NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Dear, My Heartbeat

...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...

Aku pikir aku enggak bakal bisa merem, tapi akhirnya aku bisa tidur nyenyak seperti bayi.

Aku enggak tahu sekarang jam berapa, tapi karena enggak ada suara apa pun, aku menganggap ini tengah malam.

Sambil duduk di ranjang, aku menengok sekeliling ruangan. Mataku langsung menangkap sosok samar yang berdiri di pojok.

Aku melirik Braun sambil tarik selimut untuk menutup pangkuan dan kakiku.

Aku enggak tahu apa rencana cowok itu buat aku, dan itu membuatku takut.

“Tidur kamu nyenyak?” suaranya bergema dari sudut ruangan.

Aku enggak sanggup bicara. Aku cuma ngangguk.

"Good."

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Dia cuma menatapku. Tubuhku mulai gemetar.

“Insting kamu bagus,” katanya tiba-tiba. “Waktu kamu di dapur, atau nonton TV, atau di kamar kamu, pas kamu ngerasa gila karena diawasin ... Ya ... aku memang lagi ngawasin kamu.”

Mulutku terbuka. “Ini … ini serem banget.”

Dia tertawa lepas, tawa yang benar-benar terdengar terhibur.

Aku ambil kesempatan itu, jadi aku bertanya, "Kamu bakal ngapain aku?"

Aku dengar dia tarik napas panjang lalu bergerak mendekat. Aku berdiri dan menutupi tubuhku pakai selimut.

Begitu dia berhenti di depanku, wajahnya kelihatan jelas. Aku benci melihat wajah tampan itu, aku benci dia harus berubah menjadi monster seperti sekarang.

Tangannya naik ke wajahku, jari-jarinya mencekal daguku erat, sebelum aku sempat menghindar. Dia condong ke depan.

Pikiran mengerikan kalau dia mungkin bakal menciumku, sontak melintas di kepala.

Tapi dia berhenti beberapa senti dari bibirku. Matanya mengunciku tajam.

“Aku lagi mikirin beberapa ide,” katanya pelan. “Mungkin kamu bisa bantu aku buat mutusin apa yang harus aku lakuin ke kamu? Humm?”

Tubuhku gemetar lagi. Aku menelan ludah dengan susah payah, diterkam rasa takut yang dia pancarkan.

Ibu jarinya menyentuh daguku, lalu tangannya meluncur ke tenggorokanku. Jari-jarinya mengencang di leherku.

"Awalnya, aku bayangin buat remukin trakea kamu dan nyaksiin kamu megap-megap nyari udara sampai aku puas ambil napas terakhir dari paru-paru kamu!"

Ya Tuhan.

"Tapi itu berarti kamu harus mati. Dan aku enggak bisa nyiksa kamu lagi."

Sekali lagi aku menelan ludah. Dia melepas cengkeramannya dan masukkan tangan ke saku.

“Aku bisa aja ngurung kamu di ruangan ini seumur hidup.”

"Enggak. Aku lebih milih mati."

Sudut bibirnya berkedut.

“Menurutmu, apa yang harus aku lakuin ke kamu?”

Lidahku menjulur membasahi bibir. Aku menggeleng. "Toh, kamu enggak peduli sama apa yang aku pikirin."

Senyum mekar di wajahnya, membuatnya kelihatan berbahaya dan ... menarik.

“Sebenarnya, aku peduli.”

Keningku berkerut. Dan dia lanjut, “Ginjal adikku yang bikin kamu tetap hidup. Jadi … gimana caranya kamu harus membalas budi ke aku?”

Rasa bersalah dan duka mencekik napasku. Air mata berkumpul di mataku. Suaraku serak, "Aku benaran minta maaf mereka membunuh saudara kamu. Aku enggak pernah pingin siapa pun mati cuma supaya aku bisa hidup. Kalau aku tahu, aku enggak bakal pernah nyetujuin operasi itu.”

Dia mengeluarkan suara mengejek. “Kamu berharap aku percaya kalau kamu bakal dengan anggun menerima kematian dan melepas kesempatan mendapatkan ginjal itu?”

Tanpa ragu, aku jawab, "Iya."

Braun menatap mataku lama banget, sampai aku harus mengepalkan tangan di pinggangku untuk menahan diri supaya enggak gemetar.

“Jadi kalau kamu bisa balik ke masa lalu,” katanya pelan, “Kamu bakal mati supaya saudara aku bisa selamat?”

Sekali lagi, tanpa ragu. "Iya."

Dia tarik napas dalam, mengeluarkannya perlahan, lalu berbalik dan jalan ke arah pintu.

"Ikut aku, Tikus Kecil!"

Kenapa sih dia memanggil aku begitu?

Aku jalan di belakang Braun waktu kami balik ke ruangan tempat Papa dan Dr. Nolan ditahan.

Perutku mual karena melihat ada perban di lengan Papa.

Braun enggak mungkin memberikan perawatan medis ke Papa, kalau dia mau membunuhnya … Iya kan?

Pikiran itu menyalakan secercah harapan di hatiku. Aku langsung lari ke Papa, yang sedang berusaha bangun. Aku rangkul dia erat dan berbisik, "Papa enggak apa-apa?"

“Jangan khawatirin Papa. Kamu kenapa? Dia udah ngapain kamu?” tanyanya panik.

"Enggak. Aku malah ketiduran," jawab aku pelan.

“Cukup dengan reuni-reuni ini,” kata Braun dengan nada rendah dan dingin. “Panggil Dr. Nolan!”

Pengawal yang sama seperti kemarin menghampiri Dr. Nolan dan memaksa dia berlutut.

