Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Sabtu pagi di kediaman Dewangga biasanya diisi dengan rutinitas yang kaku. Dewangga akan bangun lebih awal, berolahraga di gym pribadi, lalu menuntut sarapan mewah sebelum mereka berangkat ke rumah orang tuanya. Pergi ke rumah Papa dan Mama mertua adalah agenda wajib setiap hari libur, sebuah sandiwara bakti yang harus dimainkan dengan sempurna demi menjaga citra menantu teladan.
Namun, pagi ini berbeda. Siham sudah rapi dengan blouse sutra berwarna krem dan celana kulot hitam yang elegan. Wajahnya yang pucat dipoles dengan riasan tipis namun tegas, menyembunyikan gurat kelelahan dan rasa sakit yang terus menggerogotinya dari dalam.
Dewangga keluar dari kamar dengan kaus polo santai, bersiap untuk ritual mingguan mereka. Ia menatap Siham dari atas ke bawah dengan kening berkerut.
"Kenapa sudah rapi? Cepat siapkan sarapan, Papa sudah menelepon. Mereka menunggu kita jam sepuluh untuk makan siang bersama di sana," ucap Dewangga dengan nada memerintah, tanpa menoleh, seolah kehadirannya adalah titah yang tak boleh disanggah.
Siham tetap tenang, ia merapikan jam tangannya tanpa sedikit pun terlihat tergesa. "Aku tidak bisa ikut ke rumah Papa hari ini, Mas."
Gerakan Dewangga terhenti. Ia berbalik, menatap Siham dengan mata yang menyipit tajam. "Apa kamu bilang? Tidak bisa? Ini hari Sabtu, Siham. Kamu tahu itu agenda wajib kita."
"Aku sudah ada janji dengan Dena," sahut Siham datar. "Dia baru saja mendarat dari London kemarin malam. Dia ingin bertemu denganku untuk menyampaikan bela sungkawa secara langsung karena saat Ayah meninggal, dia tidak ada di Indonesia. Kami akan bertemu di luar."
Wajah Dewangga mendadak memerah. Baginya, penolakan Siham adalah sebuah penghinaan terhadap otoritasnya. "Dena? Sahabatmu yang berisik itu? Kamu lebih memilih bertemu temanmu daripada berbakti pada mertuamu sendiri? Batalkan. Aku tidak mau tahu, kamu harus ikut denganku."
Siham menatap Dewangga lurus ke mata. Tidak ada lagi ketakutan di sana. "Aku sudah berbakti selama lima tahun, Mas. Dan selama lima tahun itu, aku mengabaikan diriku sendiri. Hari ini, aku butuh temanku. Aku tidak akan membatalkannya."
"SIHAM!" bentak Dewangga, suaranya menggelegar memenuhi ruang tengah. "Jangan mulai lagi! Sejak pulang dari desa, kamu semakin tidak tahu aturan. Kamu pikir dengan jabatan barumu sebagai editor senior, kamu bisa menginjak-injak harga diriku?"
Siham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang namun menyakitkan bagi Dewangga. "Kalau kamu merasa terinjak hanya karena istrimu ingin bertemu sahabatnya, mungkin harga dirimu memang terlalu rendah, Mas. Aku pergi sekarang."
Siham menyambar tasnya, mengabaikan Dewangga yang masih mematung karena amarah yang memuncak. Sebelum Dewangga sempat mengejarnya, Siham sudah melangkah keluar pintu dan memesan taksi online. Ia tidak ingin berada di dalam mobil yang sama dengan Dewangga, tidak hari ini.
Siham bertemu Dena di sebuah kafe privat di kawasan Jakarta Selatan. Begitu melihat Siham, Dena langsung bangkit dan memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat. Dena adalah satu-satunya orang yang tahu betapa beratnya perjuangan Siham, meski Siham belum menceritakan tentang kankernya.
"Siham... maafkan aku ya. Aku benar-benar merasa bersalah tidak bisa ada di sampingmu saat paman meninggal," ucap Dena dengan mata berkaca-kaca.
Siham mengusap punggung Dena. "Tidak apa-apa, Den. Doamu sampai ke sana. Terima kasih sudah mau bertemu."
Mereka duduk dan memesan minuman. Dena menatap wajah Siham dengan saksama. "Kamu kurusan sekali, Ham. Wajahmu... apa Dewangga menyakitimu lagi?"
Siham hanya menggeleng pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun, Dena memiliki tatapan yang tidak bisa dibohongi. Sebagai wanita yang lama tinggal di luar negeri dan bekerja di bidang komunikasi, Dena tahu ada sesuatu yang sangat besar yang sedang disembunyikan Siham.
"Ham, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku sampaikan padamu. Dan aku harap kamu kuat mendengarnya," suara Dena merendah, ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
Jantung Siham berdegup sedikit lebih kencang. "Soal apa?"
"Soal Agata," bisik Dena.
Siham terdiam. Nama itu. Nama yang menjadi alasan kenapa suaminya tidak pernah benar-benar mencintainya. Nama yang menjadi hantu di setiap sudut rumah mereka selama lima tahun.
