NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Rahasia

Malam telah menunjukkan dirinya ketika Wu Zetian akhirnya tiba di kediamannya. Langit yang tadinya berwarna jingga kini berubah menjadi hitam pekat, hanya dihiasi taburan bintang yang berkelip redup. Angin malam berembus pelan membawa hawa dingin yang menyusup hingga ke tulang. Langkah Wu Zetian terdengar ringan namun tubuhnya terasa lelah setelah seharian menghabiskan waktu di pasar.

Begitu pintu kediamannya tertutup, ia menghela napas panjang. Ia meletakkan barang-barang yang dibawanya, membersihkan diri sekadarnya, lalu duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya. Rasa penat itu bukan hanya datang dari fisik, tetapi juga dari pikirannya yang tak henti bekerja.

Biasanya, ia akan langsung masuk ke kamar di dalam dimensi Lilac untuk beristirahat. Namun malam ini, ia mengurungkan niat itu.

“Aku butuh tidur yang cukup” gumamnya pelan.

Ia tahu betul, setiap kali tidur di kamar dalam dimensi Lilac, tubuhnya hanya akan tertidur selama dua jam lebih karena perbedaan waktu yang cukup signifikan itu. Ia membutuhkan istirahat panjang. Pikirnya.

Akhirnya, Wu Zetian memutuskan tidur di kamar kediamannya sendiri. Ia berbaring perlahan, menarik selimut hingga ke dada. Ranjang kayu itu mungkin sederhana, namun malam ini terasa jauh lebih menenangkan. Matanya terpejam perlahan dan napasnya menjadi teratur. Malam berlalu dengan tenang, tanpa gangguan sedikitpun.

____________________

Cahaya pagi menyelinap melalui celah jendela membangunkan Wu Zetian dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, tubuhnya terasa jauh lebih segar dibandingkan biasanya. Ia duduk dan meregangkan tubuh, lalu tersenyum kecil.

“Keputusan yang tepat,” gumamnya dengan semangat.

Setelah membersihkan diri dan menikmati sarapan sederhana, Wu Zetian kembali memusatkan pikirannya. Tanpa ragu, ia memasuki ruang dimensi Lilac. Begitu tubuhnya sepenuhnya berada di dalam dimensi itu, udara segar yang khas langsung menyelimuti dirinya. Aroma tanah, dedaunan, dan tanaman obat memenuhi inderanya.

Hari itu, ia berniat memetik tanaman obat dalam jumlah yang besar. Dengan cekatan, Wu Zetian menyusuri kebunnya di dalam dimensi itu, kemudian memetik satu per satu tanaman obat yang telah matang. Tangannya bergerak terlatih dan memilih tanaman obat yang telah cukup umur. Semua tanaman obat yang ia kumpulkan dimasukkan ke dalam tas besar yang telah ia siapkan sebelumnya.

Namun di sela-sela pekerjaannya, perasaan aneh kembali muncul. Sedari awal, Wu Zetian memang merasa ada sesuatu yang janggal dengan sebuah ruangan di dekat jendela kamarnya. Ruangan itu selalu terlihat biasa dari luar dan tidak menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Namun Nana tidak pernah sekalipun membawanya ke sana.

Setiap kali Wu Zetian bertanya, jawaban Nana selalu sama.

“Tidak ada apa-apa di sana, Kak.”

Jawaban yang terlalu singkat seakan sedang menghindar.

Hari ini, rasa penasaran Wu Zetian akhirnya memuncak.

“Kalau memang tidak ada apa-apa,” batinnya, “kenapa Nana tidak pernah mengajaknya kesana walau hanya untuk melihatnya?”

Setelah memastikan tas tanamannya telah penuh, Wu Zetian melangkah perlahan menuju ruangan yang dimaksud. Setiap langkahnya terasa semakin berat dengan firasat aneh yang menggelayuti dadanya.

Ia berhenti tepat di depan pintu ruangan itu.

Terkunci.

Wu Zetian mengerutkan kening. Tangannya menyentuh gagang pintu, mencoba memutarnya sekali lagi untuk memastikan.

Tetap terkunci.

“Pasti Nana yang sengaja menguncinya,” batinnya. “Tapi untuk apa?”

Jika memang tidak ada apa-apa di dalamnya, lalu mengapa harus dikunci rapat? Pikiran itu terus berputar, memancing rasa curiga yang semakin kuat.

Karena tidak menemukan cara lain, Wu Zetian mengangkat tangannya dan mulai mengalirkan sihir.

Serangan pertama, nihil.

Ia mencoba lagi, kali ini dengan tenaga yang lebih besar. Serangan kedua, ketiga, hingga keempat namun hasilnya sama. Tidak ada retakan, tidak ada getaran. Sihirnya seperti menguap begitu saja ketika menyentuh pintu itu.

“Apa-apaan ini…?” gumamnya.

Belum sempat ia mencoba lagi, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Apa yang kau lakukan, Kakak?”

Wu Zetian tersentak. Tubuhnya menegang seketika. Ia berbalik dan mendapati Nana berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“E-emm… i-itu… a… anu…” Wu Zetian tergagap, jelas gugup karena ketahuan mencoba memaksa membuka pintu.

Nana menghela napas pelan. “Sudahlah. Aku sudah memprediksinya.”

Ia melangkah mendekat. “Sihirmu tidak akan berfungsi di sini, Kak. Ruang dimensi ini telah dilapisi Shield khusus yang kebal terhadap sihir. Kau tidak akan bisa membukanya dengan kekuatanmu.”

Wu Zetian menatap Nana tajam. “Kalau memang tidak ada apa-apa di dalamnya, lalu mengapa kau menguncinya?”

Nana kini menatapnya dengan sedih. “A-aku… aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Kak.”

Wu Zetian terdiam, menunggu.

“Pemilik dimensi Lilac sebelumnya… tidak pernah kembali setelah berada di dalam ruangan itu,” lanjut Nana dengan suara lirih. “Jadi aku tidak ingin kau bernasib sama dengannya. Aku harap kau mengerti.”

Keheningan menyelimuti mereka.

Wu Zetian menatap pintu itu kembali, lalu kembali menatap Nana. Tatapannya kini jauh lebih tegas.

“Kalau begitu,” katanya perlahan namun penuh tekanan, “akan lebih aman jika kau ikut bersamaku. Bukalah kuncinya sekarang.”

Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan. Nana menggigit bibirnya, ragu terlihat jelas di wajahnya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.

"Baiklah.”

Dengan gerakan pelan, Nana membuka kunci pintu tersebut. Suara klik terdengar nyaring di tengah kesunyian. Pintu pun terbuka perlahan.

Wu Zetian melangkah masuk dan seketika terbelalak.

Ruangan di hadapannya sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Itu adalah sebuah laboratorium. Sangat bersih dan rapi. Semua peralatan tersusun dengan sempurna. Ruangan itu tampak seperti tempat seseorang yang sangat serius meneliti sesuatu.

Namun perhatian Wu Zetian tertarik pada satu hal di sebuah meja. Di atasnya terdapat kertas yang masih terbuka. Wu Zetian berjalan mendekat. Matanya menyapu tulisan besar yang tertera jelas di kertas itu.

Perjalanan Waktu.

“Apa?!” napasnya tertahan.

Perjalanan waktu?

Apa hubungannya pemilik dimensi Lilac dengan perjalanan waktu? Jantung Wu Zetian berdegup kencang. Dalam benaknya, berbagai kemungkinan bermunculan.

“Apakah dia sama sepertiku?” batinnya. “Apakah dia juga berasal dari dunia lain?”

Ia langsung berbalik ke arah Nana.

“Nana,” serbunya, “apa yang kau tahu tentang pemilik sebelumnya? Siapa namanya? Dari keluarga mana dia berasal?”

Nana terlihat gugup. “Ba-baiklah, Kak. Aku akan menjawabnya satu per satu. Tapi…” ia berhenti sejenak, menunduk. “Sebelum itu, aku harus memberitahumu satu rahasia besarku.”

Wu Zetian menatapnya tajam. “Apa itu?”

“Aku bisa membaca pikiranmu.”

Wu Zetian melotot. Seluruh tubuhnya menegang. “Apa?!”

Ia tidak pernah membayangkan ada makhluk dengan kemampuan seperti itu. “Kau tidak sedang bermain-main denganku, bukan?”

“Aku serius, Kak,” jawab Nana cepat. “Dan aku tahu… bahwa kau tidak berasal dari dunia ini.”

Dunia Wu Zetian seakan runtuh seketika. Kakinya melemas dan tubuhnya merosot. Nana dengan sigap menopangnya.

“Tenanglah Kak, aku tidak akan membahayakanmu,” ucap Nana meyakinkan. “Selamanya aku hanya bisa terkurung di sini untuk menjaga dimensi ini.”

Nada sedih dalam suaranya begitu nyata. Wu Zetian menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Aku mempercayaimu. Sekarang jawab pertanyaanku.”

Nana menarik napas dalam. “Pemilik dimensi ini bernama Dou Yifang. Ia bukan seperti dirimu. Ia asli dari dunia ini dan berasal dari Kekaisaran Han.”

“Lalu,” Wu Zetian menelan ludah, “mengapa dia menghilang?”

“Sepuluh tahun yang lalu, ia menghilang setelah melakukan eksperimen di sini. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya. Dia perempuan yang sangat baik, cantik, ramah, dan cerdas."

Namun…”

Suara Nana terhenti.

"Namun apa?'"

________________

Yuhuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author.💖

See you~💓

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!