Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: SAHABAT DALAM PENDERITAAN
#
Pulang sekolah, Dyon langsung kerja lagi. Kuli bangunan. Angkat batu bata, aduk semen, beresin puing-puing. Upahnya Rp 50.000 kalau kuat sampai maghrib. Punggungnya remuk, tapi tangannya tetep jalan. Paksa.
Malam hari baru dia balik ke gubuk. Mandi air dingin—keran nyala pelan, air ngetes doang. Sholat Isya di sajadah ibu. Terus tidur.
Besoknya, jam tiga pagi lagi. Bangun. Kerja cuci motor. Sekolah. Begitu terus. Lingkaran setan yang nggak ada ujung.
Tapi... sekarang ada yang beda.
Setiap istirahat, Dyon ke perpustakaan. Nggak selalu ketemu Ismi—kadang dia ada kelas, kadang lagi di kantin sama temen-temennya yang seangkatan. Tapi... kalau ketemu, mereka ngobrol. Dikit-dikit. Tentang pelajaran, tentang buku, tentang... ya, hal-hal kecil yang nggak penting tapi bikin Dyon merasa hidup.
Hari ini, Dyon nggak ke perpustakaan.
Perutnya keroncongan parah. Dari kemarin cuma makan nasi aking—yang itu pun udah basi, ada bau asem dikit. Tapi dimakan juga. Mau gimana lagi.
Dia ke kantin. Antri di konter paling pojok—yang jual nasi bungkus murah. Rp 5.000. Isinya cuma nasi putih, tempe goreng tipis, sama sambel yang lebih banyak air daripada cabenya.
"Satu, Bu," kata Dyon pelan ke ibu kantin yang udah tua, rambutnya mulai putih.
"Iya, Nak." Ibu itu senyum simpati. Dia tau Dyon. Tau kondisinya. Selalu kasih tempe yang paling gede—meskipun tetep tipis sih.
Dyon bayar pakai uang receh. Terima bungkusan yang dibungkus kertas minyak—udah basah, bekas gorengan. Dia jalan ke meja paling pojok kantin. Meja yang cat kayunya udah pada ngelupas, ada coretan spidol "SAMPAH DUDUK DI SINI" yang udah memudar tapi masih kebaca.
Buka bungkusan. Nasi putih pulen—syukur masih anget. Tempe goreng kayak keripik, renyah. Sambel... ya gitu deh.
Dia mulai makan. Pelan. Nikmatin setiap suap—karena ini makan satu-satunya hari ini sampai nanti malam.
"Wah, lihat dong. Sampah lagi makan," suara nyaring dari meja sebelah.
Dyon nggak nengok. Tau itu siapa. Farhan. Anak orang kaya, bapaknya pengusaha properti. Temen deket Arman.
"Emang bener ya katanya dia cuma makan sekali sehari?" suara lain. Itu Riko. Anak pengacara terkenal. Mukanya kayak tikus—mancung tapi sipit, bibirnya tipis, senyumnya miring.
"Kasian banget sih hidupnya," Farhan lagi. Ketawa. "Kita makan tiga kali sehari plus cemilan, dia? Sekali doang. Itupun nasi bungkus murahan."
Tawa mereka keras. Anak-anak lain di kantin nengok—ada yang ikutan ketawa, ada yang diem aja sambil makan.
Dyon gigit tempe. Keras. Rahangnya nyeri.
"Eh, Dyon!" Farhan teriak. "Enak nggak tuh nasi lo? Bau nggak? Kayaknya udah basi deh!"
Riko ngakak. "Mana mungkin enak! Kita aja beli ayam geprek, dia beli... apa sih itu? Nasi kosong?"
Jangan denger. Jangan denger.
Tapi telinga tetep denger. Mata tetep liat mereka dari ekor mata—Farhan sama Riko duduk di meja yang mewah, piring mereka penuh ayam geprek, es teh jumbo, kerupuk, sambel extra. Mereka makan sambil ketawa-ketawa, sambil nunjuk-nunjuk Dyon.
"Miskin bener ya Allah," Farhan geleng kepala. "Masa nggak bisa beli nasi yang layak?"
Dyon taruh sendok. Napasnya berat.
Tahan. Tahan.
