Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 9_Jebakan
Di sana, Adrian benar-benar memanggul beberapa kotak besar di depan mandor gudang yang merupakan orang suruhan Hendra.
Ini dilakukan untuk berjaga-jaga jika ada tetangga atau mata-mata keluarga Arumi yang lewat.
Tak disangka, Siska benar-benar ada di sana.
Siska kebetulan sedang lewat bersama temannya menggunakan taksi online.
Ia meminta supir berhenti ketika melihat sosok yang mirip kakak iparnya di depan gudang.
"Tunggu, itu si Ian, kan?" tanya Siska pada temannya.
Siska turun dari mobil dan menghampiri Adrian yang sedang mengelap keringat (kali ini keringat asli karena matahari sedang terik-teriknya).
"Heh, Gembel!" teriak Siska sambil menutup hidungnya.
"Benar-benar menjijikkan melihatmu seperti ini. Kau tahu tidak gara-gara kau membawa sial ke rumah, kalung emas Mama disita petugas kemarin!"
Adrian menaruh kotak yang ia panggul, ia menatap Siska dengan pandangan datar.
"Itu bukan salahku, tapi itu karena kalian memakan yang bukan hak kalian." seru Adrian.
"Halah! Jangan menceramahiku! Dengar ya, kalau dalam dua minggu kau tidak bisa melunasi sisa hutang itu, aku sendiri yang akan menyeret Kak Arumi ke rumah Pak Broto, kau itu tidak berguna Ian! Lihat dirimu cuma buruh rendahan yang bau matahari!" Siska meludah ke tanah di dekat kaki Adrian, lalu pergi dengan angkuh.
Adrian mengepalkan tangannya, amarahnya memuncak, bukan karena hinaan untuk dirinya, tapi karena ancaman Siska terhadap Arumi.
Ia segera merogoh ponsel pintarnya (bukan ponsel jadul) yang ia sembunyikan di saku rahasia.
"Hendra, eksekusi rencana kedua," perintah Adrian melalui earpiece tersembunyi.
"Adik iparku, Siska, dia punya obsesi jadi model kan? Masukkan dia ke agensi 'palsu' milik kita. Beri dia harapan tinggi, lalu jatuhkan dia sekeras mungkin di saat dia merasa sudah di puncak, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehancuran harga diri."
Sore harinya, Adrian pulang ke rumah dengan langkah gontai yang dibuat-buat agar terlihat lelah.
Arumi sudah menunggu di depan pintu gudang belakang, begitu melihat suaminya Arumi langsung menyodorkan handuk basah yang dingin untuk mengelap wajah Adrian.
"Mas pasti capek sekali hari ini," ujar Arumi lembut.
Adrian menatap istrinya, kontras antara kekejaman dunia bisnis dan kelicikan keluarga Arumi dengan ketulusan yang ada di depan matanya saat ini membuat Adrian merasa bahwa penyamaran ini adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan.
"Lelahku hilang melihatmu, Arumi," jawab Adrian jujur.
Namun, kedamaian itu terganggu oleh teriakan Bu Ratna dari dalam rumah.
"Arumi! Mana makanan?! Ibu lapar! Gara-gara bantuan sosial itu ditarik, tidak ada apa-apa di kulkas!"
Arumi tampak panik. "Mas, aku masuk dulu ya. Aku harus memasak nasi goreng untuk Ibu."
Adrian menahan tangan Arumi. "Tunggu. Aku membawa sesuatu."
Adrian mengeluarkan sebuah kantong plastik hitam, di dalamnya ada dua bungkus martabak telur spesial yang ia beli di pinggir jalan tadi meskipun sebenarnya ia bisa membeli restoran martabaknya sekaligus.
"Berikan satu untuk Ibu dan Siska agar mereka diam. Satu lagi, kita makan berdua di dalam gudang, aku tidak ingin kau kelaparan lagi malam ini." kata Adrian.
Arumi mengangguk haru, ia memberikan satu bungkus ke meja makan utama, di mana Bu Ratna dan Siska langsung menyambarnya tanpa mengucapkan terima kasih.
Sementara itu, di dalam gudang yang sempit, Adrian dan Arumi duduk di atas tikar, berbagi martabak dalam suasana yang sangat sederhana namun penuh kasih.
