NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Pagi di pinggiran kota Bogor terasa jauh lebih tenang daripada kebisingan Jakarta yang pernah mengepung hidup mereka. Rumah itu tidak besar—sebuah bangunan bergaya kolonial tua yang direnovasi, dikelilingi oleh pohon-pohon pinus dan udara yang selalu membawa aroma tanah basah. Di sini, tidak ada lift pribadi, tidak ada penjaga bersenjata di setiap sudut, dan tidak ada kilatan kamera wartawan yang menunggu kesalahan mereka.

Alexander Eduardo, yang kini lebih suka dipanggil Alex saja, duduk di teras belakang. Ia masih berada di kursi roda, namun ada ketenangan di wajahnya yang belum pernah terlihat selama satu dekade terakhir. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kecil berisi rencana-rencana masa depan yang jauh dari dunia korporasi: pengembangan kebun hidroponik dan yayasan pendidikan yang ia bangun dari sisa hartanya.

Almira keluar dari pintu belakang, menggendong bayi kecil mereka yang kini sudah diizinkan pulang dari rumah sakit. Bayi itu bernama Adrian Richard Eduardo—sebuah nama yang diambil untuk menghormati dua pria yang tewas akibat keserakahan keluarga mereka.

"Dia baru saja tertidur," bisik Almira sambil meletakkan bayi itu dengan hati-hati di kereta bayi di samping kursi roda Alex.

Alex menarik tangan Almira dan mengecupnya. "Kau tampak lebih sehat, Sayang. Warna di pipimu sudah kembali."

"Itu karena aku tidak lagi harus memikirkan cara melarikan diri darimu setiap jam," canda Almira, meskipun ada nada kebenaran yang pahit di sana. "Bagaimana kakimu hari ini?"

"Ada sensasi kesemutan di ujung jari," lapor Alex dengan binar harapan. "Dokter bilang itu tanda bahwa sarafnya mulai merespons stimulasi alami tanpa bahan kimia. Mungkin satu persen itu mulai bekerja."

Namun, di tengah kedamaian itu, mereka berdua tahu bahwa dunia di luar sana belum sepenuhnya melupakan mereka. Berita tentang runtuhnya dinasti Eduardo masih menjadi topik hangat, dan Elara Mahendra—wanita yang kehilangan segalanya dalam semalam—dikabarkan telah menghilang dari radar kepolisian setelah ayahnya masuk penjara.

Senja mulai turun, menyelimuti rumah itu dalam warna oranye yang pekat. Nadin sedang berada di dapur, memasak sup hangat untuk makan malam, sementara Alex dan Almira sedang menikmati momen tenang di ruang tengah.

Tiba-tiba, suara decit pagar besi yang terbuka secara paksa memecah kesunyian. Alex menegang. Insting predatornya yang tajam tidak pernah benar-benar mati.

"Rendy?" panggil Alex, namun asisten setianya itu sedang pergi ke kota untuk mengambil persediaan medis.

Pintu depan tidak dikunci. Perlahan, pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok yang tampak seperti hantu dari masa lalu. Elara berdiri di sana. Namun, ia bukan lagi wanita glamor yang mengenakan pakaian desainer. Rambutnya berantakan, riasannya luntur, dan matanya memancarkan kegilaan yang murni. Di tangannya, ia menggenggam sebuah jerigen berisi cairan bening yang baunya sangat menyengat: bensin.

"Selamat atas kehidupan barumu yang... menyedihkan, Alex," suara Elara bergetar, tinggi dan tidak stabil.

"Elara, letakkan itu. Kau sudah kalah. Jangan buat ini semakin buruk untuk dirimu sendiri," ucap Alex, suaranya tenang namun tangannya memberi isyarat agar Almira mundur membawa bayi mereka ke kamar belakang.

"Kalah? Aku tidak kalah! Kau yang menghancurkanku!" teriak Elara, mulai menyiramkan bensin ke arah karpet dan tirai ruang tamu. "Kau memberikan hartamu kepada orang-orang miskin itu? Kau menikahi pelayan ini? Kau menghina cintaku selama sepuluh tahun demi anak haram ini?!"

"Dia bukan anak haram, Elara! Dia darah dagingku!" bentak Alex.

Api Dendam Terakhir

Elara tertawa histeris, mengeluarkan sebuah korek api gas dari sakunya. "Jika aku tidak bisa memilikimu, dan jika aku tidak bisa memiliki kekuasaan Eduardo, maka tidak ada yang boleh memilikinya. Kita semua akan terbakar di sini, Alex. Seperti cara kau membakar hidupku!"

"Almira, lari! Bawa Adrian keluar lewat pintu belakang!" teriak Alex.

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" balas Almira, namun ia segera menyadari bahwa bayinya dalam bahaya besar.

Elara menyalakan korek api itu. Dalam satu gerakan cepat yang dipicu oleh keputusasaan, ia melempar korek itu ke arah tirai yang sudah basah oleh bensin. Api seketika menjalar, menciptakan dinding panas yang memisahkan Alex dari jalan keluar.

"Alex!" jerit Almira.

