NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

Hendra semalaman tidak bisa memejamkan mata karena stres memikirkan utang sepuluh miliar dan baru bisa tertidur pulas ketika jam menunjukkan pukul empat subuh. Ia meringkuk di atas kasur tipis, mencoba melupakan kenyataan pahit bahwa hidupnya telah hancur lebur.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Byuurrr!

"Uhukk! Uhukk! Astaga! Banjir?!" Hendra langsung terlompat dari kasur dengan napas tersengal-sengal. Wajah, rambut, hingga kaus yang dipakainya basah kuyup. Air dingin merembes ke mana-mana, menusuk pori-pori kulitnya pagi itu.

Di ujung kasur, Arumi berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gayung plastik kosong. Wajahnya yang belum dirias tampak ditekuk masam, matanya mendelik galak menatap Hendra.

"Banjir mata kamu, Mas?! Bangun! Enak-enak saja jam segini masih tidur mendengkur seperti kerbau!" jerit Arumi dengan suara melengking, memecah keheningan pagi.

Hendra mengusap wajahnya yang basah dengan kasar, mencoba mengumpulkan kesadarannya.

"Arumi! Kamu apa-apaan sih?! Pagi-pagi sudah gila ya, pakai menyiram aku segala?! Aku ini lelah, baru bisa tidur subuh tadi!"

"Oh, jadi kamu merasa tersiksa, begitu?!" balas Arumi, suaranya justru semakin meninggi tidak mau kalah. Ia mengempaskan gayung itu ke lantai hingga menimbulkan bunyi berdentang yang keras.

"Kamu yang apa-apaan, Mas! Ini sudah jam tujuh pagi! Kamu itu sekarang sudah kere, tidak punya kantor lagi! Harusnya kamu itu bangun subuh, putar otak, cari cara bagaimana bayar ganti rugi sepuluh miliar itu dan kembalikan fasilitas mewahku! Bukan malah memesan kamar gratis di rumahku dan tidur sampai siang!"

Hendra menghela napas panjang, menekan dadanya yang berdenyut nyeri. Ia tidak punya energi lagi untuk melayani amukan Arumi.

"Aku tahu, Arumi. Aku juga sedang berpikir. Tapi tolong, jangan kekanak-kanakan begini."

"Halah! Berpikir apa? Dari kemarin cuma meratapi nasib! Sana mandi! Bau tahu! Jangan sampai kasurku jadi ikutan bau gembel gara-gara kamu!" cibir Arumi sinis.

Hendra tidak menyahut lagi. Dengan tubuh yang masih gemetar karena dingin dan lelah, ia bangkit dari kasur, mengambil handuk kusam, lalu berjalan lunglai menuju kamar mandi umum di bagian belakang kontrakan.

Dua puluh menit kemudian, Hendra keluar dengan pakaian seadanya yang berhasil diselamatkan dari trotoar kemarin. Perutnya terasa sangat perih, melilit karena rasa lapar yang teramat sangat. Ia melangkah menuju ruang tengah yang merangkap sebagai ruang makan kecil, berharap ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya pagi ini.

Begitu sampai di depan meja makan, harapan Hendra langsung pupus.

Meja itu kosong melompong. Tidak ada nasi goreng, tidak ada lauk pauk, bahkan selembar roti tawar pun tidak tampak di sana. Hanya ada sebuah gelas kosong yang dikerubuti beberapa ekor semut.

"Rum... Arumi?" panggil Hendra sembari melongok ke arah dapur yang berantakan. "Sarapan pagi ini tidak ada? Kamu tidak membeli sesuatu di depan?"

Arumi yang sedang duduk di sofa sembari sibuk mengikir kukunya langsung menyahut tanpa menoleh sedikit pun.

"Beli pakai apa, Mas? Pakai daun? Uang bulanan dari kamu kan sudah habis aku pakai beli tas bulan lalu. Di dompetku cuma ada sisa uang pas-pasan untuk aku dan Ibu jajan siang nanti."

"Astaga, Arumi, setidaknya belikan aku mi instan atau telur dua butir. Aku ini lapar sekali, belum makan dari kemarin siang!" keluh Hendra, suaranya terdengar memelas.

Rina, ibu Arumi, tiba-tiba keluar dari kamar dengan rambut yang masih digulung rol. Ia langsung menyahut dengan nada ketus.

