NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Pagi itu suasana di perusahaan masih cukup tenang ketika Doni berjalan menuju ruang kerja Pak Agung sambil membawa map hitam berisi laporan proyek pemasaran produk baru. Langkahnya mantap, tetapi pikirannya masih teringat pada Clara. Semalam perempuan itu terlihat kelelahan setelah belajar memasak di rumah ibunya. Namun di balik wajah lelahnya, Doni melihat sesuatu yang berbeda dari Clara. Untuk pertama kalinya perempuan itu benar-benar berusaha menjalani hidup tanpa bergantung pada kemewahan.

Doni berhenti di depan pintu ruang direktur utama. Ia mengetuk pelan.

"Masuk," terdengar suara berat dari dalam.

Doni membuka pintu dan masuk ke ruangan luas dengan jendela besar menghadap pusat kota. Pak Agung duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa dokumen. Wajah pria itu tampak lelah meskipun tetap terlihat berwibawa.

"Pagi, Pak," ucap Doni sopan.

"Pagi. Laporannya sudah selesai?"

Doni mengangguk lalu menyerahkan map yang dibawanya.

"Semua data pemasaran produk baru sudah saya rangkum. Target distribusi bulan depan juga sudah dimasukkan."

Pak Agung menerima map itu lalu mulai membukanya dengan teliti. Matanya bergerak membaca setiap halaman tanpa melewatkan detail sedikit pun. Ruangan kembali sunyi beberapa menit. Hanya suara pendingin ruangan dan lembaran kertas yang dibalik.

Doni berdiri dengan tenang di depan meja kerja besar itu. Namun semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas terlihat ada sesuatu yang mengganggu pikiran Pak Agung. Pria itu memang fokus membaca laporan, tetapi beberapa kali tatapannya kosong seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.

Doni akhirnya angkat bicara.

"Pak Agung kelihatan sedang banyak pikiran."

Pak Agung tidak langsung menjawab. Ia menutup map itu perlahan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Apa wajah saya separah itu?"

"Sedikit," jawab Doni jujur.

Pak Agung tersenyum tipis.

"Mungkin karena usia."

"Bukan karena usia," kata Doni tenang. "Karena Clara."

Mendengar nama putrinya disebut, tatapan Pak Agung langsung berubah. Ada rasa khawatir yang begitu jelas di matanya meskipun pria itu berusaha menutupinya.

"Dia hidup dengan baik di kontrakan," lanjut Doni.

Pak Agung menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

"Syukurlah."

Hanya dua kata sederhana, tetapi cukup menunjukkan betapa berat beban pikiran seorang ayah.

Doni lalu duduk di kursi depan meja kerja setelah dipersilakan.

"Pak, saya tahu maksud Pak Agung ingin Clara belajar mandiri. Saya juga setuju dia memang perlu belajar hidup sederhana." Doni berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi mendidik anak supaya mandiri berbeda dengan mengabaikannya."

Pak Agung diam.

Doni melanjutkan dengan hati-hati.

"Clara sebenarnya ingin bertemu orang tuanya. Dia memang keras kepala, tapi bukan berarti dia tidak merindukan rumahnya."

Pak Agung menundukkan pandangan. Jarinya saling bertaut di atas meja.

"Saya tahu," ucapnya pelan.

Suasana ruangan terasa lebih berat.

Pria paruh baya itu kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Dari lantai atas gedung itu terlihat jalanan kota yang sibuk dipenuhi kendaraan.

"Sejak kecil Clara selalu hidup nyaman," katanya perlahan. "Apa pun yang dia mau selalu saya berikan. Sekolah terbaik, pakaian terbaik, makanan terbaik. Saya pikir itu cara menyayangi anak."

Doni mendengarkan tanpa menyela.

"Tapi saya salah." Pak Agung tersenyum pahit. "Saya terlalu memanjakannya sampai dia tidak mengenal kehidupan di luar dunianya sendiri."

Ia menoleh sedikit ke arah Doni.

"Ketika melihat Clara tidak menghargai orang lain, merendahkan pegawai, bahkan membuang uang seenaknya... saya sadar saya gagal mendidiknya."

Doni mengangguk pelan.

"Karena itu saya membiarkan dia hidup sendiri," lanjut Pak Agung. "Saya ingin Clara belajar bagaimana sulitnya hidup."

"Belajar memang penting, Pak," kata Doni. "Tapi kasih sayang juga tetap penting."

