Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7: Luka di Balik Punggung
Wawan terus menggandeng tangan Ella tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Langkah kakinya lebar dan cepat, seolah ia sedang dikejar oleh hantu dari masa lalunya. Ia ingin segera membawa Ella sejauh mungkin dari aroma gudang peralatan yang menyesakkan, dari sisa-sisa napas Rizki yang masih tertinggal di udara, dan dari segala ketegangan yang nyaris menghancurkan pertahanan gadis itu. Mereka berjalan menyusuri koridor samping, melewati deretan kelas yang sudah mulai kosong, hingga akhirnya tiba di taman belakang sekolah.
Taman itu adalah sebuah area terpencil yang jarang dikunjungi siswa karena letaknya yang tersembunyi di balik bangunan laboratorium tua yang angker. Di sana, hanya ada rumput liar yang tumbuh tinggi dan sebuah pohon mahoni raksasa yang sudah berdiri puluhan tahun.
Begitu mereka sampai di bawah bayangan pohon mahoni yang besar dan rimbun, Wawan perlahan melepaskan genggamannya. Tangannya yang kasar terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit Ella untuk terakhir kalinya sebelum terlepas. Namun, Wawan tidak segera berbalik menghadap Ella. Ia berdiri memunggungi gadis itu, menatap lurus ke arah pagar pembatas sekolah. Punggung cowok itu tampak sangat tegang, bahunya naik-turun seiring dengan napasnya yang berat dan tidak teratur. Jauh dari kesan santai, ugal-ugalan, dan penuh tawa yang biasa ia tunjukkan di hadapan para guru maupun teman-temannya.
"Dia hampir menciummu, kan?" tanya Wawan tiba-tiba.
Suaranya terdengar datar, namun ada getaran luka yang sangat nyata di sana—sebuah nada pecah yang membuat hati Ella ikut mencelos. Ella tersentak, ia terpaku di tempatnya berdiri, seolah-olah seluruh tubuhnya membeku akibat pertanyaan yang terlalu jujur itu. Tangannya bergerak gelisah, memainkan ujung seragam olahraganya yang masih tampak kusut akibat tarikan posesif Rizki di dalam gudang tadi.
"Aku... aku tidak tahu, Wan. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku merasa... bingung," bisik Ella jujur, meskipun suaranya nyaris hilang terbawa angin sore yang mulai berhembus kencang.
Wawan akhirnya berbalik. Sinar matahari senja yang mengintip dari celah dedaunan mahoni menyinari wajahnya. Matanya tampak merah dan berkaca-kaca, bukan karena amarah yang meledak-ledak seperti saat ia menggedor pintu gudang tadi, melainkan karena ia sedang menahan sesuatu yang amat menyesakkan di dadanya. Ia menatap Ella dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang melihat dunianya baru saja retak menjadi kepingan yang tidak bisa diperbaiki lagi.
"La, dengarkan aku baik-baik," Wawan melangkah selangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka. "Aku bisa terima kalau kamu belum bisa membalas perasaanku. Aku bisa terima jika aku hanya menjadi 'badut' yang bertugas membuatmu tertawa saat kamu sedang sedih atau bosan. Aku bahkan bisa terima jika kamu hanya menganggapku sebagai gangguan yang tidak sengaja lewat di hidupmu. Tapi satu hal yang tidak bisa aku terima adalah melihatmu membiarkan dia mempermainkanmu dengan cara serendah itu."
"Dia bilang dia terpaksa pacaran dengan Lia, Wan... dia bilang dia melakukan semua itu untuk menjagaku dari Lia, karena dia cemburu melihat kita dekat," Ella mencoba membela diri, meskipun jauh di dalam lubuk hatinya, logika dan perasaannya sedang berperang hebat. Ia ingin mempercayai Rizki, ia ingin percaya bahwa dirinya cukup berharga untuk dilindungi melalui sebuah pengorbanan, meskipun cara Rizki terasa sangat bengkok.
Wawan tertawa miris, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam yang tajam. Itu adalah tawa paling menyakitkan yang pernah Ella dengar seumur hidupnya. "Dan kamu mempercayai dongeng itu? La, buka matamu lebar-lebar. Laki-laki yang benar-benar menyayangimu tidak akan pernah menjadikan perempuan lain sebagai tameng atau sandiwara. Itu bukan perlindungan, Ella. Itu adalah bentuk pengkhianatan yang dibungkus dengan alasan manis."
Wawan menghela napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menyakitkan. "Dia itu pengecut yang hanya mau cari aman untuk reputasinya sendiri sebagai ketua kelas teladan. Dia membiarkan kamu menghadapi rundungan satu sekolah sendirian, membiarkan kamu menangis di pojok perpustakaan, sementara dia sibuk bergandengan tangan dengan wanita yang paling membencimu di koridor. Kamu pikir itu cinta, La? Bukan. Itu hanya ego. Baginya, kamu hanyalah piala yang ingin dia simpan di dalam kotak gelap agar tidak diambil orang lain, tapi dia terlalu malu untuk menunjukkannya kepada dunia."
