Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dua hari setelahnya, Aurora mulai sibuk kembali dengan segala urusan perusahaan dan juga memasukan Arjuna serta Riven ke sekolah. Semua dia lakukan dengan mandiri tanpa bantuan seorang suster, sulit baginya untuk mempercayakan kedua anaknya pada orang lain.
Terutama setelah penyerangan tempo hari di mana orang-orang jahat itu juga mengincar nyawa anaknya. Seperti saat ini, Aurora tengah berjongkok di depan kedua anaknya.
Mereka baru saja tiba di depan gedung sekolah TK yang akan di masuki oleh Riven dan Arjuna mulai sekarang.
"Ingat pesan Mommy, jangan mau kalo ada orang asing yang ngajak kalian pergi. Dan jangan keluar dari sekolah ini sebelum Mommy sampai," kata Aurora tegas.
Riven dan Arjuna mengangguk bersamaan, meski ekspresi mereka berbeda. Arjuna tampak lebih tenang, sementara Riven masih menyimpan keraguan yang jelas terlihat di matanya.
Aurora mengangkat tangan, merapikan kerah seragam kedua anak itu satu per satu. Gerakannya lembut, kontras dengan sorot matanya yang waspada dan tajam, seperti seseorang yang selalu bersiap menghadapi bahaya kapan pun.
"Kalau ada apa pun," lanjut Aurora, suaranya sedikit direndahkan, "kalian cari guru. Jangan teriak sembarangan. Jangan percaya siapa pun yang bilang Mommy menyuruhnya mendekati kalian."
"Kalau orang itu bilang nama Mommy?" tanya Riven pelan.
Aurora terdiam sepersekian detik, lalu menjawab tanpa ragu, "Tetap jangan percaya."
Riven menatap wajah Aurora seolah ingin memastikan sesuatu. "Termasuk Daddy?"
Udara di sekitar mereka seakan membeku.
Aurora tidak langsung menjawab. Jari-jarinya berhenti sejenak di pundak kecil Riven, lalu kembali bergerak, menepuknya perlahan.
"Termasuk siapa pun," ucapnya akhirnya, dingin namun tenang. "Kalian hanya ikut Mommy. Tidak ada pengecualian."
Arjuna menatap Riven sekilas, lalu kembali pada Aurora. "Mommy akan jemput kami sendiri?"
Aurora mengangguk. "Aku tidak akan menyuruh orang lain."
Jawaban itu membuat bahu kecil Arjuna sedikit mengendur. Riven masih terlihat kaku, tetapi dia tidak membantah.
Dari kejauhan, bel sekolah berbunyi. Suaranya nyaring, memecah ketegangan tipis yang menyelimuti mereka.
Aurora berdiri, menggenggam tangan kedua anak itu. Saat berjalan menuju gerbang sekolah, langkahnya mantap meski di balik celana panjang yang dia kenakan, perban masih membalut pahanya.
Luka tembak itu belum sepenuhnya pulih, tetapi Aurora memaksakan diri. Dia tidak punya kemewahan untuk terlihat lemah.
Seorang guru wanita menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Nyonya. Ini Riven dan Arjuna?"
Aurora mengangguk singkat. "Saya Aurora. Saya akan mengantar dan menjemput sendiri."
Guru itu sedikit terkejut dengan nada bicara Aurora yang dingin, namun tetap menjaga profesionalitas. "Baik, silakan ikut saya."
Saat tangan Riven terlepas dari genggaman Aurora, bocah itu refleks menoleh ke belakang.
Aurora berjongkok kembali, menatap mata anak itu sejajar. "Kau kuat," katanya pelan. "Dan kau tidak sendirian."
Riven menelan ludah, lalu mengangguk kecil.
Aurora menunggu sampai kedua anak itu masuk ke dalam gedung sebelum akhirnya berbalik. Tatapannya mengikuti pintu kelas yang tertutup, baru kemudian dia melangkah menjauh.
Di parkiran, ponselnya bergetar. Satu pesan baru saja masuk. Pengirim tidak dikenal.
Aurora berhenti melangkah, pesan itu berisi singkat.
Kami tahu sekolah anak-anakmu.
Rahang Aurora mengeras. Tangannya menggenggam ponsel itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun ekspresi wajahnya tetap datar, nyaris tanpa emosi.
"Bajingan gila! Siapa sebenarnya mereka?" Gumam Aurora.
Aurora masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu melajukan kendaraan meninggalkan area sekolah. Namun sepanjang perjalanan menuju kantor Alvarez Group, pikirannya bekerja cepat, menyusun skenario terburuk.
Mereka sudah berani menyentuh wilayah terlarang termasuk anak-anaknya.
Di lantai teratas gedung Alvarez Group, Aurora melangkah keluar dari lift dengan aura yang jauh lebih dingin dari biasanya. Para karyawan yang berpapasan secara refleks menunduk, merasakan tekanan tak kasatmata dari wanita itu.
"Jadwal hari ini?" tanyanya singkat pada asistennya.
"Rapat dewan direksi pukul sepuluh, pertemuan dengan investor pukul dua, dan—"
"Batalkan yang terakhir," potong Aurora. "Pindahkan ke minggu depan."
Asistennya tertegun. "Tapi itu penting—"
"Aku tahu," sahut Aurora tanpa menoleh. "Aku yang bertanggung jawab."
Tidak ada bantahan lagi.
Aurora masuk ke ruang kerjanya, menutup pintu, lalu berdiri beberapa saat menghadap jendela besar yang memperlihatkan hamparan kota. Wajahnya terpantul samar di kaca penuh ketenangan, dingin, dan penuh perhitungan.
Bayangan pria-pria bertopeng, suara tembakan, dan pesan singkat tadi kembali terlintas di benaknya.
Mereka mengira dia akan gentar. Aurora menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Kesalahan besar.
Karena jika ada satu hal yang tidak pernah berubah dari dirinya, itu adalah satu prinsip sederhana siapa pun yang mengancam anak-anaknya, akan dia habisi sampai ke akar.
Dan kali ini, dia tidak akan menunggu diserang lagi.