Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Angkasa langsung pergi menemui adiknya yang ada di rumah sakit. Di sana ibunya dengan setia menemani anak bungsunya.
"Assalamualaikum," ucap Angkasa saat masuk ruangan dan langsung mencium tangan ibunya.
"Waalaikumsalam, gimana Bang tadi di sekolah?"
"Semua sudah beres Bun pelakunya akan datang ke sini untuk meminta maaf sama adek juga mereka bersedia pindah dari sekolah itu."
"Kok bisa dengan mudah mereka mau meminta maaf, bukannya mereka itu salah satu anak dari donatur? Biasanya mereka itu arogan."
"Tadinya mereka juga menolak tapi Abang bisa menanganinya. Kok bunda bisa tahu kalau mereka arogan?"
"Syukur kalau begitu Bang bunda senang mendengarnya. Adek gak akan mendapatkan pembullyan lagi kalau mereka pindah. Bunda tahu karena biasanya anak yang punya segalanya selalu memanfaatkannya dengan cara salah contohnya ya mereka membully orang yang lemah."
"Abang bisa jamin kalau mereka gak akan melakukan tindakan seperti itu lagi bun. Keadaan adek gimana sekarang?"
"Bunda bersyukur trauma adek gak separah yang beberapa tahun lalu sekarang adek sudah mulai banyak peningkatan dan mungkin kalau besok adek sudah dinyatakan sembuh bisa juga adek langsung pulang."
"Alhamdulillah kalau begitu Bun. Tapi Abang gak bisa jemput."
"Gak apa-apa Bang bunda ngerti kok. Hari ini Abang gak kerja?"
"Justru itu Abang hari ini harus pergi ke Makassar paling satu minggu itu pun kalau sudah selesai Abang baru pulang lagi, gak apa-apa kan nanti Abang gak bisa jemput buat pulang?"
"Gak apa-apa kok Bang nanti juga Angga datang katanya hari ini acara kampusnya selsai jadi paling nanti malam dia ke sini."
"Kalau begitu Abang pamit ya Bun, Assalamualaikum," Angkasa sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan. Doa bunda selalu menyertai kamu Bang," Anggun mengusap lembut kepala anak sulungnya.
Setelah Angkasa pamit pergi beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar, Anggun pun bergegas membukanya dan yang datang ternyata seorang pria yaitu Zian. Anggun tak mengira kalau Zian yang datang.
"Assalamualaikum, bunda," ucap Zian sambil mencium punggung tangan Anggun.
"Waalaikumsalam mari masuk, sendirian aja?" ajak Anggun.
"Iya Bun. Ini saya bawa buah-buahan," Zian sambil memberikan sekeranjang buah-buahan kepada Anggun.
"Kok repot-repot Nak Zian. Kalau mau ke sini ya datang aja gak perlu repot-repot bawa sesuatu. Tapi makasih ya sudah ngerepotin."
Saat anggun mengajak masuk Zian terdengar Anggie memanggil ibunya.
"Bunda," panggil Anggie.
"Sayang udah bangun, ini ada teman kamu yang datang nengokin kamu."
"Siapa Bun?"
Anggun pun menunjuk ke arah Zian yang ada di belakangnya. Anggie terlihat cukup kaget saat ada Zian ada di sana.
"Kok Kak Zian bisa di sini?" Zian malah tersenyum saat Anggie bertanya seperti itu.
"Memangnya kenapa kalau Nak Zian ada di sini sayang?" tanya ibunya sambil mengusap rambut anaknya.
"Enggak kok Bun. Biasanya Abang kan paling gak suka kalau ada cowok yang..."
"Abang lagi gak ada dek," bisik ibunya memotong ucapan Anggie. Anggun tahu kalau Zian menyukai Anggie tapi Anggun jiga tahu kalau abangnya Anggie sangat posesif apalagi kalau sampai ada cowok yang deketin Anggie.
"Pantesan Kak Zian bisa ada di sini," cicit Anggie.
