Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makan Tuan
Dengan hati-hati, ia mengambil kain tipis dari dalam tasnya dan menutup wadah dupa itu, memastikan aromanya tidak lagi menyebar. Ia tidak membuangnya dan tidak juga menghancurkannya karena ia membutuhkan benda tersebut.
Langit di luar jendela perlahan berubah warna. Biru pucat bergeser menjadi ungu gelap, lalu hitam pekat. Malam turun menyelimuti kediaman Perdana Menteri seperti tirai tebal yang menyembunyikan segala dosa di baliknya.
Wu Zetian berdiri di depan jendela, menatap pekarangan yang kini mulai sepi. Lampu-lampu lentera menyala satu per satu, penjaga berganti giliran, dan suara langkah kaki terdengar semakin jarang.
Waktu yang tepat. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya dengan pakaian laki-laki dengan warna gelap, ringan, dan tidak mencolok. Rambutnya diikat rapi agar tidak menghalangi pandangan. Semua gerakannya efisien, tanpa suara, dan tanpa keraguan.
Wu Zetian membuka jendela perlahan. Angin malam menyentuh wajahnya. Ia menatap ke bawah, mengukur jarak dan sudut pijakan yang tidak begitu tinggi. Dalam satu gerakan halus, ia keluar.
Tubuhnya meluncur turun dengan ringan, nyaris tanpa suara saat kakinya menyentuh tanah. Ia segera merapat ke bayangan, menyatu dengan gelap, menunggu beberapa detik untuk memastikan tak ada yang menyadari kehadirannya. Ia bergerak menyusuri dinding kediaman, memanfaatkan setiap bayangan pilar dan pepohonan. Matanya tajam, telinganya waspada terhadap suara sekecil apa pun.
Tujuannya jelas.
Kamar Li Hua.
Wu Zetian berhenti di bawah jendela kamar Li Hua. Lampu di dalam masih menyala redup. Bayangan tirai bergoyang pelan tertiup angin dari dalam.
Ia mendengarkan.
Tidak ada suara percakapan, dan tidak ada langkah kaki. Perlahan, ia mengangkat tubuhnya dan membuka jendela itu sedikit demi sedikit. Engselnya berderit sangat pelan, namun Wu Zetian sudah mengantisipasi. Tangannya menahan sudut jendela agar suara itu teredam dan juga menggunakan sihir agar apapun suara yang berasal dari dalam kamar tersebut tidak terdengar keluar.
Ia pun masuk. Aroma di dalam kamar Li Hua benar-benar berbeda dari kamar Wu Zetian. Jika kamar Wu Zetian dipenuhi wangi lembut yang bersih dan menenangkan, maka ruangan ini justru terasa berat. Berlapis-lapis wewangian bercampur menjadi satu.
Wu Zetian berdiri diam di balik tirai, membiarkan matanya menyesuaikan dengan cahaya redup lentera.
Di atas ranjang besar itu, Li Hua tertidur pulas. Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang dan tidak menyadari bahwa dirinya sendiri telah menjadi bagian dari rencana yang ia dan anaknya susun.
Wu Zetian menatapnya lama, tanpa emosi. "Beginikah wajah orang yang dengan ringan meracuni sesamanya?"
Ia melangkah maju dengan sangat pelan. Setiap langkahnya hampir tak terdengar, terlebih saat ia menyelubungi kakinya dengan sihir angin yang membuat tubuhnya seringan bayangan. Bahkan lantai kayu tua itu tak sempat berderit.
Dengan hati-hati, Wu Zetian berlutut dan menyelipkan kendi yang tertutup kain yang sebelumnya ia temukan di kamarnya ke bawah ranjang Li Hua. Gerakannya tenang, tanpa tergesa-gesa.
Lalu satu per satu, ia meletakkan buntalan kain kecil di setiap sisi ranjang. Semuanya persis seperti yang mereka siapkan untuknya. Tidak dikurang, dan tidak lebih.
Terakhir, ia mengambil dupa yang sebelumnya hampir menjebaknya. Dengan ujung api kecil, ia menyalakannya perlahan. Asap tipis mengepul, menyebarkan aroma manis yang halus dan menipu.
Wu Zetian mundur selangkah.
