NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di dalam kelas, Xerra berusaha fokus pada penjelasan dosen di depan. Slide demi slide berganti, suara spidol menyentuh papan tulis terdengar jelas namun pikirannya sesekali melayang.

Bayangan Evans yang berdiri di depan pintu kelas tadi pagi muncul tanpa diundang.

Tenang. Tegas. Seolah dunia kampus ini terlalu kecil baginya.

“Xerra.”

Ia tersentak ketika namanya dipanggil.

“Ya?” sahutnya cepat.

Dosen menatapnya sebentar. “Tolong jelaskan kembali poin terakhir.”

Beberapa pasang mata langsung menoleh. Xerra menarik napas, lalu menjawab dengan runtut. Suaranya tenang, bahkan dirinya sendiri terkejut.

“Bagus,” ujar dosen itu akhirnya.

Xerra menghela napas lega. Ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi mudah gugup seperti dulu.

Di luar kelas, Liona belum pergi.

Ia berdiri bersama dua mahasiswi lain, berpura-pura berbincang, padahal matanya terus mengarah ke pintu kelas.

“Dia benar-benar menikah ya?” bisik salah satu temannya.

Liona menyunggingkan senyum tipis dingin.

“Entah pernikahan apa. Kau pikir pria seperti Evans Pattinson akan serius dengan gadis seperti dia?”

“Kau curiga…?”

“Pria sekelas itu tidak menikah tanpa alasan,” jawab Liona pelan. “Aku yakin ada sesuatu di balik ini.”

Di kepalanya, satu pikiran berputar-putar Xerra tidak pantas.

Sementara itu, jam kuliah akhirnya berakhir.

Xerra keluar bersama mahasiswa lain. Bisik-bisik kembali mengiringi langkahnya, tapi ia memilih mengabaikan. Saat ia menoleh ke arah halaman kampus, dadanya menghangat.

Mobil Evans sudah terparkir di sana.

Pria itu bersandar pada kap mobil, jas hitam rapi, ponsel di tangan. Tatapannya terangkat begitu melihat Xerra.

Ia langsung berjalan mendekat.

“Kau menungguku?” tanya Xerra.

Evans mengangguk.

“Seperti yang kujanjikan.”

Beberapa mahasiswa berhenti total. Ada yang terang-terangan menatap, ada yang berpura-pura sibuk tapi diam-diam merekam.

Xerra membuka pintu mobil, tapi sebelum masuk, Evans menahan pergelangan tangannya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya rendah.

Xerra mengangguk. “Hanya… banyak yang melihat.”

Evans mendekat sedikit.

“Biarkan.”

Ia menatap lurus ke depan, suaranya tenang namun penuh penegasan.

“Aku tidak menikah untuk bersembunyi.”

Kalimat itu membuat Xerra tersenyum kecil. Ia masuk ke mobil, merasa lebih kuat dari pagi tadi.

Namun dari kejauhan, Liona menyaksikan semua itu dengan mata menyala.

Tangannya mengepal.

“Ini belum selesai, Xerra,” bisiknya. “Aku akan pastikan semua orang tahu… kau tidak sesempurna yang mereka kira.”

Mobil hitam itu melaju meninggalkan kampus.

Di kursi penumpang, Xerra menyandarkan kepala ke sandaran, menutup mata sejenak.

Ia belum tahu

bahwa hari ini bukan hanya awal hidup barunya sebagai nyonya Pattinson,

tapi juga awal dari badai yang pelan-pelan mulai mengumpul.

Mobil Evans melaju tenang membelah jalanan London. Di dalamnya hening, hanya suara mesin yang lembut.

Xerra membuka mata dan menoleh ke samping.

“Om tidak sibuk hari ini?”

Evans melirik sekilas.

“Aku mengosongkan jadwal sampai sore.”

Xerra terkejut. “Karena aku?”

“Karena istriku,” koreksi Evans singkat.

Kalimat itu membuat bibir Xerra melengkung kecil. Ia menatap keluar jendela, mencoba menyembunyikan perasaan hangat yang mengalir pelan di dadanya.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ponsel Xerra bergetar di pangkuannya.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

"Menjadi nyonya Pattinson pasti menyenangkan ya? Tapi kau tahu kan, semua yang naik terlalu cepat… jatuhnya juga keras."

Jari Xerra menegang. Dadanya terasa dingin.

Evans langsung menyadarinya.

“Ada apa?”

Xerra ragu sejenak, lalu menyerahkan ponselnya.

Evans membaca pesan itu. Rahangnya mengeras. Aura di dalam mobil berubah lebih berat, lebih dingin.

“Kampus?” tanyanya singkat.

Xerra mengangguk. “Sepertinya…”

Evans tidak melanjutkan. Ia hanya mengetik cepat, lalu mematikan layar.