"Aku bertemu dengannya di London sebulan yang lalu, Ham. Dia bekerja di sebuah galeri seni di sana. Dan... dia bercerita padaku bahwa dia masih menjalin komunikasi dengan Dewangga," Dena menjeda kalimatnya, seolah memberikan ruang bagi Siham untuk bernapas. "Dia bilang, Dewangga masih sering mengiriminya pesan. Bahkan, Dewangga sempat menjanjikan bahwa suatu saat dia akan menyusul Agata ke sana kalau semuanya sudah selesai."
Siham merasa seolah ada es batu yang disuntikkan langsung ke pembuluh darahnya. Dingin dan mematikan. Jadi, selama ini Dewangga tidak hanya memendam kenangan, tapi benar-benar aktif berkomunikasi? Sementara ia, Siham, berjuang sendirian melawan kanker dan mengurus segala kebutuhan Dewangga dengan penuh kesabaran.
"Ham? Kamu baik-baik saja?" Dena memegang tangan Siham yang sangat dingin.
Siham menarik napas panjang, menekan rasa nyeri di dadanya yang mulai muncul lagi. Ia tidak menangis. Anehnya, ia merasa sangat ringan. Kabar ini seolah menjadi pembenaran atas semua langkah yang telah ia ambil.
"Aku baik-baik saja, Den. Malah... ini kabar yang sangat bagus," jawab Siham dengan nada yang tenang, hampir menyeramkan.
"Bagus? Maksudmu?"
"Ini artinya aku tidak perlu merasa bersalah lagi jika aku pergi nanti," ucap Siham misterius. "Dewangga sudah punya tempat kembali. Dan aku sudah punya naskah yang harus aku selesaikan."
"Kamu bicara apa sih ham? Memangnya kamu mau pergi kemana?." Kesal Dena dengan ucapan Siham.
Siham hanya tersenyum tipis. Ia teringat kutipan Aksara Renjana yang ia posting kemarin. "Lengan yang ia gunakan untuk mendekap, perlahan mencekik nyawaku." Ternyata, lengan itu memang milik Agata yang dipinjam oleh Dewangga.
Sore harinya, Siham pulang ke rumah. Ia mendapati Dewangga sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang sangat gelap. Di atas meja, ada beberapa berkas yang berantakan. Begitu Siham masuk, Dewangga langsung berdiri.
"Senang bermain-main dengan temanmu? Orang tuaku sangat kecewa karena kamu tidak datang. Mama sampai sedih bertanya apa salah mereka padamu," tuduh Dewangga dengan suara tertahan.
Siham tidak membalas. Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air, lalu berbalik menatap Dewangga.
"Kenapa diam saja?" Dewangga mendekat, mencengkeram lengan Siham. "Jawab aku!"
Siham melepaskan tangan Dewangga dengan gerakan yang tegas. "Dena membawa kabar menarik dari London, Mas. Dia bertemu dengan seseorang bernama Agata."
Detik itu juga, wajah Dewangga berubah pucat pasi. Amarahnya yang meluap-luap mendadak surut, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang luar biasa. Cengkeramannya pada lengan Siham melemah.
"Apa... apa hubungannya denganku?" tanya Dewangga dengan suara yang tiba-tiba gagap.
Siham tertawa kecil, tawa yang sangat menyakitkan untuk didengar. "Jangan berakting seolah-olah kamu tidak tahu, Mas. Dena menceritakan semuanya. Tentang pesan-pesanmu, tentang janjimu untuk menyusulnya kalau semua sudah selesai. Selesai apa maksudnya, Mas? Tunggu kita bercerai?"
"Siham, itu... itu tidak seperti yang kamu bayangkan," Dewangga mencoba membela diri, namun ia tidak bisa menatap mata Siham.
"Ternyata benar kata Aksara Renjana," bisik Siham sembari berjalan melewati Dewangga menuju kamarnya. "Kamu memang sedang tidur dengan masa lalu, dan membiarkan istrimu yang nyata ini membusuk sendirian. Silakan saja, Mas. Teruslah berhubungan dengannya. Tapi ingat satu hal, saat hari kepulanganku tiba nanti, jangan pernah berani memanggil namaku di atas pusaraku."
Siham menutup pintu kamarnya dengan bantingan pelan namun sangat dalam maknanya. Di ruang tamu, Dewangga berdiri terpaku. Ia merasa seluruh kekuatannya lumpuh. Rahasia yang ia jaga rapat-rapat selama bertahun-tahun kini dibongkar oleh istrinya sendiri dengan cara yang sangat elegan dan mematikan.
Malam itu, Jakarta diguyur hujan deras. Di dalam kamar, Siham kembali membuka laptopnya. Ia mengetik dengan cepat, air matanya akhirnya jatuh satu per satu membasahi keyboard.
"Hari ini, aku tahu bahwa aku hanyalah sebuah bab pengalih dalam naskah hidupnya. Dia menunggu titik terakhir dariku agar bisa memulai judul baru dengan wanita lain. Maka, akan kuberi dia titik itu secepat mungkin, namun dengan tinta darah yang tidak akan pernah bisa ia hapus."
Siham batuk lagi. Kali ini ia tidak mencari tisu. Ia membiarkan darah itu menetes di telapak tangannya, menatapnya dengan pandangan kosong. Ia tidak sedih. Ia hanya ingin segera menyelesaikan naskah Aksara Renjana, karena ia tahu, hanya itu satu-satunya cara ia bisa memenangkan pertarungan ini sebelum maut datang menjemput.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor