Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Kaya
Ingat sebelum mereka pergi tadi, Arkana sempat berbisik pada maminya dan mengucapkan banyak terima kasih karena telah membuang koper milik Rania dan mengganti semua pakaian tidurnya menjadi sesuatu yang lebih indah di pandang matanya.
Sebagai laki-laki, Arkana tidak akan menolak pemandangan seperti itu. Apalagi ini pemandangan yang sah untuk di pandangnya. Jadi Hussein tidak akan menceramahinya nanti.
"Makasih pakai banyak mi. Arkana suka baju-bajunya. Rania terlihat jauh lebih seksi." bisiknya pada sang mami yang membuat Sarah hanya bisa mencebik kesal untuk itu.
Kini, keduanya sudah sampai di bandara dan akan segera terbang ke negara Ginseng tersebut. Negara tempat dimana para pria gemulai berada kalau kata penguasa eropa.
"Kenapa?" tanya Rania pada Arkana setelah merasa jika suaminya itu terus saja menatapnya sejak tadi.
"Lu cantik banget cil!" jawab Arkana Tampa rasa ragu sedikitpun untuk memuji istrinya.Bahkan Arkana sampai tersenyum melihat wajah Rania yang tersipu malu begitu.
"Asli, lu makin cantik kalau senyum gitu cil. Gue suka banget!" tambahnya lagi yang membuat Rania semakin salah tingkah.
"Cantik apanya. Aku gak make up, gak dandan kayak pacar kakak itu. Aku-"
"Udah, ah ayo cepetan. Nanti kita kena macet di jalan!" potong Arkana, malas membahas tentang Felicia.
"Mana ada macet di langit!" balas Rania tak mau kalah.
"Ada. Kalau gak percaya liat aja nanti!" ujarnya yang membuat Rania hanya cemberut saja.
Entahlah, hidup bersama Arkana harus banyak bersabar dan mengerti akan sikapnya yang sering membuat sakit kepala.
Keduanya berjalan memasuki bandara. Tapi ada yang aneh. kenapa mereka tidak ikut mengantri seperti orang-orang itu? kenapa mereka berada di jalan yang berbeda?
"Kak?" panggil Rania saat mereka sudah mau masuk ke sebuah pintu rahasia.
"Apaan? Mau minta cium? Nanti aja di pesawat. Tapi, kalau mau disini gue mah siap-siap aja sih cil. Sini, gue cium."
Plak!
"Oh my God! lu udah berani mukul gue?" Arkana terkejut saat Rania memukul lengannya.
"Apaan sih! Aku serius ini."
"Hem, apaan?" tanya Arkana.
"Kita gak salah jalan?" tanya Rania balik.
"Maksudnya gimana cil? Lu kira kita nyasar gitu?"
"Bukan gitu. Itu, mereka ngantri gitu lah kita kok gak ikut ngantri?"
"Hah? ngantri? untuk apa? Lu kira kita perginya gabung sama mereka gitu?" dengen polosnya Rania mengangguk karena isi pikirannya begitu.
"Sini, lu liat suami lu yang ganteng ini. Liat baik-baik oke!" Arkana mengarahkan pandangan Rania ke arahnya hingga wanita itu benar-benar menatap ke arahnya saat ini. Keduanya saling menatap satu sama lain, sampai Arkana merasa kalah. Entah mengapa, semakin dia menatap mata indah itu, Arkana semakin merasa di tarik ke dalam mata itu hingga membuatnya sulit untuk bernafas.
"Ehem!" Arkana menetralkan dirinya sebelum bicara dengan Rania.
"Dengerin gue! Gue ini Arkana, dan suami lu ini orang kaya cil! Orang kaya pake banget! Gue anak tunggal dari pasangan paling fenomenal Satria Widjaya Diningrat, dan Sarah Sastra Radjasa. Jadi lu sebagai istri dan menantu satu-satunya dari mami papi gue gak perlu repot-repot untuk antri begituan. Kita punya pesawat pribadi cil. Gak harus ngantri begitu. Kalau kita ngantri, nanti papi di ejek sama uncle Sky dan mami gak suka itu!" jelas Arkana panjang lebar membuat Rania sama sekali tidak mengerti dengan semua ini.
Entah dirinya yang terlalu bodoh, atau memang kehidupan keluarga suaminya ini yang belum bisa dia terima dengan baik.
"Ah, udah deh! Jangan banyak mikir! Sekarang ayo masuk nanti di dalam biar gue cium deh, atau sekarang aja!"
Cup...
Deg!
Jantung Rania seperti berhenti berdetak saat tiba-tiba Arkana mengecup bibirnya begitu saja tanpa aba-aba.
Sungguh, dirinya benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih lagi setelah itu. Kejadiannya terjadi begitu cepat hingga membuatnya tidak siap.
"Nah, udah gue cium tuh. Kalau mau lagi nanti aja kalau udah sampai Korea. Mau di cium sampai pagi juga gue jabanin cil!"
"Ahk!!!" Arkana menjerit kesakitan saat Rania mencubit lengannya karena sudah terlalu kesal.
Arkana benar-benar tidak tau malu. Melakukan banyak hal sesuka hatinya tanpa memikirkan daerah sekitar mereka membuat Rania malu.
***
next my