Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbuka
“Yang Mulia Kaisar Aurelian memasuki balai pertemuan!”
Teriakan pengawal menggema, memantul di dinding batu berukir lambang singa kekaisaran. Seketika seluruh hadirin berdiri tegak, punggung lurus, kepala tertunduk dalam satu irama kepatuhan. Udara balai berubah berat, rasa gentar dan hormat memenuhi hati setiap orang.
Pintu besar terbuka perlahan. Kaisar Aurelian Valemont melangkah masuk lebih dulu. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap dan terukur, setiap jejak seolah menegaskan haknya atas singgasana. Wajahnya tenang, namun sorot matanya dingin dan tajam. Mahkota di kepalanya bukan sekadar simbol; melainkan tanggungjawab atas tanah Imperial Agartha.
Pangeran Leo berjalan setengah langkah di belakangnya. Aura sang panglima muda begitu kuat, sikap tubuhnya bak sebilah pedang yang siap ditarik kapan saja. Para bangsawan dan kesatria menahan napas; inilah pria yang akan berdiri sebagai lambang kesetiaan di sisi Kaisar.
Putri Lily melangkah anggun dengan punggung tegak, dagu terangkat tenang di sisi Pangeran Leo. Gaun simple berwarna gelap membingkai tubuhnya dengan keanggunan alami, rambutnya terurai rapi, wajahnya bersih dan bercahaya. Tak tersisa sedikit pun jejak gadis acak-acakan dengan gaun kotor, seperti saat pertama datang di tengah kekacauan perang. Kini yang berdiri di hadapan mereka adalah seorang putri sejati. Cantik dengan cara yang tenang dan penuh martabat. Keindahan yang mustahil diabaikan.
Semua orang menunduk hormat, “Salam kepada Yang Mulia Kaisar Aurelian.” ucap mereka serempak.
“Semoga Dewa selalu memberkati dan menganugerahkan umur panjang.”
Kaisar Aurelian menaiki anak tangga singgasana dan duduk. Gerakannya begitu tenang dan penuh kendali, aura kepemimpinan penguasa Imperial Agartha.
Erivana menatap pemandangan itu dengan kebencian yang membara. Dadanya naik turun menahan amarah. Setelah putranya dibunuh, kini Aurelian duduk di singgasana yang seharusnya menjadi milik Pangeran Evan.
Putri Lily menangkap tatapan itu. Ia membalasnya dengan pandangan datar, sedikit senyum tipis, sebuah provokasi halus yang tak diucapkan namun jelas mengatakan: ketahuilah siapa yang berdiri di hadapanmu sekarang.
Wajah Erivana semakin memerah, tangannya bergetar, nyaris kehilangan kendali. Putri Aster dengan cepat menahannya.
“Tenanglah, Ibunda,” bisik Aster tegang. “Posisi kita… tidak seperti dulu lagi.”
Pangeran Leo melangkah maju. Tanpa berkata-kata, ia membuka gulungan kain berisi belati yang dibawanya.
Erivana membola, tubuhnya menegang tanpa bisa dicegah.
“Apa ini, Yang Mulia?” tanya Alexius.
“Ini adalah belati yang digunakan Pangeran Evan untuk membunuh Permaisuri Anastasia.” jawab Kaisar Aurelian dengan suara rendah namun menggema di seluruh ruangan.
Balai pertemuan sontak dipenuhi bisikan tertahan.
“Tetapi,” lanjut Aurelian, “belati ini bukan milik Pangeran Evan.”
Kegemparan kecil tak terelakkan. Tatapan saling bertemu, kecurigaan menyebar. Jelas, pembunuhan itu direncanakan dan tidak dilakukan oleh satu orang saja.
Kaisar Aurelian mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Erivana.
“Bagaimana menurut Anda, Lady Erivana?” katanya menekan.
Erivana menelan ludah. “Saya… tidak pernah melihat belati itu, Yang Mulia.” jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Kaisar Aurelian menyeringai, sorot mata Erivana telah menunjukkan segalanya.
Pintu balai pertemuan terbuka keras. Dua pengawal menyeret seorang pria masuk, lalu menghempaskannya tepat di depan Aurelian. Tubuh pria itu gemetar hebat. Bagaimana tidak? Semua orang menatapnya dengan tatapan mengadili.
Darah Erivana seolah membeku. Ia menatap pria itu seolah ancaman. A-apa ini? Bagaimana mungkin dia ada di sini… batinnya bergetar panik.
“Katakan,” suara Kaisar Aurelian tenang, namun mematikan. “Apa yang kau ketahui.”
Pria itu menunduk berkali kali, tak sanggup melihat Kaisar.
“Mohon ampun, Yang Mulia… orang yang membeli belati itu adalah seorang wanita paruh baya,” katanya terbata. “Ia memiliki pelangkat kekaisaran Imperial Agartha.”
Suasana balai berubah mencekam. Pangeran Leo melangkah maju. Tangannya mencengkeram rambut pria itu, memutar paksa kepalanya hingga menghadap Erivana.
“Lihat baik-baik!” kata Leo dingin. “Apakah dia orangnya?”
Erivana mundur setengah langkah, napasnya tercekat. Ia menatap pria itu penuh ancaman.
Pemilik toko menelan ludah, lalu mengangguk ketakutan.
“Benar, Yang Mulia. Dialah orangnya.”
Seisi balai langsung menatap Erivana dengan tapan terkejut, benci, sekaligus penghakiman.
“Jaga lidahmu!” Suara Erivana meninggi, matanya bergerak liar. “Jangan berani-beraninya melemparkan fitnah seperti itu padaku! Aku sama sekali tidak mengenalmu.”
Pemilik toko mengangkat tangannya, “Saya bersumpah demi nyawa saya, Yang Mulia. Saya tidak berbohong.”
Alexius menatap Erivana lama, tatapan yang tidak lagi mengandung cinta. Selama menjadi Kaisar, hanya Erivana yang memiliki akses mengambil pelangkat kekaisaran dari Kediaman Singa. Kenyataan ini benar-benar membuatnya jatuh pada jurang terdalam. Istri yang berhianat, kehilangan putra, kakak, juga kakak iparnya.
Oh Dewa… kesalahan apa yang telah kulakukan di masa lalu?
Kaisar Aurelian bangkit dari singgasananya. Ia menuruni anak tangga satu per satu, langkahnya menggema di balai yang sunyi. Saat ia berhenti tepat di hadapan Erivana, wibawanya menekan siapa pun yang memandang.
“Kau telah menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya.”
Ia menoleh tajam. “Pengawal!” Suara Aurelian menggelegar di udara. “Bawa dia ke alun-alun untuk hukuman gantung.”
Keputusan itu jatuh seperti palu kematian.
“Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!” Erivana meronta histeris. “Lepaskan aku!”
“Ibunda!” tangis Putri Aster pecah.
Putri Lily bangkit berdiri. Ia menatap Aster, bukan dengan kebencian melainkan kasihan yang dalam. Lalu suaranya mengalun dingin dan jelas, menusuk lebih tajam dari pedang.
“Sekarang aku mengerti, mengapa Dewa tidak mengizinkan dunia mengetahui bahwa Kaisar Lexus dan Permaisuri Anastasia telah memiliki keturunan.”
Ia menoleh pada Erivana. “Rupanya istana ini telah lama membesarkan iblis berwajah manusia.”
Putri Lily melangkah satu langkah ke depan, berdiri tepat di depan Erivana.
“Kau bukanlah seorang ibu. Tidak ada ibu yang menjadikan anaknya alat untuk memuaskan ambisinya sendiri.”
“Diam kau, gadis hutan!” jerit Erivana penuh kebencian.
“Apa yang kalian tunggu?” perintah Aurelian dingin. “Bawa dia sekarang!”
“Suamiku!” Erivana bersujud, menggenggam tangan Alexius. “Tolong aku…”
Alexius menghempaskan tangannya, lalu mencengkeram lengan Erivana kasar.
“Bagaimana kau bisa melakukan ini, Erivana?” suaranya bergetar, marah dan hancur. “Bagaimana bisa kau menjerumuskan putramu sendiri ke dalam kehancuran?!”
“Aku bukan kau, Alexius!” Erivana menjerit histeris. “Aku bukan kau yang diam saja ketika posisi putraku terancam!”
Alexius menggeram rendah, “Aku tidak pernah menyangka telah menikahi seorang iblis.”
Ia berdiri tegak, suaranya menggema lantang.
“Demi Dewa dan Imperial Agartha, aku, Alexius, menceraikan engkau, Erivana. Kau akan mati dikenang sebagai rakyat buangan yang berkhianat.”
Erivana membeku, air matanya semakin deras.
“Tidak, Alexius… kau tidak bisa melakukan ini padaku.” tangisnya pecah.
“Aster!” jerit Erivana saat tubuhnya diseret paksa. “Tolong ibunda!”
Putri Aster menangis terisak.
“Ibunda…” suaranya pecah. Dunia yang ia kenal runtuh, kakaknya telah mati, dan sekarang ibundanya sedang diseret menuju kematian.
Kaisar Aurelian melangkah ke hadapan Alexius, lalu menunduk hormat pada adik kandung ayahandanya itu.
“Aku menghormatimu, Paman,” katanya tenang. “Tapi keadilan adalah kehormatan seorang kaisar. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat.”
Alexius membalas tundukan itu, bahkan lebih dalam.
“Tidak, Yang Mulia,” katanya lirih. “Hambalah yang seharusnya memohon ampun atas seluruh kekacauan yang disebabkan oleh mantan istri dan anak hamba.”
Balai pertemuan kembali sunyi. Namun semua yang hadir tahu, Aurelian tidak selembut Alexius. Mereka mulai menaruh masa depan Agartha di atas kepala sang Kaisar. Masa kejayaan itu akan kembali datang. Keadilan Imperial Agartha akan ditegakkan dengan darah dan kebenaran.
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author