Pak Agung terdiam.

"Clara sedang berusaha berubah," lanjut Doni lagi. "Dan menurut saya perubahan itu akan lebih mudah kalau dia merasa orang tuanya masih mendukungnya."

Pak Agung kembali duduk di kursinya. Kali ini wajahnya terlihat jauh lebih lelah.

"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagi saya?"

Doni menggeleng.

Pria itu tersenyum kecil, tetapi matanya tampak redup.

"Saya bukan hanya menghukum Clara." Ia menarik napas dalam-dalam. "Saya juga menghukum diri saya sendiri."

Ruangan kembali sunyi.

"Setiap malam saya memikirkan dia," lanjut Pak Agung pelan. "Anak perempuan saya yang biasanya tidur di kamar nyaman dengan pendingin ruangan sekarang tinggal di kontrakan sempit. Anak yang biasanya dijemput mobil sekarang harus berdesak-desakan di bus umum."

Nada suaranya mulai terdengar berat.

"Dulu setiap pagi ibunya selalu menyiapkan makanan bergizi untuk Clara. Sekarang dia makan di warteg pinggir jalan." Ia mengusap wajahnya perlahan. "Saya bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena terus berpikir apakah Clara tidur dengan nyaman atau tidak."

Doni memahami perasaan itu.

Selama ini Pak Agung memang terlihat tegas dan keras, tetapi di balik semua itu ia tetap seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya.

"Kemarin Clara belajar masak di rumah saya," kata Doni kemudian.

Pak Agung langsung menatapnya.

"Masak?"

Doni mengangguk.

"Dia belajar memasak nasi dan telur dadar bersama ibu dan adik saya."

Wajah Pak Agung benar-benar menunjukkan keterkejutan.

"Clara masuk dapur?"

"Masuk."

"Dia benar-benar memasak sendiri?"

Doni hampir tersenyum melihat ekspresi itu.

"Iya, meskipun awalnya dia bingung membedakan tombol rice cooker."

Pak Agung terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat jarang keluar dari dirinya.

"Waktu kecil ibunya pernah mengajak Clara membuat kue," katanya. "Tapi baru lima menit di dapur dia mengeluh tangannya lengket kena tepung. Setelah itu dia kabur dan tidak pernah mau masuk dapur lagi."

Doni ikut tersenyum tipis.

"Sekarang dia sudah berubah sedikit."

Pak Agung mengangguk pelan, tetapi matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

Ia tampak seperti sedang membayangkan putrinya berdiri di dapur kecil sambil belajar memasak dengan canggung.

"Setidaknya berikan apresiasi untuk Clara, Pak," ujar Doni. "Hal kecil seperti itu bisa jadi motivasi besar buat dia."

Pak Agung kembali diam.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, pria itu merasa ada harapan. Putrinya yang selama ini hidup manja ternyata mulai belajar menjalani hidup dengan usahanya sendiri.

"Dia bagaimana di kontrakan?" tanya Pak Agung pelan.

"Masih sering mengeluh," jawab Doni jujur. "Kadang kesal karena panas, kadang bingung mengatur uang, kadang hampir menangis karena capek naik bus." Ia berhenti sebentar. "Tapi dia bertahan."

Pak Agung menunduk sambil tersenyum tipis.

"Itu sudah lebih dari yang saya kira."

"Clara juga mulai belajar menghargai orang lain," lanjut Doni. "Dia sekarang tahu cari uang itu tidak mudah."

Pak Agung menarik napas panjang.

"Ibunya pasti bangga kalau mendengar semua ini."

Nama istrinya membuat suasana kembali hening.

Doni tahu hubungan Clara dengan ibunya memang sangat dekat. Jika wanita itu mengetahui perubahan putrinya, pasti ia akan merasa lega.

Pak Agung lalu membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah foto keluarga. Dalam foto itu terlihat Clara tersenyum ceria di antara kedua orang tuanya.

Tatapan Pak Agung melembut.

"Dulu dia sangat manja," katanya lirih. "Kalau tidur pendingin ruangan mati sedikit saja langsung mengeluh panas. Kalau makanan kurang sesuai selera langsung tidak mau makan."

Ia tertawa kecil sambil menggeleng.

"Sekarang ternyata dia bisa makan warteg dan belajar masak telur dadar. Hidup memang aneh."

"Kadang orang berubah setelah dipaksa keadaan," jawab Doni.

Pak Agung mengangguk setuju.

"Tapi saya tidak ingin Clara merasa dibuang," katanya lagi. "Saya hanya ingin dia belajar menjadi manusia yang lebih baik."

"Karena itu sebaiknya Pak Agung mulai mendekatinya lagi," ujar Doni tenang. "Tidak perlu langsung membawa dia pulang. Cukup tunjukkan kalau orang tuanya tetap peduli."

Pak Agung memikirkan ucapan itu cukup lama.

Ia sadar Doni benar.

Selama ini dirinya terlalu fokus memberi pelajaran sampai lupa bahwa Clara juga membutuhkan dukungan emosional.

"Kamu cukup dekat dengan Clara sekarang," katanya sambil menatap Doni.

"Tidak juga. Dia masih sering kesal kalau bertemu saya."

Pak Agung tertawa kecil.

"Saya heran kalian bisa akur setelah semua pertengkaran itu."

"Kami juga belum akur," jawab Doni datar. "Hanya sama-sama berhenti ribut terlalu sering."

Jawaban itu membuat Pak Agung kembali tersenyum.

Untuk pertama kalinya pagi itu suasana ruang kerja terasa lebih ringan.

Pak Agung kemudian menutup laporan proyek yang tadi dibawakan Doni.

"Laporanmu bagus," katanya. "Strategi pemasaran digitalnya juga cukup kuat."

"Terima kasih, Pak."

"Target penjualan bulan depan realistis?"

"Kalau distribusi berjalan lancar, harusnya bisa tercapai."

Pak Agung mengangguk puas.

Namun setelah beberapa detik, pikirannya kembali pada Clara.

Ia membayangkan putrinya yang biasanya bangun siang sekarang harus bangun pagi untuk bekerja. Membayangkan Clara berdiri di bus penuh penumpang sambil menahan lelah. Membayangkan anaknya mencoba memasak di dapur kecil kontrakan.

Perasaan sesak kembali memenuhi dadanya.

Sebagai ayah, melihat perubahan itu membuatnya bangga sekaligus sedih.

Bangga karena Clara mulai belajar mandiri.

Sedih karena ia tidak berada di samping putrinya saat semua proses itu terjadi.

Doni berdiri dari kursinya.

"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi dulu, Pak."

Pak Agung mengangguk.

"Terima kasih sudah membantu Clara selama ini."

"Saya hanya membantu seperlunya. Sisanya Clara sendiri yang berusaha."

Pak Agung tersenyum tipis.

"Tetap saja saya berutang banyak padamu."

Doni tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia sempat berhenti.

"Pak," panggilnya.

"Hm?"

"Clara mungkin keras kepala. Tapi dia benar-benar sedang mencoba berubah."

Pak Agung menatap Doni beberapa saat lalu mengangguk pelan.

"Saya tahu."

Doni akhirnya keluar dari ruangan.

Pintu tertutup perlahan meninggalkan Pak Agung sendirian di ruang kerjanya.

Pria itu kembali memandangi foto keluarga di tangannya.

Tatapannya lama berhenti pada wajah Clara.

Anak perempuan yang selama ini selalu hidup nyaman kini sedang berjuang memahami kerasnya kehidupan.

Dan untuk pertama kalinya, Pak Agung merasa putrinya benar-benar mulai tumbuh dewasa.

Ia lalu meletakkan foto itu kembali ke meja.

Tangannya mengambil ponsel beberapa kali seolah ingin menghubungi Clara. Namun setiap kali ingin menekan nomor putrinya, ia kembali ragu.

Bagaimana kalau Clara masih marah?

Bagaimana kalau putrinya merasa dirinya terlalu ikut campur?

Pak Agung menghela napas panjang.

"Dasar keras kepala," gumamnya pelan, entah untuk dirinya sendiri atau untuk Clara.

Beberapa saat kemudian ia melihat jam di tangannya.

Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu. Namun pikirannya sudah tidak fokus lagi pada laporan atau rapat perusahaan.

Yang ada di kepalanya hanyalah Clara.

Ia membayangkan kontrakan kecil tempat putrinya tinggal sekarang.

Apakah tempat itu bersih?

Apakah Clara makan dengan baik?

Apakah dia tidur nyenyak?

Dan entah kenapa, semakin dipikirkan, semakin besar keinginannya untuk melihat keadaan putrinya secara langsung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!