NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LULUS SMA

Hari wisuda di SMA Taruna Bangsa penuh dengan kegembiraan dan suasana meriah. Ribuan siswa mengenakan toga hitam bergaris emas berbaris rapi di lapangan utama sekolah, sementara orang tua dan tamu kehormatan mengisi tribun yang telah disiapkan. Evan berdiri di antara teman-temannya dengan wajah yang penuh kebanggaan, matanya bersinar ketika melihat orang tua dan Rina yang sedang menunggu dengan senyum lebar.

Setelah upacara wisuda selesai dan ijazah resmi diberikan, Evan segera berlari ke arah keluarga dan temannya. Ayahnya langsung memeluknya dengan erat, sementara ibunya menangis bahagia sambil menyeka air mata dengan sapu tangan.

"Kita sangat bangga padamu, anak kita," ujar ayahnya dengan suara yang penuh emosi. "Kamu telah bekerja keras selama tiga tahun ini, dan hasilnya sangat memuaskan."

Evan mengangguk dengan senyum hangat. "Terima kasih atas dukungannya selama ini, Pa, Bu. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa sampai di sini."

Rina mendekat dengan membawa bunga mawar merah dan sebuah amplop kecil. "Selamat ya, Evan! Kamu mendapatkan nilai rata-rata yang luar biasa – 9,2! Itu artinya kamu bisa masuk ke hampir semua fakultas kedokteran terbaik di negeri ini."

Evan menerima bunga dan amplop dengan rasa syukur. Di dalam amplop terdapat kartu ucapan dari teman-teman sekelas dan beberapa uang sebagai hadiah untuk wisuda nya. Ia merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang mendukung dan teman seperti Rina yang selalu ada di sisinya.

Setelah acara wisuda selesai, mereka pergi makan malam bersama di restoran kecil yang biasa mereka kunjungi. Selama makan, mereka mulai membicarakan tentang masa depan Evan – tentang pilihan perguruan tinggi dan fakultas yang akan ia pilih.

"Aku sudah menerima surat penerimaan dari tiga fakultas kedokteran terbaik di Jawa Barat," ujar Evan sambil membuka tasnya dan mengambil beberapa amplop putih yang berisi surat resmi. "Ada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, dan juga Universitas Airlangga."

Orang tua Evan melihat surat-surat tersebut dengan mata yang penuh kagum. "Ini adalah pencapaian yang luar biasa, dek," ujar ibu dengan bangga. "Kamu bisa memilih salah satu yang paling kamu inginkan."

Namun Evan tampak sedang berpikir dalam-dalam. Ia menatap jauh ke arah jendela restoran, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. "Aku memang sangat ingin masuk fakultas kedokteran untuk mewujudkan impian kita dengan Kakek Darmo," ujarnya dengan suara yang tenang namun jelas. "Namun aku juga merasa bahwa aku memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya belajar ilmu kedokteran modern saja."

Ia melihat ke arah semua orang yang ada di mejanya. "Aku sedang mempertimbangkan untuk memilih program studi yang memungkinkan aku untuk mempelajari pengobatan komplementer atau ilmu kedokteran tradisional secara lebih mendalam. Beberapa universitas kini sudah memiliki program seperti itu, di mana mahasiswa bisa belajar ilmu kedokteran modern sekaligus mempelajari pengobatan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia."

Rina mengangguk dengan antusias. "Itu adalah ide yang sangat bagus, Evan. Seperti yang kita bicarakan sebelumnya, menggabungkan kedua ilmu tersebut akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi masyarakat. Banyak orang yang membutuhkan akses ke pengobatan yang efektif dan terjangkau, dan kamu bisa menjadi orang yang membuat itu terjadi."

Ayahnya berpikir sejenak sebelum berbicara. "Kita mengerti bahwa kamu memiliki tanggung jawab terhadap warisan Kakek Darmo, anak kita. Dan kita akan selalu mendukung pilihanmu, apa pun yang kamu putuskan. Yang penting adalah kamu memilih jalan yang benar dan membuat kamu bahagia."

Setelah makan malam selesai, Evan pergi menemui guru pembimbingnya, Pak Bambang, yang juga telah menjadi salah satu orang yang mendukungnya selama ini. Di rumah Pak Bambang, mereka duduk di taman belakang yang teduh sambil minum teh hangat.

"Kamu telah membuat pilihan yang bijak, Evan," ujar Pak Bambang setelah Evan menjelaskan tentang rencananya. "Banyak orang masih meremehkan ilmu pengobatan tradisional, namun kenyataannya banyak manfaat yang bisa kita dapatkan darinya jika kita tahu cara menggunakannya dengan benar dan sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan modern."

