SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. KELUARGA LORENZO
Suara langkah kaki di koridor rumah sakit terdengar pelan, namun bagi Celina Lorenzo, bunyi itu terasa seperti dentuman palu yang memukul dadanya berkali-kali.
Langkah itu teratur. Tegas. Berat.
Langkah yang terlalu dikenalnya sejak kecil.
Celina menarik napas, dan langsung terbatuk kecil. Tenggorokannya terasa kering, tubuhnya panas dingin, dan jari-jarinya menggenggam seprai ranjang rumah sakit seolah kain itu satu-satunya pegangan agar ia tidak jatuh ke jurang ketakutan yang mendadak menganga.
Pintu kamar rawat inap terbuka perlahan.
Dan dunia Celina seolah berhenti berputar.
Lucas Lorenzo berdiri di ambang pintu dengan perawakan gagah yang tak terkikis usia. Rambut hitamnya tersisir rapi, rahangnya mengeras, wajah yang sama yang selalu membuat semua orang di ruang rapat terdiam hanya dengan satu tatapan.
Di sampingnya berdiri Camellia Lorenzo, anggun dengan sorot mata yang penuh kecemasan tertahan. Wanita itu menggenggam tasnya erat, seolah menahan emosi yang ingin tumpah.
Dan di belakang mereka ....
Zane Lorenzo.
Kakak laki-laki Celina. Orang yang sejak kecil selalu berdiri paling depan setiap kali dunia berusaha menyentuh Celina dengan kasar.
Celina menelan ludah. Ia tahu kalau ia dalam masalah besar sekarang.
Dada Celina naik turun cepat.
Mereka ada di sini. Benar-benar di sini, di Los Angeles. Mati aku, batin Celina yang tersenyum namun ia panas dingin takur dalam hati.
"C-Celina? Oh, Baby," suara Camellia bergetar pelan. Berjalan lebih dulu dan memeluk Celina yang duduk di ranjang.
Celina memaksakan senyum. Senyum kecil. Senyum yang terlalu rapuh untuk gadis yang biasanya selalu berani menantang dunia.
"H-hai, Dad?"
Matanya bergeser ke ibunya.
"Mom?"
Lalu ke sosok tinggi di belakang mereka yang sudah seperti bodyguard dengan tangan terlipat di depan dada, menatap Celina tajam.
"Brother?"
Celina tersenyum seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal.
Namun senyum itu tak bertahan lama.
"Jangan bilang 'hai' padaku, Princess. Kau tahu kalau kau dalam masalah sekarang, 'kan," kata Lucas. Suara Lucas rendah. Dalam. Tegas.
Lucas melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Suara klik itu terdengar terlalu keras di telinga Celina.
"Kau punya banyak hal yang harus kau jelaskan, Celina Marry Lorenzo," ujar Lucas yang membuat Celina lebih panas dingin lagi ketika mendengar nama lengkapnya disebut.
Zane mendahului ayahnya. Ia melangkah cepat, langsung berdiri di samping ranjang, lalu, tanpa ragu mencubit pipi Celina dengan keras.
"Aku tidak tahu kalau kau senakal ini sekarang. Apa kau tahu betapa paniknya keluargamu ketika mendengar kau ada di Los Angeles dan dirawat di rumah sakit, padahal kau bilang kau liburan dengan temanku ke Disneyland?!" omel Zane.
"Auh!" Celina meringis, menepuk tangan kakaknya. "Brother, lepaskan! Pipiku sakit!"
Zane mendengus. "Kau pantas dicubit. Kalau bisa, Dad menghukummu dan aku tidak akan membelamu kali ini."
Celina menoleh cepat ke arah orang tuanya, wajahnya mengerucut seperti anak kecil yang mengadu.
"Mom, Zane jahat," adu Celina.
Camellia menghela napas, lalu tersenyum tipis, senyum yang menyimpan lebih banyak kekhawatiran dari pada kemarahan.
"Kau tahu betapa paniknya keluarga kita ketika Mr. Morelli menelepon Daddy-mu? Zane bahkan terbang pulang dari Oakland karena bisnis saat mendengarmu terluka di kota lain," kata Camellia lembut namun tegas.
Lucas akhirnya bergerak. Ia mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya yang besar dan hangat menggenggam tangan Celina dengan erat.
"Jangan pernah berbuat nekat seperti itu lagi, Princess," ucap Lucas perlahan. "Kau membuat ayahmu ini hampir kena serangan jantung karenamu."
Celina menunduk.
"Untung saja Auntie-mu sedang di Kanada dan Uncle-mu sedang ada pekerjaan di luar kota," lanjut Lucas. "Jika mereka ada di rumah, kau bisa bayangkan bagaimana panik dan hebohnya mereka."
Zane menyahut, bersedekap. "Dan untungnya kau berurusan dengan keluarga Morelli, teman Dad dan Mom yang masih berbaik hati merawatmu. Coba bayangkan jika bukan mereka. Apa yang akan terjadi padamu?"
Celina menatap Zane dengan air muka seperti ingin mengigit kakaknya itu.
Zane menghela napas. "Sifat impulsifmu itu benar-benar bisa bikin orang jantungan."
Celina mengerucutkan bibir. "Zane berisik seperti pria tua."
