Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Data Yang Mengungkap Kekosongan
Hari ketiga Siti bekerja sebagai staf keuangan dengan nama samaran “Siti Kusuma” di PT. Dewi Santoso. Setelah melewati masa orientasi yang ketat dan mendapatkan kepercayaan dari Kepala Bagian Keuangan Hendra, dia akhirnya diizinkan mengakses sistem database keuangan perusahaan dan mengaudit dokumen-dokumen tahunan yang belum tersusun dengan rapi.
Dia duduk di depan komputer di mejanya yang terletak di sudut ruangan departemen keuangan, dengan layar yang menampilkan berbagai macam laporan keuangan yang kompleks. Menggunakan kata sandi yang dia dapatkan setelah beberapa hari mengamati pola kerja Hendra, dia berhasil masuk ke dalam bagian database yang terbatas akses—bagian yang menyimpan riwayat transaksi keuangan perusahaan selama bertahun-tahun.
Setelah beberapa saat mencari dan menyortir data, dia menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama kode “Proyek M”. Dengan hati-hati dan penuh dengan ketegangan, dia membuka folder tersebut dan melihat isi yang membuat darahnya mendidih dengan kemarahan.
Di dalamnya terdapat berbagai macam dokumen yang menunjukkan bahwa aset-aset besar yang awalnya didaftarkan atas nama Dewi Wijaya telah dialihkan secara ilegal ke nama Ratna Santoso dan Rio Santoso selama tiga tahun terakhir. Mulai dari tanah dan gedung perusahaan, saham mayoritas perusahaan, hingga hak kekayaan intelektual resep obat tradisional yang dikembangkan oleh Dewi—semua telah dipindahkan tanpa izin resmi atau persetujuan dari ahli waris sah.
“Satu hektar tanah di kawasan Sukabumi yang dibeli oleh Bu Dewi pada tahun 2015—dialihkan ke nama Ratna pada Januari 2022,” bisik Siti dengan suara yang penuh dengan kemarahan, sambil mencatat setiap detail ke dalam buku catatan rahasia yang dia bawa. “Saham sebesar 60% perusahaan yang dimiliki oleh Bu Dewi—dijual dengan harga murah kepada Rio pada Maret 2022 melalui skema yang tidak jelas. Bahkan hak paten resep ‘Ramuan Dewi’ yang menjadi produk unggulan perusahaan—dialihkan ke nama pribadi Ratna pada Juli 2022.”
Dia juga menemukan bukti bahwa banyak dana perusahaan yang dialihkan ke rekening pribadi Ratna dan Rio dengan dalih proyek pengembangan produk yang sebenarnya tidak pernah berjalan. Ada transaksi besar yang dilakukan secara diam-diam pada malam hari atau akhir pekan, tanpa ada catatan rinci atau persetujuan dari dewan komisaris perusahaan.
Pada saat yang sama, Hendra masuk ke ruangan dengan secangkir kopi di tangannya. Dia melihat Siti yang sedang fokus bekerja di depan komputer dengan ekspresi yang serius. “Bagaimana kemajuan pekerjaan Anda, Nona Siti?” tanya Hendra dengan suara yang ramah namun penuh dengan pengawasan.
Siti segera menutup folder tersembunyi dan membuka laporan keuangan biasa yang telah dia siapkan sebelumnya. “Baik sekali, Pak,” jawabnya dengan suara yang tenang dan percaya diri. “Saya sedang mengaudit laporan keuangan tahun 2022 dan menemukan beberapa ketidaksesuaian kecil yang perlu diperbaiki. Saya sudah mencatatnya dan akan menyusun laporan lengkap besok pagi.”
Hendra mendekat ke mejanya dan melihat layar komputer dengan seksama. Dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dan mengangguk dengan puas. “Baiklah, kerja keras Anda sangat dihargai, Nona Siti,” katanya dengan senyum lembut. “Perusahaan membutuhkan orang-orang yang teliti dan bertanggung jawab seperti Anda untuk menjaga keuangan perusahaan tetap sehat dan teratur.”
