Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.
Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!
Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Hidangan Spesial Untuk Yang Teristimewa.
Pagi yang cerah di dunia dimensi.
Burung-burung dan mamalia beraneka rupa dan warna, berjejer di pinggir jendela seakan mengintip puteri tidur dari balik jendela besar.
"Astaga!" ucapnya tersentak dari tidurnya yang lelap.
Seakan de javu. Mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang jauh lebih besar. Yang ini berbeda dari kemarin (dimana kamarnya bercat putih tulang dan dekorasinya, biasa saja dan lebih kecil). Saat ini dirinya berada di ruangan super duper mewah bernuansa keemasan dengan ornamen serba bling-bling persis kamar sultan!
"Ehhh! Aku dimana? Seingatku, aku pingsan!"
"Ini ...?"
"Bukan kamar yang kemarin!? Aku ... masih di dunia dimensi, kah!?" gumam Rembulan saat membuka mata, masih di pembaringan.
Suasana sangat sejuk di pagi hari tapi tidak sampai membuat menggigil. Rembulan menyibakan selimut tebal dengan maksud turun dari dipan.
"Selamat pagi master!"
"Anda masih di Ruang Dimensi. Hanya berada di kamar yang berbeda, lebih mewah dan lebih luas. Semoga anda nyaman!" ucap suara yang tiba-tiba mucul tanpa wujud.
Sesaat setelah suara menghilang, muncullah wujud Pink dan Violet.
Trrringgg!!!
"Astagfirullahalaziiiiiimmm! Kaget aku!" pekik Rembulan sambil mengusap dadanya yang terkejut akibat kehadiran keduanya yang tiba-tiba.
"Bisa tidak kalian ini, muncul dengan wujud dahulu, baru suara!" pekik Rembulan kesal lantas bangkit dari dipan dan berkacak pinggang, pura-pura marah.
Bolehlah dia marah. Bukankah dia master dan keduanya adalah bawahannya!? Mereka datang seperti Jelangkung, tiba-tiba hadir dan mengajaknya teleportasi tanpa permisi. Dirinya belum terbiasa mendengar suara tanpa wujud!
"Ya maaf master, kebiasaan!" cengir keduanya sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
"Jangan jadi kebiasaan! Kalau aku jantungan, gimanaaa!?" ujar Rembulan sewot.
"Yaaa, mangap. Ehhhh, maaf master. Namanya juga spirit. Datang tak diundang, pulang tak diantar he he!" ujar keduanya cengengesan kompak.
"Itu mah moto si Jelangkung, kalian kaum astral. Plagiat, bisanya!" ujarnya sambil memutarkan mata jengah.
Wajah Rembulan yang tadinya cemberut, berangsur normal. Dia sangat terhibur atas kehadiran keduanya.
"Jadi gimana, master. Apa kagetnya sudah hilang?" tanya keduanya berwajah lugu dengan puppy eyes.
Rembulan pun mengangguk dengan lemah, tak tahan melihat kepolosan keduanya namun hatinya tetap waspada sebab sadar bahwa tempat ini sangat amat super duper luas, pasti akan ada teleportasi susulan, masih akan membuatnya sport jantung ke depannya!
"Mengapa kalian bertanya mencurigakan begitu? Apa masih banyak hal yang aku tidak tahu dan bakalan mendapatkan kejutan susulan!?" tanya Rembulan dengan mata melotot dan sikap waspada.
"Bisa saja masterku ini, intuisinya sangat tajam. Kita janji deh tidak akan bikin kejutan. Cuma sedikit he he!" seloroh Pink sambil memperagakan kata sedikit, dengan dua jari tanda damai.
"Yah, habis bagaimana. Anda kan Master kami sekaligus pemilik tempat ini jadi sudah kewajiban kami menunjukkan apa yang ada di dalam sini!" tambahnya lagi.
"Betul, Master! Dan kami bermaksud menunjukkan setelah anda bangun. Sepertinya, anda sangat kelelahan sekali dan tidur sangat nyenyak. Jadi kami membiarkan sampai anda bangun dengan sendirinya!" ucap Pink penuh perhatian.
Di tengah-tengah pembicaraan antara ketiganya tiba-tiba terdengar suara menggema seantero ruangan.
Kkkrrryuuukkk!
"Ehhh, copot ... copot! Suara apa itu!? " seru keduanya latah dan terperanjat dari tempatnya berdiri.
Seumur hidup mereka belum pernah mendengar suara tersebut. Suara yang asing dan memekakkan telinga.
"Itu ... ehmmm ... suara perutku!" ucap Rembulan tersipu malu setelah melihat reaksi terkejut kedua makhluk astral di depannya yang tak lazim.
"Wahhh, hebat Masterku bisa mengeluarkan suara batin, yang sangat memekakkan telinga!" ujar keduanya kagum.
"Haahhh!?!?"
Rembulan pun tercengang kaget mendengar pernyataan konyol keduanya!
"Masa sih reaksi mereka segitunya, terkaget-kaget mendengarnya. Memang mereka tidak pernah mengeluarkan suara seperti itu!?" batin Rembulan.
