Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kesempatan Yang Datang Dari Kejutan
Hari pertama Ridwan bekerja sebagai petugas keamanan di PT. Dewi Santoso dimulai dengan pagi yang cerah dan penuh dengan semangat. Dia mengenakan seragam keamanan biru tua yang rapi, dengan nama tag “Ridwan Saputra” terpasang di dada. Setelah mendapatkan pelatihan singkat dari Pak Sudarto tentang area yang harus dia awasi, dia ditempatkan untuk mengawasi lorong belakang yang menghubungkan gedung utama dengan ruang penyimpanan dokumen penting.
Pada sekitar jam sebelas pagi, saat dia sedang memeriksa kunci pintu ruang penyimpanan, dia mendengar langkah kaki yang cepat menghampirinya dari arah koridor. Dia menoleh dan melihat Mira berjalan dengan tergesa-gesa, membawa tumpukan berkas dokumen di tangannya. Ketika Mira melihat Ridwan, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kejutan yang jelas—mata nya melebar dan dia hampir menjatuhkan dokumen yang dia pegang.
“Mas… Ridwan?” ujar Mira dengan suara yang penuh dengan tidak percaya. “Apa yang kamu lakukan di sini dengan seragam keamanan?”
Ridwan segera melihat ke sekeliling koridor untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. Dia kemudian menarik Mira ke sudut koridor yang lebih sunyi dengan hati-hati. “Tenang saja, Ibu Mira,” katanya dengan suara yang rendah namun jelas. “Saya bisa menjelaskan semuanya, tapi kita harus berbicara dengan tenang agar tidak menarik perhatian orang lain.”
Mira menatapnya dengan ekspresi yang bercampur antara kejutan dan rasa ingin tahu. Dia menurunkan dokumen yang dia pegang di atas meja kecil di sudut koridor dan duduk dengan cermat. “Baiklah, mas,” jawabnya dengan suara yang pelan. “Saya sangat penasaran kenapa Anda bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan ini setelah berjualan obat di pasar Cihampelas.”
Ridwan mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai menjelaskan. “Saya bekerja di sini bukan tanpa alasan, Ibu Mira,” katanya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Nama saya sebenarnya Ridwan Wijaya Santoso—anak dari Dewi Wijaya dan Budi Santoso. Saya adalah ahli waris sah perusahaan ini yang dianggap hilang selama delapan tahun terakhir.”
Ekspresi wajah Mira berubah secara drastis. Matanya melebar lebih lebar lagi, dan mulut nya terbuka dengan tidak percaya. “Wahai Tuhan…” bisiknya dengan suara yang penuh dengan kagum dan kesedihan. “Anda adalah anak Bu Dewi yang hilang? Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa Anda telah pergi atau bahkan sudah tidak ada lagi.”
Ridwan mengangguk perlahan, kemudian menunjukkan cincin warisan keluarga Wijaya yang kini dia kenakan di jari kirinya dengan terbuka. “Ini adalah bukti bahwa saya benar-benar anak Bu Dewi,” katanya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Saya selamat dari percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Rio dan telah hidup di hutan bersama seorang kakek yang merawat saya selama delapan tahun. Sekarang saya kembali untuk mendapatkan keadilan bagi ibuku dan mengambil kembali hak saya yang telah dirampas.”
Mira melihat cincin tersebut dengan seksama, kemudian melihat wajah Ridwan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Bu Dewi akan sangat bangga dengan Anda, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan emosi. “Dia selalu berbicara tentang Anda dengan penuh cinta dan harapan, bahkan ketika kondisinya sudah sangat lemah sebelum wafat. Dia selalu mengatakan bahwa Anda akan menjadi orang yang besar dan akan membawa perusahaan ini ke arah yang benar.”
Dia kemudian berdiri dengan cepat dan mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Saya akan membantu Anda sebanyak mungkin, mas,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Sebagai staf hukum perusahaan, saya memiliki akses ke banyak dokumen penting yang bisa menjadi bukti tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna, Budi, dan Rio. Saya sudah lama merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan cara mereka mengelola perusahaan dan menghapus jejak Bu Dewi sepenuhnya.”
Ridwan merasa hati nya penuh dengan rasa syukur mendengar kata-kata tersebut. “Terima kasih banyak, Ibu Mira,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dengan bantuan Anda sebagai staf hukum, saya akan bisa mengumpulkan bukti-bukti hukum yang kuat untuk membawa mereka ke pengadilan dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik saya.”
Mira mengangguk dengan tegas, kemudian melihat ke sekeliling koridor dengan cermat. “Ada beberapa dokumen penting yang saya temukan di arsip perusahaan beberapa waktu lalu,” katanya dengan suara yang rendah. “Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Ratna dan Budi telah memalsukan surat wasiat Bu Dewi, mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadi mereka, dan bahkan merencanakan untuk menghapus semua referensi tentang keluarga Wijaya dari perusahaan secara permanen.”
Dia kemudian mengambil selembar kertas dari saku jasnya dan menuliskan sebuah lokasi dengan tangan yang cepat. “Saya telah menyimpan salinan dokumen tersebut di rumah saya yang terletak di alamat ini,” katanya sambil memberikan kertas tersebut kepada Ridwan. “Saya akan mengambilnya dan membawanya kepada Anda besok malam setelah jam kerja. Selain itu, saya akan membantu Anda mengakses ruang dokumen utama untuk mendapatkan bukti tambahan yang mungkin Anda butuhkan.”
Ridwan menerima kertas tersebut dengan hati-hati, menyimpannya dengan aman di dalam kantong seragamnya. “Saya sangat berterima kasih atas bantuan Anda, Ibu Mira,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa hormat. “Saya tahu bahwa Anda mengambil risiko besar dengan membantu saya, tapi saya bisa menjamin bahwa semua ini akan bernilai ketika kebenaran terungkap dan keadilan diberikan.”
Mira hanya tersenyum lembut, menepuk tangan Ridwan dengan lembut. “Bu Dewi telah membantu banyak orang selama hidupnya, termasuk saya sendiri,” katanya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Ketika saya baru mulai bekerja di perusahaan, saya mengalami kesulitan finansial dan hampir harus mengundurkan diri. Bu Dewi membantu saya dengan memberikan pinjaman tanpa bunga dan memberikan saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. Sekarang saatnya saya membayarkannya dengan membantu Anda.”
Pada saat itu, suara langkah kaki yang keras terdengar dari arah koridor utama. Mira segera menarik tangan Ridwan kembali dan mengambil dokumen-dokumennya dengan cepat. “Saya harus pergi sekarang, mas,” katanya dengan suara yang cepat namun jelas. “Jaga diri Anda dan selalu berhati-hati. Rio dan orang-orangnya sangat cerdas dan tidak akan ragu melakukan apa saja untuk melindungi diri mereka.”
Setelah Mira pergi dengan cepat, Ridwan kembali ke posisinya dengan hati yang penuh dengan tekad dan semangat yang semakin kuat. Dia telah mendapatkan dukungan penting dari seseorang di dalam perusahaan yang memiliki akses ke dokumen-dokumen hukum yang dia butuhkan. Dengan bantuan Mira, Pak Joko, Pak Sudarto, dan keluarga Wijaya yang akan dia temui segera, dia merasa bahwa dia semakin dekat untuk mencapai tujuannya—memberikan keadilan bagi ibunya dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya.
Di bawah sinar matahari yang menerangi koridor dengan terang, Ridwan melihat ke arah gedung utama dengan pandangan yang penuh dengan keyakinan. Dia tahu bahwa perjuangan yang akan datang tidak akan mudah, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian dalam perjalanan ini. Di hatinya, dia berjanji kepada ibunya bahwa dia akan menggunakan setiap kesempatan dan bantuan yang dia dapatkan untuk mengungkap semua kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang telah mencuri haknya dan untuk memastikan bahwa nama ibunya akan selalu dikenang sebagai pendiri yang benar-benar peduli dengan kualitas dan kesejahteraan masyarakat.