NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 - Menempa Tanah Mentah

Isyarat dari jari telunjuk Citra yang menempel di bibir Elang terasa sedingin es, namun sanggup menghentikan aliran napas pemuda itu dalam seketika. Di sudut lain, cengiran Surya lenyap tanpa sisa. Wadah plastik berisi sate usus yang sejak tadi dipangkunya kini diletakkan ke atas tanah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Atmosfer di taman mati itu mendadak berubah, menjadi begitu pekat dan menekan, seolah udara di sekeliling mereka perlahan-lahan habis diisap oleh keheningan malam.

"Surya, bawa Kirana masuk ke dalam kos. Kunci pintu dari dalam," bisik Citra. Suaranya hampir tidak terdengar, menyatu dengan desau angin yang menggoyang dedaunan pohon mangga. Ada otoritas yang begitu mutlak dalam nada bicaranya, jenis perintah yang tidak membuka ruang untuk perdebatan atau pertanyaan mengapa.

Surya yang biasanya bermulut lancang dan suka berkelakar, kali ini hanya mengangguk lurus. Instingnya sebagai anak jalanan yang akrab dengan kerasnya trotoar tahu kapan sebuah gurauan harus dihentikan. Tanpa bersuara, ia merangkak pelan, memanfaatkan bayang-bayang pohon untuk kembali ke bangunan kos, bersiap menjemput Kirana yang sejak tadi mengintip dari balik jendela nako dengan wajah sepucat kapas.

Kini, hanya tersisa Citra dan Elang di tengah taman yang temaram. Elang mencoba menggerakkan kakinya, namun paha dan betisnya langsung menegang, didera kram hebat yang membuat seluruh persendian dari pinggang ke bawah terasa lumpuh. Otot-ototnya yang selama dua puluh tahun ini dimanjakan oleh fasilitas mewah, malam ini dipaksa menembus batas dalam hitungan menit, dan sekarang ia harus membayar harganya. Ia terjebak dalam tubuhnya sendiri yang tidak bisa diajak bekerja sama, tepat di saat bahaya sedang mengintai di depan mata.

"Gue... gue nggak bisa jalan," desis Elang, suaranya parau menahan rasa frustrasi yang luar biasa. Tangannya mencengkeram rumput basah, memaki kelemahannya sendiri di dalam hati.

Citra tidak menoleh. Matanya tetap terpaku ke arah lorong gelap yang menghubungkan kompleks kos dengan jalan utama. "Tetap di posisi lo. Jangan bersuara, jangan mencoba berdiri kalau lo nggak mau otot paha lo robek secara permanen. Anggap ini ujian pertama untuk mental lo. Menonton dan membaca situasi juga bagian dari bertarung."

Di ujung gang, tiga pasang sepatu bot melangkah dengan ritme yang teratur namun penuh kehati-hatian. Tiga preman suruhan Rania telah keluar dari bayang-bayang ruko kosong. Bau menyengat dari cairan bensin yang menguap di udara malam kian tajam, merayap masuk ke dalam indra penciuman Elang, memicu lonjakan adrenalin yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia bisa melihat kilatan samar dari bilah celurit dan pipa besi yang dibawa oleh para perusak itu. Target mereka jelas: gerobak angkringan Surya yang dirantai di tepi trotoar, dan dirinya sendiri.

"Siram sebelah sini. Pastikan kayunya basah semua biar sekali sulut langsung habis," perintah pria bertubuh paling besar, yang tampaknya menjadi pemimpin gerombolan tersebut. Suaranya yang berat terdengar jelas di keheningan malam yang sunyi.

Preman kedua mulai memiringkan jeriken plastik. Cairan bensin mengucur deras, membasahi terpal plastik biru-oranye dan dinding kayu gerobak yang menjadi sumber penghidupan Surya selama merantau. Bunyi kucuran itu terdengar seperti vonis mati bagi ketenangan kecil yang baru saja Elang temukan di tempat ini.

Elang mencengkeram tanah lebih erat. Amarahnya bergolak. Logika warasnya menyuruhnya untuk berteriak atau nekat merangkak ke sana, tetapi peringatan dingin dari Citra menahannya. Ia dipaksa menyaksikan takdir bermain di depannya tanpa bisa melakukan tindakan fisik apa pun.

