NovelToon NovelToon
Batal Jadi Antagonis: Malah Dapat Anak Tiri Lucu Dan Suami Hot

Batal Jadi Antagonis: Malah Dapat Anak Tiri Lucu Dan Suami Hot

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.

Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.

Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.

Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Kolosal Mina

Mina menelan ludah dengan susah payah, nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak amblas ke inti bumi. Aura yang dipancarkan oleh Arsenio benar-benar bukan kaleng-kaleng. Sangat pekat, dingin, dan mengintimidasi. Sifat sembrono Mina seketika menguap, digantikan oleh mode bertahan hidup yang super waspada.

​Pria tampan itu melangkah menuju sofa tunggal di sudut ruangan lalu mendudukan tubuh tegapnya dengan anggun, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain. Sementara Mina? Alih-alih ikut duduk di sofa panjang sebelah Arsenio, kaki Mina mendadak lemas. Dengan gerakan otomatis yang terlampau pasrah, dia justru menjatuhkan lututnya ke atas lantai rumah sakit yang dingin, tepat di hadapan pria itu.

​Kini posisi mereka berdua terlihat sangat timpang, persis seperti majikan berkuasa yang sedang menginterogasi pembantu yang ketahuan mencuri jemuran. Mina menunduk dalam-dalam, meremas ujung daster tipisnya, tidak berani sama sekali menatap sepasang mata elang di depannya.

"​Gila, gila, gila! Ini Alicia yang asli kok bisa-bisanya tahan ya serumah sama cowok modelan begini? Aura tekanannya kuat banget, mirip bos mafia di komik-komik! Kalau gue jadi Alicia, mending gue minta cerai terus kabur ke kampung daripada mati muda kena serangan jantung!" jerit Mina frustrasi di dalam hatinya.

​Arsenio sendiri sebenarnya merasa sangat heran. Alisnya yang tebal bertaut, menatap bingung ke arah wanita yang berlutut di depannya dengan kepala menunduk dalam. Situasi ini terasa sangat ganjil. Jika ada orang luar yang mendadak masuk ke kamar VIP ini, mereka pasti akan berpikir bahwa Arsenio sedang melakukan tindakan penganiayaan berat pada istrinya sendiri.

​"Kenapa kamu berlutut di situ?" tanya Arsenio, suaranya terdengar datar namun tetap tajam.

"Berdiri. Jangan membuat drama baru seolah-olah aku sedang menyiksamu, Alicia." tekan Arsenio.

​Mendengar kata 'drama', jiwa ratu drama Mina yang sudah mendarah daging sejak hidup di dunia aslinya langsung bergejolak.

"Oh, lu mau lihat drama? Oke, gue kasih pertunjukan teater kelas oscar sekalian!" batin Mina, sifat konyol dan cerdiknya mulai mengambil alih kendali.

​Mina perlahan mendongak, memasang wajah paling melas yang pernah ada dalam sejarah hidupnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mulai mengeluarkan suara isakan buatan. Bahunya digetarkan dengan sengaja, meskipun jika dilihat lebih dekat, tidak ada satu tetes pun air mata yang mengalir di pipinya yang mulus. Itu murni akting.

​"T-Tuan... eh, Mas Arsenio... kamu gak tahu aja apa yang udah terjadi di rumah itu," ucap Mina dengan suara yang sengaja dibuat bergetar dan parau. Dia memberanikan diri membuka suara untuk menjelaskan semuanya, namun tentu saja dengan bumbu hiperbola yang sangat kental.

​Arsenio tidak menyela, dia hanya menyipitkan matanya, menunggu kelanjutan kalimat wanita di depannya ini.

​"Tiga pelayan di penthouse itu... mereka itu titisan monster, Mas! Aku emang dari dulu udah curiga sama mereka, makanya selama seminggu ini aku sengaja ngawasin Gino dari jauh. Dan tebakan aku bener! Tadi siang mereka sengaja ngasih Gino makanan basi sampai anak kamu keracunan dan muntah-muntah hebat! Hidungnya sampai mimisan banyak banget, Mas! Lantai kamar sampai penuh darah!" Mina bercerita dengan menggebu-gebu, tangannya bergerak heboh mendramatisasi keadaan.

