Di Benua Langit Azure, kekuatan bela diri dan kedalaman Qi menentukan segalanya. Ye Chen, seorang jenius dari keluarga cabang klan Ye, dikhianati dan "Akar Roh" miliknya dicuri oleh saudara sepupunya sendiri demi ambisi klan utama. Menjadi cacat dan dibuang ke pinggiran desa, nasibnya berubah ketika sebuah meteorit hitam jatuh di dekatnya. Meteorit tersebut menyimpan warisan dari "Kaisar Kekosongan" dari era kuno, memberikannya seni kultivasi terlarang yang tidak membutuhkan Akar Roh, melainkan menyerap energi bintang. Ye Chen kini harus merangkak dari bawah, bersembunyi dari musuh-musuh kuat, dan menapaki jalan kultivasi untuk membalas dendam serta mencari kebenaran di balik hancurnya para Dewa Kuno
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Gerbang Kota Suci
Setelah melewati pinggiran Hutan Kematian Seribu Petir, perjalanan Su Yue dan Lin Chen menjadi sangat lancar. Tidak ada satu pun binatang buas yang berani mendekati Perahu Terbang Daun Hijau mereka. Sisa aura petir kosmis di tubuh Lin Chen membuat monster-monster itu merasa seolah ada dewa maut yang sedang lewat.
Di atas geladak perahu, Su Yue duduk bersila sambil memegang dua Cincin Penyimpanan milik Li Jian. Matanya masih terbelalak menatap tumpukan gunung Batu Roh Tingkat Menengah di dalamnya.
"Lin Chen, ini gila. Lima ratus ribu batu roh tingkat menengah... Sekte Pedang Awan butuh waktu sepuluh tahun untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak ini," gumam Su Yue tak percaya. Ia merasa seperti pengemis yang tiba-tiba menemukan brankas raja.
Lin Chen yang sedang bersandar di haluan perahu, matanya terpejam menyerap sisa-sisa energi petir di udar, hanya tersenyum tipis.
"Pakai saja semaumu, Kakak Senior. Di Ibukota Benua Tengah nanti, bahan-bahan alkimia tingkat tinggi pasti sangat mahal. Anggap saja si bodoh Li Jian itu sponsor resmi perjalanan kita."
Di dalam lautan kesadaran Lin Chen, Guru Lin Tian mendengus pelan.
"Jangan kaget dulu, Gadis Kecil," batin Lin Tian, meski Su Yue tidak bisa mendengarnya. "Batu roh sebanyak itu di desa kalian memang harta karun, tapi di Ibukota Benua Tengah, itu hanya cukup untuk uang saku beberapa bulan bagi jenius sekte besar!"
Tiga hari kemudian, pemandangan di depan mereka mulai berubah.
Awan-awan tipis membelah, menampakkan sebuah tembok kota raksasa yang tingginya mencapai langit. Tembok itu terbuat dari Obsidian Spiritual berwarna hitam pekat yang memancarkan pendaran formasi pertahanan tingkat tinggi. Lebar kotanya tidak terlihat ujungnya, membentang menutupi cakrawala layaknya seekor naga raksasa yang tertidur.
Inilah Kota Suci Benua Tengah, pusat peradaban dan pusat bertemunya para monster jenius di seluruh Benua Langit Azure!
Di langit atas kota, terlihat kereta-kereta mewah yang ditarik oleh binatang roh legendaris—seperti Singa Bersayap Api, Elang Emas, hingga Naga Bumi. Cahaya pedang terbang wara-wiri seperti bintang jatuh.
Su Yue menelan ludah. "Lin Chen, tekanan spiritual di sini sangat mengerikan. Bahkan para penjaga gerbang yang berdiri di bawah sana... mereka semua berada di tahap Inti Emas (Golden Core) awal!"
Di Sekte Pedang Awan, Inti Emas adalah level Pemimpin Sekte. Di sini, mereka hanya menjadi prajurit penjaga gerbang pintu masuk!
"Hukum alam yang sederhana. Semakin besar kolamnya, semakin besar ikannya," ucap Lin Chen santai. Ia bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Ayo turun. Di kota sebesar ini, biasanya ada aturan larangan terbang bagi pendatang baru."
Su Yue mengangguk patuh dan mendaratkan perahunya beberapa mil dari gerbang timur. Mereka berjalan kaki mendekati antrean masuk yang mengular panjang.
Ribuan kultivator dari berbagai daerah sedang mengantre. Aura mereka rata-rata berada di tahap Pembangunan Fondasi puncak hingga Inti Emas. Su Yue yang hanya berada di Pembangunan Fondasi menengah merasa sangat kecil dan tertekan di tengah lautan ahli bela diri ini.
Lin Chen menyadari kegugupan Su Yue. Secara diam-diam, ia mengaktifkan Jaring Bintangnya, menciptakan pelindung tak kasat mata dalam radius satu meter untuk menyaring semua tekanan aura (Qi) dari kultivator di sekitar mereka.
Merasakan napasnya kembali lega, Su Yue menatap punggung Lin Chen dengan rasa terima kasih yang mendalam. Selama ada pemuda ini, ia merasa langit pun tidak akan bisa runtuh menimpanya.
"Hei! Maju yang cepat, dasar udik!" bentak seorang penjaga gerbang berzirah perak. "Biaya masuk seratus Batu Roh Tingkat Menengah per orang! Tidak punya uang? Enyah dan tidur di hutan sana!"
Banyak kultivator miskin dari daerah pinggiran yang terpaksa mundur dengan wajah pucat karena tidak sanggup membayar harga selangit itu.
Tibalah giliran Lin Chen dan Su Yue.
Penjaga gerbang melirik mereka dari atas ke bawah. Melihat pakaian Su Yue yang biasa saja, dan Lin Chen yang terlihat tidak memiliki Qi sama sekali, penjaga itu langsung mencibir.
"Kalian dari sekte pelosok mana? Membawa manusia fana sebagai pelayan ke Ibukota Benua Tengah? Kau pikir tempat ini kebun binatang peliharaan?" ejek sang penjaga. "Bayar dua ratus Batu Roh Tingkat Menengah, atau aku tendang kalian kembali ke asal kalian!"
Su Yue mengerutkan kening karena dihina, namun baru saja ia hendak mengambil batu roh dari cincinnya, suara gemuruh ledakan udara terdengar dari arah belakang antrean.
RROOOAAARRR!
Sebuah kereta kencana yang sangat mewah, terbuat dari kayu giok merah dan ditarik oleh tiga ekor Harimau Api Bersayap raksasa, melesat membelah kerumunan.
"MINGGIR! MINGGIR SEMUA! KERETA TUAN MUDA WANG LEWAT! SIAPA YANG MENGHALANGI AKAN DIINJAK SAMPAI MATI!" teriak kusir kereta tersebut dengan arogan. Kusir itu memutar-mutar cambuk api di tangannya.
Melihat lambang teratai emas di kereta itu, wajah penjaga gerbang langsung berubah pucat pasi. Ia buru-buru menunduk hormat. "Itu Tuan Muda Wang Teng dari Keluarga Wang, salah satu tetua di Kuil Alkemis Suci! Semuanya, buka jalan!"
Kerumunan langsung kocar-kacir menyingkir ke pinggir jalan dengan panik. Mereka tahu, mati diinjak binatang buas milik keluarga bangsawan kota ini tidak akan mendapat pembelaan dari siapa pun.
Namun, di tengah jalan yang tiba-tiba kosong itu, ada dua sosok yang sama sekali tidak bergerak.
Lin Chen berdiri dengan tenang, tangannya dimasukkan ke dalam saku jubahnya. Su Yue berdiri di belakangnya. Lin Chen bahkan tidak melirik ke arah kereta kencana yang melesat ke arah mereka seperti bola api raksasa itu.
"Lin Chen! Keretanya mendekat!" seru Su Yue panik, bersiap menarik Lin Chen.
"Kita sudah mengantre dengan rapi, Kakak Senior. Memotong antrean itu tidak sopan," jawab Lin Chen datar.
Melihat ada manusia fana dan seorang gadis yang berani menghalangi jalan, kusir kereta itu tertawa buas. "Hahaha! Ada orang desa yang bosan hidup! Harimau Api, injak mereka jadi bubur daging!"
Tiga harimau raksasa tingkat Inti Emas itu mengaum dan mengangkat cakar berapi mereka tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan kepala Lin Chen.
Kerumunan menutup mata, tidak tega melihat dua orang udik itu hancur berantakan.
Namun, saat bayangan cakar raksasa itu turun...
Lin Chen hanya mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah mata ketiga harimau buas tersebut. Di dalam pupil hitam Lin Chen, kilatan petir kosmis perak keunguan meledak untuk sepersekian detik. Sebuah hawa pembunuhan purba—hawa dari eksistensi yang baru saja menelan ribuan petir mematikan—menusuk langsung ke jiwa ketiga binatang roh tersebut!
Ketiga Harimau Api Bersayap yang tadinya ganas itu tiba-tiba membeku di udara. Mata mereka melotot horor. Insting mereka menjerit bahwa sosok kecil di depan mereka adalah monster yang bisa memakan dunia.
MEOOOONG!!!
Alih-alih mengaum ganas, ketiga harimau raksasa itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti anak kucing yang ketakutan. Mereka mengerem mendadak dengan keempat kaki mereka hingga aspal batu obsidian hancur berantakan, lalu jatuh berlutut dan gemetar hebat tepat setengah meter di depan Lin Chen!
Karena berhenti mendadak, kereta kencana mewah di belakang mereka terpelanting keras.
GUBRAAAAK!
"Uwaaagh!" Kusir arogan itu terlempar dari tempat duduknya dan mendarat telungkup di tanah dengan suara tulang patah.
Seluruh gerbang kota seketika sunyi senyap. Mulut penjaga gerbang dan kerumunan ternganga lebar hingga bisa dimasuki kepalan tangan.
Tiga Binatang Roh Inti Emas peliharaan Keluarga Wang... tiba-tiba berlutut ketakutan hanya karena ditatap oleh seorang pelayan fana?! Ilusi macam apa ini?!
"Binatang bodoh! Apa yang kalian lakukan?!"
Pintu kereta kencana ditendang hingga hancur dari dalam. Seorang pemuda berpakaian sutra emas dengan wajah tampan namun sangat arogan melompat keluar. Di dadanya tersemat lencana dengan gambar tungku berkepala naga. Ini adalah Wang Teng, jenius alkemis dari Keluarga Wang!
Wang Teng menatap marah pada harimau-harimaunya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya ke arah Lin Chen dan Su Yue. Saat matanya melihat wajah cantik Su Yue, kilatan mesum muncul sesaat, tapi amarahnya lebih mendominasi.
"Kalian orang-orang udik! Beraninya kalian menggunakan sihir hitam untuk menakuti binatang peliharaanku dan mengotori keretaku!" raung Wang Teng. Aura Inti Emas tingkat menengah meledak dari tubuhnya. "Kusir! Potong kaki anak itu dan bawa gadis itu ke kediamanku sebagai ganti rugi!"
Kusir yang baru saja bangkit dengan wajah berdarah, meringis menahan sakit, lalu mencabut golok besarnya. "Mati kau, Sampah Udik!"
Kusir itu melesat ke arah Lin Chen, mengayunkan goloknya lurus ke arah kaki Lin Chen.
Su Yue sudah tidak panik lagi. Ia hanya mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya. Orang-orang Benua Tengah ini ternyata sama bodohnya dengan Li Jian. Mereka terlalu percaya diri dengan status mereka.
Lin Chen tidak mengangkat tangannya. Ia membiarkan golok yang dialiri Qi itu menghantam betis kakinya dengan kekuatan penuh.
TRAAANG!!!
Suara logam berbenturan keras memekakkan telinga.
Golok tingkat spiritual milik kusir itu memantul keras, lalu patah menjadi tiga bagian. Bilahnya hancur seolah baru saja ditebaskan ke bongkahan berlian ilahi. Sementara itu, kain celana Lin Chen bahkan tidak sobek sama sekali!
Kusir itu terbelalak horor menatap goloknya yang patah.
"Kau mengotori sepatuku dengan debu golokmu," gumam Lin Chen dingin.
Tanpa peringatan, Lin Chen mengangkat kaki kanannya dan melepaskan sebuah tendangan santai. Gerakannya terlihat sangat lambat, tapi anehnya kusir itu tidak bisa menghindar sama sekali. Ruang di sekitarnya seolah terkunci oleh tekanan fisik yang mengerikan.
BAAAM!
Tendangan Lin Chen mendarat di dada kusir itu.
KRAAAK!
"AAARRRGGGHHH!"
Tubuh kusir itu melesat ke belakang seperti peluru kendali, menabrak tembok Obsidian Spiritual gerbang kota dengan suara ledakan dahsyat. Dinding yang diklaim tak bisa dihancurkan itu sampai retak berbentuk sarang laba-laba. Kusir itu pingsan seketika, menempel di dinding dengan tulang rusuk hancur lebur.
Semua orang di gerbang kota menahan napas. Penjaga gerbang yang tadi menghina Lin Chen mundur beberapa langkah dengan wajah seputih mayat. Beruntung dia tidak bertindak terlalu jauh tadi!
Wang Teng membelalakkan matanya tak percaya. Kusirnya adalah kultivator Puncak Pembangunan Fondasi, dan ia disingkirkan oleh seorang pelayan fana tanpa menggunakan Qi?! Ini bukan sihir ilusi, ini adalah kekuatan fisik murni tingkat monster!
"K-Kau... Beraninya kau melukai orang dari Keluarga Wang di gerbang Ibukota?!" Wang Teng menunjuk Lin Chen dengan tangan gemetar. Meski takut, kesombongan bangsawannya menolak untuk mundur. "Kau sudah mati! Bahkan dewa pun tidak bisa menyelamatkanmu hari ini!"
Lin Chen melangkah perlahan ke arah Wang Teng. Setiap langkahnya membuat ubin batu obsidian di bawahnya retak halus.
"Keluarga Wang? Kuil Alkemis Suci?" Lin Chen memiringkan kepalanya, senyum iblis perlahan terukir di wajahnya. "Bagus. Aku memang datang jauh-jauh ke kota ini untuk meruntuhkan kesombongan kalian. Ayo, panggil semua dewamu ke sini. Biar kulihat apakah mereka bisa menyelamatkanmu dariku."