Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Gunawan
#21
Beberapa jam sebelumnya.
Puluhan orang, bahkan mungkin ratusan, berpencar ke seluruh pelosok ibu kota. Instruksi cepat dari Gunawan mengatakan bahwa mereka harus berhasil menemukan target utama yang diinginkan Gunawan.
Kemudian target yang lain, cukup dibersihkan dengan sejumlah rupiah yang pastinya menggiurkan di mata orang-orang yang sedang sangat membutuhkan.
Dan terbukti, uang memang bisa melakukan segalanya, karena segala-galanya bermuara pada uang, walaupun uang bukan segala-galanya.
Orang-orang yang sebelumnya lantang bersuara, kini dibungkam dengan uang yang sejatinya telah lama mereka harapkan, karena keadilan bagi mereka adalah mendapatkan uang sesuai dengan pekerjaan yang telah mereka lakukan.
Gunawan tersenyum senang, ketika tak sampai 24 jam anak buahnya berhasil membungkam orang-orang yang semula menjadi lawan baginya.
“Kau memulai segalanya, Giana. Maka jangan salahkan aku jika aku kembali berbuat egois padamu.” Meski hatinya sendiri merasakan sesal atas perbuatannya pada Giana, tapi di sisi jahat dirinya, sudah telah terlalu lama tenggelam dalam nikmatnya racun uang haram.
Jika masalah kecil begini saja tak mampu ia bereskan, maka jangan harap di masa depan firma hukumnya akan memperoleh kepercayaan publik.
“Singkirkan semua yang berpotensi menjadi batu sandungan di jalanan!”
“Baik, Tuan,” jawab Arman.
•••
Gejolak perasaan Ayu benar-benar tak menentu, ada saat dimana ia tenang, tanpa perlu memikirkan kelanjutan misi membalas perlakuan Gunawan dan Anjani di masa lalu.
Tapi disisi lain, ia sangat marah ketika Gunawan dengan semua yang ia miliki saat ini berhasil membalikkan keadaan. Usaha yang sudah disusun rapi oleh Giana dan seluruh tim nya, hanya terlihat seperti menabur garam di atas laut. Yang berarti, tak ada gunanya berbuat jahat pada orang yang sudah jahat sejak lama.
Hembusan nafas Ayu masih terdengar berat, seperti menahan amarah yang kapan saja siap meledak. “Jika begini, aku merasa tak lagi mengenal siapa dirimu. Dulu kau tidak begini, kau lembut, dan—”
“Hentikan, Mahar! Jangan membuatku mengingat masa laluku. Aku berubah begini, karena keadaan memaksa, jika aku terus menerus bersikap lemah lembut, maka Anjani dan Gunawan akan terus menginjak harga diriku tanpa ampun.”
Lampu merah menyala, dan mobil yang dikemudikan oleh Mahar, berhenti sejenak. “Aku nyaman dengan diriku saat ini, ada kalanya aku bisa menjadi malaikat penolong. Tapi bila ada yang mengusik ketenanganku, maka aku pun bisa berubah menjadi binatang buas mematikan.”
Mahar pun setuju dengan perkataan Ayu, baik dan buruknya sikap kita, bisa dikondisikan sesuai keadaan. Tapi, bukan berarti seseorang harus menjadi jahat dalam arti kata yang sesungguhnya. Pria itu tak lagi bicara, hanya fokus dengan mobil yang ia kemudikan, hingga tak lama kemudian mereka berhenti di depan gerbang mewah rumah Gunawan dan Anjani.
“Ular jalang berbisa itu bergelimang harta setelah membuatku bergelimang duka dan air mata,” desis Ayu dengan tangan terkepal.
Tepat di selang waktu yang hampir bersamaan, mobil mewah Gunawan pergi meninggalkan rumah. “Barusan adalah, mobil Tuan Gunawan.”
“Sepertinya, kamu tahu banyak tentang ular cobra yang menjelma jadi pengacara itu,” timpal Ayu.
Mahar terdiam sejenak, “Sejak dulu aku mengikuti sepak terjangnya, aku sudah bekerja menjadi sopir Nyonya Giana sejak beliau masih berstatus sebagai istri Tuan Gunawan.”
“Kau pasti sulit percaya bila ku katakan dahulu Tuan Gunawan orang yang sangat baik.”
Ayu berdecih sembari tersenyum miring, “Mungkin saat itu dia hanya belum menemukan passionnya saja.”
Mahar memutar posisi tubuhnya hingga menghadap ke arah Ayu. “Semua bermula sejak kasus yang menimpamu 20 tahun yang lalu.”
“Tuan Gunawan sedang sangat tertekan karena tuntutan orang tuanya yang menginginkan hadirnya anak dalam pernikahannya dengan Nyonya Giana. Saat melakukan proses interogasi pada Anjani, pria itu justru masuk dalam jebakan gila Anjani yang menyodorkan tubuhnya secara cuma-cuma.”
Nafas Ayu kembali memburu, bibirnya bergetar dalam amarah karena tetiba ingat dengan suaminya yang juga masuk dalam jerat pelukan Anjani. Seberapa hebatkah Anjani di atas ranjang? Hingga banyak pria terpedaya olehnya.
Tiba-tiba Ayu tersenyum smirk, “Mahar, apa kau juga menyimpan catatan masa lalu Anjani?”
“Kenapa? Apa yang hendak kau lakukan? Ingat—”
“Jangan gegabah, kan?” sela Ayu, Mahar mengangguk membenarkan.
“Aku tahu kau mengkhawatirkan Kakakku, apa kau mencintainya?”
“Dih, sembarangan.” Mahar mengelak seraya membuang pandangannya keluar jendela.
“Sebenarnya tidak apa-apa juga, sih.” Ayu terkekeh, tanpa menyadari bahwa sejak lama perasaan Mahar untuknya masih tersimpan rapi dalam diam. Termasuk tidak mengetahui bahwa Mahar sudah berumah tangga.
Mahar memilih patuh pada ibunya, hingga beberapa minggu sebelum ibunya wafat, ia menikahi gadis pilihan ibunya, dan hingga kini wanita itu masih setia mendampinginya.
“Sebenarnya, aku sudah menikah.”
“Hah?!” Ayu terkejut, ia merasa bersalah atas gurauannya beberapa saat yang lalu. “Ma-maaf, aku tak tahu kalau—”
“Kau pikir aku remaja labil, hingga tersinggung hanya karena sebuah gurauan.”
“Ya, tetap saja, perkataanku keterlaluan.”
Mahar kembali menghidupkan mesin mobilnya, “Lupakan. Jadi, apakah kita akan terus melanjutkan keinginanmu?”
“Kita pulang saja, daripada buang-buang tenaga dengan marah, aku jadi terpikirkan ide yang lain.”
“Nah, rasanya aku lebih suka ide yang itu, apakah aku perlu mengirimkan semua informasi tentang Anjani?”
“Iya, kirimkan saja ke ponselku.”
Mobil bergerak tapi sebuah pemandangan mengejutkan melintas di depan mobil mereka. “Bukankah, itu—”
•••
Sementara itu, Giana yang baru keluar kamar dengan berita mengejutkan, kebingungan mencari dimana gerangan Ayu berada.
“Bik, mana Ayu?”
“Nyonya Ayu pergi bersama Tuan Mahar.”
“Apa dia pamit?”
“Tidak, Nyonya. Sepertinya sangat buru-buru.”
“Aneh, pergi ke mana mereka?” gumam Giana.
Ia mencoba melakukan panggilan ke ponsel Ayu, namun, hanya berdering tanpa ada jawaban. Bahkan sayup-sayup Giana mendengar dering ponsel Ayu ada di dekatnya.
Rupanya ponsel itu masih tertinggal di kamar, karena dilupakan pemiliknya. Giana pun kembali keluar dari kamar Ayu, membawa gelisah dan rasa penasaran.
Beberapa saat kemudian berganti ponselnya sendiri yang berdering. Keningnya berkerut, dan wajahnya bergetar penuh amarah.
“Hmm…”
Giana mendengar suara senyuman dari ujung sana. “Mantan istriku, apa kau sangat merindukanku?”
“Cuih! Mengingat wajahmu saja aku tak sudi.”
“Hahahaha, apa kau masih ingat, semakin galak, kau semakin—”
“Cukup! Jangan pernah membual padaku!” sela Giana sebelum Gunawan menyelesaikan ucapannya.
Suasana mendadak berubah dingin, “Aku sedang tidak ingin bergurau, sebaiknya hentikan perbuatanmu sekarang juga, sebelum aku bertindak lebih jauh lagi. Aku bukan orang yang dahulu kau kenal—”
“Jangan mimpi! Sampai kapanpun aku takkan berhenti!”
“Oh, jadi kau lebih memilih para karyawanmu terlunta-lunta di jalanan? Begitu?” ancam Gunawan.
“Sayangku, aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dibandingkan apa yang terjadi saat ini.”
“Bajingan! Laki-laki pecundang! Tunggu saja, aku pastikan akan menguburmu hidup-hidup!” balas Giana, saking mualnya mendengar rayuan Gunawan yang masih memanggilnya dengan sebutan ‘sayangku’ seperti dulu.
“Hahaha ternyata kamu masih saja menggemaskan, aku jadi semakin rindu—”
Klik!
Giana pun mematikan panggilan secara sepihak, sebelum Gunawan kembali melontarkan rayuannya.
Berita soal Biru jangan2 sumbernya dari Tian
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan