Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Jam di dinding warung menunjukkan pukul tiga tepat. Ara segera menutup buku catatan pesanan dan mulai membereskan meja kasir. Beberapa pelanggan yang baru datang terlihat kecewa saat melihat tirai warung mulai diturunkan.
"Lho, Bu Ara tutup lebih cepat?"
"Iya, hari ini tutup jam tiga." Jawab Ara sambil tersenyum. Besok buka seperti biasa."
Setelah pelanggan terakhir pergi, suasana warung akhirnya menjadi lebih tenang. Ara menghela napas lega lalu mulai menyusun kursi-kursi ke atas meja.
Di sudut warung, Kenzi masih duduk memperhatikannya sejak tadi. Pria itu tidak banyak bicara, tetapi matanya terus mengamati gerak-gerik sang adik.
"Kamu selalu tutup jam segini?" tanyanya tiba-tiba.
Ara menggeleng. "Nggak."
"Lalu kenapa sekarang?"
Ara berhenti sejenak. "Karena ada yang harus aku urus."
Kenzi mengangkat alis. "Apa?"
Ara langsung mengalihkan pembicaraan. "Kakak mau minum lagi?"
"Kamu menghindari dari pertanyaan kakak..."
"Tidak!"
"Menghindar."
"Tidak!"
Kenzi hanya menghela napas kecil.
Sudah sejak kecil Ara selalu seperti itu. Jika tidak ingin menjawab, gadis itu akan membelokkan pembicaraan ke mana-mana. Beberapa menit kemudian, setelah warung benar-benar rapi, Ara mengambil tasnya.
"Nah, selesai."
"Ayo,"
Ara menoleh. "Ayo ke mana?"
"Makan es krim."
Ara berkedip beberapa kali. "Hah?"
"Kita makan es krim."
"Kak, aku harus pulang."
Kenzi berdiri dari kursinya. "Kamu selalu bilang sibuk."
"Soalnya memang sibuk."
"Kemarin sibuk."
"Iya."
"Hari ini juga sibuk."
"Iya."
"Besok pasti sibuk lagi."
Ara langsung diam.
Kenzi berjalan mendekat lalu mengetuk pelan dahi adiknya.
"Sudah lama kita nggak pergi berdua."
Ara mengusap dahinya. "Kakak lebay."
"Bukan lebay. Kita baru ketemu beberapa hari lalu."
"Itu beda..."
Kenzi memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Dulu waktu kuliah, setiap minggu kamu selalu minta dibelikan es krim."
Ara terdiam.
"Kemudian sekarang setelah tinggal sendiri, bahkan makan es krim sama kakak pun susah."
Ara langsung mengerucutkan bibir. "Kok jadi aku yang salah?"
"Kamu memang salah."
"Kak!"
Kenzi tersenyum tipis melihat ekspresi kesal adiknya. Jujur saja, ia memang sengaja. Kalau memakai paksaan, Ara pasti akan kabur. Kalau dimarahi, Ara akan makin keras kepala. Jadi lebih baik memainkan rasa bersalah sang adik.
Ara akhirnya menghela napas panjang. "Hanya sebentar."
"Satu jam..."
"Tiga puluh menit,"
"Satu jam..."
"Empat puluh menit..."
"Lima puluh menit."
Ara langsung memijat pelipisnya. "Kakak ini sedang negosiasi bisnis apa bagaimana?"
Kenzi tertawa kecil. "Ayo."
Ara akhirnya menyerah. "Iya, iya."
Senyum tipis muncul di wajah Kenzi.
Namun, di balik senyum itu, pikirannya tetap bekerja. Sejak siang tadi ada terlalu banyak hal yang terasa aneh. Ara terlihat gugup saat menerima telepon. Lokasinya berubah dari biasanya, warung ditutup lebih cepat. Dan yang paling membuatnya curiga, adiknya terus berusaha menghindari beberapa pertanyaan sederhana.
'Aku ingin tahu apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Ara.' Gumamnya dalam hati.
Sementara Ara sama sekali tidak menyadari kecurigaan tersebut. Ia hanya mengambil tas dan kunci warung.
"Kalau lebih dari satu jam aku pulang." Ancamnya.
Kenzi mengangguk santai. "Kita lihat nanti."
Ara langsung mendengus kesal. Lalu keduanya berjalan keluar warung menuju mobil mewah milik Kenzi yang terparkir di depan. Tanpa mereka sadari, sore itu Kenzi tidak hanya mengajak adiknya makan es krim. Pria itu juga sedang memulai penyelidikannya sendiri.
Di sisi lain kota, Alya sama sekali tidak berada di rumah seperti yang ia katakan kepada Ara pagi tadi.
Gadis itu justru sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan bersama Reno. Seragam sekolahnya sudah berganti menjadi pakaian kasual. Wajah Alya terlihat ceria saat berjalan di samping sang pacar, bahkan sesekali ia memeluk lengan pria itu dengan manja.
"Aku lapar." Keluh Alya.
"Nanti kita makan." Jawab Reno singkat.
Alya mengangguk sambil tersenyum. Meski beberapa kali kakak-kakaknya memperingatkan agar menjauhi pria yang dekat dengan nya, Alya tetap merasa mereka hanya berlebihan. Menurutnya, Reno tidak seburuk yang mereka pikirkan. Memang kadang emosinya meledak-ledak. Kadang suka memaksa, kadang juga membuatnya menangis. Tapi Reno dulu sangat baik padanya. Saat Alya pertama kali masuk SMP dan kesulitan bergaul, Reno yang selalu menemaninya di jam istirahat meskipun sekolah mereka berbeda. Saat Alya sedih, Reno yang menghiburnya. Saat Alya kesepian, Reno yang memberinya perhatian. Dulu Elang dan Theo selalu sibuk dan sekarang pun sama.
'Kakak bukan tidak suka, hanya belum bertemu dengan Reno saja,' batinnya.
"Ayo!" Suara Reno membuyarkan lamunannya.
Alya menoleh. "Hm?"
Reno menunjuk sebuah toko mewah di lantai dua. Toko jam tangan, kaca-kaca etalasenya berkilau diterpa cahaya lampu. Beberapa produk yang dipajang bahkan bernilai puluhan juta rupiah.
Alya langsung berhenti melangkah. "Ngapain ke sana?"
Reno menarik tangannya. "Masuk aja."
Alya menggeleng pelan. "Aku nggak mau..."
"Kenapa?"
"Harganya mahal."
Reno mendecak tidak sabar. "Masuk dulu."
Alya tetap berdiri di tempat. Reno kembali menarik tangannya. "Kamu ini susah banget diajak."
"Aku cuma—"
"Masuk!" Potong Reno.
Nada suaranya membuat Alya terdiam. Ia menundukkan kepala sesaat. Dalam hatinya sebenarnya ia tidak nyaman. Tetapi akhirnya tetap mengangguk.
"Iya."
Reno langsung tersenyum puas. "Nah gitu dong..."
Alya mencoba tersenyum kembali. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin Reno hanya sedang kesal, mungkin Reno hanya ingin melihat-lihat.
Begitu masuk ke dalam toko jam mewah itu, mata Reno langsung berbinar. Ia berjalan dari satu etalase ke etalase lain seolah sedang berada di surga.
Sementara, Alya berjalan di belakangnya dengan perasaan tidak nyaman.
"Reno, kita cuma lihat-lihat kan?" Tanya Alya pelan.
Reno tidak menjawab. Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada deretan jam tangan yang dipajang. Tak lama kemudian, ia berhenti di depan sebuah etalase.
"Nah, yang ini."
Seorang pegawai toko segera mendekat dan mengeluarkan jam tersebut. Reno langsung mencobanya di pergelangan tangan.
"Cocok nggak?"
Alya melihat label harga yang masih menempel. Seketika matanya membelalak.
"Tiga ... puluh lima juta?" Gumamnya syok.
Reno tersenyum puas melihat dirinya di cermin.
"Aku suka yang ini."
Alya menelan ludah. "Reno, itu mahal."
"Hm." Reno lalu menoleh padanya. "Bayarin."
Alya langsung membeku. "Hah?"
"Pakai kartumu."
Alya merasa jantungnya langsung jatuh ke perut.
"Kartu?"
"Iya."
"Tapi aku nggak bisa..."
"Kenapa?"
Alya menggenggam tasnya erat. "Itu kartu Ayah."
"Terus?"
"Aku takut dimarahin."
Wajah Reno langsung berubah. Senyumnya menghilang.
"Kamu nggak sayang aku?"
Alya langsung panik. "Bukan begitu."
"Kalau sayang harusnya nggak masalah."
Reno mulai berbicara dengan nada yang membuat Alya tidak nyaman.
"Kamu tahu aku suka jam ini."
"Tapi..."
"Kamu selalu punya alasan."
Alya menundukkan kepala, sebentar lagi Reno akan marah. Dan Alya paling tidak suka jika Reno marah di depan umum. Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka. Akhirnya, dengan tangan gemetar, Alya membuka dompetnya.
"Baik..." Gumamnya pelan.
Reno langsung tersenyum lagi. "Nah, gitu dong."
