Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak Hati
Malam itu Adam berjuang mati-matian mengendalikan pikirannya. Ia kembali terjaga tanpa bisa memejamkan mata sedikit pun, hingga jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Tubuhnya terasa gemetar, panas merambat dari dalam, kepalanya berdenyut hebat, sementara tengkuknya terasa berat seolah dipasung beban tak kasatmata. Setiap tarikan napas terasa pendek dan menyakitkan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Adam meraih ponsel di sisi ranjang. Tangannya gemetar saat ia menekan nomor asisten keduanya, Felix, pria asal Australia.
(Percakapan menggunakan bahasa inggris)
“Felix… tolong segera datang ke apartemenku,” suara Adam parau dan nyaris tak terdengar. “Aku sangat sekarat… rasanya seperti hampir mati.”
Di seberang sana, Felix langsung siaga.
“Baik, Adam. Aku segera ke sana. Apakah aku perlu memanggil tim medis?”
“Tidak… tidak… jangan panggil siapa pun!” Adam menyela panik.
“Oke. Aku berangkat sekarang.”
Tak lama kemudian, Felix tiba di apartemen Adam. Begitu pintu kamar terbuka, Felix terkejut. Adam terbaring terlentang di atas kasur, kepalanya menggantung ke belakang dengan posisi yang tak wajar. Kelopak matanya menghitam pekat, matanya merah menyala, dan pada wajahnya terpancar kelelahan ekstrem. Bahkan, ia tampak menahan kelopak matanya dengan benda penyangga seadanya agar tidak terpejam.
Felix berlari menghampir.
“Apa yang terjadi denganmu, Adam?!”
Adam hanya terkulai lemas, tubuhnya membara oleh demam tinggi. Panik menguasai Felix. Tanpa berpikir panjang, ia melanggar perintah Adam dan segera menghubungi ambulans.
Tim medis datang dengan sigap. Infus dipasang, kompres dingin ditempelkan, dan berbagai tindakan cepat dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh Adam yang tinggi.
“Jangan beri aku obat tidur!” Adam tiba-tiba membentak dokter dengan mata melotot. “Aku tidak ingin tidur!”
“Pak, Anda sangat butuh istirahat. Tanpa tidur, demam ini tidak akan turun,” ujar dokter mencoba menenangkan.
Namun Adam justru menyambar obat tidur itu dan melemparkannya. Felix dan para perawat saling berpandangan kebingungan.
Akhirnya, demi keselamatan Adam, mereka terpaksa memegangi tubuhnya yang terus meronta-ronta hebat. Suntikan obat tidur pun diberikan.
“TIDAK! AKU TIDAK INGIN TIDUR!!!” jerit Adam histeris.
Tidur adalah gerbang baginya menuju mimpi buruk tempat arwah sang kakek kembali hadir, menyiksanya tanpa ampun.
Beberapa saat setelah suntikan masuk, Adam terlelap. Namun ketenangan itu hanya berlangsung singkat. Ia kembali terjaga sambil menjerit-jerit, memohon ampun, memanggil nama sang kakek dengan suara parau dan penuh ketakutan.
Felix dan tim dokter mulai berkeringat dingin. Mereka benar-benar tak memahami penyakit apa yang sebenarnya menyerang Adam.
“Feliix!!!” jerit Adam tiba-tiba.
Felix berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Dengan tenaga yang tersisa, Adam menarik kerah kemeja Felix.
“Katakan pada dokter tolol itu,” ucap Adam penuh amarah, “jangan pernah menyuntikkan atau memberi aku obat tidur! Aku tidak ingin tidur!”
“Tapi, Adam… tidur bisa menyembuhkanmu,” kata Felix dengan suara gemetar.
“DIAM!” bentak Adam keras.
Ia memerintahkan semua tim medis keluar dari kamarnya. Felix hanya bisa menurut, meski hatinya diliputi kecemasan. Ia mondar-mandir di depan Adam, gelisah tak karuan.
“Katakan padaku… apa yang sebenarnya terjadi padamu, Adam?” tanya Felix pelan saat kembali mendekat.
Adam hanya diam, bersandar murung pada bantal, menatap kosong ke arah langit-langit.
“Apa aku harus menghubungi Harun?” Felix mencoba lagi.
“Jangan!” sahut Adam cepat.
Dengan suara lemah namun penuh tekanan, Adam memerintahkan Felix menghubungi beberapa wanita yang selama ini dekat dengannya (gebetan), meminta mereka datang, menemaninya berbincang agar ia tetap terjaga. Namun satu per satu menolak dengan alasan sibuk, hanya sanggup menelepon sebentar.
“Brug!”
Adam membanting ponselnya ke lantai dengan emosi meledak.
“Dasar wanita sial!” gumamnya penuh kekecewaan. “Aku sudah memberi mereka uang, kesenangan… tapi saat aku sakit, tak satu pun peduli!” gerutu Adam.
Dokter kembali menyarankan agar Adam segera menemui psikiater. Namun Adam menolak mentah-mentah. Ia tahu betul, masalah ini bukan sekadar urusan pikiran. melainkan sesuatu rahasia yang tidak diungkapkan atau disembuhkan oleh obat atau terapi biasa.
Tak terasa hari-hari berlalu begitu saja.
