NovelToon NovelToon
Penguasa Yang Sesungguhnya

Penguasa Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:28.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....





yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ke-sebelas

Suasana kantin yang tadinya bising oleh denting sendok dan tawa mahasiswa, mendadak senyap secara bertahap. Fokus semua orang tertuju pada sebuah meja di sudut. Najwa duduk tegak dengan punggung lurus sempurna, jemarinya yang lentik sedang merapikan kotak bekal kayu miliknya. Di depannya, Sarah, teman barunya melakukan hal yang sama, ia membawa bekal setiap hari nya, bukan karena ia orang miskin, melainkan tubuhnya lemah,jadi tidak bisa memasukkan makanan-makanan sembarangan selain koki rumahnya yang memasak.

Di seberangnya, Raisa berdiri mematung dengan wajah yang berubah-ubah warna, antara merah padam karena amarah dan pucat karena malu,ia masih teringat kejadian tadi pagi, dimana semua orang menatap dirinya remeh, gara-gara kakaknya , Alendra lebih membela Najwa daripada dirinya,

Raisa melihat bakso yang berada di atas nampannya , dan asapnya masih mengepul , ia tersenyum licik...Raisa menuangkan sambal yang cukup banyak....ia pura-pura sibuk mengaduk-aduk minuman.

"Aduh, lihat nih... ada mahasiswi elit tapi makannya bawa bekal dari rumah. Takut nggak kuat bayar harga makanan kantin ya?" suara Raisa melengking, dagunya terangkat angkuh, matanya menyipit penuh hinaan.

Najwa mendongak perlahan. Tidak ada gurat kaget atau tersinggung di wajahnya. Ia justru tersenyum tenang, sebuah senyum yang tulus namun terasa memiliki "jarak".

"Bukan tidak kuat bayar, Kak Raisa," jawab Najwa lembut, tangannya terlipat rapi di atas meja. "Tapi menghargai masakan di rumah adalah bentuk syukur. Lagipula, bekal ini lebih terjamin kehalalan dan kebersihannya."

Raisa mendengus keras, mencibir hingga bibirnya miring ke samping. "Halal-halal terus. Sok suci banget sih!"

Raisa kemudian melangkah, namun gerakannya dibuat-buat. Saat tepat berada di sisi Najwa, ia sengaja menghentakkan kakinya. "Ups! Aduh!"

Nampan itu miring dengan sudut yang disengaja. Kuah panas yang mengepul itu meluncur deras menuju jilbab putih Najwa. Namun, dalam hitungan detik, Najwa melakukan gerakan yang tidak terduga. Tanpa berdiri dari kursinya, ia menggeser tubuhnya ke kiri dengan sangat luwes, tangan kanannya menyambar kotak bekal dan buku HI-nya dengan satu gerakan sapuan.

Syuuut!

BYUURRR!

Kuah itu melewati tempat Najwa tadi berada dan mendarat telat di lantai, menyemprot balik tepat ke arah sepatu limited edition milik Raisa.

"Aaaakkkhhh!

Sepatu limited edition gue!" Raisa menjerit histeris, kakinya dihentak-hentakkan seperti anak kecil. Ia melihat noda sambal merah menempel di kulit sepatu mahalnya.

Najwa berdiri dengan sangat tenang. Tidak ada satu pun tetesan kuah yang mengenai gamisnya. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, lalu menyodorkannya dengan gerakan tangan yang sangat sopan, namun matanya menatap lurus ke dalam mata Raisa.

"ya Allah.., Kak Raisa. Hati-hati," ucap Najwa datar.

"Ini gara-gara lo! Kalau lo nggak menghindar, sepatu gue nggak bakal kena!" bentak Raisa. Jari telunjuknya gemetar menunjuk wajah Najwa, dadanya naik turun karena napas yang memburu.

Najwa tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, membuat Raisa refleks terdiam. Tatapan Najwa mendadak menjadi sangat tajam, mengingatkan semua orang pada wibawa Kakek Suhadi.

"kalau saya tidak menghindar, artinya saya dong yang harus kena kuah bakso mu itu....Kak Raisa," ucap Najwa, suaranya kini terdengar lebih rendah namun bergema di tengah keheningan kantin. "Dalam ilmu logika yang kita pelajari di kelas tadi, setiap aksi memiliki reaksi. Kakak berniat menumpahkan kuah itu ke saya, tapi hukum alam mengembalikannya kepada Kakak sendiri. Itu bukan salah saya, itu adalah konsekuensi dari ketidakhati-hatian Kakak."

"Lo... lo berani ceramahin gue?!" Raisa mengangkat tangan tinggi-tinggi, wajahnya mendekat ke wajah Najwa dengan ekspresi garang. Hendak menampar Najwa.

Najwa tidak berkedip sedikit pun...

Hap....

Dengan gerakan cepat,Najwa memegang pergelangan tangan Raisa dengan kencang, lalu menghentakkan tangan Raisa.

"Saya tidak menceramahi, saya hanya mengingatkan," potong Najwa dengan nada tegas yang mematikan argumen Raisa. "Di sini banyak orang, Kak. Menunjukkan kemarahan yang tidak pada tempatnya hanya akan menurunkan martabat Kakak sebagai putri keluarga terpandang."

Najwa sedikit memiringkan kepalanya, menatap sepatu Raisa dengan tatapan kasihan. "Lebih baik Kakak segera ke toilet untuk membersihkannya sebelum nodanya permanen. Mau saya bantu?" tawar Najwa tersenyum polos.

Raisa merasa seluruh kantin sedang menertawakannya. Bisikan-bisikan mahasiswa mulai terdengar seperti dengungan lebah di telinganya.

"Gila, tenang banget si Najwa," bisik seorang mahasiswa.

"Raisa malu-maluin banget ya, niatnya mau nge-bully malah kena sendiri," sahut yang lain.

Alendra, yang sedari tadi memperhatikan dari meja seberang, berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekat dengan tangan di saku celana. Ia menatap Raisa yang tampak seperti pecundang, lalu melirik Najwa. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya, namun ia segera menutupinya dengan wajah dingin.

"Raisa, cukup. Pergi ke toilet sekarang. Kau terlihat berantakan," ucap Alendra pendek.

Raisa menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berlari pergi bersama teman-temannya sambil menangis sesenggukan. Tapi sebelum benar-benar pergi, Raisa berbalik sebentar, matanya menatap tajam pada Najwa.

" awas ya Lo ... Najwa, gue akan aduin Lo ke mama dan kakek" lalu Raisa pergi dengan membawa amarah yang menggebu-gebu.

Najwa kembali duduk, merapikan kembali kotak bekalnya seolah tidak terjadi apa-apa. Alendra menatap adiknya itu cukup lama.

"Kau belajar bela diri di pesantren?" tanya Alendra tiba-tiba.

Najwa mendongak, tersenyum kecil. "Kami belajar cara menjaga diri, Kak. Bukan untuk menyerang, tapi agar tidak mudah dijatuhkan."

Alendra hanya mendengus, namun sebelum pergi, ia meletakkan sebuah kotak susu cokelat dingin di meja Najwa. "Minumlah. Tenaga lo pasti habis buat dengerin teriakan Raisa tadi."

Najwa terpaku menatap susu cokelat itu, lalu menatap punggung Alendra yang menjauh. Di kejauhan,

Keheningan yang menyusul setelah kepergian Raisa terasa sangat kental. Puluhan pasang mata masih tertuju pada Najwa, seolah mereka baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan sulap di mana sang penyihir tidak menggunakan mantra, melainkan ketenangan yang luar biasa.

Najwa menarik napas panjang, lalu perlahan membuka kotak susu pemberian kakaknya,lalu ia meminumnya sedikit, kemudian ia merapikan buku-buku yang tadi sempat ia geser ke samping. Gerakannya sangat anggun, ia merapikan ujung jilbabnya yang sedikit bergeser, lalu kembali membuka kotak bekalnya seolah-olah tumpahan kuah panas dan teriakan histeris tadi hanyalah embusan angin lalu.

Sarah, teman baru Najwa yang sedari tadi menahan napas sampai wajahnya memucat, akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia mendekatkan kursinya ke arah Najwa, matanya membelalak lebar.

Sarah berbisik dengan nada tidak percaya. "Najwa... kamu... kamu itu manusia atau apa? Aku tadi sudah mau jantungan pas liat kuah bakso itu melayang ke arahmu. Gimana bisa kamu menghindar secepat itu tapi tetep keliatan... kalem?"

Najwa menoleh, matanya yang jernih menatap Sarah dengan binar jenaka.

"Di pesantren, kalau kita telat bangun subuh, hukumannya harus lari keliling lapangan sambil membawa baki air di atas kepala tanpa tumpah, Sarah. Mungkin itu yang membuat refleksku sedikit lebih peka."

Mendengar itu, Sarah tertawa kecil, memecah ketegangan di meja mereka. Namun, di meja-meja lain, suasana masih terasa canggung. Mahasiswa-mahasiswa senior yang biasanya memuja Raisa kini saling pandang dengan canggung.

1
juwita
pengabdian apa? yg ada malah ngehabisin harta mrk🤣🤣
@Mita🥰
wah yang nolong si Raisa cari mati
isnaini naini
kbenaran itu ibarat air sesulit apapun psti mbemukan jln...smngt njwa....
Dewi kunti
ILu ap thor
Dewi kunti: weeeeehhh 🤭
total 2 replies
Sri Supriatin
didikan harta n kebencian sdh me darah daging di badan Raisa 🤭 tks upnya Thor 🙏🙏
suti markonah
lanjut thorr💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
suti markonah
hal yg menegangkan akan terjadi lg..kini raisa merasa di atas krna ada ke kayaan ibu kandungnya..tp aku yakin najwa tidak akan pernah terkalahkan..sekali jari najwa menari di atas keyboad perusahan santi gulung tikar😂
irma hidayat
dikasih kesempatan selamat makin kotor hati dan niatmu raisa dasar udah tabiat setan
vivinika ivanayanti
Heemmmm bearti memang Hati Raisa itu yg sakit 🤭🤭
Mundri Astuti
pretlah afkar ..
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong
Dewi kunti
lha pengabdian,ap yang dihasilkan 🤔🤔🤔🤔🤔
Mundri Astuti
jangan" org tuanya Raisa
Yuli Budi
waduh malah kecolongan 🤦
Yuyun Srie Herawati
apa ini yg di definisi mafia syariah thor
suti markonah
skrg dah bisa komen lg thorrr🤭..kmrn lg layat..maaf curhat
suti markonah
alendra dan adriansyah dapat kejutan bertubi tubi melihat sisi lain dr adiknya najwa yg seharusnya mereka lindungi..tp malah terbalek..malah adiknya yg pegang kendali keluarga suhadi..😂😂😂
suti markonah
mungkinkah raisa sengaja di persiapkan di buang di depan pagar rumah agar bisa masuk di keluarga suhadi oleh musuh ?hmmm penasaran
Sri Supriatin
tkd upnya 👍👍
irma hidayat
lah si iblis raisa ada yg menyelamatkan harusnya membusuk dipenjara
irma hidayat
yg sebenarnya perempuan iblis tu kamu raisa, karna iblis sombong seperti kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!