"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
"Paksu Komandan kesayangan Ismut yang gantengnya tiada tara se-alam semesta! Kangen banget tahu!"
Pekikan nyaring nan super centil itu seketika membelah keheningan sore di area parkir rumah dinas. Dua orang bintara muda yang sedang berdiri sikap sempurna di dekat mobil taktis dinas Alaric langsung membelalakkan mata, buru-buru membuang pandangan ke arah pohon cemara demi menjaga kewarasan mereka.
Alaric yang sedang memberikan instruksi terakhir mengenai pengamanan rute pernikahan lantas membeku. Pria bertubuh raksasa itu perlahan membalikkan tubuhnya dengan tempo yang sangat lambat, menatap lurus ke arah sebuah taksi online yang baru saja tertutup pintunya.
Dari sana, muncul Calla dengan aura yang teramat segar, wangi semerbak bunga lavender langsung tercium bahkan dari jarak lima meter. Kulitnya yang baru saja selesai di-spa tampak bersih merona, kontras dengan daster satin bertali tipis warna putih bersih yang sengaja ia balut dengan kardigan rajut longgar yang melorot di salah satu bahunya. Rambut panjangnya digerai indah, bergerak mengikuti langkah kakinya yang kini setengah berlari menuju Alaric.
BRUK!
Tanpa memedulikan dua anak buah suaminya yang menahan napas, Calla langsung melompat dan menghambur ke dalam pelukan Alaric, melingkarkan kedua lengan mulusnya di leher kekar sang Komandan hingga tubuh mungilnya bergelayut manja.
"Callanta, turun. Ada prajurit saya di sini," bisik Alaric dengan suara bariton yang teramat dalam dan berat, rahang tegasnya mengeras menahan rasa malu yang luar biasa sementara telinganya sudah memerah padam sempurna.
"Nggak mau! Ismut kan kangen banget, seharian ditinggal sendirian di salon," sahut Calla frontal, malah makin mengeratkan pelukannya dan mendongak, menatap Alaric dengan mata kucingnya yang berbinar nakal. "Michelle kan langsung pulang ke rumah Mama Diah, jadi sekarang di rumah dinas cuma ada kita berdua, Paksu. Bebas deh mau ngapain aja!"
Dua bintara di depan mereka langsung menelan ludah kaku, serempak menatap lurus ke depan seolah sedang menatap dinding tak kasat mata.
"Halo, Abang-abang tentara ganteng bawahannya Paksu!" Calla tiba-tiba melepas satu tangannya dari leher Alaric, lalu melambaikan jemari lentiknya dengan genit ke arah dua prajurit tersebut. "Udah pada makan sore belum? Kalau belum, jangan minta ke Paksu ya, dia pelit kalau soal makanan Ismut."
"S-Siap, sudah, Ibu Komandan!" sahut kedua prajurit itu terbata-bata dengan suara yang dipaksakan tegas.
Alaric menarik napas dalam-dalam, merasa wibawa militernya yang dibangun selama belasan tahun runtuh seketika di tangan istri kecilnya yang terlampau cegil ini. Kabut gairah dan rasa kesal bercampur aduk di rongga dadanya, membuat jakunnya naik turun dengan cepat.
"Sertu Hendra, Kopral Dua Dian, bubar barisan. Kembali ke pos kalian sekarang," perintah Alaric dengan nada suara yang teramat lambat namun sarat akan ancaman mutlak.
"Siap, laksanakan, Komandan!" Kedua prajurit itu memberikan hormat kilat dengan wajah lega, lalu berbalik dan melangkah seribu menjauh dari area rumah dinas sebelum sang harimau pangkalan benar-benar mengamuk.
Begitu kedua anak buahnya menghilang di balik tikungan koridor barak, Alaric tidak membuang waktu lagi. Dengan satu gerakan taktis yang teramat cepat namun bertenaga, ia melepaskan kuncian tangan Calla di lehernya.
Bukannya menurunkan Calla ke tanah, Alaric justru membalikkan tubuh mungil istrinya, lalu mengangkat tubuh satin Calla dan menghempaskannya ke atas pundak bidangnya yang kokoh seperti sedang menggendong sekarung beras logistik pangkalan.
"Hwaaa! Paksu! Kok Ismut digendong kayak karung beras begini sih?!" teriak Calla histeris namun diiringi tawa renyah yang berderai kegirangan. "Aduh, pusing Paksu! Kepala Ismut di bawah nih! Tapi bokong Ismut empuk kan nempel di pundak seksi Paksu?"
Alaric tidak membalas dengan kata-kata. Pria berusia 38 tahun itu melangkah tegap dengan tempo yang lambat namun pasti, membawa Calla masuk ke dalam rumah dinas, lalu menendang pintu kayu depan hingga tertutup rapat dengan tumit sepatu larsnya.
BRAK!