Ia mengambil sebuah buku dari rak di ruang tamu dan memberikannya kepada Evan. "Ini adalah buku tentang pengobatan komplementer yang telah saya gunakan selama bertahun-tahun. Di dalamnya terdapat informasi tentang bagaimana menggabungkan pengobatan tradisional dengan modern secara aman dan efektif. Semoga bisa membantu kamu dalam studi kamu nanti."

Evan menerima buku dengan rasa syukur yang mendalam. Ia tahu bahwa dukungan dari orang-orang seperti Pak Bambang akan sangat berarti dalam perjalanan yang akan ia tempuh.

Pada malam hari, Evan duduk di kamar kosannya dengan membuka semua surat penerimaan dari universitas serta buku-buku kuno leluhurnya. Ia membandingkan informasi tentang masing-masing program studi yang ditawarkan, mencatat kelebihan dan kekurangan dari setiap pilihan. Di sebelahnya terdapat foto Kakek Darmo yang ditempelkan di dinding, seolah leluhurnya sedang memberikan bimbingan dan dorongan kepadanya.

Setelah mempertimbangkan dengan matang selama beberapa jam, Evan akhirnya membuat keputusan. Ia akan memilih untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, yang baru saja membuka program studi khusus dalam pengobatan komplementer dan integratif. Program ini tidak hanya akan mengajarkan ilmu kedokteran modern secara menyeluruh namun juga akan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempelajari berbagai sistem pengobatan tradisional dari seluruh Indonesia, termasuk ilmu yang diajarkan oleh Kakek Darmo.

Ia segera menulis surat penerimaan dan mengirimkannya ke universitas tersebut. Saat menutup amplop yang akan dikirim, Evan merasakan rasa lega dan penuh semangat. Ia tahu bahwa keputusan ini bukanlah yang paling mudah atau yang paling populer, namun ia yakin bahwa ini adalah jalan yang benar untuknya – jalan yang akan membawanya lebih dekat untuk mewujudkan impiannya bersama Kakek Darmo.

Keesokan paginya, Evan menghubungi beberapa teman sekelasnya yang juga akan melanjutkan kuliah di universitas yang sama. Mereka sepakat untuk bekerja sama dalam mengembangkan proyek penelitian tentang pengobatan tradisional dan modern, serta berencana untuk membuat komunitas mahasiswa yang fokus pada pengembangan ilmu pengobatan komplementer.

"Saya juga berencana untuk membuat kunjungan rutin ke kampung setiap bulan," ujar Evan ketika berbicara dengan Rina yang akan melanjutkan kuliah di fakultas farmasi universitas yang sama. "Aku akan merawat kebun obat Kakek Darmo, membantu masyarakat kampung dengan ilmu yang aku miliki, dan juga mengumpulkan data tentang tanaman obat lokal untuk penelitian kita."

Rina tersenyum dengan penuh dukungan. "Aku akan ikut kamu setiap kali ada kesempatan, Evan. Kita bisa bekerja sama untuk mengumpulkan data dan membuat ramuan yang aman serta efektif berdasarkan ilmu tradisional dan penelitian modern."

Di malam hari sebelum harus pergi ke kampung untuk mengumumkan keputusannya kepada masyarakat, Evan mengeluarkan kotak kayu berisi warisan leluhurnya dan membukanya dengan hati-hati. Ia mengambil keris pusaka dan buku harian Kakek Darmo, merasakan kekuatan dan kebijaksanaan yang mengalir dari kedua benda tersebut.

"Aku sudah membuat keputusanku, Kakek," bisiknya dengan suara penuh tekad, menatap foto leluhurnya yang terpajang di dinding. "Aku akan memilih jalan yang mungkin tidak mudah, namun aku yakin bahwa ini adalah jalan yang kamu inginkan untukku. Aku akan terus bekerja keras untuk menggabungkan ilmu tradisional dan modern, untuk melestarikan warisanmu, dan untuk membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Aku akan membuatmu bangga."

Dengan hati yang penuh harapan dan tekad yang kuat, Evan bersiap menghadapi babak baru dalam hidupnya – babak yang akan membawa dia lebih dekat untuk mewujudkan impian yang telah ia bangun bersama leluhurnya, dan untuk menjadi orang yang bisa memberikan kontribusi berharga bagi masyarakat dan dunia yang ada di sekitarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!