Dokter yang merawat aku selama tiga tahun terakhir, sekarang sama sekali enggak kelihatan seperti seseorang yang dulu aku kenal dan percaya.

Wajahnya bengkak parah akibat pukulan kemarin. Anehnya, aku merasa kasihan sama dia, meskipun dia sudah melakukan dosa yang enggak bisa dimaafkan.

“Kata-kata terakhir?” tanya Braun.

Mataku melebar. Jantungku serasa berhenti.

Enggak.

Jangan.

Dr. Nolan menatap Braun dan bilang, “Aku mendedikasikan hidupku untuk menyelamatkan orang.”

“Dan tetap aja saudaraku mati,” balas Braun dingin. “Berapa banyak? Berapa kali kamu beli organ di pasar gelap?”

“Enggak banyak,” jawab Dr. Nolan. “Mungkin tujuh atau delapan kali.”

Braun menggeleng pelan. “Kamu tahu enggak mereka membunuh anak-anak sehat buat dijual organnya?”

Dr. Nolan diam. “Aku … aku enggak tahu.”

Braun meraih ke belakang punggungnya dan tarik pistol dari balik ikat pinggangnya. Jari-jarinya mencengkeram di gagangnya saat dia melangkah mendekat ke Dr. Nolan.

Aku menggeleng tanpa sadar sambil teriak, “Jangan! Jangan lakuin itu! Tolong, jangan bunuh dia!”

Mata Braun beralih ke arah aku. Detik berikutnya, pistol itu diarahkan ke Papa.

Aku langsung lari berdiri di depan Papa, merentangkan kedua tangan selebar mungkin, untuk melindungi dia.

"Jangan! Aku mohon!" Aku menggeleng lagi, panik.

Braun menatapku tanpa ekspresi.

"Pilih!"

Satu kata itu menggema di seluruh ruangan.

"Papa kamu atau dokter kamu?"

Dengan perasaan takut, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan cuma menatap cowok kejam itu.

Lengannya tersentak kembali ke arah Dr. Nolan, lalu dia menekan laras pistol itu dengan kuat ke dahi dokter Nolan.

“Aku sebenarnya bisa aja mencabik-cabik kamu sampai mati, Dokter.” Dr. Nolan memejamkan matanya erat-erat. “Jadi ... Sekarang ucapkan terima kasih ke aku, karena aku masih punya belas kasihan!” tuntut Braun.

Ya Tuhan.

"Terima kasih ...."

Suara ledakan itu keras banget sampai membuat badanku bergidik dan telingaku berdengung.

Dr. Nolan jatuh ke samping, darah langsung mengalir dari luka tembak di kepalanya.

Aku menyaksikan genangan darah itu menyebar di lantai. Tubuhku langsung gemetar, kejang-kejang dan napasku tersengal-sengal. Kakiku lemas, dan aku langsung jatuh ke lantai. Pandanganku kabur karena serangan panik setelah melihat Dr. Nolan mati.

"Quinn!" teriak Papa sambil berlutut di sampingku. "Bernapas, Sayang!"

“Beresin kekacauan ini!” Aku dengar Braun memerintah.

Beberapa cowok langsung masuk ke ruangan. Waktu mereka menyeret tubuh Dr. Nolan keluar, tubuh itu meninggalkan jejak darah di lantai.

Air mata membasahi wajahku, dan aku terus megap-megap seperti ikan yang kehabisan air.

"Quinn, lihat Papa!"

Aku dengar suara Papa, tapi aku enggak bisa berbuat apa pun selain tarik napas dengan rasa takut. Tapi rasanya aku benar-benar kekurangan udara sekarang.

Braun mendekat dan berjongkok di depanku. Dia pegang daguku dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, memaksa wajahku terangkat agar aku bisa menatap matanya.

Ekspresinya gelap dan dia bilang, “Tarik napa, Tikus Kecil. Aku belum mau kamu mati sekarang.”

Aku terus terengah-engah, air mata mengalir di wajahku.

“TARIK NAPAS QUINNNN!” bentaknya dengan marah.

Karena ketakutan, aku pun memaksa diri buat bernapas, suara tercekat langsung keluar dari tenggorokanku.

"Tolong lepas ikatannya biar aku bisa gendong dia!" mohon Papa. "Dia harus ditenangin, membentaknya enggak bakal bisa meredakan serangan paniknya!"

Braun mendorong Papa menjauh. Terus aku benar-benar terkejut waktu Bos mafia kejam itu malah merangkulku, tarik aku ke dadanya.

Dia dekatkan mulutnya ke telingaku, lalu mengusap rambutku dengan lembut sambil berbisik, “Tarik napas Quinn ... atau Papa kamu yang mati.”

Satu suara tercekat lagi keluar dari dadaku, tapi akhirnya aku berhasil menghisap udara ke paru-paruku.

Waktu aku berhasil tarik napas, Braun bilang, “Kamu enggak akan pernah bisa menenangkan putri kamu lagi, Tanoko! Dia milik aku!”

Aku mencoba melepas diri dari pelukannya, tapi dia malah makin mengeratkan pelukannya sampai tubuh aku terhimpit di dadanya.

Aku bisa mencium aroma parfum yang beraroma kayu.

Aku bisa merasakan kekuatannya.

Aku bisa dengar detak jantungnya yang stabil.

Di saat itu aku sadar, betapa besarnya masalah yang sedang aku hadapi.

Sementara jantungku berdebar kencang, jantung Braun tetap tenang.

Bahkan membunuh seseorang pun enggak cukup untuk meningkatkan detak jantungnya.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!