NovelToon NovelToon
Segitiga Tak Sama Sisi

Segitiga Tak Sama Sisi

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen / Romantis / Romansa / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Layla Camellia

Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.

DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: Pelukan di Bawah Langit Senja

Wawan membawa Ella menjauh dari hiruk-pikuk kelas yang beracun, menaiki anak tangga satu demi satu hingga mereka sampai di atap gedung sekolah yang sudah lama terbengkalai. Di tempat itu, kebisingan dunia seolah teredam. Hanya ada suara desis angin yang menerpa sela-sela pagar besi dan pemandangan langit yang mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantulkan sisa cahaya matahari di cakrawala.

Lutut Ella terasa lemas. Ia jatuh terduduk di sebuah kursi kayu tua yang catnya sudah mengelupas. Tangannya masih bergetar hebat, memegang erat tali tasnya seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa. Air mata yang sejak tadi ia tahan mati-matian di depan Rizki dan Nani, akhirnya tumpah begitu saja. Isakannya pecah, memenuhi kesunyian atap gedung itu.

Wawan tidak langsung bicara atau memaksanya berhenti menangis. Ia memilih berdiri tepat di depan Ella, memposisikan tubuh tingginya sedemikian rupa untuk menghalangi cahaya matahari yang silau agar Ella bisa menangis dengan tenang di bawah bayangannya. Wawan menjadi tameng, bukan hanya dari sinar mentari, tapi dari dunia yang baru saja melukainya.

Setelah beberapa menit berlalu dan isak tangis Ella mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Wawan perlahan berlutut di depan gadis itu. Ia menatap Ella dengan sorot mata yang belum pernah Ella lihat sebelumnya—begitu dalam dan tulus.

"Nangis saja sepuasnya, La. Nggak ada Nani, nggak ada Lia, dan yang paling penting... nggak ada Rizki di sini. Kamu aman," ucapnya dengan nada suara yang sangat lembut.

Ella mengangkat wajahnya, menatap Wawan dengan mata yang sembap dan merah. "Kenapa, Wan? Kenapa kamu baik banget sama aku? Aku ini... aku ini aneh, aku nggak cantik seperti Lia, aku cuma kutu buku yang membosankan. Kenapa kamu harus mempertaruhkan reputasimu dan membela aku di depan mereka semua?"

Tanpa aba-aba, Wawan menarik Ella ke dalam pelukannya. Gerakannya sangat erat, namun penuh kehati-hatian, seolah ia sedang memegang porselen yang retak dan hampir hancur. Ella membeku, napasnya tertahan di dada. Untuk pertama kalinya, ia merasakan detak jantung seseorang yang berpacu sangat cepat tepat di balik seragam sekolahnya. Ada aroma hangat campuran sabun dan matahari yang menenangkan dari tubuh Wawan.

"Karena buatku, kamu nggak pernah aneh, La," bisik Wawan tepat di telinga Ella, suaranya bergetar rendah. "Aku nggak peduli apa kata mereka di bawah sana. Sejak pertama kali aku duduk di belakangmu dan melihatmu fokus belajar, yang aku lihat cuma cewek hebat yang berjuang sendirian. Dan aku... aku sayang sama kamu, La. Lebih dari sekadar teman untuk dijahili."

Ella melepaskan pelukannya perlahan, matanya membelalak kaget. Jantungnya kini ikut berdegup kencang karena pengakuan itu. "Wan, tapi aku... aku masih..."

"Aku tahu," potong Wawan sambil tersenyum tipis. Ada secercah luka di matanya yang ia sembunyikan dengan sangat cepat di balik senyum itu. "Aku tahu hati kamu masih ada di barisan depan kelas. Aku cuma mau kamu tahu kalau di barisan belakang, ada aku yang selalu siap jadi sandaran kapan pun kamu butuh."

Malam itu, kamar Ella terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Wawan dan kehangatan pelukannya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, tumpang tindih dengan bayangan menyakitkan saat Rizki merangkul Lia. Ella merasa terjepit dalam dilema. Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan perasaan yang sama pada Wawan, namun ia juga sangat takut jika hubungan mereka akan menjadi sangat canggung esok hari.

Keesokan paginya, Ella memasuki kelas dengan langkah kaki yang terasa seberat timah. Ia sudah menyiapkan mental untuk dijauhi, atau setidaknya bersiap menghadapi suasana canggung saat matanya bertemu dengan Wawan. Namun, baru saja ia meletakkan tas, sebuah pukulan ringan mendarat di bahunya.

"Woy, Juara Kelas! PR Fisika sudah belum? Contek dong, otakku mampet nih gara-gara kebanyakan main game semalam!"

Ella menoleh dan mendapati Wawan sedang cengengesan seperti biasanya, bersandar di meja dengan gaya tengil. Tidak ada tatapan emosional yang intens, tidak ada nada suara yang serius. Wawan kembali menjadi Wawan yang berisik, konyol, dan menyebalkan—seolah kejadian emosional di atap sekolah kemarin hanyalah sebuah mimpi atau fragmen dari kehidupan orang lain.

"Wan, soal yang kemarin di atap—"

"Kemarin? Oh, yang aku traktir susu cokelat? Tenang, nggak usah diganti uangnya. Tapi sebagai imbalannya, kerjakan nomor satu sampai lima ya! Otakku benar-benar butuh bantuanmu, La!" Wawan memotong kalimat Ella dengan tawa renyah yang terdengar sangat natural, lalu ia segera berbalik untuk menjahili teman yang lain.

Ella menghela napas lega, namun ada sedikit rasa aneh yang mencubit dadanya. Ia sadar, Wawan sengaja melakukannya. Cowok itu rela memendam kembali perasaannya dan bersikap seolah "lupa" agar Ella tidak perlu merasa terbebani atau merasa bersalah.

Di sudut lain, Ella melihat Rizki sedang memperhatikannya dengan rahang yang mengeras. Rizki masih merangkul Lia, namun matanya memancarkan penderitaan yang jauh lebih besar daripada kemarin. Di saat Rizki terjebak dalam topeng kepopulerannya yang palsu, Wawan justru menunjukkan kedewasaan yang luar biasa dengan cara yang paling sederhana.

1
Siti Nurlelah
ditunggu karya versi lainnnya ❤
Siti Nurlelah
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!