NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 026 : Keluarga Besar Gautama

Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan jati ketika azan subuh berkumandang dari musala kejauhan.

 Udara desa yang murni dan sangat dingin menusuk hingga ke tulang, menciptakan suasana syahdu yang jarang ditemui di hiruk-pikuk kota besar.

Di rumah tua itu, Ibunda Rachel sudah terjaga sejak buta, menyiapkan segala keperluan ritual di dekat sumur tua belakang rumah yang dipenuhi lumut sejarah.

Adio mendekati Rachel yang sudah duduk di tepi tempat tidur, mencoba menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang belum bisa diajak berkompromi.

 Dengan telaten, Adio mulai menyiapkan perlengkapan mandi Rachel, memastikan handuk dan pakaian ganti berada dalam jangkauan.

Namun, saat tangan Adio bergerak hendak membantu Rachel melepas pakaian tidurnya untuk bersiap melakukan ritual pembersihan, Rachel dengan cepat mencubit gemas pipi Adio hingga pria itu meringis.

"Kamu gila? Aku mau ganti baju sama Ibundaku. Kalau sama kamu, menang banyak kamu nanti!" cetus Rachel dengan mata menyipit jenaka, mencoba mencairkan suasana canggung yang sempat merayap.

Adio tertawa kecil, mengusap pipinya yang terasa panas akibat cubitan Rachel.

 "Iya juga, ya! Ya sudah, kita nikah aja secepatnya biar gak jadi dosa!"

Rachel menaikkan salah satu alisnya, menatap Adio dengan tatapan tidak percaya. Status mereka sebagai sepasang kekasih sebenarnya masih sangat hangat, baru seumur jagung sejak mereka meresmikannya di tengah ketegangan kasus-kasus sebelumnya.

 Dan sekarang, Adio dengan percaya dirinya meminta peresmian hubungan yang lebih jauh di tengah kondisi Rachel yang sedang terpuruk.

"Nggak, Moh! Iseh urung kepikiran ruju sek! Moh, tenan! Sabar!"

(Nggak mau! Masih belum kepikiran ke sana dulu! Enggak, beneran! Sabar!) ucap Rachel tegas namun pipinya merona.

Adio terkekeh melihat reaksi penolakan yang justru terlihat menggemaskan itu. Ia mengusap puncak kepala Rachel dengan penuh kasih sayang, sebuah gestur yang selalu berhasil membuat pertahanan Rachel runtuh.

"Ya sudah," ucap Adio pendek, menyerah untuk sementara.

Pandangan Adio kemudian beralih ke arah pintu kamar yang terbuka, menembus ruang tengah menuju teras belakang di mana Ibunda Rachel masih sibuk menyiapkan ajian ritual di dekat bibir sumur.

"Buk!" panggil Adio dengan suara sedikit dikeraskan, memecah kesunyian pagi.

Panggilan itu sontak membuat Ibunda Rachel dan Rachel menoleh bersamaan. Adio menyeringai jahil ke arah kekasihnya yang duduk di kursi roda.

"Rachel mau ibuk yang menelanjangi dia, katanya!" ucap Adio gamblang tanpa rasa berdosa sedikit pun.

"Stressnya kamu, Yo! Ahhh, pergi o ah.. Buk, Adio garai kiloh!"

 (Stres kamu, Yo! Ah, pergi sana ah.. Bu, Adio ganggu terus nih!) ujar Rachel merengek malu pada ibundanya.

Wajahnya merah padam hingga ke telinga karena ucapan blak-blakan Adio. Ibunda Rachel tertawa renyah melihat tingkah mereka, sebuah tawa yang menghangatkan suasana dingin pagi itu.

Sementara itu, Adio memilih langsung kabur melarikan diri dari sana sebelum bantal atau benda lain melayang ke arahnya.

Siang harinya, suasana rumah tua yang semula tenang berubah menjadi penuh keriuhan.

Suara deru mobil di halaman depan menandakan kedatangan tamu yang sangat dinanti. Arka Kumitir Gautama datang bersama Laras dan Aldo. Kedatangan mereka membuat seluruh anggota Gautama Family berhamburan keluar.

Laras melangkah perlahan, jemarinya memegang lengan Aldo sebagai penunjuk arah.

Laras memang buta sejak lahir, namun langkahnya begitu yakin, seolah getaran tanah di rumah leluhur ini memberitahunya setiap jengkal posisi benda.

Begitu sampai di depan kursi roda Rachel, Laras berhenti dengan presisi yang mengejutkan, seolah ia bisa melihat dengan mata lahirnya.

"Bisa-bisanya ya, pimpinan Gautama Family pulang-pulang malah duduk manis begini. Kurang kerjaan apa gimana kamu, Chel?" ucap Laras.

Suaranya terdengar ketus dan jenaka, gaya khasnya untuk menutupi rasa khawatir yang mendalam.

Rachel terkekeh, meraih tangan Laras yang sedang meraba udara mencari posisinya.

 "Lagi mau pensiun dini aku, Ras. Capek lari-larian mulu, mending disetirin Marsya ke mana-mana."