Beberapa menit kemudian transaksi selesai. Mereka keluar dari toko. Reno terlihat sangat bahagia sambil sesekali melihat jam barunya.
Sebaliknya, Alya hanya berjalan diam, senyumnya terlihat dipaksakan. Perasaan bersalah terus mengganggu pikirannya. Saat mereka melewati area tengah mall, Reno berhenti.
"Aku ke toilet dulu."
Alya mengangguk. "Iya."
"Tunggu di sini."
"Baik."
Reno lalu pergi meninggalkannya. Begitu sosok pria itu menghilang, Alya menghela napas panjang. Namun, belum sempat ia menenangkan diri, matanya menangkap dua sosok yang sangat dikenalnya.
"Astaga..." Alya langsung membeku.
Tak jauh dari sana, Ara sedang berjalan bersama seorang pria tinggi dan tampan. Keduanya membawa es krim di tangan masing-masing. Mereka terlihat santai sambil mengobrol.
"Ibu tiri?" Bisik Alya.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Tanpa berpikir panjang, ia buru-buru bersembunyi di balik pilar besar. Jangan sampai ketahuan, kalau Ara melihatnya bolos pulang ke rumah habislah dia. Dari tempat persembunyiannya, Alya mengintip lagi.
Ara tertawa saat pria itu mengatakan sesuatu. Pria tersebut juga terlihat sangat akrab dengan Ara. Alya langsung membulatkan mata.
"Tunggu..." Gumamnya. "Laki-laki itu..."
Alya langsung teringat cerita Theo kemarin.
"Ya ampun. Ibu tiri benar-benar selingkuh." Tanpa ragu ia mengeluarkan ponselnya.
Beberapa foto berhasil diambil, Alya tersenyum puas.
"Akhirnya dapat bukti."
Setelah itu ia langsung menghubungi Theo. Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.
[Ada apa?] Tanya Theo.
"Theo!" Seru Alya hampir berteriak. "Aku lihat ibu tiri di mall."
[Hah?]
Theo langsung tertarik.
[Serius?]
"Iya!" Alya segera mengirimkan foto-foto yang baru diambilnya. Beberapa detik kemudian terdengar suara Theo yang hampir berteriak.
"Itu dia!"
[Apa?]
"Pria selingkuhannya... !" Alya langsung melotot.
[Jadi benar?]
"Benar!"
Theo berkata penuh keyakinan.
[Pantesan saja dia nggak di rumah.]
"Iya!"
Alya ikut mengangguk meski Theo tidak bisa melihatnya. Theo menyeringai dari seberang sana.
[Aku tahu dari awal ada yang mencurigakan.]
"Terus sekarang gimana?" Tanya Alya.
Theo berpikir sejenak. Lalu berkata dengan penuh semangat,
[Kita kumpulkan semua bukti dulu.]
"Setelah itu?"
[Kita kasih lihat Ayah.]
Alya menelan ludah. Membayangkan wajah Nathan saat mengetahui hal itu.
Sementara di sisi lain mall, Ara sama sekali tidak tahu bahwa dirinya baru saja difitnah oleh kedua anak tirinya. Wanita itu masih sibuk memakan es krim sambil mendengarkan omelan Kenzi yang terus mencoba mencari tahu rahasia yang sedang ia sembunyikan.
"Alya..." Suara Reno yang tiba-tiba terdengar di belakangnya membuat Alya hampir menjatuhkan ponselnya.
Gadis itu terlonjak kaget. "Hah?!"
Reno mengerutkan kening melihat reaksinya.
"Aku cuma panggil."
Alya buru-buru menyimpan ponselnya ke dalam tas. "Oh ... nggak apa-apa."
Reno melirik ke arah yang tadi diperhatikan Alya.
"Kamu lihat apa?"
Alya langsung menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Nggak lihat apa-apa." Jawab Alya cepat.
Reno menyipitkan mata. "Serius?"
"Iya."
"Kamu bohong."
"Nggak."
Reno masih tampak curiga.
Namun, sebelum pria itu sempat bertanya lagi, Alya langsung menarik lengannya.
"Ayo pulang!"
Reno mengangkat alis. "Pulang?"
"Iya."
"Kok buru-buru?"
Alya berusaha tersenyum. "Aku capek."
Padahal alasan sebenarnya bukan itu. Ia hanya ingin segera pergi sebelum Ara melihatnya.
Reno mendecak pelan. "Kita baru sebentar."
"Aku benar-benar capek." Alya kembali menarik lengannya.
"Ayo, ya."
Reno terlihat tidak terlalu senang, tetap akhirnya mengangguk. "Ya sudah."
.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