"Kalian ngobrol aja dulu bunda mau ke toilet sebentar," Anggun memberikan ruang untuk Zian dan Anggie ngobrol. Anggun juga pernah merasakan ada di posisi seperti itu dulu saat masih muda.
Zian pun duduk di samping ranjang Anggie dengan menyisakan beberapa jarak.
"Kamu apa kabar?" tanya Zian lirih.
"Alhamdulillah Kak," jawab Anggie singkat.
"Aku senang lihat kamu seperti sekarang. Sudah ceria lagi."
Zian dan Anggie pun ngobrol dengan santai Anggun hanya duduk di sofa tak jauh dari posisi mereka hanya memperhatikan sambil memainkan ponselnya. Terlihat Anggie sesekali tertawa saat Zian bercerita Anggun menimpali guyonan Zian. Anggun senang melihat Anggie kembali cerita seperti itu. Anggun pun berharap Anggie selamanya seperti itu dan traumanya tidak akan kambuh lagi.
beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu Anggun bangkit dan membuka pintu dan di sana terlihat Anggoro dan keluarga kecilnya. Anggun tampak tidak suka saat melihat kedatangan mereka. Anggun tidak tahu maksud dari mantan suaminya datang dengan anggota keluarga barunya.
"Mau apa kalian datang ke sini?" tanya Anggun ketus.
"Saya dengar kabar kalau Anggie itu sakit jadi saya sebagai ayahnya mau menengok Anggie. Memangnya gak boleh? Saya juga masih punya hak sebagai ayahnya."
"Maaf saya gak bisa mengijinkan kalian masuk," Anggun mencoba menutup pintu tapi Nia memohon kepada Anggun.
"Tante saya minta ijin kalau boleh saya menemui Anggie gak apa-apa cuma sebentar juga," Nia dengan memelas hingga akhirnya Anggun pun mengijinkan tapi hanya sebentar.
Akhirnya mereka diijinkan masuk oleh Anggun dengan beberapa syarat. Saat mereka masuk Nia melihat sosok yang ia kenal.
"Bang Zian, kok bisa ada di sini?" seru Nia.
"Kalian saling kenal?" tanya Anggie.
"Hai Anggie apa kabar?" tanya Nia sambil mendekati Anggie tanpa menjawab pertanyaan dari Anggie.
"Gue tanya Lo kenal sama Kak Zian?"
"Iya gue sama Bang Zian..."
"Mereka akan di jodohkan," Rasti langsung memotong ucapan Nia.
"Tante jangan pernah mengada-ngada orang tua saya tidak pernah melakukan perjanjian tentang perjodohan," Zian cukup kesal dengan pernyataan dari Rasti.
"Tapi kami sudah membicarakan itu sama orang tua kamu," Rasti ngotot.
"Cukup! saya mengijinkan kalian masuk tapi tidak untuk mengganggu kenyamanan anak saya. Jadi silahkan kalian keluar, keluar!" bentak Anggun. Karena Anggun takut trauma Anggie kembali muncul makanya mereka langsung di usir Anggun dan mereka juga sudah melanggar syarat dari Anggun.
Mereka bertiga pun akhirnya pergi sesuai dengan perintah Anggun.
"Maafkan saya Bun sudah bikin keributan."
"Gak apa-apa Nak bunda juga tahu mereka seperti apa dan ini juga bukan sepenuhnya salah kamu."
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Bun kasian Anggie jadi terganggu istirahatnya."
Anggun pun mengangguk sambil tersenyum.
"Gue pulang dulu ya Gie, besok gue ke sini lagi," pamit Zian pada Anggie.
***
Sepulangnya Zian dari rumah sakit dia langsung pulang.
Di rumah Zian langsung menghampiri ibunya yang sedang ada di dapur menyiapkan makan malam. Zian langsung memeluk ibunya. Regina sang ibu sempat kaget saat ada yang memeluknya dari belakang. Kalau bukan suaminya pasti anak laki-lakinya yang selalu manja pada ibunya.