Tepat ketika preman ketiga merogoh saku jaket kulitnya untuk mengambil pemantik api, sebuah pergerakan tak terduga muncul dari arah yang sama sekali berbeda.

Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor yang sejak tadi terparkir jauh di seberang jalan arteri tiba-tiba menyalakan lampu utamanya hanya selama satu detik—sebuah kode kilat yang memotong pekatnya kegelapan. Detik berikutnya, pintu mobil itu terbuka dan tertutup tanpa suara yang berarti.

Empat orang pria bertubuh tegap, mengenakan pakaian serba hitam yang pas di badan tanpa atribut atau logo apa pun, muncul dari balik kegelapan trotoar. Mereka bergerak dengan kecepatan dan kesunyian yang tidak normal, menyerupai siluet bayangan yang memotong jarak dalam hitungan langkah kaki yang tak terdengar.

Citra, yang sejak awal sudah bersiap untuk melompat maju menghalau para preman, mendadak menahan langkahnya. Sepasang matanya menyipit penuh analisis. Dari posisi berjongkoknya di balik semak taman, ia mengamati gerak-gerik keempat orang asing yang baru datang tersebut. Insting tuanya segera mengenali satu hal: orang-orang ini bukan preman jalanan, bukan warga lokal yang berniat menolong, dan jelas bukan musuh amatir. Pembawaan mereka terlalu dingin, efisien, dan terlatih. Mereka bergerak dengan disiplin militer tingkat tinggi.

"Siapa kalian?!" gertak pemimpin preman, tersentak kaget saat menyadari kehadiran empat sosok hitam yang tahu-tahu sudah berdiri mengepung mereka di depan gerobak angkringan.

Tidak ada jawaban kata-kata. Keempat pria misterius itu tidak mengeluarkan satu vokal pun dari tenggorokan mereka. Mereka langsung bertindak dengan efisiensi yang mengerikan.

Pria berbaju hitam yang berada di posisi paling depan melangkah maju, menghindari tebasan pipa besi yang dilayangkan oleh salah satu preman dengan gerakan memutar tubuh yang sangat minim namun akurat. Tangannya bergerak cepat laksana kilat, mencengkeram pergelangan tangan si preman, memutarnya ke belakang dengan satu sentakan bertenaga, dan disusul oleh hantaman sikut yang telak mengenai ulu hati.

Bugh!

Preman itu langsung tumbang ke atas semen trotoar, megap-megap kehabisan napas tanpa sempat mengeluarkan teriakan. Pipa besi di tangannya direbut sebelum menyentuh tanah, beralih fungsi menjadi senjata pelumpuh berikutnya.

Melihat rekannya langsung tumbang dalam hitungan detik, dua preman lainnya menjadi kalap. Si pemimpin gerombolan mengayunkan celurit panjangnya secara membabi buta, mencoba memotong ruang gerak dua orang berbaju hitam yang mendekatinya. Namun, para pendatang misterius itu memperlakukan serangan senjata tajam tersebut seolah-olah itu hanyalah gerakan lambat yang mudah dibaca.

Salah satu dari mereka mundur setengah langkah untuk menghindari ujung celurit, lalu memanfaatkan momentum berat badan lawan yang condong ke depan. Dengan satu tendangan sapuan rendah yang presisi, ia menghantam bagian belakang lutut si pemimpin preman. Bunyi retakan halus terdengar samar di udara malam saat sendi itu dipaksa menekuk ke arah yang salah. Pemimpin preman itu jatuh berlutut, dan sebuah pukulan pendek yang telak bersarang di rahang bawahnya, membuatnya pingsan seketika.

Preman ketiga yang memegang jeriken bensin mencoba melarikan diri kembali ke arah minibus mereka, tetapi pria berbaju hitam keempat sudah berdiri menutup jalan keluarnya. Sebuah tendangan lurus tepat mengenai dadanya, membuatnya terpental mundur, menabrak dinding ruko kosong hingga jatuh terkulai di samping tumpukan sampah.

Seluruh pertarungan itu selesai dalam waktu kurang dari dua menit. Tiga preman kekar suruhan Rania yang awalnya begitu menakutkan, kini terkapar tidak berdaya di atas trotoar yang basah oleh sisa es batu dan bensin.

