Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertunangan
*****
Ariana melangkah masuk ke dalam rumah nya. Lampu di rumah nya masih terang. Menunjukkan kalau Amelia belum masuk ke dalam kamar.
" Kok kakak pulang nya sama kak Marvin?" Tanya Amelia mengejutkan langkah Ariana.
" Amel, kakak kaget tau nggak." Keluh Ariana memegangi dada nya.
" Sorry... kirain kakak sudah lihat kalau Amel disini."
" Kakak nggak lihat kamu di situ. Kirain sudah masuk kamar. Sudah makan?"
" Sudah kak. Kak Ari sudah makan?"
" Sudah. Gimana kuliah? Aman kan?" Tanya Ariana ikut duduk dengan Amelia di atas karpet.
" Aman kak, kan sudah mau mulai koas juga. Kakak belum jawab pertanyaan Amel lho. Kenapa pulang bareng kak Marvin? Kok nggak pulang bareng kak Rocky?"
Ariana mendesah pelan dan menoleh ke arah Amelia.
" Amel, Amel jangan terlalu berharap lebih sama kedekatan kakak dengan Rocky. Kami itu sudah nggak punya hubungan apa - apa lagi, Mel. Rocky itu sudah punya tunangan." Jelas Ariana.
" Bukan tunangan kak, masih calon tunangan." Sanggah Amelia.
" Apa pun itu, sama aja lah. Dari calon bakal jadi tunangan, terus menikah dan jadi istri. Jadi kak Rocky nggak bisa sembarangan lagi datang - datang ke sini, ngantar kakak. Nggak bisa, Mel."
" Terus kalau kakak nggak bisa balikan sama kak Rocky lagi, kakak bakal jadian gitu sama kak Marvin?" Tanya Amelia lagi.
" Itu juga nggak." Jawab Ariana.
" Kalo nggak, kenapa mau di antar pulang sama kak Marvin? Coba?"
" Oke, gini ya, Mel. Kakak tahu kalau kak Marvin itu ada perasaan sama kakak. Tapi saat ini kakak belum bisa balas perasaan kak Marvin. Semua nya masih terasa kaku, Mel. Kak Marvin itu kan atasan kakak di kantor."
" Tapi kan kak..."
" Udah, kakak capek. Mau istirahat. Nggak usah bahas kak Rocky lagi. Pusing kakak hari ini di buat kak Rocky kamu itu." Potong Ariana, dia langsung bangkit dari duduk nya, berjalan menuju kamar.
" Kok bisa kak Ari yang pusing di buat kak Rocky?" Gumam Amelia pelan, sejujur nya dia sangat bingung sekarang.
*
*
*
Sore itu Ariana keluar dari kamar nya dengan gaun selutut berwarna putih. Rambut nya di ikat sedikit di sebelah kanan, menunjukkan kesan lembut di wajah seorang Ariana. Serta make up dan lipstik yang tidak terlalu tebal.
Ariana memakai sepatu dan meraih tas nya lalu berjalan menuju pintu.
Setelah menutup pintu, Ariana berbalik dan betapa kaget nya dia kala mendapati Rocky yang tengah berdiri di depan nya.
" Rocky, bikin kaget saja." Ucap Ariana memegang dada nya yang bergetar hebat saat itu.
" Kenapa harus kaget? Bukan nya kita sudah bertemu setiap hari?"
" Kamu tiba - tiba muncul di sini, bikin kaget aku. Kalau jantungan gimana?" Kata Ariana, dia mulai melangkah meninggalkan Rocky di belakang.
" Jantungan, jantungan. Nggak usah lebay kamu. Ayo..." Rocky menarik tangan Ariana.
" Heh... kemana?"
" Mau ke kantor kan? Sama aku aja. " Ucap Rocky membuka kan pintu mobil untu Ariana.
Ariana mengendus pelan dan masuk ke dalam mobil Rocky.
" Memang nya tunangan kamu mana? Nggak minta jemput?" Lirik Ariana dengan ekor mata nya.
" Belum tunangan. Masih calon. Dia nanti sama mama, di jemput supir."
" Terus nanti kalau dia lihat aku keluar dari mobil kamu, bagaimana?"
" Sekalian saja kalau gitu, aku akan kenalkan kamu sebagai wanita yang paling aku sayangi."
" Sok berani kamu..." Kata Ariana sepele.
" Jangan menantangku, Ari. Kamu tidak akan bisa menduga nya kalau sampai aku melakukan nya. Laki - laki itu bisa melakukan apa saja demi cinta nya." Balas Rocky.
Ariana terdiam. Tak lagi menanggapi ucapan Rocky. Yang sejujur nya dia juga tidak bisa membayangkan kalau sampai Rocky melakukan itu.
" Baju kamu bagus, dari Marvin?" Tebak Rocky melirik ke gaun yang Ariana pakai.
" Kalau iya, kenapa?" Tanya Ariana.
" Memang kamu tidak punya gaun yang lain sampai harus minta di belikan gaun dari Marvin?"
" Aku nggak minta. Dia yang kasi."
" Kita ganti." Jawab Rocky yang kemudian menambah kecepatan mobilnya.
Ariana membelalak, kedua tangannya mencengkeram erat sisi kursi mobil. Jantungnya berdegup kencang, terkejut atas tindakan Rocky yang tiba-tiba menginjak pedal gas, membuat mobil mereka melaju kencang membelah angin.
" Kenapa ngebut? Rocky..." Jerit Ariana.
" Kita ke butik, ganti baju kamu dulu. Aku nggak sudi lihat kamu pakai baju dari Marvin." Balas Rocky dengan kesal, mata nya tetap fokus ke jalan yang di depan.
" Tapi aku nggak mau. Berhenti sekarang Rocky." Jerit Ariana lagi.
" Tidak, gaun kamu harus di ganti. Gaun itu nggak pantes di badan kamu."
" Gila kamu ya. Ini bukan dari Marvin. Papa kamu yang kasi gaun ini... Rocky..." Jerit Ariana lagi.
Tiba-tiba saja, mesin mobil itu terdengar mendesis dan mati tanpa peringatan, membuat Ariana terguncang maju dan mundur dengan cepat.
Hati Ariana berdetak kencang, takut dan bingung dengan keadaan yang tak terduga ini. Seakan waktu berhenti saat ia menyadari dirinya terjebak di tengah kesunyian yang mencekam.
" Kamu beneran udah gila ya. Cuma gara - gara baju aja, kamu seenak nya ngebut ngerem sesuka kamu. Kalau kita kecelakaan gimana? Mau kamu kita kenapa - kenapa? Ini yang kamu bilang sayang sama aku? Ini yang kamu bilang nggak mau kehilangan aku? Sekarang malah mau mencelakai aku. Benar - benar nggak waras kamu." Omel Ariana penuh emosi.
" Kamu bilang apa tadi? Gaun nya dari papa? Kok bisa?" Tanya Rocky penasaran.
" Ya bisa lah. Papa kamu yang kasi sama aku semalam. Dia bilang biar bisa samaan sama baju mama kamu dan baju nya tunangan kamu itu. Sekarang mau ngebut lagi? Ayo, silahkan. Aku sudah siap kok, jika harus mati di jalan sekarang." Tantang Ariana.
" Ariana, Ariana. Sorry, Ariana. Aku minta maaf, aku nggak bermaksud begitu sama kamu. Aku minta maaf, Ari. Aku terlalu cemburu waktu kamu bilang kalau baju ini dari Marvin. Aku juga nggak tahu kalau papa kasi kamu hadiah gaun." Ucap Rocky mencoba memperbaiki keadaan. Tangan nya dengan lembut mengelus punggung tangan Ariana.
" Cemburu kamu bilang? Cuma karena kamu cemburu sama Marvin, kamu mau sampai celakain aku gitu? Kelewatan kamu memang ya. Aku nggak tau lagi harus bilang apa sama kamu. Kamu beneran gila, Rocky." Balas Ariana kesal, dia membuang wajah nya memandang ke arah jalan.
" Ariana, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Nggak seharus nya aku melakukan hal bodoh seperti tadi."
" Aku turun di sini saja. Lebih baik aku naik taksi dari pada harus mati konyol dengan kamu." Tangan Ariana bergerak akan membuka mobil.
" Ariana, jangan Ariana." Rocky mencekal tangan Ariana.
" Lepaskan. Aku nggak mau satu mobil dengan orang yang cemburuan nggak jelas kayak kamu."
" Ariana, Ariana ... Look at me, please." Pinta Rocky menarik dagu Ariana agar dapat melihat wajah Ariana.
Kini mata Ariana bahkan sudah memerah. Dan butiran bening itu telah lolos begitu saja melewati pipi nya.
" I'm sorry. Aku benar - benar minta maaf." Tangan Rocky terulur mengusap air mata itu.
" Kamu itu nggak pernah berubah ya. Dari dulu sampai sekarang, selalu saja bertindak sesuka hati kamu. Harus nya kamu itu pikiran hati aku, berpikir dulu sebelum kamu berbuat. Sebaik nya periksa ke psikolog, aku rasa ada masalah di kepala kamu."
" Kamu bilang aku gila?" Tanya Rocky dengan heran.
" Aku nggak bilang kamu gila. Tapi kamu memang gila. Semua nya kamu lakukan sesuka hati kamu. Tanpa kamu mikir gimana perasaan aku." Jawab Ariana menyeringai.
" Aku sungguh minta maaf, Ari. Aku janji, aku akan berubah. Aku tidak akan bertindak gegabah lagi. Aku juga nggak mau kalau sampai menyakiti kamu." Ungkap Rocky dengan tulus. Tangan nya bergantian mengelus pipi dan menggenggam tangan Ariana.
" Maaf kan aku. Aku khilaf." Ucap nya lagi, kali ini dia memeluk tubuh ramping itu dengan erat.
" Maaf, maaf. Hanya itu yang bisa kamu ucapkan?"
" Aku nggak punya kosa kata yang lain lagi. Tapi kamu punya. Dan kamu bisa ajarin aku selebih nya."
Rocky mengungkapkan seluruh rasa penyesalan nya lewat pelukan itu. Berharap Ariana dapat mengerti dan memahaminya.
KRINGGG
Ponsel Ariana berdering. Ariana melepas pelukan nya dan membuka tas untuk memastikan siapa yang sudah menghubungi nya.
Ada nama Marvin yang tertera di layar ponsel nya. Ariana melihat Rocky hanya diam, lalu dia meggeser tombol hijau pada layar.
" Halo, pak."
" Saya lagi di jalan mau ke acara, kamu sekalian saya jemput ya?" Usul Marvin.
" Maaf, pak. Terima kasih. Tapi saya sudah di jalan, naik taksi online."
" Kenapa tadi tidak menghubungi saya. Kan bisa berangkat sama, tidak perlu naik taksi online."
" Nggak papa, pak. Saya nggak mau merepotkan bapak." Ucap Ariana tersenyum, walaupun Marvin tidak bisa melihat nya.
" Tapi menjemput kamu itu, bukan hal merepotkan buat saya, Ari."
" Terima kasih, Pak. Mungkin lain kaki saja."
"Ya sudah, kalau begitu. Sampai bertemu di sana ya, Ari."
" Iya, pak."
*
*
*
Acara ulang tahun perusahaan pun di buka dengan sangat meriah. Setelah mendengarkan kata sambutan dari Rizal, beberapa pemegang saham juga ikut memberikan kata sambutan dan ucapan kepada perusahaan yang semakin tua semakin mengibar kan sayap nya di dunia bisnis.
Hingga memasuki acara terakhir. Acara yang mungkin sudah di tunggu - tunggu oleh semua orang. Dimana keluarga akan mengumumkan pertunangan antara Rocky dan Nelly.
" Selamat malam semua nya, sebelum acara nya berakhir, saya ingin membuat satu pengumuman malam ini." Kata Yusnita yang berdiri di hadapan semua tamu.
Di sudut ruangan, Ariana berdiri di samping Marvin. Menunggu dengan perasaan yang acak - acakan.
Sebenar nya dia belum siap, jika harus mendengar pengumuman pertunangan Rocky.
Sedangkan tak jauh dari Yusnita, Rocky yang berdiri di samping Nelly, hanya diam dengan perasaan yang tak bisa di tebak. Pasalnya dia belum membicarakan perihal pembatalan pengumuman ini pada sang mama.
