Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perawatan sang ratu dan pertemuan
"Ayo, Fio! Lo nggak bisa datang dengan muka kusam kayak baru bangun tidur gitu. Lo harus perawatan dulu!" perintah Vanya tegas sambil menarik Fiora menuju meja rias besarnya yang penuh dengan produk kecantikan premium.
"Okeii, okeii! Sabar, Vanya, gue juga pengen tampil sempurna kok," sahut Fiora menurut.
Kamar Fiora berubah menjadi salon pribadi dadakan. Vanya sibuk menyiapkan masker wajah organik, sementara Jojo mulai mengeluarkan alat-alat manikur miliknya. Mereka tampak sangat sibuk sekali dengan acara itu, seolah-olah merekalah yang akan bertunangan.
"Ingat ya, Fio. Galang itu tipenya pria yang suka kebersihan dan kerapian. Jadi, setiap helai rambut lo harus pada tempatnya!" Jojo menambahkan sembari mulai mengikir kuku Fiora dengan sangat teliti.
"Gue deg-degan banget, Ges. Gimana kalau nanti malam gue malah salah tingkah di depan dia?" tanya Fiora dengan nada khawatir yang bercampur senang.
"Makanya, tunggu satu jam lagi. Fio, lo tidur dulu biar matanya seger, terus baru mandi dan kita dandanin," saran Vanya sambil mengaplikasikan masker dingin ke wajah Fiora. "Siaaaapp?"
"Siaaaapp!" jawab Fiora mantap. Ia pun merebahkan dirinya, mencoba memejamkan mata meski hatinya terus bergejolak membayangkan pertemuan nanti malam.
Berbeda jauh dengan suasana di kediaman Dirgantara...
Sangat kontras dengan kesibukan di rumah Fiora, Galang sama sekali tak berambisi untuk hal itu. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi ia masih duduk santai di ruang kerjanya, meninjau laporan keuangan bulanan.
"Galang? Kamu belum siap-siap?" tanya Mama Dirga yang tiba-tiba masuk ke ruangan. Mama sudah terlihat rapi dengan kebaya modern yang sangat elegan.
Galang hanya melirik sekilas ke arah jam dinding. "Baru jam empat, Ma. Mandi dan pakai jas cuma butuh sepuluh menit."
"Ini bukan pertemuan bisnis biasa, Galang. Hargailah keluarga Fiora. Pakai kemeja yang Mama siapkan di kamar, jangan pakai kemeja kerja yang itu-itu saja," desak Mamanya dengan nada memperingatkan.
Galang menghela napas panjang, menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. "Iya, Ma. Galang akan bersiap."
Setelah Mamanya keluar, Galang tetap bergeming. Ia tidak merasa perlu melakukan perawatan atau dandan berlebihan. Baginya, penampilannya selalu sama—profesional dan dingin. Ia tidak punya niat untuk memikat hati siapa pun, apalagi seorang gadis yang sudah mengejarnya sejak di London.
"Hanya makan malam. Setelah itu semua selesai," gumamnya datar sembari berjalan menuju kamar mandi tanpa sedikit pun gairah di wajahnya.
Kembali ke kamar Fiora (Satu jam kemudian)...
"Woy, bangun Tuan Putri! Waktunya mandi bunga!" teriak Jojo sembari menepuk bantal Fiora.
Fiora terbangun dengan mata mengerjap-ngerjap. "Udah sejam ya?"
"Udah! Buruan mandi, airnya udah disiapin sama pelayan lo. Jangan lama-lama, kita punya waktu dua jam buat makeup dan rambut!" Vanya sudah siap dengan kuas-kuas makeup-nya yang tertata rapi.
Fiora bangkit dengan semangat baru. "Oke! Operation: Make Galang Fall in Love dimulai!" serunya sebelum berlari masuk ke kamar mandi mewah di kamarnya.
Setelah ritual kecantikan yang panjang, Fiora akhirnya melangkah keluar dari walk-in closet. Vanya dan Jojo serentak menghentikan aktivitas mereka. Mulut Jojo sedikit terbuka, terpana. Fiora tampil sangat cantik; gaun putih tulang itu seolah menyatu dengan kulitnya yang mulus, sementara riasannya membuat wajahnya bersinar tanpa terlihat berlebihan.
"Gila... fiks, ini mah bidadari turun di Jakarta," puji Jojo tulus.
Fiora tersenyum puas melihat pantulan dirinya di cermin. Ia kemudian melirik jam dinding dan menatap kedua sahabatnya. "Udah, sekarang kalian mandi dulu di kamar tamu. Buruan ganti baju kalian," perintah Fiora.
"Oke, nanti kalau acaranya mulai, kasih tahu ya. Kita bakal amati dari jauh. Gue mau liat gimana muka kaku si Galang pas liat lo," sahut Vanya penuh semangat.
"Sip! Standby ya!" Fiora mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah turun dengan jantung yang berdegup kencang.
Di Ruang Tamu Utama...
Keluarga Dirgantara telah tiba. Papa dan Mama Fiora sedang berbincang hangat dengan Om Dirga dan Tante Maya. Namun, fokus utama di ruangan itu tetaplah Galang. Pria itu duduk tegak dengan setelan jas gelapnya, tampak seperti patung marmer yang sempurna namun dingin.
Terdengar suara langkah kaki halus dari arah tangga. Semua mata menoleh, termasuk Galang.
Saat Fiora muncul di ujung tangga, Galang yang tadinya sedang menyesap air putih tiba-tiba mematung. Untuk beberapa detik yang sangat berharga, Galang melihat Fiora tanpa berkedip. Ia seolah tersihir oleh kecantikan gadis yang dulu selalu ia abaikan di London itu. Ada kilatan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di balik bola mata hitamnya.
Fiora yang menyadari tatapan itu merasa hatinya berbunga-bunga. Berhasil! pikirnya.
Namun, seolah tersadar dari hipnotis singkat, Galang segera berdeham pelan dan segera membuang mukanya ke arah lain. Ia kembali memasang wajah datar dan dingin, berpura-pura sangat tertarik dengan motif karpet di bawah kakinya.
"Malam, Om, Tante," sapa Fiora dengan suara lembut yang paling manis.
"Malam, Sayang! Wah, Fiora... kamu cantik sekali malam ini!" seru Mama Galang sambil berdiri dan memeluk Fiora.
Fiora melirik ke arah Galang yang masih membuang muka, seolah-olah menganggap kehadiran Fiora tidak lebih menarik daripada jadwal bursa saham. Di balik tembok pembatas ruang makan, Jojo dan Vanya yang sudah rapi sedang mengintip dengan gemas.
"Lo liat nggak tadi?" bisik Jojo antusias. "Si Galang sempat melongo liat Fiora! Gue dapet fotonya dikit!"
"Iya, tapi habis itu langsung buang muka. Jual mahal banget tuh kulkas!" gerutu Vanya.
Acara makan malam pun dimulai. Fiora duduk tepat di depan Galang. Suasana terasa hangat bagi kedua orang tua mereka, namun bagi Fiora dan Galang, ada perang dingin yang baru saja dimulai. Fiora bertekad, jika tatapan tanpa kedip tadi bisa terjadi dalam lima detik, maka selanjutnya ia akan membuat Galang menatapnya selamanya.
Setelah makan malam yang terasa kaku bagi Fiora, para orang tua mulai tertawa dan mengobrol dengan akrab. Ayah Fiora, Pak Baskoro, melirik ke arah Galang dan putrinya yang sejak tadi hanya diam membisu.
"Bagaimana kalau Galang dan Fiora berbicara di taman dulu?" usul Ayah Fiora dengan senyum penuh arti. "Agar kalian bisa lebih dekat dan saling mengenal lagi."
"Ide bagus itu, Baskoro!" timpal Om Dirga, ayah Galang. "Galang, ajak Fiora ke luar. Jangan bahas bisnis terus di depan meja makan."
Dengan berat hati, Galang berdiri tanpa sepatah kata pun. Fiora mengikuti dari belakang dengan perasaan campur aduk antara senang bisa berduaan dan gugup setengah mati. Di balik pilar menuju taman, Vanya dan Jojo sudah bersiap mengendap-endap dengan ponsel mereka yang on-standby.
Sesampainya di taman belakang yang asri dengan lampu-lampu gantung yang cantik, Fiora memilih duduk di kursi kayu panjang yang dikelilingi bunga mawar. Namun, Galang tetap berdiri tegak, memunggungi Fiora dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana jasnya. Aura dinginnya semakin terasa di bawah embusan angin malam.
"Galang..." panggil Fiora lembut, mencoba membuka percakapan. "Kamu apa kabar? Sejak dari London, kita—"
Belum sempat Fiora menyelesaikan kalimatnya, Galang berbalik. Tatapannya sangat tajam dan tidak bersahabat.
"Dengar ya, Fiora," potong Galang dengan suara yang sangat rendah namun dingin. "Kalau bukan karena permintaan ayahku, aku tidak akan mau denganmu."
Duar! Kata-kata itu menghantam Fiora lebih keras daripada badai mana pun. Senyum yang tadi ia persiapkan langsung luntur. Mendengar kata-kata itu, hati Fiora sangat sakit. Ia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah malam yang beku.
"Maksud kamu... kamu melakukan ini terpaksa?" tanya Fiora dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.
Galang mendengus sinis, matanya menatap Fiora dengan rasa tidak peduli yang luar biasa. "Menurutmu? Aku tidak punya waktu untuk drama percintaan atau perjodohan konyol ini. Jadi, jangan berharap terlalu banyak. Jalani saja peranmu di depan orang tua kita, setelah itu, jangan ganggu hidupku."
Di balik semak-semak, Jojo hampir saja melompat keluar karena geram. "Sumpah, itu cowok mulutnya minta dikasih detergen!" bisik Jojo emosi. Vanya hanya bisa menahan napas, merasa iba melihat sahabatnya yang biasanya ceria kini tertunduk lesu di bawah tatapan kejam Galang.
Fiora menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa harga dirinya. Ia bukan wanita lemah, tapi mendengar penolakan mentah-mentah dari pria yang ia cintai sejak lama adalah luka yang sangat dalam.
"Oke, kalau itu mau Tuan Galang," jawab Fiora dengan suara yang terdengar tenang, meskipun hatinya sakit luar biasa.
Fiora bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Galang, berdiri tepat di hadapan pria dingin itu. Dengan jari telunjuknya yang lentik, ia menyentuh dada Galang, tepat di bagian jantungnya, memberikan sedikit tekanan.
"Saya akan masuk ke dalam hati kamu," bisik Fiora dengan tatapan tajam dan penuh tekad. Ada janji tersirat di matanya bahwa ia tidak akan pernah menyerah. "Sampai jumpa di makan malam lagi, Tuan Galang."
Tanpa menunggu reaksi Galang, Fiora berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dengan punggung tegak dan kepala terangkat tinggi, menyembunyikan rasa sakit hatinya di balik topeng keangkuhan seorang putri konglomerat.
Galang terdiam di taman, terkejut dengan sentuhan dan kata-kata Fiora yang penuh misteri itu. Ia menatap kepergian Fiora dengan perasaan campur aduk yang tidak biasa.
Di balik semak-semak, Jojo dan Vanya langsung bertatapan. "Gila... Fiora keren banget ending-nya!" bisik Jojo kagum.