"PERGI, ALMIRA! SELAMATKAN ADRIAN!"

Almira terisak, namun insting seorang ibu memaksanya untuk berlari keluar menuju halaman belakang bersama bayinya. Nadin menyusul di belakang, membawa kain basah untuk menutupi hidung mereka dari asap hitam yang mulai memenuhi rumah.

Di dalam, Alex terjebak di kursi rodanya. Api melahap furnitur kayu dengan rakus. Elara berdiri di tengah ruangan, tertawa sambil melihat api mulai menjilat gaunnya sendiri. Ia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.

"Mari kita mati bersama, Sayang," bisik Elara di tengah deru api.

Alex menatap lidah api yang semakin mendekat. Ia melihat foto pernikahannya dengan Almira di dinding mulai terbakar. Pikiran tentang kematian tidak lagi menakutinya, namun pikiran bahwa ia akan meninggalkan Almira dan Adrian sendirian membuatnya murka pada keterbatasan fisiknya.

"TIDAK!" raung Alex. "AKU TIDAK AKAN MATI DI SINI!"

Dengan tekad yang melampaui logika medis, Alex mencengkeram lengan kursi rodanya. Ia memaksakan seluruh energinya ke arah pinggang dan kakinya. Rasa sakit yang luar biasa, seperti tulang yang dipatahkan berkali-kali, menjalar di kakinya.

Ia berdiri.

Satu langkah. Langkah yang goyah dan menyakitkan, namun itu adalah langkah nyata. Alex menyeret kakinya, menghindari reruntuhan kayu yang terbakar. Ia melihat Elara yang mulai pingsan akibat menghirup asap. Meskipun wanita itu ingin membunuhnya, Alex tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.

Ia meraih lengan Elara dan menariknya menuju pintu teras samping yang belum terlahap api. Setiap inci gerakan adalah siksaan, namun Alex terus berjalan. Ia menendang pintu kaca hingga hancur dan jatuh ke rumput basah di halaman samping, menyeret Elara bersamanya tepat sebelum atap ruang tamu runtuh dengan suara menggelegar.

Almira berlari menghampiri Alex yang tergeletak di rumput, terengah-engah dengan wajah yang dipenuhi jelaga. Ia meletakkan Adrian di rumput dan memeluk suaminya dengan kekuatan yang luar biasa.

"Kau berdiri... Alex, kau berjalan..." tangis Almira pecah.

Alex menatap kakinya yang kotor dan gemetar, lalu menatap rumah mereka yang kini habis dilalap api. Harta terakhirnya telah musnah, namun ia merasa lebih kaya daripada saat ia memiliki gedung pencakar langit di Sudirman.

"Rumahnya habis, Almira. Aku gagal menjaganya," bisik Alex lemah.

Almira menggeleng kuat-kali. "Rumah itu bukan bangunannya, Alex. Rumah itu adalah kita. Selama kita bersama, kita bisa membangunnya kembali di mana saja."

Petugas pemadam kebakaran dan polisi tiba tak lama kemudian. Elara dibawa dengan ambulans dalam kondisi kritis namun stabil; ia akan menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit jiwa atau penjara.

Rendy datang dengan wajah hancur melihat rumah tuannya terbakar, namun ia tertegun melihat Alex duduk di tanah, mencoba menggerakkan jari-jari kakinya dengan sadar.

Enam bulan kemudian.

Tidak ada lagi Alexander Eduardo sang predator. Yang ada adalah Alex, seorang pria yang berjalan dengan bantuan tongkat, yang menghabiskan waktunya mengajar anak-anak di panti asuhan miliknya sendiri.

Almira duduk di taman panti, melihat Alex sedang membantu Adrian kecil belajar merangkak di atas rumput. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi paksaan.

"Alex," panggil Almira.

Alex menoleh, tersenyum lebar. "Ya?"

"Aku baru saja menerima surat dari pengacara William. Dia ingin meminta maaf secara resmi dari dalam penjara sebelum dia meninggal karena sakitnya."

Alex terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang udara pegunungan yang segar. "Katakan padanya, aku sudah memaafkannya. Bukan demi dia, tapi demi ketenangan jiwaku sendiri. Kita tidak bisa memulai babak baru jika terus membaca halaman yang lama."

Almira memeluk Alex dari belakang. Mereka telah melewati neraka, pengkhianatan, kelumpuhan, dan api. Namun, dari abu kehancuran itu, lahir sebuah cinta yang tidak lagi berdasarkan pada kepemilikan, melainkan pada kebebasan.

Sang majikan telah melepaskan takhtanya untuk menjadi seorang manusia. Dan sang pelayan telah melepaskan dendamnya untuk menjadi seorang ratu di hati pria yang benar-benar mencintainya.

"Terima kasih telah menemukanku di desa itu, Alex," bisik Almira.

"Terima kasih telah menyelamatkanku dari diriku sendiri, Almira," balas Alex.

Di bawah langit yang cerah, kehidupan baru mereka benar-benar dimulai. Tanpa belenggu, tanpa noda darah, hanya ada masa depan yang mereka tulis bersama, kata demi kata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!