" Malam ini, anak saya Rocky Mahendra akan bertunangan dengan Nelly Karisma." Ucap Yusnita lagi.
" Ayo sayang, Nelly kemari." Ajak Yusnita.
" Rocky, sini Nak." Ajak Yusnita melambaikan tangan nya pada Rocky.
Semua tamu bertepuk tangan dan bersorak ria mendengar pengumuman tersebut. Namun tidak dengan Rocky, yang malah melongo karena pertunangan nya akan di buat saat itu juga. Dia memandangi Nelly yang tersenyum penuh kebahagiaan. Lalu Nelly menarik tangan Rocky dan mengajak nya menghampiri Yusnita.
Bagai di hujam godam puluhan kilo, Rocky begitu terpukul mendengar pengumuman itu. Dada nya turun naik, nafas nya mulai tidak beraturan. Di ambil nya minuman yang ada di samping, tanpa dia sadar kalau itu adalah minuman beralkohol, dan meminumnya hingga kandas. Lalu mengambil nya lagi, dan menghabiskan nya hingga gelas ke tiga.
*
*
*
Di tengah keramaian pesta pertunangan yang mewah, Rocky berdiri dengan wajah muram di samping Nelly yang tersenyum lebar. Tepat di hadapan mereka, para tamu menyaksikan dengan penuh minat.
" Ma, apa sebaik nya acara nya kita tunda dulu saja? Aku takut semua tamu akan kecewa. Mereka masih menikmati acara perayaan hari jadi perusahaan, ma." Protes Rocky mencoba mencegah Yusnita.
" Kejutan, sayang. Ini kejutan dari mama dan Nelly buat kamu. Mama bahkan sudah membicarakan ini dengan beberapa tamu penting kita. Jadi kamu jangan khawatir." Jawab Yusnita tersenyum sumringah pada putra nya.
" Iya, Rocky. Lagian aku juga sudah tidak sabar menunggu saat - saat ini. Akhir nya kita bisa bertuangan juga. Kamu akan menjadi milik ku seutuh nya." Ujar Nelly bergelayut manja di lengan kokoh Rocky.
Sesekali Rocky mencuri pandang ke arah Ariana yang berdiri di sudut ruangan dengan ekspresi kesal dan mata yang terbakar amarah.
" Kamu pasti kesal dengan ku kan, Rocky? Kamu selalu bilang kalau ini hanya akan jadi mimpi ku saja. Tapi nyata nya sekarang ini sudah menjadi mimpi buruk mu." Bisik Nelly pada Rocky.
" Aku yakin kamu pasti yang sudah menghasut mama sampai mengadakan acara ini mendadak seperti ini." Tuduh Rocky.
" Memang nya kenapa? Ada yang salah? Tidak kan? Lihat dong wajah mama kamu. Dia terus tersenyum Rocky. Tanda nya dia sangat bahagia atas pertunangan kita ini. Dan setelah ini, kamu tidak akan bisa lagi menghindari aku, sayang."
" Cih... Henti kan omong kosong mu itu, Nelly. Rasa nya aku ingin muntah mendengar nya."
Mama Rocky, dengan langkah mantap, mendekati mereka berdua sambil membawa cincin pertunangan yang berkilauan. Dengan hati yang berat, Rocky hanya bisa menelan ludah dan membiarkan Mama memasangkan cincin tersebut ke jari Nelly. Dia tahu betul bahwa menolak saat ini hanya akan menambah malu kedua orang tuanya di hadapan semua tamu yang hadir.
" Ma, kita harus bicara kan ini dulu. Mama dan Nelly nggak bisa ambil keputusan sepihak begini?"
" Kamu mau bikin malu mama ya? Semua tamu lagi lihatin kita, Rocky."
" Tapi nggak seperti ini cara nya ma."
" Jadi kita batalkan saja pertunangan ini? Berarti kamu memang ingin buat malu mama dan papa?"
Rocky terdiam. Mata nya melihat ke arah sang papa yang sejak tadi hanya diam. Beberapa detik kemudian, Rizal mengangguk tanda meminta Rocky mengikuti apa yang telah di rencana kan sang mama sekarang ini.