Alaric berjalan menuju ruang tengah, lalu menurunkan Calla secara hati-hati di atas sofa empuk. Ia langsung mencondongkan tubuh raksasanya ke depan, mengurung tubuh mungil Calla di bawah kungkungan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada sandaran sofa.
"Kamu... benar-benar keterlaluan hari ini, Callanta," bisik Alaric rendah, suaranya sangat serak, napasnya yang hangat memburu panas menerpa wajah Calla yang kini tepat berada di bawahnya. "Sengaja berpakaian seperti ini di depan anak buah saya, hm?"
Calla yang terkurung sama sekali tidak merasa takut. Malah, senyum jahil yang teramat lebar terukir di bibir ranumnya. Ia sengaja melepaskan kardigan rajutnya, membiarkan daster satin putih tipisnya terpampang nyata di depan mata elang Alaric yang kini sudah menggelap sepenuhnya.
"Habisnya Paksu kaku banget sih kalau di lapangan," cicit Calla manja, jemari lentiknya mulai bergerak nakal, menepuk-nepuk dada bidang Alaric yang terbalut seragam PDL loreng tebal. "Lagian baju Ismut sopan tahu, kan tertutup. Cuma emang auranya aja yang terlalu seksi setelah spa tadi. Wangi kan tubuh Ismut, Paksu?"
Alaric memejamkan matanya rapat-rapat, menghirup dalam-dalam aroma lavender bercampur stroberi yang menguar dari ceruk leher Calla. Sial, batin Alaric mengumpat. Sentuhan kulit mulus Calla yang baru saja di-spa terasa sangat lembut dan mematikan bagi keimanannya yang sudah diuji seharian penuh di gedung pertemuan.
"Saya bisa menghukummu malam ini juga, Calla. Jangan menguji batas kesabaran saya," bisik Alaric dengan nada yang teramat dalam dan penuh penekanan di depan bibir istrinya.
"Hukum aja, Ismut siap lahir batin kok," tantang Calla frontal, menatap Alaric dengan pandangan sayu yang penuh gairah yang teramat lekat. "Ayo dong, Paksu. Jatah ciuman yang lama, sebelum lusa kita beneran sibuk di pelaminan."
Pertahanan Alaric seketika lebur tanpa sisa. Rasa lapar yang ia tahan berhari-hari mendadak membuncah ke permukaan. Tangan besarnya yang kapalan bergerak kilat mengunci tengkuk Calla, menahan kepalanya, sementara tangan satunya lagi meremas pinggang ramping Calla agar menempel sempurna pada tubuh tegapnya.
Alaric menundukkan kepalanya dan langsung memagut bibir ranum Calla dengan intensitas yang teramat panas dan dalam.
"Eungh..." Calla melenguh pelan, matanya langsung terpejam rapat saat merasakan kehangatan bibir Alaric yang menyergapnya tanpa ampun.
Ini bukan ciuman kilat. Alaric memimpin ciuman mereka dengan dominasi penuh seorang pria dewasa, menyesap dan melumat belahan bibir Calla secara bergantian dengan ritme yang lambat namun sangat dalam. Tangan Calla yang berada di dada Alaric bergerak liar, meremas kain seragam loreng suaminya, meraba tekstur tubuh kekar di baliknya yang terasa sangat panas dan mengeras.
Sentuhan berani dari jemari Calla di dadanya seketika mengirimkan sinyal sengatan listrik yang membuat seluruh bulu kuduk Alaric merinding hebat. Alaric mengerang rendah di tengah pagutan mereka, memperdalam hisapannya hingga Calla hanya bisa pasrah, mencengkeram bahu kokoh suaminya dengan sisa tenaga yang ada di tengah keheningan malam rumah dinas mereka.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu memabukkan dan menguras napas, Alaric perlahan menjauhkan bibirnya dengan berat hati.
"Haaah... haaah..."
Calla terengah-engah dengan wajah yang merah padam sepenuhnya. Bibir mungilnya kini tampak sedikit bengkak dan basah, sementara matanya sayu menatap Alaric dengan pandangan kosong yang sangat menggoda.
Alaric pun tidak jauh berbeda. Napas sang Komandan memburu anarki, dadanya naik turun dengan cepat menahan gejolak gairah yang sudah membakar bagian bawah tubuhnya hingga terasa sangat sesak dan menegang maksimal di balik celana militernya.
"Tahan... Calla... Cukup," bisik Alaric terbata-bata dengan suara yang teramat berat dan serak, menyandarkan dahinya di ceruk leher istrinya demi menenangkan detak jantungnya yang menggila.
Calla tersenyum sangat manis, memeluk leher suaminya dengan erat, menikmati kehangatan dan rasa aman yang menguar dari tubuh raksasa Alaric. "Iya, iya, Paksu kaku... Ismut paham kok. Dua hari lagi kan? Ismut bakal tunggu sampai malam itu tiba."
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