NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25. konsep toleransi

"Sialan, lo." Chris berdecih, lalu mengambil sebotol air mineral dengan wajah tertekuk. Ia sedang tidak mood untuk bertengkar, apalagi jika itu masalah minuman. Sangat tidak penting.

"Sorry deh, habisnya tadi gue udah kelewat seneng Ami mau gue ajak main ke sini," ucap Alif dengan senyum puas.

"Kok gue liat cuma ada satu cewek yang lo bawa." Chris berkata malas sambil bersandar di depan lemari pendingin.

"Bilqis mabuk, jadi gue suruh aja tidur di kamar atas. Kalau Ami sih, ehmm..." Alif tersenyum lebar setelahnya.

Saat Alif mengucapkan nama Ami, Chris tahu maksud ucapan temannya itu. Ia pun mendorong bahu Alif.

"Anjing! Kalau Lo mau ngewe tuh, cari hotel! Gue nggak mau ya, kalau peristiwa yang dulu kejadian lagi! Kalau Pak Jono tahu gimana? Apalagi sampai buat Maya salah paham kalau dia ada disini!"

Setelah mengucapkan itu, Chris pergi meninggalkan Alif yang masih berdiri terpaku, terkejut karena kemarahan Chris padanya.

Namun saat ia akan berjalan menuju kamarnya, dan melewati Ami di ruang tamu, lagi-lagi matanya sekilas menangkap tatapan itu. Gadis itu ternyata masih memandangnya dengan tatapan yang membuat Chris tidak nyaman. Tatapannya tajam, penuh ketertarikan, dan sama sekali tidak malu-malu. Bahkan setelah Chris berpaling, ia bisa merasakan tatapan itu tetap menguntitnya, seolah menembus punggungnya.

Chris mendesah pelan. Dia tidak menyukai perhatian seperti itu, apalagi dari orang asing yang tidak ia kenal dan tidak ia undang. Tanpa banyak bicara, ia mempercepat langkahnya, berharap bisa segera mengunci diri di kamar dan mengabaikan kekacauan kecil yang terjadi malam ini.

Namun, begitu sampai di kamarnya, Chris kembali terkejut saat ia mendapati Riski berada di dalam kamarnya. Pandangannya membeku saat melihat Riski di sudut ruangan, berdiri khusyuk menghadap kiblat, sedang menjalankan sholat. Suara lirih bacaan doa Riski memenuhi kamar, membuat suasana terasa sakral dan sunyi.

Chris menutup pintu pelan dan berjalan nyaris tanpa suara agar tidak menggangu temannya dalam keseriusan nya untuk beribadah. Riski adalah seorang muslim dan Chris sangat menghargai nya. Lalu ia bersandar di dinding dekat pintu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, perasaan yang selalu muncul setiap kali ia melihat orang-orang di sekitarnya beribadah termasuk Maya. Sebuah rasa asing, seperti kerinduan, sekaligus rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

Dengan diam, Chris memilih duduk di tepi ranjang, menundukkan kepala, dan membiarkan pikirannya berkeliaran. Ia menunggu, membiarkan waktu bergulir bersama suara doa yang mengalun dari mulut temannya. Sesekali matanya menatap kosong ke langit-langit, berusaha menepis rasa sesak yang perlahan merayap di dadanya.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh..."

Tanpa sadar Chris tertegun menatap punggung Riski saat laki-laki itu tengah beribadah.

"Eh, lo udah pulang, Chris?" tanya Riski sambil melepas sarung dan peci hitamnya.

"Hm." Chris mengangguk dan masih menatap Riski.

Riski kemudian mengambil alas tidur lipatnya yang disimpan di pojok ruangan.

Chris mengerutkan kening, memperhatikan gerak-gerik temannya yang dengan santai membentangkan alas itu tepat di samping ranjangnya.

"Apa-apaan, Ki? Lo mau tidur di sini ?" tanya Chris heran.

Dengan ekspresi santai, Riski menjawab sambil membenarkan letak bantal tipisnya, "Temen ceweknya Alif tidur di kamar gue, Chris. Ya kali, gue ikut tidur disana. Gini-gini gue masih waras kali, Chris. Dosa gue udah kelewat banyak. Gue nggak mau nambah lagi," celetuk Riski dengan nada sok khilaf dan bijak seperti biasanya.

Chris tertawa mendengarnya dan refleks menendang pantat tepos milik Riski, hingga laki-laki itu terjatuh tertelungkup dengan bibir yang terlebih dahulu mencium lantai.

