Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Penyesalan Genta
Pagi ini Zahra bangun dengan tubuh yang terasa lelah, seolah seluruh ototnya baru saja melewati perjalanan panjang tanpa henti..
Namun anehnya, jiwanya justru lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
. Tidak ada lagi kebisingan pikiran, tidak ada lagi pertanyaan yang berputar-putar tanpa jawaban, kebenaran telah berdiri dan kebohongan telah runtuh.
Namun Zahra tahu satu hal dengan pasti, orang yang terbiasa memegang kendali tidak akan menyerah begitu saja..
Mereka tidak akan pergi dengan kepala tertunduk, mereka akan menyerang sekali lagi, mencoba merebut apa yang telah lepas dari genggaman..
Firasat itu terbukti bahkan sebelum matahari sepenuhnya naik..
Pintu kamar ku diketuk pelan, ibu ku masuk dengan wajah tegang, langkahnya berhati-hati seolah membawa kabar yang berat.
"Zahra… Bu Ratna datang.” suara ibu ku sedikit bergetar
Aku membuka mata perlahan, dada ku naik turun, tapi tidak ada kepanikan.
“Sendiri Bu?” tanya ku tenang.
Ibu Wati menggeleng pelan.
“Tidak, bersama Genta dan di depan ada ayah mu yang menghadapi.”
Zahra menutup mata sejenak, bukan untuk menghindar, melainkan untuk menguatkan diri..
"Inilah serangan terakhirnya, jika aku goyah sekarang, semua perjuangan ku ini sia-sia" Batinnya
Aku bangkit, merapikan kerudung ku, lalu melangkah ke ruang tamu dengan kepala tegak.
Bu Ratna duduk tegak di sofa ruang tamu, punggungnya lurus, wajahnya keras seperti batu yang tak pernah disentuh empati...
Di sampingnya, ada Mas Genta duduk dengan bahu turun, wajahnya kusut dan terlihat jauh lebih tua dari usianya, tidak ada Rena dan tidak ada Dini..
Keheningan terasa menekan.
"Zahra kamu sini duduk disamping bapak nak" perintah bapak
Lalu Bu Ratna membuka suara tanpa basa-basi, .
“Zahra kamu sudah puas mempermalukan keluarga kami?” ucap Bu Ratna dingin
“Saya tidak mempermalukan siapa pun, Mak Saya hanya membela diri saya" jawab Zahra tanpa rasa takut
Bu Ratna tertawa kecil, tawa sinis yang lebih mirip ejekan.
“Membela diri? Kamu membuka aib suami! Kamu mematahkan wibawa suami mu sebagai kepala rumah tangga!”
Pak Wisnu ingin berbicara tapi dilarang oleh sang istri
"Kita lihat dulu Pak! Anak kita Zahra bisa menanganinya" bisik Bu Wati
“Wibawa tidak runtuh karena kebenaran, Mak, ia runtuh karena pengkhianatan.” ucap ku sambil menghela nafas pelan
Kalimat itu jatuh tepat sasaran, Mas Genta menunduk lebih dalam..
Tangannya yang bertumpu di paha tampak gemetar.
"Sekarang semuanya sudah terbongkar, kamu harusnya tahu diri, kembali ke rumah, jadikan ini pelajaran.” ucap nya sambil mendengus kesal
“Pelajaran untuk siapa, Mak? Untuk saya yang disakiti? Atau untuk Mas Genta yang menyakiti?” aku menatap ibu mertuaku lurus
“Kamu istri! Tugasmu memaafkan!” suara Bu Ratna meninggi
Aku tersenyum tipis, bukan meremehkan, tapi menahan getir.
“Memaafkan bukan berarti kembali membiarkan diri diinjak kalau itu terjadi pada diri ibu sendiri atau Dini yang diperlukan seperti itu apakah ibu mau memaafkan dan bisa menerima nya" ucap ku tajam
Udara di ruangan itu seolah membeku.
Bu Ratna berdiri, langkahnya mendekat, matanya menyipit tajam.
“Kamu terlalu tinggi hati sekarang, jangan lupa, tanpa anak ku Genta kamu bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu menghantam, kata-kata yang dulu mungkin akan membuat Zahra runtuh, menangis, atau meminta maaf meski tidak bersalah.
Namun hari ini, kata-kata itu hanya melintas, tidak melukai.
Aku ikut berdiri, suara ku tenang, tapi tegas. “Tanpa harga diri, saya juga bukan siapa-siapa, Bu.”
Ibunya dan bapak nya Zahra yang sejak tadi diam, duduk di samping putrinya, wajahnya tidak marah, tapi matanya penuh ketegasan.
“Bu Ratna, tolong jaga ucapan anda, anak saya tidak kami besarkan untuk direndahkan.” ucap Bu Wati
Dan pak Wisnu juga ikut berbicara karena melihat besannya itu sudah keterlaluan
" kalau niat anda datang kesini hanya untuk memarahi anak saya, atas perbuatan anak anda sendiri, lebih baik anda silahkan pergi dari sini" ucap Pak Wisnu dengan tegas
Untuk pertama kalinya, Bu Ratna terdiam, bibirnya bergetar, tapi tidak ada kata yang keluar.
Genta akhirnya mengangkat wajahnya, suaranya lirih, hampir patah.
“Mak... cukup, semua ini salahku dan untuk bapak dan ibu, saya minta maaf atas kekacauan ini"
Bu Ratna menoleh tajam.
“Kamu dibutakan perempuan ini!”
Genta menggeleng pelan.
"Aku dibutakan oleh egoku sendiri Mak"
Kalimat itu membuat ruangan senyap, aku menatap Mas Genta, aku melihat penyesalan di wajah lelaki itu..
Namun aku juga melihat sesuatu yang lain, kebingungan, ketergantungan, dan rasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
"Zahra... Aku salah, aku akui, aku putuskan Rena, dan aku siap berubah, tolong pulang.” suara Genta gemetar
Aku memejamkan mata sejenak, kata pulang itu, dulu adalah harapan..
Sekarang, terdengar seperti jebakan yang dibungkus janji.
"Mas, rumah bukan sekadar tempat, rumah itu rasa aman dan aku kehilangan itu.” ucap ku pelan
“Aku bisa perbaiki! Aku janji, aku dengarkan kamu.” ucap mas Genta putus asa
Zahra menatapnya lama, mencari kejujuran di balik kepanikan. .
“Selama ini kamu mendengarkan ibumu, adikmu, bahkan perempuan lain, aku selalu terakhir.”
Mas Genta terdiam, kata-kata itu terlalu benar untuk dibantah..
“Aku tidak butuh janji, aku butuh perubahan nyata.” lanjut ku
Bu Ratna menyela dengan suara dingin, penuh ancaman..
“Kalau kamu tidak kembali, jangan harap kami menganggapmu keluarga.”
Zahra mengangguk pelan, tidak marah, tidak menangis.
“Kalau keluarga berarti kehilangan martabat, mungkin memang sudah waktunya saya berdiri sendiri.”
Bu Ratna gemetar oleh amarah yang tak tersalurkan.
"Kamu akan menyesal,” ancamnya.
“Perempuan sendirian tidak akan kuat.” lanjut Bu Ratna
Aku tersenyum tenang, yakin.
“Justru saat sendirian, saya belajar bergantung penuh pada Allah.”
"Dan asal kalian ingat, anak saya tidak sendirian masih ada kami orang tua yang akan selalu ada dan mendukung nya" ucap pak Wisnu
"Kalian..!" Ucap Bu Ratna yang menahan amarahnya
Bu Ratna menarik tangan Genta dengan kasar. .
“Hayo Genta kita pergi dari rumah ini, dia sudah keras kepala.”
Saat mereka melangkah menuju pintu, Zahra memanggil.
"Mas.”
Genta menoleh, harapannya masih menggantung di mata..
“Aku tidak menutup pintu sepenuhnya, tapi pintu itu hanya bisa dibuka dengan tanggung jawab, bukan paksaan.” ucap ku jujur
Genta mengangguk lemah, lalu mereka pergi.
Pintu tertutup.
Sunyi.
Zahra duduk perlahan, tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena lelah setelah berdiri terlalu lama dalam tekanan.
Bu Wati langsung memeluk Zahra erat. “Kamu hebat nak, ibu dan bapak bangga kepada mu"
Zahra menutup mata, bersandar di bahu ibunya..
“Aku hanya bertahan Bu, Pak"
Malam hari, ponsel ku bergetar, pesan dari Wulan
("Zahra, kamu harus tahu, Rena dipecat dari kantor, katanya karena masalah etika")
Aku menatap layar lama, tidak ada rasa senang, tidak ada kepuasan dan aku pun tidak membalas
Hanya satu kesadaran yang mengendap pelan..! Setiap pilihan selalu punya konsekuensi..
Aku bersujud malam ini dengan hati yang lapang..
"Bismillah, jika aku harus berjalan sendiri untuk menjaga kehormatanku, maka aku ikhlas.” Doa nya dalam bisikan
Dan di kejauhan, perang yang semula sunyi kini telah jelas arahnya, bukan lagi tentang menang atau kalah, melainkan tentang siapa yang berani ingin berubah..