Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI CURIGA
Malam di kediaman Alistair selalu terasa lebih sunyi setelah anak-anak berhenti berlarian.
Aroma kayu cendana dan lilin lebah memenuhi kamar luas yang kini dihuni oleh Jasmine bersama Lucian dan Leo, yang sedang berbaring di atas ranjang.
Dari mereka baru lahir, Jasmine tidak pernah membiarkan anak-anaknya tidur di kamar terpisah, dia butuh merasakan napas mereka untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak benar-benar sendirian.
Jasmine bersandar di kepala ranjang, sementara dua bocah kecil itu sudah meringkuk di balik selimut sutra tebal.
Lucian berada di sisi kanan, menatap ibunya dengan mata hitam yang dalam, sedangkan Leo di sisi kiri, memeluk lengan Jasmine dengan erat.
"Ibu... ceritakan lagi," pinta Leo dengan suara serak khas anak kecil yang mengantuk.
"Ceritakan tentang Ayah. Apakah dia benar-benar ksatria terkuat di seluruh kerajaan?" tanya Leo, selalu antusias, tentang cerita Ayah nya.
Jasmine tersenyum lembut, meski ada rasa perih yang selalu muncul setiap kali topik ini diangkat.
Dengan lembut Jasmine membelai rambut hitam Leo yang berantakan, lalu mulai bercerita dengan nada suara yang menenangkan.
"Dahulu kala, ada seorang Duke yang sangat gagah. Namanya Duke Lucas Alistair. Dia adalah pria yang memikul beban seluruh wilayah ini di bahunya. Dia tidak banyak bicara, wajahnya selalu terlihat serius, dan dia sangat mencintai rakyatnya," ucap Jasmine memulai, membacakan dongeng pengantar tidur untuk kedua Putra kembar nya.
"Dan dia sangat mencintai Ibu, kan?" sela Leo dengan mata berbinar.
"Sangat! Dia sangat mencintai Ibu, sampai pada suatu subuh yang sangat dingin, dia harus pergi untuk menjalankan tugasnya sebagai pelindung kerajaan. Dia mengenakan zirah hitamnya yang megah, membawa pedang besarnya, dan berjanji akan kembali untuk Ibu," jawab Jasmine tersenyum, meski mata nya berkaca-kaca.
Lucian, yang sedari tadi diam mendengarkan, bertanya dengan nada dewasa yang melampaui usianya.
"Ibu, apakah Ayah pergi karena dia tidak ingin bertemu kami?" tanya Lucian menatap Ibunya.
Pertanyaan itu membuat jantung Jasmine seolah berhenti berdetak sesaat, tapi Jasmine segera merengkuh bahu Lucian.
"Oh, sayangku... tidak, sama sekali tidak," bisik Jasmine lembut.
"Ayah kalian pergi bahkan sebelum dia tahu bahwa kalian akan hadir di dunia ini. Saat itu, Ibu pun belum tahu bahwa Tuhan akan menitipkan dua malaikat kecil di rahim Ibu. Ayah pergi dengan keyakinan bahwa dia hanya meninggalkan Ibu sendiri," bisik Jasmine, dengan perasaan sesak saat ingatan lima tahun yang lalu kembali hadir di kepala nya.
Jasmine menarik napas panjang, menahan, tangisan nya, karena dia tidak boleh menunjuk kan kelemahan nya pada anak-anak nya.
"Seandainya dia tahu, seandainya Ayah kalian tahu bahwa ada kalian di sini, Ibu yakin dia tidak akan pernah mau melepaskan pelukannya pagi itu. Dia pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di seluruh dunia jika tahu dia memiliki dua putra setampan dan sepintar kalian," ucap Jasmine, mengusap lembut kedua kepala Putra kembar nya.
"Jadi... Ayah belum tahu kalau aku bisa memanjat pohon apel yang paling tinggi?" tanya Leo mulai menguap, namun ia masih bergumam.
"Belum, Sayang," jawab Jasmine dengan senyum getir.
"Ayah juga belum tahu kalau Lucian sudah bisa membaca buku-buku strategi perang di perpustakaan, tapi Ibu yakin, di mana pun Ayah berada sekarang, dia bisa merasakan keberadaan kalian lewat doa-doa yang kita kirimkan setiap malam," lanjut Jasmine, menarik selimut. Anak-anak nya.