“Rasakan sendiri senjata busukmu ini,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Setelah memastikan semuanya berada di tempat yang tepat, ia berbalik dan meninggalkan kamar itu melalui jendela tanpa meninggalkan jejak.
Di lorong luar, ia berhenti sejenak. Seorang pria bertubuh besar berjalan melewati ujung koridor menuju kamar yang disediakan untuknya. Gerakannya tergesa, napasnya berat, jelas memiliki tujuan tertentu. Wu Zetian menyempitkan mata.
Beberapa menit berlalu. Pria itu keluar kembali dengan wajah kesal, menggerutu pelan karena tidak menemukan siapa pun di kamar tersebut.
Di sudut lain lorong, Wu Zetian mengamati kejadian itu dari balik bayangan pilar.
“Ternyata seperti itu…” gumamnya. “Tch, benar-benar wanita licik. Untung saja aku tidak tertidur di kamar itu.”
Ia melangkah cepat menghampiri pria bertubuh besar itu. Dalam sekejap, Wu Zetian memanipulasi suaranya dengan sihir angin, menekan nada alaminya hingga terdengar berat dan maskulin.
“Siapa yang kau cari, Tuan?” ucapnya.
Pria itu menoleh tajam. “Gadis sialan itu. Wu Zetian. Aku mencari kamarnya. Kau tahu di mana?”
Wu Zetian tersenyum tipis.
“Ah, Nona Kedua ya? Aku juga tidak menyukainya.” katanya dengan wajah tidak suka dan juga nada seolah sependapat.
Ia melangkah lebih dekat, berbisik seolah memberi rahasia.
“Ayo ikuti aku. Aku akan menunjukkan kamarnya.”
Mereka berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di depan kamar Li Hua.
“Ini kamar Wu Zetian,” kata Wu Zetian tanpa ragu. “Masuk saja lewat jendela. Tidak akan ada yang melihat.”
Pria itu tertawa kecil. “Baiklah. Terima kasih atas bantuanmu, anak muda."
“Sama-sama,” jawab Wu Zetian singkat, lalu segera berlalu dan bersembunyi di balik tiang tak jauh dari sana.
Beberapa saat kemudian, jendela kamar Li Hua terbuka pelan. Pria itu berhasil masuk. Ia kemudian mendekati ranjang Li Hua.
"Hahahahahah. Begitu mudah untuk mendapatkanmu Wu Zetian."
"Malam ini, Aku akan membuat malammu menjadi malam yang paling berkesan dalam hidupmu. HAHAHAHA." Ucapnya tertawa dengan tatapan pedofil dan juga sembari jari tangannya yang mengelus pipi Li Hua.
Pria tersebut bahkan belum pernah melihat wajah Wu Zetian. Jadi ia tidak menyadari bahwa yang didepannya bukanlah Wu Zetian yang sebenarnya.
Li Hua sempat terbangun saat merasa ada yang menyentuh pipinya. Saat melihat tubuh pria gempal tersebut, Ia ingin berteriak. Namun matanya seperti tidak ingin terbuka dan suaranya tak kunjung keluar karena efek obat dari buntalan kain tadi telah bereaksi pada tubuhnya.
Kini giliran dupa tadi yang bekerja. Aroma dari Zat Afrodisiak tadi dengan lembut menyapa hidung pria gempal itu yang membuatnya semakin berg**ah. Ia dengan cepat m*robek seluruh pakaian yang dikenakan oleh selir Li Hua dan melemparnya dengan sembarangan.
_____________
Beberapa jam kemudian
Pria bertubuh besar itu tergeletak tak berdaya di lantai. Efek dari zat yang terhirup terlalu lama akhirnya mengambil alih tubuhnya sepenuhnya.
Napasnya berat. Tubuhnya tak mampu bergerak.
Di luar kamar, Wu Zetian berdiri di balik bayangan, menatap jendela itu dengan wajah datar.
“Itulah yang dinamakan 'senjata makan tuan'. Rasakan itu". Ucapnya tanpa merasa kasihan.
Wu Zetian akhirnya pergi dari sana dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya setelah merasa aman.
__________________
Yuhuuu~🌹
Author bakal bikin novel baru lagi nih. Pantau terus yaa karya-karya dari Author.
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See you~💓