"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Luka di Balik Nama De Alfa
Pagi itu, suasana asrama terasa sunyi. Sebagian besar siswi sudah berangkat pulang untuk liburan musim panas. Achell duduk di tepi ranjangnya, menatap koper yang sudah tertutup rapi. Matanya masih sembap, dan ia terus melirik ke arah jam dinding. Pukul sepuluh pagi. Gerbang asrama pasti sudah sepi, dan mobil hitam itu tetap tidak muncul.
Sophie, yang sedang memasukkan buku terakhir ke tasnya, menghentikan aktivitasnya. Ia menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik. Sejak semalam, ada banyak pertanyaan yang mengganjal di kepalanya.
"Achell," panggil Sophie pelan. Ia duduk di kursi belajar, menghadap Achell. "Boleh aku bertanya sesuatu? Dan tolong, kali ini jangan dijawab dengan 'aku tidak apa-apa'."
Achell mendongak perlahan. "Apa itu, Soph?"
"Siapa sebenarnya Victor Louis Edward bagimu? Dan siapa kau sebenarnya?" Sophie memajukan duduknya. "Maksudku, cara dia menatapmu, cara kau memujanya, dan cara dia membiayai segalanya... itu tidak terlihat seperti hubungan paman dan keponakan pada umumnya. Kalian bahkan tidak berbagi nama belakang yang sama."
Achell menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menceritakan rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
"Namaku yang sebenarnya adalah Gabriella Rachel De Alfa," bisik Achell.
Sophie terbelalak. "De Alfa? Keluarga konglomerat perkapalan itu? Kau anak tunggal mereka?"
Achell mengangguk getir. "Iya. Tapi nama itu hanya sebuah label bagiku. Orang tuaku... mereka sangat sibuk menaklukkan dunia bisnis sampai mereka lupa punya seorang putri di rumah. Bagiku, mereka hanyalah orang asing yang sesekali muncul di koran. Karena itulah, sejak kecil aku dititipkan pada Uncle Jake."
"Uncle Jake? Siapa dia?"
"Jake De Alfa. Dia adik kandung ibuku, paman kandungku yang sebenarnya. Uncle Jake adalah sahabat karib Victor sejak mereka masih mengenakan seragam sekolah dasar. Mereka tumbuh besar bersama, membangun kerajaan bisnis mereka berdampingan," jelas Achell. "Saat aku masih berusia lima tahun, Uncle Jake membawaku ke pertemuan mereka. Di sanalah aku pertama kali melihat Victor."
Achell tersenyum tipis, teringat memori masa kecilnya yang paling indah. "Waktu itu, Victor adalah satu-satunya orang dewasa yang mau mendengarkan ceritaku tentang kupu-kupu. Dia terlihat begitu kuat, begitu pelindung. Sejak saat itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Victor daripada di rumah orang tuaku sendiri atau rumah Uncle Jake."
"Lalu, kenapa Victor yang membiayai sekolahmu? Bukankah keluarga De Alfa sangat kaya?" tanya Sophie bingung.
"Itulah masalahnya. Orang tuaku dan Uncle Jake sudah berkali-kali ingin mengambil alih seluruh biayaku, tapi Victor selalu menolak dengan keras. Dia bilang pada mereka bahwa aku adalah 'keluarganya sendiri'. Dia ingin bertanggung jawab penuh atas hidupku," Achell tertawa hambar.
"Dulu, aku mengira itu karena dia mencintaiku. Aku mengira dia ingin menjagaku karena aku spesial baginya."
"Tapi nyatanya?"
"Nyatanya, itu mungkin hanya bentuk egoismu sebagai seorang Edward," sahut Julian yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar yang terbuka. Ia sudah mengenakan pakaian kasual untuk pulang.
"Dia ingin memiliki kontrol penuh. Dia ingin kau merasa berhutang budi padanya, sehingga kau tidak akan pernah bisa pergi jauh."
Achell terdiam mendengar perkataan Julian.
"Jadi," Sophie menyimpulkan dengan wajah geram, "orang tuamu mengabaikanmu, paman kandungmu menyerahkanmu pada sahabatnya, dan pria itu—Victor—menjadikanmu sebagai 'proyek' tanggung jawabnya, tapi dia malah memperlakukanmu seperti sampah di depan umum semalam?"
Achell menunduk. "Dia satu-satunya 'rumah' yang aku kenal, Soph. Itulah kenapa aku begitu bodoh. Karena kalau aku kehilangan dia, aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dituju. Orang tuaku bahkan mungkin tidak tahu aku sedang libur sekolah hari ini."
Sophie langsung berdiri dan memeluk Achell dengan sangat erat. "Kau punya kami, Achell. Mulai hari ini, lupakan rumah dingin di London itu. Kalau orang tuamu tidak peduli dan pamanmu terlalu sibuk dengan bisnis, maka biarkan kami yang menjadi keluargamu."
Julian mendekat dan meletakkan tangannya di atas bahu Achell. "Mobil jemputanku sudah di bawah. Aku akan mengantarmu dan Sophie ke stasiun. Kita tidak akan menunggu mobil Edward itu lagi."
Achell menatap kedua sahabatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa cinta tidak harus datang dari orang yang membiayai hidupnya. Ia berdiri, menghapus sisa air matanya, dan mengambil kopernya sendiri.
"Ayo pergi," ucap Achell tegas.
Saat mereka berjalan menyusuri lorong asrama, ponsel di saku Achell bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Dari: Victor Louis Edward
Sopir akan terlambat 30 menit. Tunggu di lobi.
Achell membaca pesan itu, lalu tanpa ragu, ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak membalas. Ia terus berjalan mengikuti Julian dan Sophie, meninggalkan lobi asrama tepat sebelum mobil hitam itu masuk ke halaman sekolah.
Di pusat kota London, Victor terus menatap layar ponselnya, menunggu balasan yang biasanya datang dalam hitungan detik. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, pesannya hanya berakhir dengan tanda centang satu.