"Heh, Hendra! Kamu itu laki-laki, ya! Punya tangan punya kaki, masa urusan perut saja masih menumpang dan menuntut pada putriku? Kalau lapar, ya pergi ke depan sana, cari kerjaan kasar apa saja yang penting dapat uang untuk beli nasi bungkus!"

Hendra tertegun, menatap mertuanya dengan pandangan tidak percaya. "Ibu, aku ini calon menantu Ibu. Teganya Ibu bicara begitu saat saya sedang jatuh terpuruk."

"Calon menantu kalau kaya baru aku hargai, Hendra! Kalau gembel begini, malah menyusahkan saja!" sembur Rina tanpa perasaan, lalu melengos pergi ke kamar mandi.

Hendra berjalan mundur, lalu mendudukkan dirinya di kursi kayu yang reyot. Ia menunduk dalam, menatap kedua telapak tangannya yang kini tampak kosong tanpa ada satu pun aset yang tersisa.

Air mata penyesalan yang sejak kemarin ia tahan, kini perlahan menetes membasahi meja makan yang berdebu itu.

Pikiran Hendra langsung melesat kembali ke masa lalu, ke rumah mewahnya yang kini telah digembok oleh Ningsih.

Dulu, di jam seperti ini, rumahnya selalu dipenuhi oleh aroma masakan yang sangat harum. Ningsih selalu bangun jam empat subuh untuk menyiapkan sarapan terbaik kesukaannya, mulai dari ayam goreng, sambal bajak yang segar, hingga kopi hitam manis yang selalu disajikan tepat waktu di atas meja. Bahkan, putri kecilnya, Luna, akan berlari memeluk kakinya sembari berkata, "Selamat pagi, Papa tampan!"

Ningsih tidak pernah membiarkannya kelaparan satu menit pun. Ningsih tidak pernah membentaknya, selalu memujinya, dan memperlakukannya seperti seorang raja yang sangat dihormati.

"Ya Tuhan... kenapa aku bisa sejahat ini pada Ningsih? Aku mencampakkan malaikat demi seekor ular yang sekarang siap membuangku ke tempat sampah." batin Hendra menjerit pilu, dadanya terasa sesak luar biasa oleh rasa rindu dan penyesalan yang terlambat.

"Mas! Malah melamun dan menangis lagi! Menjijikkan tahu tidak melihat laki-laki cengeng begitu!" bentak Arumi dari arah sofa, membuyarkan lamunan Hendra. "Sana keluar! Cari pinjaman uang ke teman-teman kayumu dulu! Jangan cuma jadi pajangan patung di rumahku!"

Hendra hanya bisa terdiam mematung, menerima setiap hinaan dari Arumi dengan hati yang mati rasa.

*

*

Pagi itu, mobil Alphard mewah milik Ningsih membelah jalanan kota dengan mulus untuk mengantar Luna ke sekolah. Namun, saat mobil berhenti di lampu merah, mata polos Luna tidak sengaja menangkap sosok pria yang sangat familiar di trotoar.

Pria itu adalah Hendra, yang berjalan lunglai dengan kemeja kusut sambil memeluk beberapa map dokumen di dadanya.

"Ma, coba lihat ke luar jendela!" seru Luna sembari menarik-narik ujung blazer Ningsih. "Bukannya itu Papa? Tapi, kenapa baju papa lecek begitu? Apa papa sudah jadi gembel beneran, atau hari ini papa masih latihan, Ma?"

Ningsih yang sedang meminum cup teh hangatnya seketika tersedak. Ia buru-buru menoleh ke arah luar jendela, lalu menatap putrinya sembari menahan tawa yang hampir meledak.

Ucapan polos Luna benar-benar telak menghantam harga diri mantan suaminya dari jauh.

"Luna nggak boleh bicara begitu, Sayang," nasihat Ningsih sembari merapikan rambut Luna, meski bibirnya masih berkedut menahan senyum geli. "Itu namanya papa sedang menerima hasil ujian dari Tuhan karena sudah nakal. Luna tidak usah ikutan latihan seperti papa, ya? Cukup sekolah yang pinter dan jadi anak penurut."

"Ih, Luna juga nggak mau, Ma! Nanti kulit Luna hitam seperti Papa," sahut Luna polos yang langsung membuat tawa Ningsih pecah renyah di dalam mobil mewah mereka.

"Kasihan sekali kamu, Mas." Ningsih geleng-geleng dalam hati.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!