"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Mengejar Bayangan di Jendela
Mobil hitam itu bergerak pelan melintasi jalan setapak berkerikil. Achell terus menempelkan wajahnya ke kaca jendela yang dingin, matanya menyisir setiap sudut fasad mansion keluarga Edward yang angkuh. Ia tidak mencari Bibi Martha. Ia tidak mencari koper-kopernya. Ia mencari satu sosok yang ia harapkan muncul di salah satu jendela lantai atas.
Tolong, Uncle. Sekali saja. Lihatlah ke arah mobil ini, batin Achell memohon dalam diam.
Namun, tirai-tirai beludru itu tetap tertutup rapat. Kecewa mulai merayap di dadanya, namun rasa cintanya yang buta jauh lebih kuat. Secara tiba-tiba, Achell memukul bagian belakang kursi pengemudi.
"Berhenti! Pak Thomas, berhenti sebentar!" teriak Achell panik.
Sopir tua itu menginjak rem dengan terkejut. "Ada apa, Nona Achell? Ada barang yang tertinggal?"
Tanpa menjawab, Achell membuka pintu mobil sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti sempurna. Ia turun dan berlari kembali menuju mansion. Gaun rapinya yang baru saja disetrika kini kembali kusut terkena angin pagi. Rambutnya yang ia gerai panjang agar terlihat dewasa, kini berantakan menutupi wajahnya.
Ia berhenti di bawah jendela ruang kerja Victor. Ia tahu Victor ada di sana. Ia tahu pria itu tidak benar-benar pergi ke kantor sejak subuh; mobil kantor Victor masih ada di garasi samping.
"Uncle Victor!" Achell berteriak sekuat tenaga, mengabaikan udara pagi yang menusuk paru-parunya. "Uncle! Aku tahu kau di dalam!"
Hening. Tidak ada jawaban.
"Aku akan pergi ke asrama! Aku akan belajar dengan giat! Aku akan menjadi wanita yang kau inginkan!" Achell terus berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Hanya... hanya beri aku satu tanda bahwa kau mendengarku!"
Beberapa detik berlalu seperti selamanya.
Tiba-tiba, tirai di lantai dua bergerak sedikit. Achell menahan napas. Jantungnya berdegup kencang karena harapan yang meluap-luap. Ia melihat siluet tinggi Victor berdiri di sana, samar-samar di balik kaca. Pria itu menatap ke bawah, ke arah gadis kecil yang tampak menyedihkan di tengah halaman luas tersebut.
Namun, alih-alih membuka jendela atau melambaikan tangan, Victor justru menarik tirai itu hingga tertutup rapat kembali. Seolah-olah pemandangan di bawah sana adalah gangguan yang merusak estetika paginya.
Achell tersentak. Lututnya terasa lemas. Penolakan tanpa kata itu jauh lebih menyakitkan daripada bentakan semalam.
"Nona Achell, kita harus berangkat sekarang agar tidak terlambat," suara Pak Thomas terdengar ragu di belakangnya.
Achell perlahan berbalik. Wajahnya yang semula penuh harap, kini tampak pucat dan kosong. Ia berjalan kembali ke mobil dengan langkah gontai. Ia merasa sangat bodoh. Benar-benar bodoh. Ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri di depan pria yang menganggapnya tidak lebih dari sekadar debu di sepatunya.
Di dalam mobil, Achell duduk memeluk tas kecilnya. Ia merogoh saku gaunnya dan menemukan sekuntum bunga melati yang sempat ia selamatkan dari mahkota yang hancur tadi pagi. Bunga itu sudah mulai layu, kelopaknya kecokelatan.
"Dia benar," bisik Achell pada dirinya sendiri, suaranya bergetar karena isak tangis yang mulai pecah. "Aku memang anak kecil yang konyol. Aku hanyalah lelucon baginya."
Achell mencium bunga melati itu untuk terakhir kalinya, lalu menurunkan kaca jendela mobil sedikit saja. Dengan tangan gemetar, ia menjatuhkan bunga itu ke aspal jalanan, membiarkannya tertinggal di belakang saat mobil melaju keluar dari gerbang besi keluarga Edward.
Ia tidak melihat bahwa di balik tirai lantai dua yang tertutup tadi, tangan Victor masih menggenggam kain beludru itu dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih. Victor melihat segalanya. Ia melihat Achell yang berlari, ia melihat Achell yang menangis, dan ia melihat bunga yang jatuh itu.
Victor Louis Edward mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. Namun, ia segera memutar tubuhnya, kembali ke meja kerjanya yang penuh dengan kontrak bernilai jutaan poundsterling.
"Dia akan melupakanku dalam sebulan," gumam Victor dengan suara rendah yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Dia hanya seorang anak kecil. Ini hanya obsesi yang akan hilang ditelan waktu."
Victor tidak tahu bahwa waktu tidak akan menelan perasaan Achell. Waktu justru akan mengasahnya menjadi sesuatu yang tajam, yang suatu saat nanti akan menusuk balik jantungnya sendiri.