NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti di halaman luas sebuah rumah bergaya arsitektur Jawa-Modern yang megah—kediaman Kyai Umar. Di sana, lampu-lampu taman berpendar temaram, menyinari bangunan yang juga berfungsi sebagai area depan kompleks pesantren.

Humairah turun dari mobil dengan langkah ragu. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba mencari kekuatan.

Di teras rumah, Kyai Umar dan Nyai Latifah ternyata sudah tiba lebih dulu.

Kyai Umar menyambut mereka dengan senyum yang dipaksakan untuk menenangkan suasana.

"Fathan, bawa masuk istrimu. Ini sudah malam, biarkan dia istirahat. Dia pasti sangat lelah dengan kejadian hari ini," ucap Kyai Umar lembut, mencoba memberikan kehangatan yang tidak ditemukan Humairah sejak tadi.

Namun, suasana tenang itu langsung terkoyak saat Nyai Latifah melangkah maju.

Beliau menatap Humairah dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mencemooh.

"Istirahat? Tentu saja dia butuh istirahat setelah berhasil 'naik pangkat' menjadi istri seorang Ustadz dalam sekejap," sindir Nyai Latifah pedas. Beliau melipat tangan di dada sambil mendengus.

"Dasar sok polos. Ternyata benar kata orang, air tenang itu menghanyutkan. Di balik wajah diamnya, dia tahu betul cara memanfaatkan situasi."

"Umi, sudah!!" bentak Kyai Umar, suaranya menggelegar namun tertahan.

"Jaga bicaramu! Dia sekarang menantu kita, dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini!"

Nyai Latifah hanya membuang muka, mendecih kasar sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan perasaan siapa pun.

Kyai Umar menghela napas panjang, menatap Humairah dengan tatapan penuh maaf.

"Masuklah, Nak. Jangan masukkan ke dalam hati."

Fathan tidak mengeluarkan pembelaan sedikit pun.

Ia tidak menoleh pada ibunya, tidak pula menenangkan istrinya.

Tanpa sepatah kata, Fathan mulai berjalan masuk ke dalam rumah.

Ia berjalan lurus ke depan tanpa menggenggam tangan istrinya, apalagi membantunya membawa tas kecil yang dibawa Humairah.

Humairah mengikuti dari belakang dengan langkah kecil, kepalanya tertunduk dalam.

Ia merasa seperti tamu asing yang tidak diinginkan di rumah yang seharusnya kini menjadi tempat tinggalnya.

Fathan terus melangkah menuju tangga kayu yang mengarah ke lantai atas.

Suara langkah sepatunya beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang kaku.

Sesampainya di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh, Fathan membukanya.

Ia masuk ke kamar atas, kamar pribadinya yang kini harus ia bagi. Namun, aura di dalam kamar itu tidak terasa seperti kamar pengantin.

Tidak ada hiasan bunga, tidak ada aroma wangi yang menyambut.

Hanya ada tumpukan kitab di rak dan aroma kopi yang samar.

Fathan meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu berbalik menatap Humairah yang masih berdiri kaku di ambang pintu.

Matanya menatap datar, seolah baru saja menyelesaikan sebuah transaksi bisnis yang melelahkan, bukan sebuah pernikahan suci.

Lampu kamar yang berpendar kekuningan menciptakan bayangan panjang di antara mereka.

Fathan melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku.

Ia berbalik, menatap Humairah yang masih mematung dengan sisa-sisa riasan pengantin yang kini tampak membebani wajahnya.

"Duduklah, Humairah," perintah Fathan dengan suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Humairah duduk di tepi tempat tidur dengan wajahnya menunduk dalam.

Jantungnya berdegup kencang, menanti kata-kata manis atau setidaknya sedikit simpati yang bisa mengobati lukanya sejak siang tadi. Namun, harapannya hancur dalam sekejap.

Fathan berdiri di depannya, menatapnya dengan pandangan sedingin es.

"Dengarkan aku baik-baik. Aku menikahimu hanya untuk memenuhi perintah Abah dan menjaga nama baik pesantren. Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta.

Humairah tersentak. Ia mendongak, matanya yang sembap menatap Fathan dengan tidak percaya.

"Aku akan tetap menjalankan kewajibanku. Aku akan memberimu nafkah materi, tempat tinggal, dan perlindungan," lanjut Fathan tanpa sedikit pun keraguan.

"Tetapi, jangan harapkan nafkah batin dariku. Jangan harapkan kasih sayang atau cinta. Bagiku, semua wanita sama saja. Hanya pandai bersandiwara."

"Maksud Ustadz?" suara Humairah bergetar, nyaris hilang.

