🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak seburuk yang ia kira
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Hukuman itu tidak diucapkan dengan suara keras, tidak pula disertai kemarahan yang meledak.
Namun Yura tahu betul, kejujurannya di ruang rapat siang tadi telah melewati batas yang seharusnya tidak ia sentuh. Terlalu terus terang. Terlalu berani. Dan Alexa tidak menyukai hal semacam itu.
Maka ketika malam turun dan hampir seluruh lantai kantor telah kosong, Yura masih berada di sana.
Sendiri.
Lampu-lampu utama sudah dipadamkan. Hanya beberapa titik cahaya yang tersisa. Suasana kantor berubah menjadi sunyi yang berbeda, melainkan sunyi yang menekan.
Yura duduk di kursinya, bahu sedikit merunduk, mata terpaku pada layar laptop. Jari-jarinya bergerak cepat, membuka dan menutup berkas, mencocokkan angka, memperbaiki kalimat, memastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat.
Laporan yang harus selesai malam ini bukan laporan ringan. Besok pagi, semuanya harus sudah berada di meja Alexa.
Ia menghela napas pelan.
Ini salahku, pikirnya.
Ia tahu dirinya terlalu jauh. Terlalu jujur pada orang yang terbiasa mengendalikan segalanya, termasuk emosi. Namun Yura juga tahu satu hal lain tentang dirinya sendiri, ia tidak pandai menyimpan kegelisahan terlalu lama.
Jika ia bersalah, ia akan menebusnya dengan bekerja. Sampai tuntas. Sampai tidak ada alasan lagi untuk menjatuhkannya.
Jam di layar menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit malam.
Yura menggeser kursinya sedikit, memijat pergelangan tangan, lalu kembali menatap grafik yang belum sempurna.
Di sisi lain, Alexa masih berada di kantor. Seperti kebiasaannya, ia belum pulang. Namun sejak beberapa menit lalu, fokusnya terpecah.
Pandangan Alexa beralih ke jam dinding, lalu ke pantulan lantai kerja di balik kaca, lalu kembali ke meja berulang kali.
Ia berdiri, melangkah mendekati sekat kaca besar yang membatasi ruangannya dengan area staf. Dari sana, ia bisa melihat hampir seluruh lantai kerja. Sebagian besar meja sudah gelap. Kursi-kursi kosong. Sunyi.
Kecuali satu meja.
Yura.
Alexa memperhatikan gadis itu dari balik kaca, rahangnya tanpa sadar mengendur. Yura masih duduk di sana, masih mengetik, masih bergerak dengan ritme yang sama. Tidak ada tanda mengeluh. Tidak ada gerak malas. Tidak ada wajah kesal.
Hanya kesungguhan.
Ada rasa asing yang menyelinap di dada Alexa. Rasa yang tidak sepenuhnya nyaman, namun juga tidak bisa ia tolak. Ia tahu hukuman ini berat.
Ia juga tahu Yura bisa saja memilih pulang dan menyelesaikannya besok, dengan risiko dimarahi. Namun gadis itu tidak melakukannya.
Dan justru itu yang membuat Alexa tetap mempertahankannya.
Ia menarik napas perlahan, lalu meraih ponselnya.
"Belikan susu hangat," katanya singkat saat sambungan tersambung. "Antar ke kantor. Sekarang."
Ia menutup telepon sebelum ada pertanyaan.
Waktu merayap begitu cepat.
Yura masih menyelesaikan laporan. Namun ketika suara langkah kaki samar terdengar di kejauhan. Ia mengira itu hanya petugas keamanan yang berpatroli. Ia tidak menoleh.
Sampai sebuah bayangan jatuh di atas mejanya.
Yura tersentak kecil, menoleh refleks. "Anda belum pulang?" suaranya terdengar terkejut.
Alexa berdiri di samping mejanya, dengan kemeja putih yang bagian tangannya terlipat sampai siku, ekspresinya sulit dibaca. Tanpa menjawab pertanyaan itu, ia meletakkan sebuah gelas di meja Yura.
Uap tipis mengepul dari dalamnya.
"Minum," ucap Alexa singkat.
Yura menatap gelas itu, lalu menatap Alexa lagi. Alisnya sedikit berkerut. "Ini… untuk saya?"
"Balasan," jawab Alexa. "Kau pernah memberiku hal yang sama."