Zane mencubit pipi adiknya lagi. "Kau bilang apa tadi?"
"AUH! Zane!" seru Celina.
"Kau benar-benar perlu dihukum saat pulang nanti," ancam Zane. "Akan kukunci perpustakaan kecilmu di rumah."
Celina menoleh cepat ke Camellia dengan wajah memelas.
Camellia menggeleng kecil.
Lucas melirik putrinya dengan tatapan peringatan. "Celina?"
Celina langsung menunduk. "Aku ... minta maaf, Dad. Mom. Brother."
Camellia mendekat dan mengelus wajah Celina dengan lembut. "Sekarang ceritakan. Kenapa kau ada di Los Angeles? Kenapa kau masuk ke perusahaan Morelli sebagai office girl?"
Celina menarik napas panjang.
Dan ia mulai bercerita.
Tentang sahabatnya yang menghilang.
Tentang pencarian yang buntu.
Tentang jejak yang mengarah ke Morelli Corporation.
Tentang keputusannya menyamar sebagai office girl.
Tentang kekacauan yang tak pernah ia sangka akan menyeretnya sejauh ini.
Lucas mendengarkan dalam diam tanpa menyela sedikit pun.
Saat Celina selesai, Lucas menepuk tangan putrinya pelan. "Kenapa tidak bilang dengan Daddy? Kau tahu siapa Daddy. Daddy bisa membantumu mencari Elisa."
Celina menggigit bibirnya. "Aku tahu Daddy pasti bisa. Aku hanya ... tidak sabar. Daddy tahu betapa dekatnya aku dengan Elisa."
Camellia terdiam. "Elisa?"
Nama itu bukan nama asing bagi keluarga Lorenzo. Sahabat baik Celina sejak gadis itu kecil, satu-satunya yang melihat Celina seperti gadis biasa dan bukannya putri konglomerat.
Dan keluarga Celina mengenal baik Elisa karena ia adalah gadis baik hati yang lemah lembut.
Zane membelalak. "Siapa yang menghilang? Jadi Elisa yang menghilang?!"
Celina mengangguk.
Lucas menghela napas berat. "Kenapa tidak bilang dengan Daddy, Princess?"
Air mata Celina jatuh. "Mungkin aku salah ... karena mengambil keputusan terlalu cepat."
Lucas memeluk putrinya erat. Tahu mungkin putrinya saat itu panik, dan mengingat putrinya ini suka melakukan hal apa pun tanpa bantuan orang lain, membuat Lucas tidak bisa marah.
"Tenang, Daddy akan bantu temukan Elisa. Daddy janji," kata Lucas.
Zane ikut mendekat, mengelus kepala Celina. "Kau seharusnya bilang dari awal. Lihat dirimu sekarang, terluka parah dan menangis seperti ikan buntal."
Celina memukul tangan kakaknya.
Zane tertawa.
"Aku akan membantu mencari Elisa," lanjut Zane dengan nada serius. "Aku akan minta bantuan Auntie dan Grandma Lili."
Lucas mengangguk. "Tapi untuk sekarang, lebih baik kau menetap di sini dulu. Kau tahu apa yang akan terjadi jika keluarga yang lain terutama Grandma dan Grandpa-mu tahu kalau kau terluka sampai mematahkan tulang bahumu seperti ini, 'kan?"
Celina mengangguk. Ia tahu. Keluarganya terlalu protektif. Bisa-bisa kakek dan neneknya akan memporak-porandakan Los Angeles.
Lalu ...
Zane menyeringai. "Jadi katakan padaku," katanya santai.
"Apa?" sahut Celina.
"Apa kau pacaran dengan putra Morelli?" tanya Zane.
"Hah?" Celina membeku.
Lucas berdiri dengan wajah seperti ingin menelan seseorang. "Apa kau bilang, Zane? Siapa yang berani mendekati putri yang kecilku?"
Zane menyilangkan tangan. "Theodore. Putra Hans Morelli. Dia bilang jangan memarahi Celina. Katanya Celina tidak salah apa pun. Celina masih sakit, dan sebagainya."
Lucas menggeram pelan. "Dia pria pertama yang melihat putriku seperti gadis lemah.
"Dilihat dari gelagatnya sepertinya Morelli muda itu menyukai Celina," tambah Zane.
"Interograsi atau eksekusi?" tanya Lucas pada Zane.
Camellia memukul punggung dua pria itu.
"Jangan aneh-aneh!"
Wajah Celina memerah.
Zane berseru, "Dad, lihat wajahnya! Gadis kecil ini tersipu!"
Lucas langsung melangkah keluar. "Bocah bernama Theodore ini harus melangkahi mayatku dulu."
"Dad?!" panggil Celina panik.
Namun Lucas sudah pergi dan diikuti oleh Zane.
Celina hanya bisa menghela napas dan berdoa agar Theo baik-baik saja.
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️
up lagi
up lagi
kok aku ngelag yaa🤭
mang ada runtutan nya.
karena kalau normalnya, walaupun punya ingatan fotografi
tapi ga sedetail dan sekuat itu
othorrt,akh padamu da ah
q bacanya saja bikin OTAK panas...apalagi season LUCAS FAMILY ?