NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Violet masih terus menangis di balik lakban, tubuhnya bergetar hebat. Mata lebarnya menatap ke arah belati di tangan Alma, penuh ketakutan. Namun Alma terlihat begitu tenang, begitu menikmati setiap detik rasa sakit yang ia ciptakan.

Alma menurunkan belati dan dengan perlahan merobek lakban yang menutup mulut Violet. Bunyi sobekan itu terdengar lebih menyeramkan daripada jeritan apa pun.

Begitu bebas, Violet langsung terisak keras, napasnya tersengal. "T-tolong... jangan lakukan ini... Aku mohon..." suaranya bergetar, parau, bercampur dengan air mata.

Alma menatapnya lekat-lekat, seolah sedang menikmati permohonan itu. "Oh, manis sekali... suara putus asa itu." Ia membelai rambut Violet dengan tangan yang berlumuran sedikit darah. "Tapi sayang... tangisanmu tidak mengubah apa pun. Kau tetap harus memilih."

Violet mengguncang kepala, "Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi boneka, aku tidak mau mati!"

Alma mendesah panjang, seolah kecewa mendengar jawaban itu "Sayang sekali... kau pikir dunia ini memberimu pilihan ketiga? Tidak ada, Violet."

Tiba-tiba ia menancapkan belati itu ke meja kayu di samping kursi dengan suara terk!. Violet menjerit spontan, tubuhnya tersentak, pikirannya seolah runtuh.

Alma lalu mengambil kotak hitam kecil dari rak. Saat dibuka, terlihat berbagai jarum panjang, benang hitam tebal, serta pisau-pisau kecil yang tampak sangat steril, berkilau di bawah cahaya lampu.

"Prosesnya sederhana," ucap Alma dengan nada seperti seorang dokter yang sedang menjelaskan prosedur operasi. "Aku hanya perlu memastikan tubuhmu kaku, cantik, dan abadi. Kau akan duduk manis di lemari kaca itu... selamanya menemaniku."

Violet kembali menangis, kali ini teriakannya memecah udara. "Tidak! Aku mohon, jangan! Aku akan melakukan apa saja, asal jangan itu!"

Namun Alma hanya tersenyum. Ia menyalakan alat kecil, semacam obor mini yang mengeluarkan api biru. Ia mendekatkannya perlahan ke tangan Violet. Panasnya segera membuat kulit mulai melepuh. Violet menjerit melengking, tangisnya berubah menjadi teriakan kesakitan.

"Tenanglah... hanya sedikit rasa terbakar. Kau harus belajar menahan sakit jika ingin abadi," bisik Alma, matanya berkilat penuh kegembiraan aneh.

Setelah puas melihat kulit Violet memerah melepuh, Alma memadamkan obor itu. Ia mengambil jarum panjang, merendamnya sebentar dalam darah yang menetes di lantai, lalu menekannya ke lengan Violet. Perlahan ia menusukkan jarum demi jarum ke kulit, seolah menjahitkan sesuatu yang tidak terlihat.

"Aaarrghhh! S-stop! Tolong!" teriak Violet, suaranya nyaring, serak oleh rasa sakit.

Alma tertawa kecil. "Kau akan jadi boneka cantikku. Lihat, jahitan ini akan menahan tubuhmu tetap kaku. Indah, bukan?"

Tangannya bekerja teliti, menusuk jarum ke kulit lengan dan pergelangan Violet, menyalurkan rasa sakit luar biasa yang membuat gadis itu hampir pingsan. Setiap kali Violet meronta, kursi kayu bergoyang keras, namun ikatan tetap menahannya.

Alma lalu mendekatkan wajahnya, menempelkan dahinya ke dahi Violet. Suaranya lirih, namun menusuk ke dalam jiwa. "Jika kau tidak bisa menahan rasa sakit... lebih baik kau mati saja, seperti Luci. Dia tidak kuat. Tapi lihat apa jadinya? Sekarang dia hanya cerita hantu di seluruh sekolah. Tidak ada yang merindukannya."

Air mata Violet semakin deras. “Aku... aku tidak mau mati... jangan bunuh aku...”

Alma tersenyum tipis, kembali mengambil belati yang masih menancap di meja. Ia angkat perlahan, lalu menggores dagu Violet hingga darah menetes ke lehernya. "Kalau begitu... kau harus menyerah. Biarkan aku menyelesaikan 'proyek' ini. Jadilah boneka yang manis, Violet."

Violet berteriak keras, napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi karena darah yang mulai banyak keluar.

Namun Alma tidak berhenti. Ia menyayat pelan bagian lengan lain, menggores tipis untuk memberi pola seperti ukiran. Sambil terus bekerja, ia bergumam, "Indah... indah sekali. Lihatlah, sebentar lagi kau akan lebih cantik dari siapa pun. Kau akan duduk di sana..." ia menunjuk manekin di lemari kaca. "Menemani mereka. Kau tidak akan kesepian lagi."

Violet semakin lemah, tubuhnya gemetar, matanya berkunang. Namun teriakan kecil masih keluar di sela-sela tangisnya.

Alma menatapnya puas. Ia mencondongkan tubuh, lalu berbisik sekali lagi dengan suara nyaris keibuan.

"Jadi... kau sudah memutuskan? Boneka... atau mati?"

Violet tidak lagi mampu menjawab. Hanya tangisan serak yang keluar, sementara darah terus menetes ke lantai, membentuk genangan gelap.

Alma tersenyum puas, lalu menepuk pipi gadis itu pelan, seperti seorang kakak pada adiknya. "Jangan khawatir, Violet. Aku akan membuatmu abadi. Kau hanya perlu menyerah pada rasa sakit."

Dan belati itu kembali terangkat... menyinari wajah Alma yang dipenuhi kegembiraan mengerikan.

🥀🥀🥀

Bau darah telah sepenuhnya lenyap dari tubuh Alma. Ia sudah berganti pakaian, kembali menjadi sosok gadis dengan aura kepolosan yang anggun. Malam ini suasana hatinya terasa jauh lebih ringan. Bagaimana tidak? Koleksi boneka cantiknya telah bertambah satu lagi. Indah sekali, hingga membuatnya enggan berpaling.

Alma melangkah masuk ke kediaman keluarga Morrison. Para pelayan yang menyambutnya dengan hormat segera ia balas dengan senyum termanis. Namun, langkah yang semula hendak diarahkan ke tangga menuju lantai dua, terhenti ketika telinganya menangkap suara tawa renyah dari ruang keluarga.

Ia melangkah pelan mendekat. Di sana terlihat Isabella tengah bersandar nyaman di pelukan Arthur. Wajah Isabella berseri, bibirnya masih menyisakan senyum, sementara Arthur menunduk, membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Ucapan itu entah apa, tetapi cukup untuk membuat Isabella kembali tertawa. Pasangan itu benar-benar tampak harmonis, seakan lupa usia, larut dalam romansa yang tak pernah pudar.

Alma mengeluarkan dehaman kecil. "Ekhmm…" Suara lirih itu cukup untuk menyadarkan keduanya dari dunia mereka.

"Sayang, kau sudah pulang rupanya. Sejak kapan kau berdiri di sana?" Isabella memperbaiki posisi duduknya, tersenyum lembut kepada putrinya.

Alma berjalan tenang, kemudian mengambil tempat duduk di seberang kedua orang tuanya. Ia menyilangkan kaki dengan elegan, lalu berkata, "Sejak ayah berbisik-bisik kata cinta, mungkin." Nada suaranya terdengar menggoda, seolah sedang menggoda pasangan itu.

Wajah Isabella merona merah. "Apa yang dikatakan anak ini?" ucapnya pelan, menunduk malu.

Arthur justru terkekeh kecil, semakin merangkul istrinya. "Sudahlah. Apa yang dikatakan Alma memang benar. Aku memang sedang membisikkan kata cinta untukmu."

"Kau ini…" Isabella mencubit pelan perut suaminya, membuat rasa malunya semakin bertambah di hadapan Alma.

Alma tersenyum samar, terkekeh pelan. Ia tidak pernah bosan melihat interaksi kedua orang tuanya yang kadang tampak seperti sepasang remaja baru jatuh cinta.

Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar mendekat. Daniel muncul dengan wajah masam. Ia menghentakkan tubuhnya ke sofa, lalu tanpa banyak bicara, memeluk Alma erat-erat.

"Biarkan kakak mengisi energi terlebih dahulu. Malam ini sungguh melelahkan," keluhnya.

Alma spontan mengernyit, mendorong tubuh kakaknya menjauh. "Kakak bau alkohol." Tatapannya penuh ketidaksukaan, seolah jijik.

"Alma…" Daniel menatap adiknya dengan ekspresi dibuat-buat. Ia menepuk dadanya dengan dramatis. "Ke mana perginya adik kecilku yang manis? Yang selalu berlari meminta pelukan dari kakaknya ini?"

Arthur memutar bola mata malas. "Adikmu sudah beranjak dewasa. Lagi pula tubuhmu berbau alkohol. Kau tahu Alma tidak menyukainya."

Daniel mendelik pada ayahnya. "Itu semua salah ayah. Kalau saja ayah tidak memaksa aku menghadiri pesta membosankan itu, apakah aku akan berbau alkohol seperti sekarang?"

Alma hanya menatap datar, tidak tertarik dengan alasan kakaknya.

"Lagi pula, di mataku Alma tetaplah adik kecilku. Dari mana datangnya kata 'dewasa' itu?" tambah Daniel, mencoba membela diri.

Arthur menghela napas panjang, lalu berkata ketus, "Daripada kau terus menempel pada adikmu, lebih baik kau carilah seorang kekasih."

Daniel menoleh cepat dengan wajah tak percaya. "Kekasih? Ayah pikir semudah itu? Tidak ada gadis yang menarik di pesta itu. Semua hanya berbicara tentang bisnis keluarga atau memamerkan pakaian mahal. Membosankan."

Isabella menutup mulutnya, menahan tawa. "Kau ini, Daniel. Pilih-pilih sekali. Padahal sudah banyak gadis baik yang diperkenalkan padamu."

Daniel bersandar malas, meletakkan lengan di sandaran sofa. "Tidak ada yang cocok, mah. Mereka semua hanya peduli pada nama belakangku. Seolah diriku sendiri tidak berarti apa-apa."

Alma menoleh pelan pada kakaknya. "Kalau begitu, mungkin kakak harus belajar menjadi seseorang yang berarti, bukan hanya mengandalkan nama belakang keluarga."

Daniel membelalakkan mata, sedikit terkejut dengan nada tajam Alma. Ia kemudian terkekeh getir. "Wah, adikku sekarang pandai menguliahi kakaknya rupanya."

Arthur mengangguk setuju. "Setidaknya Alma berkata jujur. Daniel, sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu dengan serius."

Keheningan sesaat melingkupi ruang keluarga. Hanya suara jam dinding yang terdengar samar. Isabella menepuk tangan suaminya pelan, lalu menatap kedua anaknya dengan penuh kasih.

"Sudah, sudah. Jangan terus berdebat. Malam sudah larut," ucapnya lembut, suaranya penuh wibawa seorang ibu. "Alma, kau terlihat lelah. Daniel, kau jelas bukan dalam keadaan baik setelah menghadiri pesta. Lebih baik kalian berdua beristirahat. Besok kita masih harus melewati hari panjang."

Alma berdiri, membenarkan lipatan bajunya. Ia tersenyum tipis pada Isabella. “Baik. Selamat malam.”

Daniel mengangkat kedua tangannya pasrah. "Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Tapi jangan salahkan aku kalau aku bermimpi buruk karena sendirian di kamar."

Isabella menggeleng, tersenyum geli mendengar rengekan putra sulungnya. Arthur hanya berdeham, malas menanggapi.

Dengan langkah ringan, Alma meninggalkan ruang keluarga, pikirannya masih menyimpan bayangan boneka cantik di lemarinya di villa. Sementara itu, Daniel meraih bantal kecil di sofa, memeluknya dengan malas.

🥀🥀🥀

Pelajaran pertama baru saja dimulai ketika Bu Megan, guru bahasa Inggris, memasuki ruang kelas dengan langkah anggun. Suasana kelas yang semula riuh oleh percakapan ringan para siswa seketika mereda. Namun, bukan hanya kedatangan sang guru yang menarik perhatian mereka. Di belakangnya, seorang gadis berjalan dengan percaya diri, wajahnya berseri-seri dengan senyuman manis yang seolah enggan luntur.

"Semuanya, harap perhatikan," ucap Bu Megan dengan suara tegas namun tetap ramah. "Hari ini kita kedatangan seorang siswi baru. Jasmine, silakan perkenalkan dirimu kepada teman-temanmu."

Gadis itu melangkah maju dengan penuh keyakinan, berdiri tegak di hadapan puluhan pasang mata yang menatapnya dengan berbagai ekspresi. Ia merapikan sedikit rambut yang jatuh di pundaknya sebelum membuka suara.

"Halo semuanya," ucapnya dengan suara jernih dan ramah. "Namaku Jasmine Caroline. Aku harap kita bisa menjadi teman baik dan bekerja sama dengan baik ke depannya."

Senyum hangat masih melekat di wajahnya. Ia berharap sambutan positif akan menghampirinya, sebagaimana yang selalu ia dapatkan di sekolah lamanya. Namun, harapan itu ternyata meleset jauh dari kenyataan.

Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sapaan ramah, bahkan tidak ada senyum balasan yang berarti. Suasana justru dipenuhi bisikan-bisikan lirih yang tidak bersahabat. Jasmine bisa merasakan tatapan yang menilai, menimbang, bahkan merendahkan.

Memang, ini adalah Athena. Sekolah elit yang tidak sekadar menjunjung tinggi prestasi akademik, melainkan juga status keluarga dan kekuatan koneksi sosial. Di lingkungan semacam ini, penampilan luar dan latar belakang keluarga menjadi tolok ukur utama untuk diterima atau ditolak.

Sekilas, Jasmine tampak sempurna. Seragam rapi, tas bermerek, sepatu mahal. Namun bagi para siswa Athena, barang-barang itu tidak lagi istimewa. Hampir semua dari mereka memilikinya. Bahkan sebagian berasal dari keluarga yang jauh lebih berpengaruh.

"Baiklah, anak-anak. Ibu harap kalian dapat menerima Jasmine dengan baik dan membantunya menyesuaikan diri di sekolah baru ini," ujar Bu Megan menutup perkenalan itu, sebelum melanjutkan ke materi pelajaran.

Namun bisik-bisik para siswa di bangku depan terdengar jelas di udara.

"Tergantung, apakah keluarganya punya koneksi kuat di kalangan atas?" celetuk seorang murid dengan nada meremehkan.

"Aku rasa tidak. Dari penampilannya saja, dia tidak lebih baik dari kita," sahut yang lain dengan sinis.

"Siapa dia, berani masuk kelas ini? Bahkan di sini ada putri dari keluarga Morrison," bisik seorang siswi dengan nada congkak, sambil melirik ke arah Alma yang duduk tenang di barisan tengah.

"Aku terlalu melebih-lebihkan siswi baru ini. Kukira dia akan membuat kejutan," gumam seorang siswa yang sejak awal terlihat tidak tertarik.

Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk pelan di hati Jasmine. Kedua tangannya terkepal erat di bawah meja, berusaha menahan kekesalan yang mulai mendidih. Namun, senyumannya tetap bertahan, seolah ia tidak mendengar apa pun. Baginya, menunjukkan kelemahan di depan orang-orang asing hanyalah memberi kesempatan untuk diremehkan lebih jauh.

Dalam hati, Jasmine membandingkan situasi ini dengan sekolah lamanya. Di sana, ia dipuja-puja bak dewi, dihormati, bahkan disanjung karena kecantikannya, kepandaiannya, dan keberaniannya. Namun di Athena, semua itu seakan tidak berarti.

Ada apa dengan orang-orang ini? pikirnya kesal.

Sementara itu, dari barisan tengah, Alma memperhatikan Jasmine dengan tatapan penuh ketenangan. Senyumnya tipis, nyaris tak terbaca. Sang bidak baru saja memasuki medan perang, batinnya. Kita lihat strategi apa yang akan ia gunakan untuk bertahan.

Di sampingnya, Sherin mencondongkan tubuh sedikit, berbisik pelan. "Sepertinya aku pernah melihat gadis itu."

Alma menoleh sekilas, nada suaranya tenang. "Benarkah?"

Sherin mengernyit, mencoba mengingat sesuatu. Wajahnya menunjukkan ekspresi ragu sesaat sebelum akhirnya matanya berbinar tanda mengingat. Ia kembali berbisik. "Ya, aku ingat! Video di bandara yang sedang viral. Seorang gadis menggagalkan penculikan anak kecil tadi malam. Videonya sudah dilihat lebih dari satu juta kali."

Alma mengangkat alis, ekspresinya tetap tenang. "Begitu? Sepertinya dia gadis yang baik."

Sherin mengangguk setuju. "Ya, jarang ada yang berani ikut campur dalam urusan semacam itu. Apalagi mempertaruhkan diri untuk orang asing."

Alma menatap kembali Jasmine, kali ini lebih tajam. Senyum tipisnya kian melengkung

Jasmine, yang tak menyadari percakapan itu, hanya bisa menahan rasa tak nyaman yang makin menguat. Ia sadar, Athena bukanlah tempat yang mudah. Namun ia berjanji dalam hati apapun yang terjadi, ia tidak akan kalah oleh atmosfer dingin sekolah ini.

Sebab di balik senyuman yang tetap ia pertahankan, Jasmine menyimpan tekad kuat. Ada alasan khusus keberadaannya disini.

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!