menuju kamar nya yang ada di lantai atas.
Tiba di kamar, Rocky segera mengambil bantal dan guling nya kemudian membanting nya ke lantai. Dia juga mengambil tumpukan berkas yang menumpuk di meja kamar nya tanpa berpikir panjang. Dia melemparkan nya ke sembarang arah sehingga kamar nya yang semula rapi kini telah berantakan.
" Ari, berani nya kamu membuat aku marah seperti ini. Dasar perempuan murahan. Kamu memang suka mempermainkan perasaan orang lain. Kamu terlalu mudah dekat dengan laki - laki lain." Geram Rocky yang kemudian menarik selimut dan melempar nya.
" Ayo lah Rocky... Harus kan perempuan seperti itu yang masih ingin kamu kejar? Masih banyak perempuan yang lebih baik dari dia di luar sana."
Setelah nya Rocky terduduk di tepi ranjang nya. Mengusap wajahnya dan menyugar rambut dengan frustasi.
Tiba - tiba saja bayangan Ariana dan Marvin saling ngobrol dan berbincang dengan ramah nya melintas dari bayangan nya. Tangan Rocky mengepal kuat sampai memperlihatkan urat - urat halus di punggung tangan nya.
Beberapa menit kemudian, masih dengan nafas yang turun naik, dia turun kembali ke lantai bawah menemui Rizal di ruang kerjanya.
CEKLEK
Rizal mendongak saat pintu ruangan nya di buka. Dia menggeleng seraya membuka kacamata nya.
" Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang?" Tanya Rizal menatap putra nya.
" Aku ingin bekerja di anak perusahaan saja, pa. Tidak perlu di pusat selama masih ada papa di sini. Cabang juga perlu berkembang agar bisa memiliki kualitas kerja yang sama dengan pusat agar para pemegang saham tetap menanamkan modal nya dengan kita." Ujar Rocky tanpa jeda.
" Katakan alasan kamu yang sebenar nya. Kamu pikir dengan alasan yang kamu katakan sekarang ini papa akan percaya begitu saja? Rocky... Rocky... Papa tahu siapa anak papa. Dan yang berdiri di depan ini bukan lah jiwa seorang Rocky Mahendra."
Rocky mendesah sekali dan berjalan mendekati meja Rizal. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Rizal.
" Ada Ariana di sana,pa. Dia bekerja bekerja di perusahaan kita di bagian periklanan." Ucap Rocky jujur.
Rizal terdiam. Perlahan dia mencoba mengingat nama yang sudah tidak asing lagi bagi nya.
" Ariana mantan kamu dulu?" Tanya Rizal heran.
" Iya pa. Pa tolong ya pa. Aku hanya ingin memimpin di sana. Jangan di pusat. Aku harus tahu apa alasan dia dulu meninggalkan aku." Pinta Rocky memohon.
" Tapi di sana sudah ada Marvin. Dan Marvin tidak butuh kamu untuk memajukan perusahaan."
" Kalau begitu Marvin nya saja pindahkan ke pusat. Asalkan aku bisa di sana."
" Huh... ya sudah. Bekerja sama lah yang baik dengan Marvin di sana." Ucap Rizal lalu dia kembali memakai kacamata nya dan fokus ke layar laptop di depan nya.
*
*
*
Keesokan pagi nya, Ariana tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk dia dan Amel. Dan sebagai adik yang baik Amelia selali membantu nya dalam pekerjaan rumah.
Amelia, seorang gadis muda yang tangguh dan penuh perhatian, telah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan yang tragis. Kini, dia hanya memiliki kakaknya, Ariana, yang telah menjadi tulang punggung keluarga.
Ariana bekerja keras siang dan malam untuk membiayai kuliah Amelia dan memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Amelia sangat menyadari pengorbanan yang dilakukan oleh kakaknya. Oleh karena itu, dia bertekad untuk membantu sebanyak mungkin di rumah, mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga mengatur keuangan keluarga.
Dengan semangat yang tinggi, Amelia selalu berusaha meringankan beban Ariana. Gadis itu belajar memasak dan membersihkan dengan lebih efisien, serta mengatur waktu belajarnya agar bisa memberikan waktu lebih untuk membantu di rumah.
Meskipun terkadang merasa lelah dan kewalahan, Amelia tetap berusaha tersenyum dan memberikan dukungan moral kepada Ariana. Dia tahu betapa pentingnya mereka saling memiliki satu sama lain di saat-saat sulit seperti ini. Amelia berjanji dalam hati untuk terus berusaha keras dalam studinya agar suatu hari nanti dia bisa membalas semua kebaikan dan pengorbanan kakaknya.
" Amel saja kak." Kata Amelia saat Ariana akan memasukkan ikan ke dalam minyak goreng di atas kompor.
" Bisa?"
" Bisa kak."