Laras berlutut di depan kursi roda Rachel, jemarinya yang lentik meraba lutut Rachel yang tertutup kain, lalu naik mengusap wajah Rachel dengan sangat lembut.

 "Gaya kamu. Pensiun mah nggak cocok buat kamu. Paling seminggu juga sudah gatal mau nangkep demit lagi," bisik Laras.

"Oh iya, Chel. Ada yang aneh beberapa hari lalu di rumah," lanjut Laras, wajahnya berubah sedikit serius.

"Waktu itu siang-siang, Arka lagi asyik main sama aku dan Aldo di ruang tengah. Dia lagi lari-lari, ceria banget. Tapi tiba-tiba dia berhenti diam."

Rachel menyempurnakan posisi duduknya, menyimak dengan saksama.

 "Berhenti gimana?"

"Dia berdiri diam, terus panggil namamu, Chel. Tiga kali. 'Rachel... Rachel... Rachel...'. Suaranya ya tetap suara dia, suara anak kecil, tapi entah gimana kedengarannya tegas banget. Habis itu dia langsung tidur, pules banget di lantai. Aku sama Aldo bingung setengah mati. Masalahnya, Chel... Arka ini kan belum pernah ketemu kamu. Sejak dia lahir dua tahun lalu, kalian belum pernah tatap muka. Kok bisa dia tahu-tahu panggil namamu seolah-olah kalian sudah kenal lama?"

Rachel tertegun mendengar cerita itu. Ia kemudian menarik Arka kecil yang sedang berdiri di samping Aldo untuk naik ke pangkuannya.

 Begitu tangan Rachel menyentuh pundak kecil itu untuk pertama kalinya, ia merasakan aliran energi yang sangat murni namun sangat besar.

"Dia anak yang istimewa, Ras! Dia Gautama, jelas punya kekuatan supranatural!" jelas Rachel singkat, mencoba menyembunyikan keterkejutannya atas firasat besar yang ia rasakan dari tubuh kecil Arka.

Tiba-tiba, Adio muncul di ambang pintu, memotong pembicaraan serius mereka dengan senyum lebar.

 "Ayo, stop dulu bahas yang berat-berat. Ibunda sudah selesai masak. Baunya sampai ke sini, ada sambal terong kesukaan Rachel beserta lalapan segar."

Mendengar menu itu, Laras tiba-tiba terkekeh, begitu pula dengan Rachel. Mereka berdua saling pandang—meski Laras tidak melihat secara fisik, batin mereka tersambung. Adio menaikkan salah satu alisnya, bingung melihat reaksi kedua wanita itu.

"Kenapa kalian tertawa?" tanya Adio penasaran.

Rachel dan Laras hanya menggeleng pelan, mencoba meredam tawa mereka.

 "Kamu tahu? Ibunda itu, dia masak itu karena tahu anak-anaknya dulu suka itu," ujar Rachel mulai bercerita. "Dulu, kalau kita susah makan... waktu jaman Cak Dika, pokoknya semua sepupuku ke sini buat liburan, Bunda mesti masak terong krispi. Kalau gak gitu, ya sambal terong itu."

Rachel menjeda kalimatnya sambil menahan tawa yang akan pecah.

 "Dan ya, ada cerita lucu. Dulu Cak Dika itu nakal banget! Masa dia berak di atas cobeknya Bunda gara-gara takut masuk toilet di luar rumah!"

Tawa Laras meledak seketika. Adio terbelalak, tidak menyangka bahwa Cak Dika yang tampak sangar dan berwibawa itu memiliki sejarah seabsurd itu.

 "Serius? Di atas cobek?"

"Iya! Dan kayaknya, Bude mau mengenang insiden itu dengan masak sambal terong hari ini!" tambah Laras sambil tertawa geli.

Mereka pun segera berkumpul di meja makan besar yang terbuat dari kayu jati kokoh. Suasana begitu hangat dengan suara denting sendok dan obrolan keluarga.

Namun, di sisi-sisi tembok ruang makan, Ibunda Rachel juga menyiapkan beberapa piring kecil dengan segelas susu dan biskuit di atasnya.

"Oalah Bude, bocil kematian iku wes Ora usah diparingi!" celetuk Bella kali ini. Marsya di sampingnya tertawa. Ia tahu betul untuk siapa piring berisi susu dan biskuit itu.

(Oalah Bude, bocil kematian itu gak usah dikasih!)

"Mereka Yo tamu, nduk! Wes Ndang maem kunu selak adem, Nduk, Le!" jawab Ibunda Rachel dan Marsya.

(Mereka juga tamu, nak! Udah cepat makan sana keburu dingin!)

Marsya dan Bella pun menurut. Disusul Mas Suhu yang juga mengekorinya. Ketika Ibunda Rachel dan Marsya melihat Peterson dan Melissa selaku dua orang asing bukan orang Indonesia. Maka beliau pun menepuk keningnya sendiri.

Pukkk

"Ada apa, Ibu?" tanya Melissa kepadanya yang langsung berhenti bersama Peterson di sampingnya.

"Saya lupa kalau ada Tuan dan Nyonya Bule! Harusnya tadi saya masak yang lain sesuai dengan selera lidah kalian!" ujar Ibunda Rachel. Cak Dika terkekeh mendengar itu.

"Bude, mereka ini sudah membaur! Tenang aja!" ujar Cak Dika. Sedangkan Melissa hanya tersenyum miring namun manis.

"Tenang saja Ibu, kita akan menghargai masakan anda! Terima kasih, ya!" ujar Melissa.

Peterson hanya tersenyum mendengar itu lalu memberi sebuah isyarat bahwa segalanya tak apa menggunakan jempolnya. Ibunda Rachel dan Marsya pun mempersilahkan mereka.

Lalu melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. Kembali mengurus piring berisi susu dan biskuit yang akan diberikan kepada sahabat ghaib Rachel.

Beliau meletakkannya dengan takzim, seolah sedang menyajikan makanan untuk tamu terhormat.

Ketika seluruh keluarga Gautama menikmati makanannya dengan lahap, suasana di dimensi lain pun tak kalah ramai.

Sahabat ghaib mereka telah datang. Barend, Albert, Marsya, Melissa, Anako, dan Gelanda muncul di sudut-sudut ruangan. Mereka semua menyantap apa yang disajikan oleh Ibunda Rachel dengan cara mereka sendiri.

Mereka mengambil intisari dari makanan tersebut. Secara fisik, biskuit dan susu itu masih ada di tempatnya, tak berkurang sedikit pun. Namun, bagi mereka yang memiliki kepekaan, makanan itu sudah kehilangan "jiwa"-nya.

"Jangan dimakan ya, Yo," bisik Rachel pada Adio yang matanya sempat melirik ke arah biskuit di pojok tembok.

"Makanan atau minuman yang sudah dikonsumsi oleh mereka akan menjadi hambar. Intisarinya sudah diambil."

Adio mengangguk paham, ia memperhatikan bagaimana Rachel sesekali melirik ke arah kosong sambil tersenyum, menyadari bahwa di meja makan ini, mereka tidak benar-benar hanya berdua belas, melainkan puluhan jiwa yang saling berbagi ruang dan kasih sayang dalam satu rumah tua yang penuh berkah.

1
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
wah ramai dong Rachel sudah kayak pasar rumah mu😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ : senang lihatnya mereka bisa kompak gitu. meskipun berbeda-beda macam orangnya 😁
total 2 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Laras sudah tahu belum ya kalau Rachel kakinya sakit ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ : aku pikir belum tahu terus kaget dadakan 🤭🤭🙈
total 2 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
kamu pinter Rachel, kesempatan dalam kesempitan 🤣🤣. Dio yang senang🤭 Rachel yang malu🙈🙈
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Dio kamu sudah dapat restu dari ibunya Rachel. jadi kamu jangan kecewakan ya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ini Dio tidak bisa melihat maksudnya gimana ya. Dio buta mata nya apa buta lain ini onel🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Dasar Rachel🤭🤭 kamu memang benar Makanan tradisional memang rasanya sangat luar biasa 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah aku jadi kepo ini. kira kira alasan Rachel apa ya. semua temanmu penasaran lho pingin tahu juga
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ayo Rachel kamu juga harus bangkit ya. kamu hebat dalam keadaan sakit seperti itu, semangat kamu sangat luar biasa. kamu selalu bisa menutupi rasa sakit mu. kamu hebat kamu bisa melaluinya. meskipun yang kamu lalui harus penuh kesabaran
Ela Jutek
itu yg kamu rindu kan Hel, berkumpul dengan semua keluarga Gautama tapi kalo ada kasus mah tetep berpeluang deh
Ela Jutek: haaa gak papa dong, masa ikut bantai para iblis sih🤣
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ternyata mereka ada ikatan darah ini. pantas ae Arka bisa merasakan bagaimana keadaan saudara nya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ : Ok kak. kemarin sudah baca 1 bab. tadi baca sampai habis bab jadi tahu ternyata mereka keluarga besar😁😁
total 2 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Cinta sejati adalah kasih yang tulus dan bertahan, bukan karena sempurna, tapi karena saling menerima kekurangan.
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Akhirnya Dio mengungkapkan isi hatinya..
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Cinta dalam diam yang dirasakan Dio. semoga Rachel bisa membalas nya🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Alhamdulillah Marsya sudah selamat. Rachel kamu harus kuat ya. kamu harus sembuh. jangan buat sedih akan keadaan mu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
gimana nasibnya Marsya ini 😭😭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
semoga Marsya bisa terselamatkan ini😭😭. Rachel pasti sedih kalau terjadi apa apa dengan Marsya nantinya ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Kalau Rachel tidak sakit pasti dia sudah turun tangan Dio 😁😁🤭
Ela Jutek
aku berharap kau bisa sembuh Hel
Ela Jutek: mereka ada tapi gak se asin Rachel loh ya🤣
total 8 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan, Dio/Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: 🤣🤣🤣🤣 Harap di maklum ya
total 6 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
apakah yg menanti keluarga Gautama di lautan hutan itu?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!