Butuh beberapa detik bagi Yura untuk mengingatnya, ia pun menelan ludah. "Saya tidak menyangka Bapak mengingatnya."
"Aku tidak suka berutang," kata Alexa datar. "Minum. Aku tidak ingin punya utang budi."
Yura tidak langsung bergerak. Pandangannya tertahan pada permukaan susu yang masih mengepul tipis, seolah sedang memastikan sesuatu.
Jemarinya mengendur di atas meja, lalu perlahan berpindah, menyentuh sisi gelas itu dengan ragu.
Hangat.
Ia mengangkat pandangannya sebentar ke arah Alexa, memastikan pria itu tidak sedang bercanda atau menguji reaksinya. Namun yang ia temukan hanyalah ekspresi netral, dingin, dan tidak memberi ruang untuk penolakan.
"Sepertinya… Anda mengajak saya reunian malam ini," ucap Yura pelan, nada suaranya datar namun mengandung kelelahan yang jujur.
Tidak ada jawaban.
Namun di sudut bibir Alexa, ada tarikan kecil nyaris tak terlihat, terlalu cepat untuk benar-benar disadari Yura.
Akhirnya Yura meraih gelas itu dengan kedua tangan. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu sopan. Ia menunduk sedikit, menghela napas pelan, lalu meneguk susu itu perlahan.
Alexa tidak mengalihkan pandangannya.
Ia memperhatikan setiap detail kecil cara Yura menunduk, bahunya yang sedikit mengendur saat cairan hangat itu melewati tenggorokannya, ekspresi wajahnya yang tetap tenang.
Dan justru ketenangan itu membuat sesuatu di dada Alexa bergerak pelan, perasaan yang sulit ia beri nama.
"Lebih baik kau menyelesaikannya besok," ucap Alexa akhirnya. Nada suaranya tetap datar, tapi tidak sekeras sebelumnya. "Aku tunggu sampai selesai jam makan siang. Sekarang bereskan pekerjaanmu. Mari kuantar kau pulang. Sekalian jalan. Bus di luar juga sudah tidak beroperasi jam segini."
Yura terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa minta bantuan teman."
Alexa langsung menoleh. "Siapa?"
"Kak Rendra."
Alexa teringat. Asistennya sendiri yang pernah bercerita bahwa Yura adalah adik angkatnya. Gadis itu juga tinggal di bawah atap rumah Rendra, kos-kosan kecil yang sekadar cukup untuk dua orang.
Namun alih-alih mengangguk, Alexa justru berkata, "Apa kau tidak merasa akan menyusahkannya? Siapa tahu Rendra sudah tidur. Hari ini pekerjaannya cukup banyak."
Yura terdiam lagi. Jari-jarinya mengerat di tepi meja. Jelas terlihat ia mulai menimbang-nimbang, pikirannya kembali berputar.
Alexa menghela napas pelan. Waktu terasa terbuang. "Jika kau tidak mau, tidak masalah," ucapnya ringan, nyaris tanpa emosi. "Tapi saat aku keluar nanti, semua akan dikunci. Kau akan tidur di sini. Dengan lampu gelap."
Yura langsung menoleh cepat. "Tidur di kantor?"
"Ya," ucap Alexa terlalu tenang untuk dianggap bercanda.
Yura menelan ludah. "Saya… saya ikut, Pak."
Alexa mengangguk singkat.
"Tapi…" Yura ragu sejenak, lalu bertanya pelan, "Bayaran yang harus saya berikan ke Bapak berapa?"
Pertanyaan itu membuat Alexa berhenti sejenak.
Lalu untuk pertama kalinya sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum lebar. Hanya lengkung tipis. Tapi cukup nyata.
Yura membelalakkan mata. Tangannya refleks menutup mulut. "Bapak tersenyum."
Alexa seketika merapikan ekspresinya. Wajahnya kembali dingin, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia berbalik, melangkah pergi.
"Aku tahunya," ucapnya tanpa menoleh, "Saat aku keluar dari ruangan, kau sudah selesai."
Yura mengangguk cepat. "Baik, Pak."
Saat Alexa benar-benar menjauh, Yura menatap layar laptopnya kembali. Bibirnya melengkung tipis tanpa sadar.
Sepertinya… bosnya tidak seburuk yang ia kira.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