NovelToon NovelToon
Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Teen School/College / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

​"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
​Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
​Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
​Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
​Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Sisi Lain Sang Iblis: Kelembutan Tak Terduga

Sisi lain sang iblis kelembutan tak terduga mulai menampakkan dirinya saat pintu kamar Gwenola terbuka tanpa suara pada pukul tiga dini hari. Xavier melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara langkah kaki di atas karpet bulu yang sangat tebal dan sangat empuk. Ia tidak lagi mengenakan jas mahalnya, melainkan hanya kemeja hitam yang kancing bagian atasnya terbuka, memperlihatkan sisa-sisa kelelahan yang sangat mendalam pada wajahnya.

Gwenola yang sebenarnya belum tertidur hanya bisa memejamkan matanya dengan sangat rapat sambil mengatur napasnya agar terlihat seperti sedang terlelap. Ia merasakan sisi tempat tidur di sampingnya sedikit amblas saat Xavier mendudukkan tubuhnya yang besar dengan sangat hati-hati. Aroma tembakau yang sangat tipis dan wangi sabun mandi yang segar seketika menyusup ke dalam indra penciuman gadis sekolah menengah atas tersebut.

"Aku tahu kau belum tidur, berhentilah berpura-pura di hadapanku," ucap Xavier dengan nada suara yang sangat lembut, jauh dari kesan mengancam yang biasanya ia tunjukkan.

Gwenola perlahan-lahan membuka kelopak matanya dan mendapati Xavier sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat sayu dan penuh dengan kehampaan. Tidak ada amarah atau api cemburu yang biasanya berkilat-kilat di dalam mata hitam pria pimpinan perusahaan tersebut malam ini. Keheningan yang menyelimuti kamar megah itu terasa sangat berbeda, seolah-olah waktu sedang berhenti berputar hanya untuk mereka berdua.

"Kenapa kau kembali lagi ke sini? Apakah hukuman tadi masih belum cukup bagimu?" tanya Gwenola dengan suara yang sangat parau akibat terlalu banyak menangis.

Xavier tidak langsung menjawab dan justru meraih telapak tangan kanan Gwenola yang tadi ia pukul menggunakan penggaris kayu dengan sangat kasar. Ia mengusap bekas kemerahan yang sudah mulai memudar tersebut menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut dan sangat menenangkan. Gwenola merasa seluruh tubuhnya meremang karena ia belum pernah mendapatkan sentuhan yang begitu tulus dari pria yang ia anggap sebagai iblis tersebut.

"Maafkan aku, terkadang aku tidak bisa mengendalikan kegelapan yang ada di dalam kepalaku sendiri," bisik Xavier sambil menundukkan kepalanya sangat dalam.

Gwenola tertegun mendengar kata maaf yang keluar secara langsung dari bibir seorang penguasa bisnis yang sangat angkuh dan sangat haus akan kekuasaan. Ia melihat tangan Xavier yang lain nampak gemetar hebat saat mencoba merapikan anak rambut yang menutupi dahi Gwenola dengan penuh kasih sayang. Sisi rapuh yang ia lihat di taman tadi ternyata bukanlah sebuah ilusi, melainkan sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan di balik jas mahal.

"Apa yang kau lihat di taman tadi? Kenapa kau membakar foto itu dengan wajah yang begitu sedih?" tanya Gwenola memberanikan diri untuk menggali rahasia tersebut.

Xavier seketika menghentikan gerakan tangannya dan menatap Gwenola dengan tatapan yang sangat tajam namun tidak lagi mengandung unsur intimidasi yang menyakitkan. Ia menarik napas panjang seolah-olah sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya untuk menceritakan sebuah kebenaran yang sangat pahit dan sangat kelam. Cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai menyinari wajahnya, mempertegas garis-garis kesedihan yang selama ini ia topengi dengan sangat sempurna.

"Foto itu adalah satu-satunya kenangan tentang ibuku yang tewas karena pengkhianatan orang-orang yang paling ia percayai," ungkap Xavier dengan suara yang bergetar hebat.