Setelah Hendra pergi ke ruangannya sendiri, Siti segera kembali ke folder tersembunyi tersebut. Dia menggunakan flashdisk kecil yang disembunyikan di dalam pulpen untuk menyalin semua dokumen penting yang dia temukan. Dia tahu bahwa ini adalah bukti yang sangat berharga untuk membawa Ratna dan Rio ke pengadilan dan membuktikan bahwa mereka telah mencuri aset-aset yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya.
Sore hari, setelah jam kerja berakhir, Siti pergi ke kedai kopi yang telah disepakati sebagai tempat bertemu dengan anggota tim intelijen keluarga Wijaya. Dia membawa flashdisk berisi bukti-bukti penting dan buku catatan yang telah dia isi dengan detail semua transaksi ilegal yang dia temukan.
“Semua aset yang milik Kakak Dewi telah dialihkan secara ilegal ke nama Ratna dan Rio,” ujar Siti dengan suara yang jelas dan tegas setelah bertemu dengan anggota tim. “Mereka menggunakan berbagai macam skema untuk menyembunyikan jejak kejahatan mereka, termasuk membuat dokumen palsu dan membayar beberapa orang untuk menjadi saksi yang tidak jujur.”
Dia kemudian menunjukkan data yang telah dia salin ke layar laptop anggota tim. “Selain itu, saya menemukan bahwa mereka telah merencanakan untuk menjual sebagian besar aset perusahaan kepada perusahaan asing pada akhir tahun ini,” lanjutnya dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Jika rencana ini berhasil, keluarga Wijaya akan kehilangan hak sepenuhnya atas perusahaan yang dibangun oleh Kakak Dewi dengan kerja keras selama bertahun-tahun.”
Anggota tim melihat data tersebut dengan ekspresi yang penuh dengan kemarahan dan kagum. “Ini adalah bukti yang sangat kuat, Bu Siti,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Kita akan segera menyerahkan bukti ini kepada pengacara keluarga dan memulai proses hukum untuk mengembalikan semua aset yang dicuri serta membawa pelaku keadilan.”
Siti mengangguk dengan tekad yang semakin kuat. “Tapi kita harus bekerja cepat,” katanya dengan suara yang penuh dengan kesadaran akan waktu yang terbatas. “Mereka sudah mulai curiga dengan keberadaan orang baru di perusahaan, terutama setelah saya mulai menanyakan banyak hal tentang sejarah keuangan perusahaan dan aset yang dimiliki oleh pendiri perusahaan.”
Dia kemudian mengambil selembar kertas dari tasnya dan menuliskan nama Mira. “Ada seorang staf hukum bernama Mira yang bekerja di perusahaan ini,” katanya dengan suara yang rendah. “Saya merasa bahwa dia mengetahui sesuatu tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Rio, bahkan mungkin siap membantu kita jika kita bisa mempercayainya.”
Anggota tim mencatat nama Mira dengan hati-hati. “Kita akan melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang dia,” ujarnya dengan suara yang serius. “Kita tidak bisa mengambil risiko bekerja dengan orang yang tidak kita kenal dengan baik, tapi jika dia benar-benar ingin membantu, dia bisa menjadi aset penting bagi kita.”
Malam sudah mulai menjelma ketika Siti kembali ke rumah kontrakan yang dia sewa di kawasan Pasteur. Dia mengambil foto Kakak Dewi dari dalam lemari dan melihatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kakak,” bisiknya dengan suara yang penuh dengan cinta dan tekad. “Saya akan melakukan segala yang bisa saya lakukan untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik keluarga kita. Anda tidak akan mati sia-sia, dan orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.”
Di bawah cahaya lampu meja yang lembut, Siti mulai menyusun rencana langkah selanjutnya. Dia akan terus menyelidiki sistem keuangan perusahaan untuk menemukan lebih banyak bukti, sementara juga mencoba menghubungi Mira secara diam-diam untuk menanyakan apakah dia benar-benar siap membantu mereka dalam perjuangan ini. Dia tahu bahwa waktu tidak ada di pihak mereka, tapi dengan bukti yang dia miliki dan dukungan dari keluarga serta tim, dia merasa bahwa mereka semakin dekat untuk mencapai tujuan mereka—memberikan keadilan bagi Kakak Dewi dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya.