“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 - Wasiat Terakhir
Suara rintik hujan di luar jendela terasa seperti dentuman drum yang menyiksa gendang telinga Naura Aleesha. Di dalam ruang keluarga mansion keluarga Mahendra yang biasanya dipenuhi tawa atau alunan musik jazz, malam ini hampa udara. Sesak. Mencekik.
Naura berdiri di tengah ruangan, matanya melebarkan tak percaya. Rambut hitam panjangnya yang biasa ditata rapi tergerai acak, menutupi separuh wajahnya yang kini memerah menahan amarah.
"Apa maksudnya dijodohkan?!" Naura menghentakkan kakinya di lantai marmer. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang meledak-ledak. "Aku baru dua puluh tahun, Papa! Aku masih kuliah! Kenapa tiba-tiba aku harus nikah sama orang yang bahkan nggak aku kenal?"
Mahendra Wijaya duduk dengan bahu yang sedikit lunglai. Garis-garis ketegangan tercetak jelas di dahi pria paruh baya itu. Ia menatap putri tunggalnya dengan tatapan yang tak biasa, berat, penuh beban, dan tak bisa dibantah.
"Ini wasiat terakhir Kakek Azzam, Naura," ucap Mahendra dengan suara rendah. "Sebelum beliau wafat minggu lalu, beliau meminta agar kamu dan Gus Azzam disatukan. Kakekmu dan Kakek Azzam punya ikatan yang sangat erat di masa lalu. Utang budi yang harus dibayar dengan pernikahan ini."
"Utang budi?!" Naura mendengus sinis. Ia merasa dadanya bergemuruh. "Zaman udah modern, Papa! Kita bukan di zaman feodalisme yang bayar utang pakai anak perempuan! Itu masa lalu, kenapa aku yang harus nanggung akibatnya?"
Naura berbalik menatap ibunya, mata cokelatnya memelas mencari sekutu. "Mama, bilangin Papa dong. Aku nggak mau!"
Diana Mahendra menghela napas panjang. Tangannya yang bercat kuku merah marun mencengkeram erat tas branded di pangkuannya. Wajah sosialita itu penuh kekhawatiran. "Mahendra, Naura masih anak muda. Lagipula... keluarga pesantren? Kehidupan mereka jauh berbeda dengan dunia kita. Naura tidak akan betah tinggal di lingkungan kaku."
"Tidak ada pilihan lain, Diana." Mahendra mengetukkan tongkat jalanannya ke lantai, menandai bahwa keputusannya final. "Bisnis kita sedang terancam oleh Rangga Prasetyo. Keluarga Al-Farizi adalah tameng kita. Pesantren mereka punya pengaruh besar di masyarakat dan pemerintahan. Kalau pernikahan ini batal, keluarga kita bisa hancur."
Naura terpaku.
Tiba-tiba rasa marahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih menyakitkan rasa dikhianati. Jadi ini bukan sekadar wasiat, ini transaksi bisnis. Ia hanyalah alat pelindung untuk perusahaan ayahnya.
"Jadi aku cuma alat, ya?" Suara Naura kini turun, bergetar menahan tangis. "Kalau anaknya sehebat itu, kenapa dia nggak cari istri sendiri? Santriwati di pesantrennya kan banyak yang mau! Kenapa harus aku yang jadi korban wasiat kakeknya?!"
Naura mengibaskan tangannya frustasi. "Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan! Aku menolak!"
Tanpa menunggu respons dari orang tuanya, Naura berbalik dan berlari naik ke lantai atas. Bantingan pintu kamarnya menggema ke seluruh rumah, membuat Diana dan Mahendra saling bertukar pandang lesu.
Di dalam kamar, Naura merebahkan diri di atas kasur king size-nya. Air matanya akhirnya tumpah, membasahi bantal beludru. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menekan nomor satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
Cipa Rahmania.
"Cipa..." isak Naura begitu telepon terangkat. "Gue mau mati aja rasanya."
"Woi, lo kenapa nangis? Tumben lo nangis bukan karena ending novel heartbreak." Suara Cipa di seberang terdengar santai, diiringi suara kunyahan keripik. "Ngapain sih lo nangis?"
"Gue dijodohin, Cipa. Sama... seorang Gus."
Hening sejenak di seberang saluran. Lalu, terdengar suara tawa Cipa yang meledak hingga Naura harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"HAHAHA! Lo?! Naura Aleesha yang anti-aturan dijodohin sama ustaz?! Ya ampun, Naura, itu mah bukan nikah, itu lo diselamatin dari neraka! Sumpah, ship banget gue! Kebayang nggak sih vibe dingin-dingin suaminya nyuruh lo shalat?"
"Cipa, serius ih! Aku nggak ketawa!" Naura menggeram kesal, mengusap air matanya dengan kasar. "Papaku mau ngejadin gue tameng bisnis! Gue harus pindah ke pesantren, Cipa. Pesantren! Nggak ada *caf*e, nggak ada mall, yang ada cuma kitab dan santriwati yang pasti bakal ngatain gue culun!"