Suatu pagi, Hawa terbangun dari tidurnya dengan perasaan tetap bersemangat, Ia duduk di tepi ranjang sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu melirik ponselnya yang tergeletak di atas bufet kecil di samping tempat tidur.
Dengan harapan yang sama setelah dua hari berlalu, Hawa meraih ponsel itu. Berharap pagi ini Harun akhirnya mengirim pesan. mengabarkan agar segera pulang. Namun, setelah layar ponselnya menyala, harapan itu kembali runtuh. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan tak terjawab. Hening.
Hawa mengembuskan napas pelan. Rasa lesu kembali merayap di dadanya. Ia hendak meletakkan ponsel itu kembali ketika tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di layar.
Notifikasi e-banking.
Kening Hawa berkerut. Tangannya refleks membuka aplikasi tersebut. Detik berikutnya, matanya membelalak.
Saldo di rekeningnya bertambah lima puluh juta rupiah.
“Apa…?” gumamnya pelan.
Hawa mengucek kedua matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Ia mengecek ulang riwayat transaksi, membaca detailnya perlahan. Uang itu benar-benar masuk ke rekeningnya pagi ini.
Nama pengirimnya membuat jantung Hawa berdegup lebih kencang.
Adam Haykal.
“Ke… kenapa Mas Adam mengirim uang sebanyak ini kepadaku?” batin Hawa kacau. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. “Apa dia salah kirim?”
Semakin bingung, Hawa memutuskan menelpon Harun.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, Harun tengah bersiap berangkat ke kantor. Ia berdiri di depan cermin, merapikan jasnya, sementara Raisa di dapur sibuk menyiapkan sarapan. Sudah berhari-hari Harun menikmati kebersamaan mereka, seakan melupakan dunia di luar apartemen itu.
“Dret.”
Ponsel Harun berdering. Ia melirik layar, lalu berjalan mendekati jendela dan menjauh sedikit agar suaranya tak terdengar Raisa.
“Halo?” jawabnya singkat.
“Mas, kapan kamu pulang?” suara Hawa terdengar pelan, namun jelas menyimpan rindu dan lelah.
“Aku usahakan nanti malam,” jawab Harun cepat.
“Maaf… ada yang ingin aku tanyakan.”
“Ada apa?”
“Mas Adam mentransfer uang ke rekening Hawa sebesar lima puluh juta. Apa dia salah kirim?”
Harun terdiam sesaat, seolah menyusun kata-kata yang tepat.
“Ehm… tidak salah kirim,” jawabnya akhirnya. “Sebenarnya aku mau membicarakan ini nanti setelah sampai rumah. Tapi karena kamu mendesak, ya sudah, aku jelaskan sekarang.”
Hawa menegakkan tubuhnya.
“Lima puluh juta itu uang bulanan kamu.”
“Maksudnya?” tanya Hawa, suaranya bergetar.
“Anggap saja itu uang nafkah khusus untukmu,” jawab Harun datar.
“Loh… kenapa Mas Adam yang mentransfer?” Hawa semakin bingung.
Harun menghela napas. “Begini. Untuk sementara ini, urusan finansial aku dipegang oleh Adam. Kami belum sempat membahas pengeluaran dadakan seperti ini, jadi sementara biarlah Mas Adam yang mentransfer uang bulanan kamu.”
Penjelasan itu membuat kepala Hawa serasa tertindih batu besar. Ia mendengarnya, tapi sama sekali tidak benar-benar memahami.
“Oh ya, satu lagi,” lanjut Harun. “Kamu jangan bekerja lagi. Segera resign dari rumah sakit.”
“Loh, kenapa, Mas?” tanya Hawa panik.
“Patuhi saja. Nanti aku telepon lagi. Aku sedang sibuk.”
“Mas...”
Tutup.
Sambungan telepon terputus begitu saja. Hawa menatap layar ponselnya kosong, dadanya terasa sesak. Banyak pertanyaan yang belum terjawab, namun Harun memilih mengakhiri pembicaraan begitu saja.
“Hawa!”
Suara Rani memanggil dari balik pintu kamar.
“Iya, Bunda,” jawab Hawa cepat, lalu bangkit membuka pintu.
“Hawa, Bunda pamit pulang dulu, ya,” ucap Rani lembut. “Masih banyak urusan yang harus Bunda kerjakan.”
Hawa hanya mengangguk pasrah.
“Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta tolong Bik Atun dan Pak Arga di belakang rumah. Mereka pelayan setia yang memang khusus mengurus rumah Adam,” lanjut Rani.
“Baik, Bunda.”
“Yang sabar ya. Mungkin Harun besok sudah pulang,” ucap Rani menenangkan.
Hawa memaksakan senyum. Sebenarnya ia ingin menceritakan tentang uang bulanan lima puluh juta itu, namun entah kenapa bibirnya tertutup rapat. Ia memilih menyimpannya sendiri.
“Yang sabar,” ulang Rani sambil memeluk menantunya dengan penuh kasih, seakan memahami kesepian yang Hawa rasakan.
Tak lama kemudian, wanita berusia lima puluh tiga tahun itu pergi, ditemani sopir dan seorang asistennya, meninggalkan Hawa kembali sendiri di rumah yang terasa semakin sunyi.
pesen 1 yg seperti Hawa ya Allah
🤤🏃🏃🏃