"Ehhh ... ohhh ... memangnya kalian tidak tahu suara itu!?" tanya Rembulan heran.
Keduanya pun menggelengkan kepalanya bersamaan.
"Du biduuu biduuu! Imutnyaaa! Polos nian raut wajah mereka. Badan sih segede Gaban, hati Bocil!" batinnya gemas.
"Ha ha ha ha ha! Lucu dehhh kalian ini. Tahu enggak, itu tuh suara perut lapar!" gelak tawa Rembulan tak henti.
"Suara perut lapar!? Apa itu lapar!?" tanya mereka heran.
"Duhhh kalian nih polos sekali!"
"Lapar itu tandanya ingin makan. Perut harus diisi sehingga kita tidak lemas, sehat dan bertenaga agar bisa menjalankan aktivitas. Memasukkan makanan melalui mulut lantas mengisi perut hingga kenyang!" jelas Rembulan panjang lebar kepada keduanya sepertu seorang guru kepada muridnya.
Keduanya pun melongo mendengar penjelasan Rembulan dan itu adalah pengetahuan yang baru. Keduanya pun saling pandang.
"Ooohhh ... itu lapar!" jawab mereka kompak.
"Memangnya kalian tidak pernah lapar atau makan!? Sudah dua hari loh aku tidak makan jadi perutku mengeluarkan bunyi. Ehhh salah, aku belum makan selama dua bulan, menurut waktu manusia!" ucap Rembulan.
Pink dan Violet hanya menggeleng karena mereka tidak pernah makan. Hanya bernafas saja dan kenyang.
"Kami hanya makan udara dan cahaya saja untuk mengisi energi. Kalau sudah terisi cukup, yah berhenti. Karena kami tercipta dari angin!" jawab keduanya.
"Iya juga, yah!" gumam Rembulan.
"Makhluk astral itu tak punya nafsu. Dan cara makannya berbeda, tak seperti manusia. Kebayang, kan! Seandainya mereka mengkonsumsi makanan manusia seperti seblak dan rujak, berarti bisa mules. Kalau mules berarti butuh toilet. Kalau butuh toilet berarti butuh jasa penyedot toilet karena penuh sebab keduanya sudah hidup ribuan tahun hi hi hi hi.
"Bisa gawat!" kekeh Rembulan sambil menutup kedua mulutnya guna mengerem laju suaranya yang semakin nyaring.
Alhasil, kelakuannya membuat heran kedua makhluk astral yang polos dan baik hati ini.
Menyadari kedua makhluk di depannya terdiam, Rembulan menyadari kekeliruannya. Padahal di benak keduanya tidak ada yang salah dengan celetukan mereka.
"Ehem! Ehem! Maaf! Aku tidak bermaksud mentertawakan kalian. Aku hanya teringat kejadian lucu di dunia manusia!" ralat dirinya begitu melihat ekspresi keduanya tampak serius.
"Tak apa, Master. Baiklah! Kami akan menghidangkan makanan untuk anda. Pasti anda lapar sekali setelah tidur panjang!" ucap salah satunya.
Violet pun menjentikan dua jarinya.
Ctakkk!
Tringgg!
"Tidakkkkk!!!"
Keduanya berteleportasi ke ruangan lain yang sama besar namun terang benderang. Bedanya, ruangan ini tidak ada dipan. Kosong melompong seluas mata memandang.
Di depan Rembulan, terpampang sebuah meja panjang perjamuan dengan 22 kursi (kanan-kiri) beserta aneka hidangan dan minuman dalam jumlah yang banyak. Ada dalam 100 piring berisi makanan beraneka rupa, asapnya masih mengepul menguarkan aroma menggugah selera. Plus 50 gelas berisi aneka minuman yang menyegarkan tenggorokan. Sesuatu yang baru tidak asing dilihat gadis itu.
Ketika melihat meja yang penuh aneka makanan dan minuman, memorinya seolah ketarik ke masa silam. Pernah sekali, dirinya menghadiri perjamuan semacam ini, saat usianya 10 tahun, itu pun Ambrosia sebagai tuan rumah. Selebihnya, hanya berdiam di rumah tatkala seluruh keluarga berpakaian indah dan meninggalkan dirinya dengan para pelayan di malam hari.
Dia tidak pernah menghadiri lagi berbagai jamuan kelas atas bersama keluarganya semenjak sang paman sakit. Saat oma opa tak ada dan perhelatan jamuan sering diselenggarakan oleh orangtua angkat di mansion, terkadang, dia tidak pernah berperan sebagai pemeran utama tapi pemeran pembantu!
Menyedihkan, bukan!? Mengingat sudah resmi hitam di atas putih, para hakim telah mengetok palu, mengesahkan dirinya sebagai penyandang nama besar Orion-Ambrosia !
Dan ini, kemewahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata sebab pencahayaan yang memancar berasal dari kilauan batu permata!
Ini adalah jamuan istimewa yang pernah dia dapatkan. Kata Pink dan Violet, perjamuan ini akan selalu tersedia kapan pun aku kehendaki, di ruangan ini.
Jamuan ini adalah spesial untuk orang yang teristimewa dan satu-satunya, yaitu dirinya!
"Aduhhh! Meleleh hati adek, bang! Tak terasa menetes air mataku di pipi saat mendengarnya!"
Glekkk!
"Ya, ampun! Pink ! Violet! Ini sih cukup untuk satu kelurahan, satu kecamatan, satu provinsi!" ucapnya hiperbola alias lebay.
"Untukku, kebanyakan. Cukup satu macam dan satu porsi!" seru Rembulan demi melihat makanan yang terhidang banyak,
Tidak mungkin dia menghabiskan semua porsi makanan ini. Tidak bisa berbagi. Ternyata, berbagi itu indah. Hanya untuk dirinya sebab Pink dan Violet tidak makan begitu pun dia tak melihat penghuni lain selain mereka bertiga.
"Kami tidak tahu makanan kesukaan Master. Jadi silahkan pilih yang mana suka!" ucap Violet diikuti anggukkan kakaknya.
Yang bisa mengeluarkan makanan, selain pengobatan adalah keahlian Violet.
"Ehem, terima kasih atas hidangannya. Yakin, kalian tidak akan ikut makan!?" bujuk Rembulan.
"Yakin master!" jawab keduanya kompak tanpa keraguan.
Lantas, tanpa membuang banyak waktu dan perutnya sudah meronta hebat minta diisi, dirinya duduk dan mengambil hidangan di depannya berupa masakan aneka ikan, aneka daging steak, soup, stew, panggang, barbeque, kentang tumbuk (smash potato), roti saos keju, roti garlic, asparagus, bayam saos krim keju dan tumis jamur. Belum pencuci mulut berupa puding, kue krim manis dan asin, es krim aneka toping dan buah-buahan. Matanya tertarik melihat udang besar (lobster), udang galah sebesar kepalan tangan.
Setelah makanan utama, dia mengambil puding aroma vanila, es krim dan kue kering topping krim buah. Minuman pelepas dahaga dia mengambil gelas berisi anggur merah (non alkohol). Setelah satu jam berlalu, Rembulan pun mengakhiri sesi makan pagi menjelang siang sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Seperti kerasukan, beberapa piring pun ternyata tandas. Bukan makanan sisa, tapi fresh from the oven. Bukan setengah porsi jatah perhari yang dia dapat tapi beberapa porsi. Kapan pun dia merasa lapar, tinggal membayangkan menu makanan apa yang diinginkan.
Ternyata bahagia itu seperti ini. Bahagia itu sederhana!
"Alhamdulillahhirobbiill'alamin!" ucapnya sambil mengusap perut tanda kekenyangan.
"Pink! Violet! Terima kasih atas makanan lezatnya. Ini enak sekali rasa dagingnya. Begitu lembut dan juicy. Terbuat dari daging hewan apa?" tanya Rembulan penasan sambil menunjuk daging steak dan sup daging yang masih banyak jumlahnya.
"Itu terbuat dari daging dinosaurus, masterku!?" jawab keduanya kalem.
"Hahhhh! Apaaaa!?" seru Rembulan terhenyak kaget di kursinya sampai terlonjak.
"Seriusan? Ada hidangan daging dinosaurus!?" tanya Rembulan kaget.
Hening.
"Waha ha ha ha ha!"
"Yah, tidak ada dong, master. Kami kan, bercanda! Bercanda!!!" gelak lepas keduanya.
"Ha ha ha ha! Satu sama masterku! Tadi anda sukses mentertawakan kami karena suara yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Bercanda, masterku!" gelak keduanya sampai terpingkal-pingkal.
"Ihhh, kalian sialannnn! Ngibulin melulu. Awas yah, nanti ku balas. Jadi dua versus satu skornya, yah!" ucap Rembulan gemas dengan pipi mengembung sambil berdiri berkacak pinggang.
"Itu daging Rusa Emas! Penambah stamina dan energi. Pasti di dunia anda tidak akan menemukan!" ucap Violet dengan jumawa.
"Kalian nih, gokil. Pantas lezat sekali. Jadi, kalau aku ingin makan enak yang tidak ada di duniaku, bisa pesan disini!?" tanya Rembulan dengan kagum.
"Betul, Master. Tinggal membayangkan rupa dan rasa makanan yang diingikan dan menjentikkan jari seperti yang dilakukan Violet maka akan tersaji di depan mata termasuk hidangan daging dinosaurus!" jelas Pink.
Rembulan tidak akan menjentikan jarinya, lain kali saja kalau terasa lapar, khawatir muncul. Ini saja belum habis, kalau muncul dan tak kemakan, mubazir, kan!?
Ketiganya tergelak bahagia dan seakan waktu berhenti di antara mereka. Rembulan merasakan letihnya batin dan lelahnya jasmani, menguap tak bersisa di tempat ini dan dia pun makan sangat lahap tanpa harus berfikir makan apa nanti. Ada yang menyisakan atau tidak. Atau mengerjakan pekerjaan maid yang tiada habis sampai tulang serasa lepas dari raga.