Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Kencan Pertama
...Selamat membaca semuanya.....
Setelah mobil Boris melaju sampai di Mansion milik Frederick, dia turun dan menunggu Rania di depan pintu utama. Saat pintu terbuka, dia membalik badan. Melihat Rania dengan outfit warna yang sama dengannya. Dari atas ke bawah matanya mengamati memuja penampilan cantik Rania. Rasanya dia tidak rela mengedipkan mata karena takut wanita itu bisa tiba-tiba hilang dari pandangannya.
Senyuman Rania yang terlihat malu-malu, menambah kesan manis dalam dirinya. Boris ikut tersenyum tipis, dia berusaha tersadar dari kekagumannya. Membukakan pintu untuk atasannya itu.
Setelah Rania masuk ke dalam mobil, Boris ikut masuk ke dalam. Keheningan dan rasa gugup keduanya terasa sangat terlihat jelas. Bahkan, Rania yang biasanya sering berbicara dan menggoda Boris, mendadak diam dengan wajah yang memerah.
"Tiba-tiba sekali kamu mengajakku berkencan, Ris?" akhirnya sebuah obrolan terbuka oleh Rania yang penasaran dengan alasan pria itu.
Mendapat pertanyaan itu membuat Boris sedikit terkejut dan panik, sebab memang dari awal, itu semua karena kejahilan si kembar. Tapi, pria itu hanya mengulas senyum lebar dan menatap ke arah jalanan fokus menyetir.
"Hanya ingin mengajakmu berkencan," jawabnya lembut menatap sekilas ke arah Rania yang senang mendengarnya.
...****************...
Sampailah mereka di Quite Aquarium, Boris turun dari mobil lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Rania yang memasang ekspresi malu.
Setelah menutup pintu mobil, Boris mengulurkan tangan dan memandang lekat Rania yang sudah tersenyum manis. Dengan senang hati, Rania meraih tangan Boris untuk digenggam layaknya pasangan kekasih pada umumnya.
Boris berjalan beriringan dengan Rania, tangan yang saling bergandengan. Dia berinisiatif mengangkat tangan mereka, dan memberikan kecupan hangat pada punggung tangan Rania. Tatapan mereka mengisyaratkan saling mencintai, dan tidak ingin menyia-nyiakan momen seperti ini.
Beberapa kali Rania juga meminta izin untuk mengambil potret kebersamaan mereka. Walau sebenarnya, dia tidak perlu memusingkan hal itu. Karena itu semua sudah diatur oleh anak buah Frederick yang ditugaskan mengikuti mereka berdua hari ini.
Rania memergoki mereka saat turun dari mobil, memicingkan mata menatap tajam agar mereka menjaga jarak. Mau tidak mau hanya menuruti perintah dari Rania.
Saat membeli tiket untuk masuk, Rania merogoh tasnya untuk mengambil dompet. Tapi, Boris tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Biar aku saja, kencan pertama kita. Kamu cukup bersenang-senang bersamaku," pinta Boris membuat Rania tersenyum senang dan menganggukkan kepala menurut.
"Boris, kamu pernah berkencan sebelumnya? " gelengan Boris dengan senyuman hangat menandakan bahwa ini kencan pertama pria itu berdua dengannya.
"Kamu yang pernah menjadi kekasihku satu-satunya, dan tidak akan terganti oleh siapapun," Rania mendengus kesal mendengar gombalan dari Boris.
"Tapi, kamu jago menggombal, Ris. Siapa tahu, kan-"
Belum melanjutkan ucapannya, Boris menyubit pelan hidung Rania, terkekeh gemas mendengar perkataan wanita itu yang sangat lucu. "Hanya kamu, sayang," mutlak Rania sekarang rasanya sudah meleleh.
Dia melingkarkan tangannya di lengan Boris dan bergelayut manja, menundukkan kepala menyembunyikan wajah malunya saat ini.
Hingga giliran mereka masuk ke dalam tiba. Awal masuk, mereka melewati lorong yang sedikit gelap dengan cahaya lampu warna wani dengan hiasan sedikit.
Kemudian, mata Rania berbinar kagum melihat biru air dengan puluhan binatang air yang berenang di atasnya. Pelukannya pada lengan Boris terlepas, dia memilih berlari mendekat ke kaca besar itu. Senyumnya yang tidak pernah pudar membuat Boris sangat senang dan lega, ikut merasakan kebahagiaan ini.
Rania yang sedang mengagumi binatang-binatang air, sedangkan Boris sedang memuaskan dirinya sendiri memandangi bidadari cantik di sampingnya. Momen yang harus diabadikan selamanya di dalam ingatannya.
