NovelToon NovelToon
Senandung Malam Yang Menghancurkan

Senandung Malam Yang Menghancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Pelakor / One Night Stand / Selingkuh / Romansa / Playboy
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: Siti yulia Saroh

Felix yang kecewa karena kekasihnya berselingkuh dengan orang lain, menghabiskan malam penuh gairah bersama seorang gadis penyanyi bar.

Syerly adalah seorang penyanyi bar yang cantik. Suara Syerly membuat Felix terpesona.

tetapi, semuanya berubah ketika Felix mengetahui kebenarannya.

Syerly ternyata sudah memiliki kekasih, dan kekasih Syerly adalah orang yang berselingkuh dengan pacarnya sendiri.

"Mengapa kau pura-pura tidak mengenaliku? Apa kau takut, pacarmu tahu?" Felix mendorong tubuh Syerly ke dinding.

Syerly hanya tertawa kecil, sambil menatap Felix.

"Kita hanya cinta satu malam. Mengapa kau menganggap serius? Atau... "
Syerly menarik kerah Felix dan wajah mereka sangat dekat.

"Kau mulai ketagihan denganku." Senyum kecil dari bibir Syerly membuat jantung Felix berdetak kencang.

"Ya." Felix tidak menyangkal. dia berbisik didekat telinga Syerly.

"Bahkan suara desahanmu masih aku ingat dengan jelas."

Hubungan mereka makin rumit dan berbahaya. Dan menja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti yulia Saroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Felix tidak menyangka ia akan menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi sebelum akhirnya keluar.

Saat kembali ke kamar, ia melihat Syerly sudah berpakaian. Gadis itu mengenakan kaos olahraga miliknya, cukup longgar di tubuhnya.

Felix berjalan mendekat, mengambil pengering rambut ditangan Syerly.

"Aku akan membantumu." Katanya.

Syerly yang sedang duduk ditepi kamar tidur mendongak menatap Felix sebentar.

"Apa kau sering melakukan hal seperti ini?"

Meski bertanya, Syerly tidak menolak ketika Felix mulai mengeringkan rambutnya. Udara hangat dari pengering rambut berbaur dengan keheningan yang tampak damai.

Felix tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir sejenak.

"Ya." Katanya akhirnya.

Syerly langsung menundukkan kepala, seolah menyembunyikan sesuatu yang tiba-tiba terasa berat di dadanya.

"Tapi kau adalah orang pertama." Lanjut Felix dengan suara rendah.

"Yang aku bawa pulang ke rumah dan tidur dikamarku."

Syerly mendongak. Tatapan mereka bertemu. Detak jantungnya berdegup lebih cepat, meski ia berusaha menyembunyikannya.

"Aku tidak bertanya." Katanya ringan.  Menyembunyikan senyum kecil disudut bibirnya.

"Itu bukan urusanku."

Ia menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya sebelum melanjutkan.

"Jangan sama kan aku dengan gadis-gadis naif yang pernah kau pacari itu!"

Setelah itu, Syerly berbalik dam naik ke tempat tidur, ia tidur membelakangi Felix.

Felix menatap punggung Syerly beberapa saat. Ia meletakkan pengering rambut, lalu menyusul dan ikut berbaring disebelahnya.

Felix memeluk Syerly dari belakang. Ia berbisik pelan didekat telinga Syerly.

"Kau tidak sama dengan gadis-gadis itu." Katanya dengan lembut.

"Karena itu aku tidak akan berbohong kepadamu."

Hembusan napas Felix menggelitik telinganya, membuat jantung Syerly berdetak cepat.

Saat Felix mengecup puncak kepala Syerly, gadis itu tak mampu menahan senyum kecilnya.

Malam itu mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain.

Sebuah pemandangan yang damai.

Syerly terjaga dalam pelukan Felix.

Napas lelaki itu terasa hangat di belakangnya. Lengan Felix melingkar di pinggangnya, membuat Syerly sadar bahwa ia tidak sendirian.

Ia seharusnya tidak merasa senyaman ini.

Syerly memejamkan mata. Ada perasaan asing di dadanya. Sesuatu yang pelan-pelan tumbuh.

"Aku tidak akan berbohong padamu."

Kalimat itu terngiang di kepalanya.

Syerly tahu ia seharusnya berhati-hati. Ia tidak ingin berharap terlalu jauh. Namun di dalam pelukan Felix, ia merasa aman.

Untuk malam ini saja, ia mengizinkan dirinya menikmati perasaan itu.

Dengan senyum kecil, Syerly kembali terlelap.

 

Pagi hari, Syerly mencari Felix yang sedang memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil.

"Fel..." panggilnya.

"Apa kau tidak mempunyai kemeja yang lebih kecil?"

Felix menatap kemeja yang tampak kebesaran pada tubuh Syerly, tapi tidak membuat gadis itu buruk, malah menambah kecantikannya.

"Apa kau pikir, aku bisa memakai sesuatu yang lebih kecil?"

Lalu Felix melirik kearah kerah kemeja yang terkancing sangat tinggi itu.

"Kau mengancingkan kerahmu seperti itu, apa kau tidak akan membuat oranglain curiga?" Katanya sambil sedikit menggoda.

Syerly menatap Felix dengan tajam.

"Bukankah semua ini karenamu? Kau membuat hidupku sangat kesulitan."