Elang menatap pemandangan itu dari kejauhan dengan sepasang mata yang melebar karena syok. Ia tahu betul kerasnya dunia malam Jakarta, tetapi ia belum pernah melihat eksekusi sebersih dan secepat itu di dunia nyata. Orang-orang itu bergerak seperti mesin pembunuh yang diprogram hanya untuk melumpuhkan target tanpa perlu membuang energi atau emosi sedikit pun.

Namun, perhatian Citra tidak tertuju pada para preman yang bertumbangan. Fokusnya terkunci sepenuhnya pada metode pertarungan keempat orang berbaju hitam tersebut. Sebagai jiwa yang telah melewati ratusan pertempuran di masa lalu, ia bisa membaca asal-usul sebuah gerakan dari cara seseorang menapakkan kaki dan mendistribusikan berat badan mereka.

Insting militer modern berstandar intelijen tingkat tinggi, simpul Citra dalam batinnya. Gerakan mereka dirancang untuk menetralisir ancaman secepat mungkin tanpa meninggalkan jejak atau identitas fisik. Orang-orang ini adalah profesional yang dibayar mahal oleh kekuatan besar yang berada jauh di atas level preman pasar.

Setelah memastikan ketiga penyerang benar-benar lumpuh dan tidak bisa bangkit lagi, salah satu pria berbaju hitam, yang tampaknya merupakan pemimpin tim, melangkah mendekati gerobak angkringan Surya. Ia melihat jeriken bensin yang tumpah, lalu melirik ke arah gang gelap menuju kompleks kos tempat Elang dan Citra berada.

Selama beberapa detik yang menegangkan, pria berbaju hitam itu menatap lurus ke kegelapan taman. Di balik keremangan malam, matanya sempat beradu pandang dengan mata tajam Citra yang mengawasinya dari balik semak-semak. Pria itu tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau berniat memburu. Ia hanya memberikan satu anggukan kepala yang sangat samar, sebuah gestur yang penuh dengan pesan tersembunyi, sebelum berbalik badan.

"Bereskan. Bawa mereka pergi dari sini," perintah pemimpin tim berbaju hitam tersebut dengan suara yang sangat rendah, hampir menyatu dengan desau angin malam.

Dengan kecepatan yang sama efisiennya, mereka menyeret tubuh ketiga preman yang pingsan itu masuk ke dalam minibus hitam milik para preman sendiri, lalu salah satu dari pria berbaju hitam mengambil alih kemudi kendaraan tersebut. Mobil minibus hitam dan sedan misterius itu kemudian melaju pergi meninggalkan area angkringan, menghilang di balik tikungan jalan arteri yang sepi, seolah-olah serangan dan pertumpahan darah malam itu tidak pernah terjadi.

Suasana kembali sunyi. Hanya aroma bensin yang menyengat yang tertinggal di dekat gerobak Surya, menjadi bukti fisik bahwa maut baru saja lewat di depan pintu mereka.

Elang mengembuskan napasnya yang sejak tadi ditahannya, membiarkan tubuhnya melorot ke atas rumput. "Siapa... siapa mereka, Cit? Kenapa mereka menolong kita?" tanya Elang terbata-bata, menatap Citra yang perlahan berdiri dari posisi siaganya.

Citra tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Elang, menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam kepalanya, potongan teka-teki mulai berputar. Orang-orang itu tidak menghancurkan angkringan, tidak menyentuh Elang, dan sengaja melumpuhkan musuh sebelum kerusakan terjadi. Satu-satunya alasan mengapa tim taktis sekelas itu turun tangan di tempat kumuh seperti ini adalah karena ada perintah dari seseorang yang memiliki kepentingan untuk menjaga keselamatan Elang, namun ingin tetap berada di balik bayang-bayang.

Citra tahu Elang adalah mantan anak orang kaya yang mendadak jatuh miskin. Bagi instingnya yang tajam, seluruh skenario kemiskinan mendadak ini mulai terasa janggal. Ada seseorang di atas sana, entah keluarga, pelindung rahasia, atau musuh dalam selimut dari masa lalu Elang, yang sedang memainkan bidak catur. Seseorang yang ingin Elang tetap hidup dan berada di tempat ini, namun tidak akan membiarkan pemuda itu mati konyol oleh tangan preman pasar sebelum waktunya.

Namun, Citra memilih untuk menyimpan analisis itu rapat-rapat. Jika Elang tahu bahwa di balik penderitaannya malam ini masih ada jaringan pengaman yang mengawasinya, maka tekad baja yang baru saja tumbuh di dalam jiwa pemuda itu akan runtuh kembali menjadi mental manja yang ketergantungan.

Elang harus benar-benar merasa sendirian agar bisa bangkit menjadi pria yang mandiri dan kuat. Citra memutuskan untuk menutup rapat dugaannya sendiri.

"Mereka bukan menolong kita," jawab Citra dingin, memotong spekulasi di kepala Elang.

"Di kota besar seperti ini, konflik antar-kelompok kriminal atau perebutan wilayah itu hal biasa. Para preman tadi kemungkinan besar salah memilih tempat beroperasi atau tidak sengaja memicu kemarahan penguasa lokal yang mengawasi jalan utama ini. Jangan berpikir ada pahlawan kesiangan yang peduli sama nasib lo."

Elang terdiam, mencerna ucapan Citra. Logikanya yang biasa hidup di lingkungan elite mencoba mencari celah, namun kelelahan fisik dan rasa sakit yang mendominasi tubuhnya membuat kemampuannya berpikir kritis menurun drastis. Penjelasan Citra terdengar masuk akal bagi seseorang yang menganggap dirinya sudah dibuang oleh seluruh dunia.

"Jadi... itu cuma kebetulan?" gumam Elang, menatap tangannya yang masih gemetar halus.

"Di dunia nyata, kebetulan adalah nama lain dari persiapan yang tidak terlihat," balas Citra misterius, lalu mengulurkan tangannya ke arah Elang.

"Tapi malam ini, lo selamat bukan karena kekuatan lo sendiri. Lo selamat karena keberuntungan. Dan keberuntungan nggak akan datang dua kali saat musuh yang sebenarnya datang membawa badai yang lebih besar."

Elang memandang uluran tangan Citra, lalu meraihnya dengan sisa tenaga yang ada. Dengan bantuan gadis itu, ia memaksakan kakinya yang masih kaku untuk berdiri, meskipun harus bertumpu kuat pada pundak Citra untuk menjaga keseimbangan.

Dari arah pintu kos, Surya dan Kirana berlari keluar dengan langkah tergesa-gesa begitu menyadari suasana di depan sudah aman. Wajah Surya tampak luar biasa cemas saat ia memeriksa kondisi gerobak angkringannya yang basah oleh bensin namun masih utuh berdiri.

"Aman, Sam? Nggak ada yang kebakar, kan?!" tanya Surya setengah berteriak, buru-buru memeriksa laci uangnya yang untungnya masih terkunci dengan aman di balik gerobak.

"Aman. Cuma bau bensin yang harus lo bersihkan sebelum fajar," jawab Citra tenang. Ia menoleh ke arah Kirana yang berdiri di samping Surya dengan napas yang masih memburu akibat ketakutan.

"Kirana, bantu Surya amankan sisa barang di depan. Malam ini kita semua istirahat."

Kirana mengangguk cepat, matanya melirik ke arah Elang yang tampak pucat dan kelelahan dengan baju yang basah kuyup oleh keringat latihan. Sebagai sahabat yang tahu sedikit tentang rahasia Citra, ia bisa merasakan bahwa ketenangan malam ini hanyalah jeda singkat dari perang besar yang sebenarnya sedang mengintai mereka di masa depan.

Saat mereka berjalan kembali menuju koridor kos yang sempit, Elang menoleh sekali lagi ke arah jalan arteri yang gelap di luar gang. Di bawah siraman cahaya temaram lampu kota, ia bersumpah di dalam hatinya: besok malam, ia tidak akan lagi berdiri sebagai penonton yang tidak berdaya. Ia akan melatih tubuhnya sampai hancur, sampai ia tidak perlu lagi mengandalkan keberuntungan atau kebetulan untuk melindungi tempat di mana ia berdiri.

[bersambung Bab 25: Sisa Jelaga dan Bisik-Bisik Kampus]

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!