"Aku benci banget sama mereka! Mereka sengaja mau celakain Gino! Pas Gino pingsan, mereka malah cuma berdiri nonton kayak lagi lihat konser! Makanya aku langsung ngamuk!"

​Mina menarik napas dalam, lalu memasang wajah yang jauh lebih menderita, meraba perutnya yang sejak tadi memang sudah keroncongan.

"Terus... terus dari siang sampai tengah malam begini, aku belum makan sama sekali, Mas... Aku kelaparan banget, demi jagain Gino di sini. Aku takut kalau aku tinggal sebentar aja buat beli makan, Gino bakal bangun terus ketakutan karena sendirian..." Mina kembali berpura-pura terisak, menyembunyikan wajahnya yang sebenarnya sama sekali tidak basah.

​Arsenio bersandar pada sofa, tatapannya semakin tajam dan intens meneliti setiap jengkal perubahan pada diri istrinya. Di dalam benak Arsenio, sebuah pertanyaan besar muncul. Sejak kapan wanita egois dan kejam ini berubah menjadi selembek dan banyak tingkah seperti ini?

​Bukannya biasanya Alicia akan langsung histeris kegirangan menempel padanya seperti perangko setiap kali dia pulang dari luar negeri? Biasanya wanita itu akan memakai pakaian yang super ketat, kurang bahan, dan sangat terbuka untuk menggoda Arsenio demi mendapatkan kartu kredit tambahan. Ditambah lagi dengan polesan make-up yang luar biasa tebal, lipstik merah menyala, dan parfum menyengat yang selalu sukses membuat mata serta hidung Arsenio sakit setiap kali berada di dekatnya.

​Arsenio menurunkan pandangannya, menatap sosok wanita yang masih berlutut di depannya.

​Siapa wanita ini sebenarnya? Dia hanya mengenakan daster katun tipis longgar yang bahkan motif bunganya sudah agak pudar. Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi di salon mewah kini dibiarkan tergerai berantakan begitu saja, agak acak-acakan karena bekas berlari dan menggendong Gino tadi. Dan yang paling membuat Narendra tertegun adalah wajah wanita itu. Sama sekali tidak ada polesan make-up. Wajah Alicia saat ini benar-benar polos, bersih, menunjukkan kecantikan alami yang justru terlihat jauh lebih segar, manis, dan menawan dibandingkan penampilannya yang biasa.

​Kesan ini sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kesan pertama saat mereka berdua bertemu dan terjebak dalam skandal malam itu.

​"Hentikan tangisan palsumu itu, Alicia," potong Arsenio dingin, membuat isakan buatan Mina langsung terhenti seketika.

"Sejak kapan kamu peduli pada Gino? Bukankah kamu sendiri yang biasanya paling sering berteriak dan memukulinya?"

​Mina langsung mendongak, menghentikan aktingnya karena sadar Arsenio tidak mempan didekati dengan drama murahan. Dia menghela napas panjang, lalu membenarkan posisi duduknya di lantai agar lebih santai, melupakan sejenak kalau dia sedang berhadapan dengan suaminya yang menakutkan.

​"Aduh, Mas... manusia itu kan bisa berubah," jawab Mina asal-asalan dengan gaya santainya yang mulai keluar.

"Mungkin kemarin-kemarin kepala aku sempat terbentur pintu lemari, jadi hidayahnya mendadak masuk ke otak. Intinya sekarang aku gak bakal jahat lagi sama Gino. Lagian, aku juga manusia ya, punya hati nurani. Masa lihat anak sekecil itu sekarat aku diem aja?"

​Arsenio menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan gaya bahasa Alicia yang mendadak menjadi sangat santai dan tidak menggunakan bahasa formal puitis yang biasanya dia gunakan untuk merayu.

​"Lalu, apa maksud dari pesan teks yang kamu kirimkan padaku tadi?" tanya Arsenio lagi, suaranya beralih menuntut penjelasan tentang ancaman ekstrem yang sempat membuatnya hampir terkena serangan jantung di dalam pesawat pribadi.

"Kamu bilang kamu sudah membunuh putraku. Dan kenapa kamu memblokir nomorku setelahnya?"

​Mina menyengir kuda, merasa agak bersalah sekaligus puas karena berhasil membalas pria cuek ini.

"Ya habisnya... aku teleponin dari siang gak diangkat-angkat! Aku kirim pesan biasa juga cuma centang satu! Aku panik, Mas! Anak kamu ini udah pucat banget kayak mayat hidup di mobil tadi. Makanya aku kirim pesan ekstrem begitu biar kamu langsung respons. Dan terbukti kan, taktik aku berhasil? Kamu langsung pulang." ucapnya dengan wajah terlalu santai.

​"Tapi tindakanmu itu keterlaluan. Kamu tahu seberapa paniknya saya?" nada suara Arsenio meninggi, menyiratkan kemarahan yang nyata.

​"Ya bagus dong kalau panik, berarti kamu masih punya jiwa kebapakan!" balas Mina tidak mau kalah, sifat sembrononya membuat dia berani mendebat pria berbahaya ini.

"Daripada kamu sibuk kerja mulu di luar negeri, anak di rumah disiksa sama pelayan sampai keracunan makanan basi aja kamu gak tahu! Kalau aku gak gerak cepat bawa Gino ke rumah sakit, mungkin sekarang kamu beneran bakal kehilangan putra kamu, Tuan Arsenio yang terhormat!"

​Arsenio tertegun. Kata-kata menohok dari mulut Alicia menembus langsung ke ulu hatinya. Pria itu terdiam, menatap ke arah ranjang di mana Gino yang masih terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya. Rasa bersalah yang besar mendadak menghantam dada Arsenio. Apa yang dikatakan wanita di depannya ini ada benarnya. Dia terlalu abai pada situasi di dalam rumahnya sendiri.

​Melihat Arsenio yang mendadak diam dengan tatapan bersalah, Mina merasa sedikit menang angin. Namun, perutnya kembali mengeluarkan suara keroncongan yang sangat nyaring di dalam ruangan sunyi itu, merusak atmosfer ketegangan yang baru saja terbangun.

​Kruuukk...

​Mina langsung memegangi perutnya dengan wajah memerah menahan malu.

"Tuh, kan... usus gue udah mulai baku hantam di dalem. Mas, terserah deh kamu mau marahin aku atau mau jeblosin aku ke penjara besok, tapi tolong... beliin aku makanan sekarang. Minimal nasi padang lauk rendang gitu, laper banget ini asli," keluh Mina blak-blakan, menatap Arsenio dengan pandangan memelas yang kali ini murni tanpa drama.

Bersambung....

1
Nadira ST
tinggal kabur ngilang ngapain bertengkar nguras tenaga emosi,dengar bertengkar tidak bisa mencari solusi kalau keadaanya memanas
Dewiendahsetiowati
Mina bikin ngakak
Dewiendahsetiowati
hadir thor
It's me Ri🥕: Terimakasih sih sudah mampir dan semoga suka yaa😍
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕☕☕
Nadira ST
lanjut thor💪💪💪💪💪
Nadira ST
ntar Arsen cemburu Lo min
Potatoes 🥔
Semangat ya kak, suka banget 😍
Potatoes 🥔
Bagus kan
Nadira ST
bertahanlah mina punya suami kaya plus tampan🤣🤣🤣🤣
Nadira ST
udah bagus thor ceritanya gak bertele2💪💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Mila
ceritanya bagus,seru
semngat update lagi ya kak
It's me Ri🥕: Aaaa..... Makasih sudah mampir yaa... Senang banget di komen begini
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!