Ingatan tadi malam didalam kamar mandi, membuat Felix tersenyum lembut. Ia tidak membalas, hanya menatap Syerly dengan tenang.

 

Di dalam kampus, Syerly berjalan cepat menghampiri Peter yang sudah lama menunggunya.

"Maaf..." kata Syerly ketika sudah berada didepan Peter.

"Aku tidak melihat ponselku."

Peter mendesah pelan sambil meletakkan bukunya.

"Kau mematikan ponselmu sejak tadi malam, kenapa?"

Peter mulai merapikan barang-barangnya seolah-olah ingin pergi.

"Apa kau bersama Felix?" tanyanya, menatap Syerly.

"Ya."

Peter terdiam sesaat. Tangannya berhenti merapikan buku.

"Jadi, kau sudah tahu?" Tanyanya pelan.

"Kurang lebih..." jawab Syerly tenang.

"Tapi aku belum yakin, sebelum kau menceritakan semuanya." Matanya menyala penuh rasa ingin tahu.

"Tadi malam, apa yang sebenarnya terjadi di bar?"

"Bukankah Felix bercerita kepadamu?" Tanya Peter.

"Mengapa dia harus bercerita denganku?" Kata Syerly cepat.

"Aku tidak perduli dengan hidupnya."

"Jika, kamu tidak perduli dengannya, kau tidak akan mematikan ponselmu hanya untuk menghiburnya."

Kata-kata Peter membuat Syerly hampir tersedak.

"Berhenti!!" Potong Syerly tegas.

"Jangan membahas tentangku! Kali ini giliranmu yang bercerita."

Akhirnya Peter tidak dapat melarikan diri.

"Baiklah."

Peter menghela napas panjang, lalu kembali duduk di bangku.

"Tadi malam, Felix memergoki kami. Saat aku mengajak Thea menonton pertunjukanmu di bar." Katanya pelan.

Karena masalah kemarin, saat Thea melihatnya bersama Syerly. Peter membutuh banyak usaha untuk membujuk Thea.

Dan tadi malam saat Peter melihat Thea yang akhirnya mau datang, Peter sangat bahagia. Ia tidak dapat menahan diri untuk langsung menghampiri Thea dan memeluknya.

Tapi, tindakannya itu membuat perselingkuhan mereka terbongkar oleh Felix.

"Lalu...?" Tanya Syerly.

Peter diam sebentar.

"Mereka putus." Jawabnya pelan.

"Bukankah itu bagus?" Kata Syerly.

"Mengapa kamu masih sedih?"

"Ya, kau benar." Jawab Peter.

"Seharusnya aku bahagia hubungan mereka berakhir, tapi nyatanya tidak."

"Mengapa?"

"Aku juga tidak tahu." Jawab Peter jujur.

"Hubungan mereka sudah lama rapuh, cepat atau lambat mereka pasti putus." Katanya frustasi.

"Tapi mengapa Thea masih ingin bertahan dengan Felix?"

Peter menundukkan kepalanya, bingung dan sedih.

"Jelas-jelas Felix tidak lagi mencintainya, dan Thea masih menangisinya sampai detik ini." Suaranya melemah.

"Syer..."

Peter menarik nafas berat.

"Tidak bisakah aku merasakan sakit hati..."

Tidak ada air mata yang jatuh, namun tangis yang tertahan justru terasa jauh lebih menyakitkan.

Syerly memeluk Peter, memberinya kehangatan yang sederhana namun tulus.

"Kamu manusia." Katanya lembut.

"Kau berhak merasakan menangis. Bahkan kau berhak untuk bahagia."

Karena perlu waktu menenangkan diri, Syerly dan Peter hampir terlambat memasuki kelas.

"Seharusnya profesor membatalkan kelasnya, mengapa harus membuat kita bergabung dengan kelas lain. Sangat merepotkan." Syerly terus mengomel dengan kesal selama perjalanan mereka ke kelas.

Peter tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya akan diam karena sudah terbiasa dengan sikap Syerly.

Saat mereka membuka pintu aula, semua kursi telah terisi. Untungnya, Peter sebelumnya sudah meminta tolong seorang teman untuk mengamankan tempat duduk.

Ketika mereka melangkah masuk, Syerly mendengar seseorang memanggil namanya.

Ia menoleh.

Felix duduk di pojok belakang bersama teman-temannya.

Belum sempat Syerly bereaksi, Peter yang melihat teman kelasnya langsung menarik tangan Syerly dan membawanya pergi, menuju kursi mereka.

Syerly hampir tersandung, beruntung Peter menahannya dengan cepat.

"Hati-hati!" Kata Peter lembut.

Syerly mengikuti Peter dengan patuh. Ketika mereka sampai ditempat duduk mereka, Syerly menahan tangan Peter sebentar.

"Mengapa kau memilih kursi depan? Aku sangat mengantuk." Keluh Syerly. Ia melirik kursi belakang yang masih kosong.

"Aku mau pergi kebelakang untuk tidur."

"Terserah kamu." Kata Peter dengan malas.

"Jangan buat keributan ketika kau mendapatkan nilai jelek."

Syerly sedikit menggoyangkan lengan Peter dengan manja.

"Mengapa kau begitu jahat?" Katanya dengan sedih.

"Bukankah kau akan mengajariku?"

Peter terdiam beberapa detik, lalu menghela napas.

"Baiklah." Katanya singkat.

"Cepat pergi! Sebelum profesor datang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!