"Yah, santai lah. Paling lo bikin revolusi di pesantren. Lo kan gadis pembangkang," Cipa terkekeh, meski nada suaranya mulai terdengar cemas. "Tapi serius, Gus Azzam Al-Farizi itu siapa? Terkenal banget ya?"
"Nama aja udah kerasa nggok, ya. Azzam Al-Farizi. Kayak nama pejuang abad pertengahan," Naura mengerutkan dahi. "Gue nggak mau, Cip. Gue nggak mau hidup gue dikendalikan orang lain."
.
.
.
Sementara itu, di sisi lain kota yang diguyur hujan yang sama, suasana berdiri seribu meter lebih tenang.
Pesantren Al-Farizi berdiri megah dan angkuh, menjadi penyejuk di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Di dalam masjid utama pesantren, aroma menyan dan minyak attar bercampur dengan kesunyian malam.
Seorang pemuda bertelanjang kaki duduk bersimpuh di atas sajadah. Gurat-gurat wajahnya tenang bak air danau di pagi hari, namun matanya menyimpan kedalaman yang tak terhingga. Gus Azzam Al-Farizi baru saja mengakhiri bacaan Al-Qur'an juz 30, bibirnya masih basah oleh doa-doa yang ia panjatkan untuk almarhum kakeknya.
Langkah ringan terdengar mendekat. Kyai Hanan, ayahnya, berjalan membelah kesunyian masjid. Pria tua itu duduk di samping putranya, menatap punggung Azzam dengan tatapan penuh rasa bangga sekaligus kekhawatiran.
"Azzam," panggal Kyai Hanan lembut.
Azzam menoleh, tersenyum sopan sebagaimana adab seorang santri pada gurunya, sekaligus seorang anak pada ayahnya. "Abi belum tidur?"
"Ada hal yang harus Abi sampaikan," Kyai Hanan menghela napas. Ia mengeluarkan sebuah amplop bersegel dari saku jubahnya dan meletakkannya di atas Al-Qur'an di pangkuan Azzam. "Wasiat kakekmu. Beliau meninggalkan ini untukmu."
Azzam mengambil amplop itu. Jari-jarinya yang panjang dan pucat membuka segel dengan sangat hati-hati, seolah menyentuh peninggalan paling berharga. Matanya menyapu deretan kalimat tulisan tangan kakeknya yang mulai meranggas.
"...Dan wasiat terakhirmu, Nak, adalah memimpin pesantren ini dengan seorang pendamping. Bukan perempuan yang paling alim, bukan pula santriwati yang paling hafal kitabnya. Carilah putri Mahendra, Naura Aleesha. Jadikan ia istrimu, karena di balik dunianya yang terlalu bebas, ia memiliki hati yang akan menjadi pelita saat kelak duniamu menjadi gelap..."
Azzam membacanya dua kali. Wajahnya tidak menunjukkan kerutan keheranan, juga tidak ada penolakan. Hanya ketenangan.
"Naura Aleesha," ucap Azzam pelan, mencoba merasakan getaran nama itu di lidahnya. "Putri pengusaha itu? Perempuan yang fotonya beberapa kali terbit di majalah society?"
Kyai Hanan mengangguk lambat. "Abi tahu ini berat. Lingkungan kita dan dunianya sangat jauh berbeda. Abi tidak akan memaksamu jika kau menolak, Azzam. Ini wasiat kakekmu, bukan Abimu."
Azzam meliput kertas wasiat itu kembali dengan rapi. Ia menatap jendela masjid yang diguyur hujan, bayangannya memantul di kaca. Selama ini, banyak perempuan alim, santriwati, putri kyai lain. mencoba mendekatinya, namun hatinya sekeras batu. Ia selalu berpikir pernikahan hanya akan menghalangi fokusnya membesarkan pesantren.
Namun, kata-kata kakeknya selalu ada di ujung sajadah. Kakeknya tak pernah salah membaca karakter manusia.
"Abi," suara Azzam tenang, namun punya autoritas yang tak tergoyahkan. "Jika ini jalan yang Allah pilihkan melalui lisan kakek, saya pasrah."
Kyai Hanan menatap putranya dengan takjub. "Kau yakin, Azzam? Kau belum pernah bertemu dia."
"Kakek bilang dia punya hati yang akan menjadi pelita," Azzam menyingkap senyum tipis yang jarang terlihat, menampakkan rahangnya yang tegas dan bibir yang terukur sempurna. "Maka Azzam akan mencari pelita itu, dan akan menjaganya seumur hidupku."
Di luar sana, petir menyambar, menerobos langit gelap. Dua dunia yang tak pernah bersinggungan, malam ini ditarik oleh tali takdir yang tak terlihat. Satu menolak dengan segala amarahnya, satu menerima dengan sepenuh kepasrahan.
.
.
.