"Mas," panggil Arumi pelan di sela makannya.
"Ya?"
"Tadi Siska bilang dia dapat panggilan audisi dari agensi besar di pusat kota. Dia senang sekali. Katanya kalau dia sukses, dia akan mengusir kita. Aku takut, Mas... aku tidak mau kita terpisah."
Adrian menggenggam tangan Arumi yang berminyak karena martabak.
Ia menatap mata istrinya dengan keyakinan seorang raja.
"Percayalah padaku, Arumi. Selama aku ada di sini, tidak akan ada yang bisa mengusirmu. Justru mereka yang akan memohon-mohon padamu suatu hari nanti. Tidurlah yang nyenyak masa depan kita tidak sesempit gudang ini."
Malam itu, di bawah temaram lampu gudang, Adrian berjanji dalam hati.
Agensi model yang memanggil Siska adalah agensi miliknya, ia akan membiarkan Siska bermimpi setinggi langit, sebelum akhirnya ia menarik kembali semua itu untuk memberi pelajaran tentang kerendahan hati.
Sementara untuk Arumi, ia sudah menyiapkan kejutan besar yang akan membuat seluruh keluarga itu menyesal telah menyia-nyiakannya.
Pagi di rumah keluarga Arumi diawali dengan pekikan histeris Siska.
Gadis itu berlarian di ruang tamu sambil memegang ponselnya, melompat-lompat seolah baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.
Bu Ratna, yang sedang mengomel karena kopi buatannya kurang manis, langsung menoleh dengan wajah penasaran.
"Mama! Mama lihat ini!" teriak Siska histeris.
"Aku dapat email dari Vogue-Elite Agency! Mereka bilang aku punya potensi luar biasa dan mereka mengundangku untuk kontrak eksklusif sebagai model utama kampanye terbaru mereka!" teriaknya dengan begitu senang.
Bu Ratna melebarkan matanya, senyum serakah langsung merekah di wajahnya yang keriput.
"Benarkah? Vogue-Elite? Bukankah itu agensi yang iklannya ada di papan reklame raksasa di pusat kota?"
"Iya, Ma! Ini agensi papan atas! Mereka bilang mereka melihat fotoku di media sosial. Wah, aku akan jadi artis kaya Ma! Kita bisa pindah dari rumah butut ini dan membuang Arumi beserta suami gembelnya itu ke tempat sampah!"
Arumi yang sedang menyapu lantai di dekat sana berhenti sejenak, ada rasa perih di hatinya mendengar ucapan adiknya, namun ia tetap mencoba tersenyum.
"Selamat ya Siska, semoga sukses dengan kariermu." ucapnya dengan tulus.
Siska mendengus dengan sombongnya. "Jangan sok baik kak karena sebentar lagi aku akan berada di dunia yang tidak bisa kau sentuh dan kau tetaplah di sini, mencuci baju dan merawat suamimu yang bau keringat itu."
Di ambang pintu dapur, Adrian berdiri sambil memperhatikan pemandangan itu.
Ia baru saja selesai mengenakan kaos lusuhnya untuk berangkat "kerja".
Di balik wajahnya yang tampak lesu, ia menyembunyikan senyum dingin.
Vogue-Elite adalah anak perusahaan dari divisi lifestyle Arkadia Group, ia sendiri yang memerintahkan Hendra untuk memberikan "harapan palsu" itu pada Siska.
Ia ingin melihat seberapa tinggi Siska akan terbang sebelum sayap buatannya ia patahkan.
Setelah berpamitan dengan Arumi, Adrian tidak langsung menuju mobil jemputannya.
Ia singgah sebentar di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, menunggu Hendra yang sudah membawa tablet dan beberapa dokumen penting.
"Tuan Muda," sapa Hendra sambil menyodorkan kopi hitam tanpa gula kesukaan Adrian.
"Semua sudah siap. Siska sudah masuk ke dalam jebakan, kami akan memberinya fasilitas mewah sementara seperti mobil jemputan dan pakaian desainer untuk membuatnya merasa benar-benar sudah menjadi bintang tapi kontraknya memiliki klausul perilaku moral, begitu dia berbuat kasar atau menghina orang lain di depan publik, kita punya alasan sah untuk menuntutnya kembali dengan denda sepuluh kali lipat." ucap Hendra.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...