"Eh, tapi emang bener sih," Riko lanjut, suaranya makin keras—sengaja. "Orang miskin ya nasibnya gitu. Lahir miskin, mati miskin. Udah takdir."
Farhan tepuk tangan. "Wah, bijak banget lu, Rik! Bener tuh. Orang kayak Dyon ya... selamanya bakal jadi sampah. Nggak bakal bisa naik kelas."
Tangan Dyon ngepal. Kuku nusuk telapak tangan.
Jangan. Jangan marah. Nanti kena masalah lagi.
"Eh, Dyon," Farhan manggil lagi. "Gue baik hati nih. Mau gue kasih duit? Buat beli ayam geprek kayak kita? Anggap aja sedekah."
Riko ngeluarin dompet kulit mahal, ambil selembar lima puluh ribu. Lambaiin ke udara.
"Nih! Tapi... lu harus minta dengan sopan. Sujud dulu kayak kemarin!"
Tawa makin keras.
Dyon berdiri. Cepat.
"Ooo, dia marah!" Farhan pura-pura takut. "Waduh, ngeri banget! Mau ngapain emangnya, Sampah? Mau mukul gue? Ayo coba!"
Dyon nggak jawab. Dia cuma... berdiri di sana. Tangan masih ngepal. Nafsu pengen ngehajar mereka gede banget—tapi dia tau, kalau dia pukul, dia yang salah. Dia yang dikeluarkan.
"Udah, Dyon. Nggak usah diladenan."
Suara dari belakang. Tenang. Tapi tegas.
Dyon nengok. Andra.
Andra jalan mendekat. Badannya kurus, pendek, kulitnya item legam—hasil kerja bantuin bapaknya narik becak tiap sore. Seragamnya juga lusuh, nggak jauh beda sama Dyon. Tapi matanya... tajam. Berani.
"Eh, si Becak datang!" Riko ngejek. "Wah, rame nih! Sampah ketemu Becak!"
Andra diem aja. Dia berdiri di samping Dyon. Tatap Farhan sama Riko dengan mata tajam.
"Kalian berdua," kata Andra pelan. "Mulut kalian bau. Mending berkumur dulu sebelum ngomong."
Hening sedetik.
Terus Farhan meledak. "Apa lo bilang?!"
"Lo tuli?" Andra nyengir. "Gue bilang mulut lo bau. Kayak comberan."
Farhan berdiri. Riko juga. Meja mereka nyenggol—piring bunyi, es teh tumpah dikit.
"Beraninya lo—"
"Udah cukup."
Suara lain. Dari pintu kantin.
Semua nengok.
Leonardo.
Tinggi. Kurus atletis. Rambut rapi disisir ke samping. Seragam bersih, rapi, ada lambang osis di lengan kiri. Tas ransel merk mahal di bahu. Jam tangan di tangan kanan—merk yang Dyon nggak tau namanya tapi pasti jutaan.
Leonardo jalan mendekat. Pelan. Tenang. Tapi auranya... berat.
Anak konglomerat. Bapaknya punya pabrik, hotel, mal. Punya mobil sendiri—mercy hitam yang dia parkirkan di depan sekolah tiap hari.
Tapi Leonardo... beda dari anak orang kaya lainnya. Dia nggak sombong. Nggak ikutan bully. Diem aja—kayak dunianya sendiri.
"Farhan. Riko," kata Leonardo sambil berdiri di depan meja mereka. "Kalian berdua berisik."
Farhan kaget. "Leo, ini... ini bukan urusan lo."
"Sekarang jadi urusan gue," Leonardo tatap Farhan tajam. "Gue nggak suka orang yang nindas orang lain cuma karena dia lemah."
"Lemah?" Riko nyela. "Mereka emang lemah! Miskin! Sampah!"
Leonardo ngedeketin Riko. Jarak cuma sejengkal. Mata mereka ketemu.
"Lo tau nggak," bisik Leonardo—tapi semua orang denger. Kantin hening. "Miskin itu bukan pilihan. Tapi jadi bajingan? Itu pilihan lo."
Riko ngeh. Mukanya merah.
Farhan narik lengan Riko. "Udah, Rik. Dia gila."