“Mulai hari ini,” katanya tanpa menoleh, “pengawalanmu ditambah. Dan kau tidak berjalan sendirian lagi.”

Xerra menelan ludah. “Om… aku tidak mau merepotkan...”

Evans menghentikan mobil mendadak di pinggir jalan.

Ia menoleh, menatap Xerra lurus-lurus.

“Kau bukan beban,xerra"

Nada suaranya tenang, tapi tegas tidak memberi ruang bantahan.

“Aku tidak peduli siapa yang cemburu, iri, atau merasa terancam. Selama kau di sisiku, tidak ada yang boleh menyentuhmu. Bahkan dengan kata-kata.”

Xerra terdiam. Ada getar kecil di matanya.

“Aku kuat, Om,” katanya pelan. “Aku sudah melewati banyak hal.”

Evans mengulurkan tangan, menyentuh pipi Xerra dengan ibu jarinya.

“Aku tahu. Tapi sekarang kau tidak sendirian.”

Mobil kembali melaju.

Di sisi lain kota, di sebuah kafe dekat kampus, Liona duduk dengan wajah tegang. Ponselnya ada di atas meja, layar masih menyala pesan yang baru saja terkirim.

Temannya mencondongkan badan.

“Kau yakin ini ide bagus?”

Liona menyeringai tipis.

“Tenang saja. Aku baru mulai.”

Ia menatap layar lain di ponselnya foto Xerra turun dari mobil Evans pagi tadi. Sudutnya sempurna. Terlihat intim. Terlihat… bisa disalahartikan.

“Orang-orang suka cerita tentang gadis biasa yang naik kelas terlalu cepat,” lanjutnya pelan. “Aku hanya memberi mereka bahan.”

Namun ia tidak tahu satu hal

bahwa Evans Pattinson tidak pernah membiarkan ancaman berumur panjang.

Dan malam ini, nama Liona akan masuk ke daftar yang sangat pendek.

Daftar orang-orang

yang tidak seharusnya menyentuh miliknya.

Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk kampus dan ketenangan mansion Pattinson, sebuah ruangan gelap dipenuhi asap rokok dan cahaya layar monitor.

Beberapa layar besar menampilkan rekaman berbeda sudut.

Mobil hitam Evans.

Cara pintu dibukakan.

Tangan Evans yang selalu berada di punggung Xerra.

Tatapan dingin yang berubah lembut hanya untuk satu orang.

Seorang pria duduk santai di kursi kulit, kakinya bersilang. Wajahnya sebagian tertutup bayangan, hanya senyum tipis yang terlihat jelas.

“Jadi itu kelemahannya,” gumamnya pelan.

Anak buah di sampingnya menelan ludah.

“Bos… Evans Pattinson terkenal tidak punya celah. Selama ini..!

“Selama ini dia sendirian,” potong pria itu dingin.

“Kini tidak.”

Ia menunjuk layar saat Evans mencondongkan tubuh, membisiki Xerra sesuatu di depan kelas sebelum pergi.

“Lihat caranya menatap,” lanjutnya. “Itu bukan tatapan seorang mafia. Itu tatapan pria yang bisa dihancurkan.”

Anak buah lain ragu.

“Tapi menculik istri Evans… itu sama saja bunuh diri.”

Pria itu tertawa pelan, rendah, tanpa humor.

“Justru karena itu menarik.”

Ia berdiri, mendekati layar, jari telunjuknya menyentuh wajah Xerra yang terdiam di frame.

“Evans bisa kehilangan bisnis, wilayah, bahkan nyawanya tanpa bergeming,” katanya pelan.

“Tapi wanita ini ...”

Jarinya mengetuk layar sekali.

“akan membuatnya berlutut.”

Ruangan hening sesaat.

“Kita tidak menyentuhnya sekarang,” lanjutnya, tenang tapi mematikan.

“Kita tunggu. Kita pelajari kebiasannya. Jam kuliahnya. Rutenya. Teman-temannya.”

Ia menoleh, mata gelapnya berkilat.

“Dan saat waktunya tepat… kita ambil miliknya yang paling berharga.”

Di waktu yang sama, tanpa Xerra sadari, Evans berdiri di balkon kantornya, menatap kota London yang membentang luas.

Entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman.

Perasaan asing yang jarang ia rasakan bukan takut, tapi kewaspadaan yang menusuk.

Ia mengambil ponselnya dan mengirim satu pesan singkat.

“Tingkatkan pengamanan Xerra. Diam-diam. Jangan ada yang tahu.”

Balasan datang hampir seketika.

“Siap, Boss.”

Evans mengepalkan tangannya.

Jika ada yang berpikir menyentuh istrinya untuk menjatuhkannya,

maka orang itu belum mengenal satu hal tentang Evans Pattinson.

Ia bisa menjadi suami yang lembut.

Namun sebagai musuh…

ia adalah mimpi buruk yang tidak memberi kesempatan kedua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!