Rania menyodorkan ponselnya ke Boris dengan tatapan memohon, "tolong fotoin.." dengan rengekan kecil mengundang kekehan Boris.
Pria itu menerima ponsel Rania, memotret Rania yang sudah memposisikan diri berpose berbeda-beda. Karena melihat Rania sedang kehabisan ide, Boris mendekat ke Rania. Tangannya merengkuh bahu Rania agar mendekat menempel padanya, tangan satunya memegang handphone dan mengambil selfi diri mereka.
Mata Rania melihat sekeliling, ramai dari berbagai macam manusia. Tapi, rasa euphoria dalam dirinya meluap karena mendapat perlakuan manis dari Boris.
Boris mendekatkan dirinya ke telinga Rania, lalu berbisik, "mau cium ngga?" Rania refleks menjauhkan tubuhnya menatap Boris terkejut, pria itu tersenyum lebar mengangkat kedua alisnya beberapa kali menggoda Rania.
Rania mengulum senyumnya ikut berbisik, "ada anak buah Papah, Ris,"
"Bukankah waktu di Korea juga mereka mengambil foto kita saat berciuman diam-diam? Sama saja kan?" Rania mengangguk pelan membenarkan ucapan tersebut.
"Kalau begitu sebentar, aku akan-" Cup.. belum selesai Rania berbicara, Boris sudah lebih dulu mencuri kecupan di dahinya. Rania spontan menatap ke arahnya.
"Begini saja tidak masalah kan?" pertanyaan yang justru membuat Rania semakin malu dan senang sekali. Boris kembali meraih pergelangan tangan Rania dan digenggam erat. "Ayo lanjut jalan lagi," Rania mengangguk mantap dan mulai berjalan lagi melihat ikan-ikan di aquarium tersebut.
Perjalanan yang menyenangkan, kencan berdua pertama kali tanpa harus memikirkan permasalahan yang lain. Hanya ada Boris dan Rania.
Saat ingin keluar area Aquarium, mereka berdua berjalan melewati penjual aksesoris. Mata Rania kembali berbinar saat melihat boneka dan gantungan kunci berbentuk lumba-lumba yang menggemaskan.
Boris memandang lekat ekspresi Rania yang ingin sekali mendapatkan boneka tersebut. Dia mendekatkan diri ke telinga Rania dan berbisik.
"Mau?" Rania menoleh dan terkejut wajah Boris yang sangat dekat dengannya. Tapi tidak berangsur lama dia tersenyum dan mengangguk.
"Tolong bungkus boneka lumba-lumbanya, Pak. Sekalian gantungan kuncinya, ya.." Boris mengeluarkan uang di dompetnya. "Berapa?" penjual tersebut mengatakan nominal yang sedikit mahal, karena memang dijual di dalam area wisata. Penjual tersebut menerima uang yang disodorkan oleh Boris, Rania mendapatkan boneka lumba-lumba dan gantungan kunci yang dia mau.
Dipeluk erat boneka itu, ukuran yang sedang tapi sangat lembut. Gantungan kunci tersebut juga sangat cantik. Rania berdiri diam memandangi wajah tampan Boris, sambil mengulurkan tangan dan mengadah.
"Berikan kunci mobilmu, Ris." Boris tidak banyak bertanya, dia mengeluarkan kunci mobilnya lalu dia berikan ke Rania.
Wanita itu mengaitkan gantungan kunci tadi ke kunci mobil milik Boris. Raut wajah senang dan tersenyum lebar menatap Boris, memberikan kembali kunci tersebut ke pemiliknya.
"Untuk kenang-kenangan, jangan dihilangkan ya!" Boris memandangi gantungan kunci tersebut setelah itu menatap Rania, anggukkan mantap dia berikan.
"Mau peluk boneknya atau aku gandeng?" Rania memberikan gestur jika dia masih ingin memeluk boneka lumba-lumba tersebut. Boris mendengus kecil, "aku tergantikan dengan lumba-lumba." Rania hanya terkekeh kecil mendengar keluhan dari Boris.
Mereka melanjutkan kembali keluar area wisata, duduk di bangku pengunjung yang sudah disediakan. Boris menoleh menatap lekat wajah cantik Rania yang bisa dia lihat lamat-lamat dari dekat.
"Mau kemana lagi kita?" Boris bertanya sambil memainkan sedikit rambut Rania, matanya masih fokus mengagumi kecantikan wanita itu.
"Hotel saja yuk," jawab Rania mantap, spontan jari jemarinya berhenti memainkan rambut Rania dan langsung menatap bingung ke arah wanita itu.
"Ng-ngapain?" dengan gugup Boris berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.
...Bersambung.....
Terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like dan komen ya semuanya. Rasanya diajak kencan pertama sama mereka, walau cuma sebentar doang.