"Apa kesalahan saya sampai Ustadz menghukum saya seperti ini?"

Fathan mendengus sinis, matanya menyipit penuh luka yang ia tutupi dengan kemarahan.

"Tidak usah bertanya karena kamu tidak berhak tahu. Urusan masa laluku bukan bagian dari kesepakatan ini."

Ia melangkah menuju lemari, mengambil sebuah bantal dan selimut tambahan.

"Mulai malam ini dan seterusnya, aku akan tidur di sofa dan kamu di tempat tidur. Kita berbagi ruang, tapi tidak berbagi kehidupan."

Sebelum melangkah menuju sofa yang terletak di sudut kamar, Fathan berhenti sejenak.

Ia menoleh, menatap Humairah dengan tatapan yang sangat menyakitkan.

"Aku jadi penasaran," gumamnya dengan nada menghina.

"Entah apa yang sebenarnya Abraham takutkan dari kamu sampai ia lari dari pernikahan ini. Mungkin dia sudah lebih dulu melihat sisi darimu yang tidak aku ketahui."

Kalimat itu bagai tamparan keras bagi Humairah. Ia ingin membela diri, ingin berteriak bahwa ia pun korban di sini, tapi tenggorokannya terasa tersumbat.

"Sekarang tidurlah dan jangan banyak bertanya," tutup Fathan ketus.

Ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang temaram.

Fathan merebahkan tubuhnya di sofa yang sempit, membelakangi Humairah.

Sementara itu, Humairah hanya bisa meringkuk di atas tempat tidur yang luas, mendekap bantalnya dalam keheningan yang menyiksa.

Malam pertama yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, kini berubah menjadi penjara tanpa jeruji bagi hatinya.

Kegelapan kamar hanya menyisakan cahaya remang dari lampu sudut, namun keheningan di dalamnya terasa begitu pekak.

Di sudut ruangan, Humairah bisa mendengar napas teratur Fathan yang membelakanginya di atas sofa. Pria itu tampak begitu tenang setelah baru saja menjatuhkan vonis mati bagi perasaan istrinya.

Humairah merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur yang empuk, namun baginya, ranjang itu terasa seperti hamparan paku yang tajam.

Ia menarik selimut hingga ke dada, mencoba mengusir rasa dingin yang bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sikap suaminya.

Humairah meneteskan air matanya. Satu per satu, butiran bening itu jatuh membasahi bantal sutra yang seharusnya menjadi saksi kebahagiaan.

Isaknya tertahan, ia membekap mulutnya sendiri dengan ujung selimut agar suaranya tidak pecah dan mengganggu pria di sofa itu.

"Ya Allah, apakah ini ujian atas dosaku di masa lalu? Atau ini cara-Mu menghapus air mataku dengan luka yang lebih besar?" batinnya merintih.

Pikirannya melayang pada Abraham. Laki-laki yang dulu menjanjikan surga, namun justru meninggalkannya di gerbang neraka. Lalu kini, kakaknya—sang Ustadz yang diagungkan banyak orang karena kesalehannya—justru memperlakukannya lebih rendah dari seorang pengemis cinta.

Humairah bangkit dengan perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.

Ia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu.

Air dingin yang menyentuh kulitnya sedikit memberikan ketenangan, namun sesak di dadanya tak kunjung hilang.

Ia membentangkan sajadah di pojok kamar yang sepi.

Dalam sujudnya yang panjang, Humairah tumpah ruah.

Tidak ada lagi kata-kata yang mampu ia ucapkan selain rintihan dalam hati.

"Ya Allah, jika memang pernikahan ini adalah takdir yang Engkau tuliskan, maka pinjamkan lah aku sedikit kekuatan-Mu. Aku tidak tahu seberapa tinggi tembok yang dibangun Ustadz Fathan, tapi aku tahu tidak ada tembok yang tidak bisa runtuh dengan izin-Mu."

Selesai berdoa, ia melirik ke arah sofa. Di bawah cahaya temaram, wajah Fathan yang sedang tertidur tampak sedikit lebih lembut, tidak sedingin saat ia bicara tadi. Namun, Humairah tahu, di balik wajah tenang itu tersimpan badai trauma yang sangat besar.

Humairah kembali ke tempat tidur dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, meski ia tahu besok pagi, ia harus bangun menghadapi kenyataan bahwa ia adalah seorang istri yang tidak diinginkan, menantu yang dibenci, dan wanita yang dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri.

Ia memejamkan mata, membiarkan sisa air mata mengering di pipinya, bersiap menyambut fajar yang mungkin akan terasa lebih dingin dari malam ini.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!