Ibunya yang peka langsung bertanya, "ada apa Bang?" sambil mengelus rambutnya.
"Abang gak suka sama Tante Rasti," Zian yang dikenal cool saat di sekolah tapi di rumah dia begitu manja bahkan adiknya pun kalah manja dengan Zian.
"Tante Rasti? Tante Rasti istrinya Pak Anggoro?"
"Iya Ma masa dia bilang kalau aku mau di jodohin sama Nia anaknya. Aku gak suka sama dia, Mama tahu aku suka sama Anggie adik kelas aku. Malahan aku juga udah bilang sama Abangnya buat nunggu aku sukses."
Regina langsung mengurai pelukannya dan mengajak anaknya duduk.
"Coba ceritakan sama bunda apa yang terjadi, bunda mau tau cerita selengkapnya bagaimana."
Zian pun menceritakan semuanya sama ibunya tentang dia yang menyukai Anggie dari awal pertemuannya dengan Anggie. Sampai Anggie sakit karena di bully dan tadi kejadian di rumah sakit saat Rasti bilang kalau Zian calonnya Nia dan mereka akan dijodohkan.
Zian tidak suka apalagi membicarakan hal itu di depan Anggie dan ibunya. Zian takut janjinya pada Angkasa di anggap hanya main-main saja oleh Anggie dan keluarganya.
"Memangnya Abang serius sama Anggie?"
"Abang gak pernah merasakan seperti ini sebelumnya Ma, namun saat melihat Anggie pertama kali aku merasa gak suka kalau Anggie dekat dengan cowok lain membuat Abang kesal dan marah. Walaupun sebelumnya ada banyak cewek yang suka sama Abang tapi Abang belum pernah seperti ini."
Regina mengelus rambut anaknya, "Ternyata anak Mama udah besar ya udah suka sama cewek," Regina tersenyum.
"Siapa yang udah punya cewek?" tanya Dandi ayah dari Zian yang baru datang. Dandi mencium pipi istrinya sambil duduk samping istrinya Regina dan Zian langsung mencium punggung tangan Dandi.
"Ini Mas anak kita sudah besar dia sudah suka sama cewek."
"Kalau kamu suka sama cewek jangan balapan aja, terus jangan suka main ke bar," ujar Dandi sinis
Zian sudah tak kaget kalau ayahnya pasti tahu karena banyak mata-mata nya. Ayah Zian seorang panglima TNI yang mungkin sebentar lagi akan pensiun. Mereka memang cukup telat saat memiliki anak. Disaat sudah empat puluh tahun baru mempunyai anak. Setelah mendapatkan anak yang langsung kembar laki-laki dan perempuan. Dua tahun kemudian ibunya memiliki anak perempuan kembali.
Zian sudah tidak heran kalau ayahnya sangat gampang mengetahui anaknya ada di mana dan aktivitas apa saja yang dia lakukan. Dandi selalu memantau terus aktivitas anak-anaknya terutama Zian yang cukup keras kepala.
"Aku ke bar cuma sekali aja Pa itu pun cuma mau mencari bukti buat..."
"Buat Anggie kan cewek yang mau kamu jadikan pacar tapi Abangnya belum memberikan restu karena kamu masih minta jajan sama Papa," tebak ayahnya yang memang benar.
Zian hanya menghela nafasnya ternyata ayahnya sudah tahu. Jadi dia tak perlu memberi tahu kembali.
"Kalau menurut Papa sekarang kamu lebih baik belajar yang benar jangan pernah balapan lagi, fokus sama sekolah lalu kamu ikut daftar Akmil kayak om kamu."
"Kalau menurut Mama gimana?" tanya Zian kepada ibunya sambil menempelkan kepalanya di pundak ibunya.
"Kamu gak boleh kayak gitu ini Istri Papa."
"Tapi ini Mama aku Pa."
Rebutan ibunya memang selalu menjadi kebiasaan antara anak dan Ayah yang tak pernah ada mau yang mengalah.