Melihat si kembar mulai menutup mata nya, Jasmine mulai bersenandung kecil, lagu yang sama yang dia nyanyikan saat dia masih mengandung mereka berdua dalam kesendirian dan duka.
Satu per satu, kedua putranya akhirnya terlelap.
Setelah memastikan kedua putranya benar-benar tidur, Jasmine turun dari ranjang dengan perlahan, dia berjalan menuju balkon kamar, menatap hamparan salju yang mulai turun di wilayah Alistair.
Tangan Jasmine meraba permukaan lencana perak yang tergantung di lehernya, membuat air matanya jatuh tanpa suara.
"Kamu pergi tanpa tahu apa-apa, Lucas," bisiknya pada angin malam.
"Kamu pergi hanya untuk melindungi ku, tanpa tahu bahwa kau meninggalkan lebih dari sekadar seorang istri, kamu punya dua putra, dua putra yang sangat merindukan sosok yang bahkan belum pernah mereka lihat," gumam Jasmine, mulai terisak kecil.
"Jika kamu tahu mereka ada, kamu pasti akan berjuang lebih keras untuk pulang, bukan? Kau tidak akan membiarkan mereka tumbuh hanya dengan mendengar namamu lewat dongeng-dongengku, kamu tidak benar-benar gugur dan meninggal kan ku kan?" gumam Jasmine mencengkeram pagar balkon hingga buku jarinya memutih.
Setelah cukup lama berada di sana, Jasmine beranjak dan berjalan menuju ruang kerja Duke Lucas yang masih dia jaga kebersihannya.
Jasmine duduk di kursi besar milik suaminya, menyentuh permukaan meja kayu yang dingin, dengan hati berdenyut sakit.
"Lucas..." bisik Jasmine.
Ceklekk
Tiba-tiba, pintu terbuka pelan, Nyonya Kimberly masuk membawa selimut tambahan.
"Belum tidur, Jasmine?" tanya Kimberly lembut.
"Belum, Ibu. Aku hanya merindukannya lebih dari biasanya malam ini, entah kenapa, perasaan ini sangat kuat, seolah dia sedang memanggilku dari tempat yang sangat jauh," ucap Jasmine dengan suara parau.
"Maaf kan aku ibu, jujur aku tidak pernah benar-benar percaya bahwa suami ku sudah meninggal kan ku, aku yakin dia masih hidup ibu..." ucap Jasmine, menunduk kan kepala nya, lirih.
Nyonya Kimberly terdiam di ambang pintu, jantungnya berdegup kencang, dia tahu apa yang dirasakan Jasmine, sebagai sesama wanita yang terikat dengan darah Alistair, insting mereka sedang bereaksi terhadap sesuatu yang sedang terjadi di luar sana.
"Tidurlah, Jasmine, besok adalah hari peringatan keberangkatan pasukan, kamu harus kuat untuk rakyatmu," ucap Kimberly, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ibu," panggil Jasmine sebelum Kimberly keluar.
"Apakah Ibu menyembunyikan sesuatu dariku? Tentang Lucas? Atau tentang anak-anak?" tanya Jasmine, sudah tidak bisa menahan nya lagi.
Kimberly membelakangi Jasmine, tangannya mencengkeram gagang pintu.
"Kenapa kau bertanya begitu?" tanya Nyonya Kimberly, berusaha tenang.
"Lucian, dua hari yang lalu dia bilang dia mendengar suara detak jantung rusa di hutan, padahal kita berada di dalam kastil. Dan Leo... luka di lututnya sembuh hanya dalam hitungan jam. Ini tidak wajar, Ibu," jawab Jasmine, berdiri dari kursinya.
"Bukan hanya itu, kemarin sore waktu aku menemani anak-anak di taman belakang, Lucian juga..." lanjut Jasmine menjeda ucapan nya.
Insting nya sebagai Bianca Kingston, mengatakan bahwa ada rahasia besar yang di sembunyikan ibu mertua nya.
"Juga apa?" tanya Nyonya Kimberly, dengan jantung berdegup kencang.
"Jantung ibu, Lucian juga mendengar detak jantung Ibu," lanjut Jasmine datar.
"Ibu katakan yang sejujurnya, ini sebenar nya ada apa? Tidak mungkin Lucian mendengar detak jantung ibu dengan jarak sejauh itu, ibu pasti tahu kan, apa alasan nya?" tanya Jasmine, menatap datar ibu mertua nya.