Gwenola merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan tersebut, menyadari bahwa kebengisan Xavier berakar dari luka masa lalu yang belum pernah benar-benar sembuh. Ia mulai memahami mengapa pria ini begitu terobsesi untuk mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya agar tidak ada lagi pengkhianatan yang bisa menyakitinya. Kelembutan yang tidak terduga ini mulai meruntuhkan sedikit demi sedikit tembok kebencian yang selama ini dibangun oleh Gwenola di dalam hatinya.

"Itulah sebabnya aku sangat marah ketika melihatmu menerima sesuatu dari pria lain, karena aku takut kau akan menjauh dariku," lanjut Xavier sambil menggenggam tangan Gwenola lebih erat.

Gwenola memberanikan diri untuk duduk dan menatap Xavier dengan pandangan yang lebih lembut, mencoba mencari sisa-sisa kemanusiaan di balik topeng pimpinan perusahaan yang dingin. Ia menyadari bahwa di balik kekayaan sepuluh miliar dan kekuasaan yang tidak terbatas, Xavier hanyalah seorang pria yang sangat kesepian dan sangat ketakutan. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah secara rahasia, Gwenola tidak merasa ingin melarikan diri dari hadapan pria tersebut.

"Kau tidak perlu menyakitiku agar aku tetap berada di sini, kontrak itu sudah cukup untuk mengikatku," ucap Gwenola dengan nada yang sangat tulus dan pelan.

Xavier tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan sangat manis yang membuat wajahnya nampak jauh lebih muda dan sangat menawan. Ia kemudian menarik tubuh Gwenola ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala gadis itu di atas bahunya yang masih terbalut perban putih akibat luka tembak. Gwenola tidak menolak dan justru melingkarkan tangannya di pinggang Xavier, mencari kehangatan di tengah dinginnya suasana kediaman mewah yang mencekam.

Malam itu, mereka tertidur dalam posisi yang sangat akrab, meninggalkan sejenak segala konflik dan badai yang sedang mengincar nyawa mereka dari luar sana. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama karena fajar mulai menyingsing dan membawa kenyataan baru yang harus mereka hadapi bersama-sama. Xavier bangun lebih awal dan menatap wajah tidur Gwenola dengan sebuah tatapan yang nampak sangat posesif sekaligus sangat penuh dengan perlindungan.

"Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh sehelai rambutmu, bahkan jika itu harus mengorbankan seluruh hartaku," janji Xavier dalam hati sebelum beranjak pergi.

Pimpinan perusahaan tersebut berjalan menuju ruang kerjanya yang terlarang untuk menemui asisten pribadinya yang sudah menunggu dengan laporan yang sangat mendesak. Laporan tersebut berisi informasi mengenai lokasi persembunyian musuh yang melakukan penyerangan sore tadi serta sebuah rahasia besar mengenai ayah Gwenola. Xavier mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, menyadari bahwa perang yang sesungguhnya baru saja akan dimulai dengan sangat beringas.

Ia memerintahkan seluruh tim keamanan untuk bersiap melakukan serangan balik secara besar-besaran sebelum musuh sempat menyusun rencana baru yang lebih mematikan. Namun, saat ia sedang memeriksa senjata api miliknya, matanya tertuju pada sebuah laci rahasia yang selama ini terkunci rapat di pojok ruang kerja tersebut. Ada sesuatu di dalam sana yang tidak seharusnya dilihat oleh siapa pun, termasuk oleh Gwenola yang sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

"Tuan, Nona Gwenola sedang menuju ke ruang kerja ini karena ingin membawakan kopi untuk Anda," lapor seorang penjaga melalui alat komunikasi yang menempel di telinga Xavier.

Xavier segera mencoba menutup laci tersebut, namun kuncinya mendadak macet akibat mekanisme lama yang sudah mulai rusak dan sangat sulit untuk digerakkan. Detak jantungnya berdegup sangat kencang saat ia mendengar suara langkah kaki Gwenola yang semakin mendekat ke arah pintu kayu jati yang sangat besar tersebut. Jika Gwenola masuk sekarang, maka rahasia terbesar yang ia simpan selama sepuluh tahun ini akan terbongkar secara paksa dan sangat tidak terkendali.

Rahasia di ruang kerja terlarang.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!