Kata-kata Wawan menghantam logika Ella seperti hantaman godam yang keras dan dingin. Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar suara gesekan daun mahoni yang tertiup angin dan suara napas mereka yang beradu. Ella merasa seolah-olah tabir yang selama ini menutupi matanya perlahan tersingkap.
"Tapi dia jujur bilang kalau dia sayang aku..." gumam Ella pelan, suaranya kini terdengar ragu bahkan bagi telinganya sendiri. Ia mengingat kembali tatapan lapar Rizki di gudang, intensitas suaranya yang memohon sekaligus memerintah. Apakah itu semua hanya dusta?
"Sayang itu dibuktikan dengan perlindungan yang nyata di bawah terang matahari, Ella! Bukan dengan bersembunyi di gudang gelap yang pengap seolah-olah hubungan kalian adalah sebuah aib yang harus disembunyikan dari dunia!" Wawan melangkah mendekat hingga jarak mereka benar-benar terkikis habis. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Ella, memeganginya dengan mantap namun penuh kelembutan, seolah ia sedang memegang porselen yang sangat mudah pecah. Ia memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang terluka.
"Aku tidak akan memaksamu untuk memilihku sekarang. Aku tahu posisi itu sangat tidak adil bagimu saat ini. Aku tahu aku bukan ketua kelas yang tampan atau siswa populer yang diidolakan semua orang. Aku hanya Wawan, si berandalan yang nilainya sering merah," suara Wawan merendah, menjadi sebuah bisikan yang memilukan. "Tapi tolong, aku memohon padamu... jangan pernah rendahkan harga dirimu demi cowok yang bahkan tidak berani menggandeng tanganmu secara terang-terangan di depan teman-temannya. Kamu lebih berharga dari sekadar rahasia di dalam gudang, La."
Sore itu, di bawah bayang-bayang pohon mahoni yang mulai memanjang mengikuti matahari yang tenggelam, Ella melihat sisi lain dari seorang Wawan yang belum pernah ia lihat selama tiga tahun mereka bersekolah di tempat yang sama. Di hadapannya kini bukan lagi si berandalan pelucu yang suka melanggar aturan sekolah atau memanjat pagar hanya untuk sekadar membolos. Ia melihat seorang pria yang sedang patah hati, seorang pria yang jiwanya sedang tercabik, namun tetap berusaha keras menjaga martabat wanita yang ia cintai—bahkan jika wanita itu lebih memilih orang yang menyakitinya.
Wawan perlahan melepaskan tangannya dari bahu Ella. Ia menarik diri, memberikan ruang yang kini terasa sangat dingin bagi Ella. Wawan memberikan sebuah senyum pahit yang dipaksakan, sebuah senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Pulanglah, La. Hari sudah mulai gelap," ujar Wawan pelan. "Aku tidak mau kamu kena masalah lagi dengan orang tuamu atau menjadi bahan gosip lagi jika terlihat bersamaku terlalu lama di taman ini. Biar aku yang mengawasi dari jauh, seperti biasanya. Aku akan tetap menjadi tembokmu, meskipun aku tahu kamu mungkin sedang memikirkan orang lain di balik tembok itu."
Ella berdiri mematung saat Wawan berbalik dan mulai berjalan meninggalkannya menuju arah parkiran motor. Ella berjalan meninggalkan taman belakang dengan perasaan yang porak-poranda seperti baru saja dihantam badai besar. Ia menyadari satu kenyataan pahit yang harus ia hadapi: Rizki menawarkan gairah yang menyesakkan, sebuah romansa penuh rahasia yang memicu adrenalin namun penuh dengan duri yang melukai harga dirinya. Sementara itu, Wawan menawarkan perlindungan yang tulus, sebuah pelabuhan yang tenang meski ia sendiri harus terluka dan berdarah di balik punggungnya demi memastikan Ella tetap aman.
Di dalam hatinya, Ella bertanya-tanya: mampukah ia terus bertahan dalam kotak gelap Rizki, ataukah ia harus memberanikan diri berjalan keluar menuju cahaya yang ditawarkan Wawan, meskipun itu berarti ia harus melepaskan bayang-bayang cinta pertamanya yang sempurna namun semu?
Langkah kaki Ella menggema di koridor yang sunyi, namun suara Wawan masih terngiang-ngiang jelas di telinganya. "Sayang itu dibuktikan dengan perlindungan yang nyata." Kalimat itu kini menjadi benih keraguan yang mulai tumbuh subur di hati sang siswi teladan itu.