"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 35
Ciuman itu terasa sangat pelan dan sangat hati-hati. Seolah Raka takut membuat Dinda terkejut lalu menjauh darinya.
Namun justru kelembutan itulah yang membuat dada Dinda bergetar hebat. Tidak terburu-buru, tidak menuntut.
Raka hanya menempelkan bibirnya singkat di bibir wanita itu, lalu diam beberapa detik seolah memberi ruang untuk Dinda menolak jika memang tidak menginginkannya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dinda tidak menjauh. Wanita itu justru memejamkan mata perlahan. Dan hal kecil itu saja sudah cukup membuat pertahanan Raka runtuh sepenuhnya malam ini.
Pria itu kembali mengecup bibir Dinda sedikit lebih lama.
Tangannya terangkat perlahan, mengusap pipi wanita tersebut dengan sangat lembut. Sedangkan Dinda bisa merasakan dirinya gemetar pelan.
Bukan karena takut, namun karena sudah terlalu lama dirinya tidak diperlakukan selembut ini. Ciuman itu tidak liar, tidak penuh nafsu, justru terasa sangat menyakitkan.
Karena di dalamnya ada rasa rindu yang terlambat, ada rasa sayang yang tertahan bertahun-tahun, dan rasa takut kehilangan sebelum benar-benar memiliki.
Saat Raka perlahan menjauh, napas keduanya sama-sama tidak stabil.
Tatapan mereka kembali bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Dan Dinda bisa melihat mata pria itu sedikit memerah.
“Aku minta maaf...” bisik Raka serak.
Dinda mengernyit pelan. “Kenapa minta maaf?” tanpa sadar, tangan wanita itu menyentuh rahang tegas milik Raka.
“Karena nyium kamu di saat hidup kamu lagi berantakan.” Kalimat itu sukses membuat hati Dinda terasa hangat sekaligus nyeri.
Bahkan setelah mencium dirinya, Raka masih memikirkan perasaannya terlebih dahulu. “Kalau aku nggak mau... aku pasti udah nolak dari tadi,” lirih Dinda.
Raka langsung memejamkan mata sesaat sambil tertawa kecil penuh lega.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu—pria itu merasa dirinya benar-benar hidup lagi.
*****
Malam semakin larut. Namun tak satu pun dari mereka berniat mengakhiri momen itu terlalu cepat.
Dinda duduk diam di sofa sambil memeluk lututnya kecil. Wajahnya masih memanas sejak kejadian tadi.
Sedangkan Raka berdiri di dekat jendela sambil memperhatikan hujan yang mulai mereda. Sesekali pria itu melirik ke arah Dinda, lalu tersenyum tipis sendiri.
“Kamu senyum-senyum sendiri kenapa?” protes Dinda malu.
Raka terkekeh kecil. “Gapapa.”
“Apaan sih," Dinda berusaha mengalihkan pandangannya entah kemanapun, asalkan jangan menatap pria itu.
“Aku cuma lagi seneng aja.”
Dan jawaban sederhana itu justru membuat jantung Dinda kembali tidak karuan. Sungguh, pria itu terlalu berbahaya untuk hatinya yang masih rapuh.
“Kamu gampang puas ya ternyata,” gumam Dinda mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
Raka langsung menoleh cepat.
“Din.”
“Hm?”
“Aku udah nunggu momen ini bertahun-tahun.” Kalimat itu langsung membuat Dinda terdiam lagi. Karena cara Raka mengatakannya terdengar begitu tulus.
Begitu nyata.
Dan anehnya, itu membuat wanita tersebut mulai takut sendiri—Takut jika nanti pria itu benar-benar pergi.
“Aku boleh jujur satu hal?” tanya Dinda pelan.
Raka mendekat perlahan lalu kembali duduk di sebelahnya. “Apa?”
“Aku takut nyaman sama kamu.” Dinda kembali menundukkan kepalanya. Wanita itu nampak gelisah, terbukti dari kedua tangannya yang saling bertaut.
Tatapan Raka langsung melembut, "Kenapa?" Pria itu tanpa sadar mulai melangkah mendekati sofa—posisi Dinda meringkuk.
“Karena semua orang yang bikin aku nyaman... ujungnya pergi," cicit Dinda pelan.
Dada Raka langsung terasa diremas. Dan tanpa sadar, pria itu menggenggam tangan Dinda perlahan. Hangat, erat, namun tetap hati-hati.
“Aku nggak janji bakal selalu ada disetiap waktu,” bisiknya pelan. “Tapi aku janji bakal balik buat kamu.”
Dan entah kenapa—kalimat itu terasa jauh lebih romantis daripada sekadar ucapan cinta manapun.
*****
Keesokan paginya dibutik, Dinda merasa kepalanya sangat penuh. Semalam benar-benar terasa seperti mimpi.
Tentang pelukan itu, tentang ciuman mereka, tentang bagaimana Raka memandang dirinya seolah wanita itu sangat berharga.
Dinda menutup wajahnya dengan bantal malu. “Ya Tuhan...” Sudut bibirnya bahkan tanpa sadar terangkat kecil.
Namun beberapa detik kemudian,
senyumnya memudar perlahan ketika mengingat satu hal.
Raka akan pergi. Dan semakin dekat dirinya dengan pria itu, semakin besar kemungkinan dirinya terluka lagi nanti.
Tok tok tok.
Lamunannya buyar ketika suara ketukan pintu kamar terdengar.
“Din?” Suara Bu Indri terdengar dari luar.
“Iya Bu, bentar..." Dinda segera bangkit lalu membuka pintu.
Namun baru saja pintu terbuka, Bu Indri langsung memperhatikan wajahnya cukup lama.
“Kamu kenapa?”
“Hah?”
“Mukamu beda.”
Sontak Dinda langsung salah tingkah.
“Nggak kok, Bu..."
“Jangan bohong sama ibu.”
Wanita paruh baya itu justru tersenyum geli.
“Semalem Raka pulang jam berapa?”
Deg.
Dinda langsung membeku.
“Kok ibu tahu dia ke rumah saya?”
“Mobilnya parkir depan rumah sampai tengah malam. Kebetulan saya lewat,"
“Bu!” Bu Indri langsung tertawa kecil melihat wajah merah Dinda.
“Ya ampun, ternyata benar ada sesuatu.”
“Enggak ada apa-apa!”
“Kalau nggak ada apa-apa, kamu nggak mungkin semalu ini.”
Dinda langsung mengaduh frustasi sambil menutup wajahnya. Sedangkan Bu Indri justru tersenyum hangat melihat reaksi wanita tersebut.
Karena setelah semua luka dan tangisan itu—akhirnya Dinda mulai terlihat hidup kembali.
*****
Siang harinya, Dinda kembali bekerja di butik seperti biasanya. Namun kali ini suasana hatinya benar-benar kacau. Setiap kali mengingat kejadian semalam, jantungnya langsung berdetak tidak normal.
Apalagi ketika tiba-tiba Raka datang membawa Glenka.
“Daaa!”
Glenka langsung mengulurkan tangan kecilnya ke arah Dinda. Sedangkan wanita itu buru-buru menggendong bayi tersebut untuk menghindari tatapan Raka.
Namun justru pria itu terlihat menikmati reaksinya.“Kamu kenapa salting gitu?” godanya pelan.
“Apaan sih.”
“Masih malu?” Dinda langsung melotot kecil.
“Raka!” Pria itu tertawa rendah. Dan suara tawanya sukses membuat pipi Dinda semakin panas.
Bu Indri yang melihat interaksi mereka dari kejauhan hanya menggeleng geli.
“Anak muda...” gumamnya pelan.
Namun beberapa saat kemudian,
senyum di wajah Raka perlahan menghilang ketika ponselnya bergetar.
Tatapannya langsung berubah serius—sangat serius. Dinda yang menyadarinya langsung mengernyit.
“Kamu kenapa?”
Raka buru-buru mematikan layar ponselnya.
“Nggak apa-apa.”
Bohong. Tatapan pria itu berubah terlalu cepat untuk dianggap biasa. Dan itu membuat hati Dinda kembali tidak tenang.
“Kamu dapat masalah lagi?”
Raka terdiam sesaat. Lalu akhirnya menghela napas panjang. “Aku harus berangkat lebih cepat.”
Deg.
Jantung Dinda langsung terasa jatuh.
“Secepat apa?”
Pria itu menatapnya dalam. Dan jawaban berikutnya sukses membuat dunia Dinda mendadak terasa sunyi.
“Tiga hari lagi.”