" Ya sudah nih. Nanti bakso nya juga do goreng ya Mel. Biar nanti kakak yang tumis sama sayur."
Amelia menggoreng ikan dengan cekatan sedangkan Ariana menyiapkan bumbu nya.
" Kak Rocky tahu dari mana rumah kita sekarang? Apa sebelum nya kalian sudah pernah bertemu?" Tanya Ariana dengan nada curiga.
" Rocky itu ternyata anak dari pemilik perusahaan tempat kakak kerja, Mel." Kata Ariana menghentikan aktifitas nya.
" Masa kak?"
" Iya. Semalam kakak ketemu dia di kantor. Kakak juga baru tahu kalau dia itu direktur baru perusahaan."
" Wah... bagus dong kalau begitu. Berarti kakak bisa pacaran lagi dong sama kak Rocky."
Amelia tampak antusias jika sang kakak bisa balikan lagi dengan cinta pertama nya.
" Amel... ya nggak gitu juga lah. Rocky itu kan sudah punya calon tunangan. Nggak mungkin lah dia mau ninggalin calon tunangan nya demi kakak. Apa lagi dulu kakak punya salah dengan dia. Kakak sudah meninggal kan dia begitu saja dulu. "
" Semua itu kan hanya masa lalu kak. Amel yakin, akan ada kesempatan untuk kakak dan kak Rocky memperbaiki semua nya." Ucap Amelia tulus.
Ariana tersenyum memandang Amelia dengan khayalan tingkat dewa nya.
" Amel... Amel... sok tau kamu. Udah ah. Cepetan goreng nya. Kakak sudah lapar." Perintah Ariana seraya dia kembali mengiris bawang yang dia pegang sejak tadi.
*
*
*
Sesampai nya di kantor, Ariana langsung di sibukkan dengan berkas - berkas yang dia tinggalkan semalam. Sambil menatap layar monitor Ariana tampak sibuk dengan pekerjaan nya.
" Mbak Ariana kan?" Tanya seorang wanita di depan meja Ariana.
Ariana mendongak dengan kebingungan.
" Iya. Kamu siapa?" Tanya Ariana balik heran.
" Saya Dian, sekretaris nya pak Rocky. Mbak Ariana di suruh pak Rocky ke ruangan nya sekarang." Ucap Dian sesuai amanah dari Rocky.
" Kira - kira ada apa ya? Soal nya saya masih ada banyak kerjaan nih."
Dian mengangkat kedua bahunya.
" Maaf Mbak. Saya nggak tahu. Saya hanya di minta memanggil Mbak Ariana saja."
Lily yang kaget seketika menoleh ke arah Ariana kebetulan meja kerja Lily memang bersebelahan dengan meja kerja Ariana.
" Loe bikin salah, Ri?" Tanya Lily.
" Gue nggak merasa bikin salah. Nih gue juga nggak tahu kenapa." Jawab Ariana.
" Sudah Mbak. Jangan bingung - bingung. Langsung masuk ruangan nya Pak Rocky saja ya Mbak. Saya harus kembali ke meja saya."
" Iya. Terima kasih." Ariana tersenyum kecut.
" Dari pada cuma menduga - duga mending Loe masuk aja gih. Biar Loe juga nggak penasaran. Kali aja mau naik gaji, Ri." Sahut Lily.
Setelah menghela nafas panjang, Ariana bangkit dari duduk nya dan pergi. Sebenar nya dia malas harus bertemu dengan Rocky.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Rocky, keringat dingin mulai membasahi kening Ariana. Bahkan telapak tangan nya mulai basah. Dan jantung nya, jangan di tanya lagi. Suara nya sudah seperti jalan kuda.
" Kira - kira dia mau ngomongin apa ya? Urusan kantor apa mai melanjutkan soal semalam. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Ariana saat dia berdirk di depan pintu ruangan Rocky.
Tok
Tok
Tok
" Masuk." Titah Gavin dari dalam.
Ariana pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Rocky.
" Bapak manggil saya?" Tanya Ariana dengan gugup.
Tanpa menoleh ke arah Ariana, Rocky melemparkan tumpukan kertas ke hadapan Ariana sampai lembaran - lembaran itu berserak ke lantai.
" Apa ini yang bisa kamu lakukan di kantor saya? Kalau kerja kamu seperti ini, anak SD juga bisa mengerjakan nya. Membuat laporan asal - asalan. Bahkan naskah iklan juga tidak ada bagus nya. Kami memang tidak becus mengerjakan tugas yang mudah seperti ini." Ucap Rocku penuh dengan emosi.
Ariana terkejut mendengar nada suara Rocky. Rocky yang Ariana kenal selama ini tidak pernah berkata kasar pada nya sekali pun. Selalu lembut dan penuh sayang.
* Selamat membaca reader... kira kira ada yang tahu nggak nih??? Rocky kenapa? Sampai tega ngomong kasar gitu sama Ariana. Othor kan jadi sedih...