"Iya, gue gila," Leonardo senyum sinis. "Gila karena liat orang kayak kalian ngerasa hebat cuma karena lahir dari rahim yang bener. Padahal otak lo? Kosong."
Farhan ngambil piring. Dyon kaget—dikira dia mau lempar.
Tapi Leonardo lebih cepat. Tangannya nangkep pergelangan Farhan, puter—Farhan meringis kesakitan.
"Jangan," kata Leonardo pelan. "Jangan coba-coba."
Piring jatuh. Pecah. Suara berisik bikin semua orang di kantin berdiri.
Guru piket datang. "Ada apa ini?!"
Farhan langsung lepas. "Pak, Leonardo mukulin saya!"
"Bohong," Andra nyelonong. "Dia yang mau lempar piring duluan."
"Benar, Pak," Dyon nambah—suaranya gemetar. "Farhan yang mulai."
Guru piket—Pak Hadi, guru olahraga yang badannya gede kayak lemari—tatap mereka semua.
"Kalian semua. Ke ruang BK. Sekarang."
---
Ruang BK sempit. Bau pengharum ruangan murahan. Ada poster motivasi di dinding: "Sukses dimulai dari niat". Dyon baca itu sambil duduk di kursi plastik yang keras.
Di sampingnya Andra, terus Leonardo. Di seberang Farhan sama Riko—mukanya cemberut.
Bu Siti—guru BK—duduk di kursi empuk, kacamata tebal di hidung, buku catatan di tangan.
"Jadi," kata Bu Siti sambil nulis sesuatu. "Siapa yang mulai?"
"Mereka, Bu," Farhan nunjuk Dyon, Andra, Leonardo. "Mereka yang—"
"Diam," Bu Siti potong. Galak. "Gue tanya, bukan lo yang ngomong duluan."
Farhan nutup mulut.
Bu Siti nengok Dyon. "Dyon. Cerita."
Dyon cerita. Pelan. Tentang ejekan. Tentang nasi bungkus. Tentang semua yang terjadi.
Bu Siti denger sambil nulis. Mukanya datar—tapi matanya... marah kayaknya.
Selesai, Bu Siti tutup buku.
"Farhan. Riko. Besok bawa orang tua kalian."
"Bu—"
"Tidak ada tapi. Kalian sudah melanggar peraturan. Bullying. Pelecehan verbal. Sudah berapa kali gue ingatkan?"
Mereka berdua diem.
"Kalian berdua," Bu Siti nunjuk Dyon dan Andra. "Tidak bersalah. Boleh pergi."
Dyon sama Andra berdiri.
"Leonardo," Bu Siti manggil. "Kamu... kenapa ikut campur?"
Leonardo diem sebentar. Terus dia senyum kecil. "Karena gue nggak bisa diam liat ketidakadilan, Bu."
Bu Siti ngangguk pelan. "Pergi. Tapi lain kali, lapor ke guru dulu. Jangan main hakim sendiri."
"Baik, Bu."
Mereka bertiga keluar. Koridor sepi—bel masuk udah bunyi, semua orang udah di kelas.
Tapi mereka nggak langsung balik ke kelas. Berdiri di depan ruang BK, diam-diaman.
Dyon yang buka suara. "Kenapa... kenapa kalian bela aku?"
Andra ketawa. "Goblok lo. Emang gue harus punya alasan buat bela sahabat?"
Sahabat.
Kata itu... hangat.
Leonardo nyamperin, tepuk bahu Dyon pelan. "Lo nggak sendirian, Dyon. Inget itu."
Dyon nggak tau harus bilang apa. Tenggorokannya kering. Matanya panas.
"Makasih," bisiknya pelan.
Andra nyengir. "Udah, nggak usah lebay. Yuk balik ke kelas sebelum kita dihukum lagi."
Mereka jalan bareng. Bertiga. Dyon di tengah, Andra di kiri, Leonardo di kanan.
Untuk pertama kalinya... Dyon nggak jalan sendirian.
---
**BERSAMBUNG**
**HOOK:** *Di dunia yang penuh pengkhianat, aku menemukan dua orang yang rela babak belur demi persahabatan. Tapi aku nggak tau—persahabatan ini bakal jadi perisai atau justru jadi pedang yang menusuk lebih dalam lagi.*