"Aduh, sialan! Sakit anjir!" Riski mengusap bibirnya yang tadi terpentok lantai.

Riski, salah satu sahabat terdekat Chris, adalah sosok yang sederhana dan apa adanya. Ia bukan tipe orang yang suka ribet memikirkan banyak hal, menjalani hidup dengan santai dan seakan selalu menemukan sisi lucu dalam setiap kejadian. Setiap perkataannya, entah disengaja atau tidak, hampir selalu berhasil membuat Chris tertawa. Ada saja celotehan konyol atau teori absurd yang dilontarkannya, membuat suasana di sekeliling mereka tak pernah terasa terlalu berat. Namun lebih dari itu, saat Riski melakukan kegiatan rutinnya, ada sesuatu yang membuat Chris terkesan.

Wajah Chris yang tadinya santai perlahan berubah serius. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap Riski yang sedang merapikan alas tidur di lantai. Kemudian menatap ke arah langit-langit kamar dengan kedua tangan terlentang bebas di atas ranjang. Dengan suara yang lebih pelan, Chris akhirnya bertanya, "Ki, gue boleh tanya sesuatu nggak sama lo?"

Riski menoleh dan mengangguk singkat. "Tanya apa?"

"Kenapa agama Islam ngelarang umat-Nya untuk menikah dengan seorang yang bukan beragama Islam? Bukankah itu sangat bertolak belakang dengan konsep toleransi yang biasa Islam gaungkan selama ini?"

Pertanyaan itu membuat Riski berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menoleh ke arah Chris, mengernyit kecil seperti sedang mencari cara sederhana untuk menjelaskan sesuatu yang berat. Chris sendiri menatap Riski dengan sorot mata penuh keingintahuan, seolah benar-benar ingin memahami alasan di balik aturan itu.

Riski, yang biasanya suka bercanda, kini menatap Chris dengan wajah serius. Ia duduk bersila di atas alas tidur tipis itu, lalu menghela napas perlahan sebelum mulai bicara.

"Karena dalam Islam, pernikahan itu bukan cuma tentang dua orang yang saling suka, Chris,"

"Maksud lo?"

"Sebenarnya jawabannya mudah, Chris. Pernikahan itu ibadah. Tujuannya untuk membangun rumah tangga yang sejalan dalam iman, dalam prinsip hidup. Kalau beda agama, arah hidupnya bisa beda. Cara didik anak, tujuan akhir hidup, semuanya bisa bertabrakan."

Chris terdiam. Sorot matanya mulai berubah, sedikit berkaca-kaca, tapi ia tahan.

Riski melanjutkan, "Allah ingin melindungi umat-Nya dari perpecahan di dalam keluarga. Pernikahan itu sakral, bukan cuma soal cinta sesaat. Karena itu, iman jadi dasar paling utama. Jika ada dua keyakinan di dalam ikatan itu, apa lo yakin ikatan itu akan tetap kekal dan bertahan selamanya?"

Riski tersenyum, "Tuhan punya alasan yang baik dibalik semua itu. Dan tinggal kita sendiri yang mencari maksud dan tujuannya. Sederhana dan tinggal kita sendiri pula yang menentukan pilihan."

Chris menunduk, jari-jarinya mengusap pelan lututnya sendiri. Semua perkataan Riski mengendap di dadanya, membuatnya terdiam lama, merenungi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan sedalam ini.

"Kalau lo cinta sama cewek dan yakin bahwa rasa lo itu melebihi rasa apapun di dunia ini, gue cuma bisa kasih saran sama lo."

"Apa?"

"Ya, perjuangin lah! Masa kaya gitu aja nggak tahu!" Riski menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.

"Sialan lo!" Seru Chris sambil kembali mengarahkan kakinya kepada Riski.

"Aduhh! Nggak Alif, nggak lo, gue selalu kena pukulan kalian terus. Apes banget hidup gue!" sunggut Riski karena tendangan kecil dari Chris terarah tepat di bahunya.

Chris kembali duduk dan tersenyum lebar. "Malam ini, lo boleh tidur di kasur gue. Tapi hanya untuk malam ini."

Riski yang awalnya kesal, kini mengembangkan senyum lebar bahagia.

"Yes!" Riski kemudian berlari dan langsung naik ke atas ranjang, takut Chris menarik kembali kata-katanya.

"Tapi awas aja kalau lo sampe ngiler lagi. Gue bakal langsung tendang lo ke lantai."

"Oke. Siap, bos!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!