Liam, adalah anak terbuang. dari kecil hingga dewasa, dia tidak pernah merasakan memiliki keluarga. bahkan di masa tua nya, dia belum pernah merasakan cinta.
Walaupun memiliki harta yang berlimpah, namun kekayaan itu terasa tidak berguna. hingga akhirnya dia meninggal, dan terlahir kembali.
dia terlahir kembali ke umur dua puluh tahun. namun yang aneh adalah, dia terlahir kembali, dan langsung di nikahi oleh seorang gadis cantik dan manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Parhusib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Satu minggu lagi berlalu, hari-hari yang sibuk telah Liam jalani. Untuk satu minggu ini, selain menghancurkan kasino keluarga Arison yang tersisa, Liam tidak melakukan guncangan lain, terhadap keluarga Arison.
Meski begitu, keluarga Arison sudah kepalang takut, dengan apa tindakan Liam selanjutnya. Mereka selalu berjaga-jaga dengan serangan Liam, yang tidak tahu kapan datangnya.
Karna dari kehancuran kasino kasino itu, keluarga Arison sudah mengalami kerugian yang sangat besar.
Satu kasino mungkin bukan hal yang terlalu berdampak, tapi puluhan kasino itu, adalah bisnis keluarga Arison yang sangat menguntungkan.
Puluhan miliar perbulan, bisa mereka hasilkan dari kasino kasino itu. Tapi sekarang, semuanya telah hancur, semua penghasilan mereka dari kasino itu, tidak akan pernah ada lagi.
Bukan hanya itu, tapi bisnis mereka yang lain, malah ikut terdampak.
Untuk saat ini, yang paling merasakan dampaknya adalah, semua rumah sakit milik keluarga Arison.
Selama satu Minggu ini, pengunjung rumah sakit, sudah sangat berkurang.
Para pasien yang datang berobat, hanya karna tidak ada pilihan lain. Jika suatu saat, banyak rumah sakit baru, yang dapat menggantikan ini, mungkin rumah sakit keluarga Arison, akan bangkrut dan tutup.
Pagi yang cerah, menyinari kamar yang mewah. Liam membuka kelopak matanya, dan melihat langit-langit kamar yang sering dia temui saat bangun tidur.
Liam bangun dan melihat ke samping, tempat istrinya tidur, tapi Yuna sudah tidak ada di sana.
Liam terkejut, melihat jam yang masih menunjukkan pukul lima pagi. "Ini bukan kebiasaan bangun tidur Yuna," gumamnya.
Karna sudah bersama selama satu bulan, Liam tahu, kalau Yuna tidak akan bisa bangun pagi-pagi.
Kebiasaan bangun Yuna adalah, bangun di jam tujuh pagi, bangun jam enam, sudah hal yang luar biasa baginya.
Saat sedang kebingungan, Liam mendengar suara pintu otomatis kamar mandi yang terbuka.
Yuna keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya terasa lemas, dan perutnya sedikit mual. Liam, suaminya, sedang duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Liam, menghampiri Yuna.
Yuna menghela napas panjang. "Aku nggak enak badan, Liam. Mual banget dari tadi."
Liam memeluk Yuna dengan erat. "Kamu sakit? Mau aku panggilin dokter?"
Yuna menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, sayang. Mungkin cuma masuk angin aja."
"Tapi wajah kamu pucat banget," kata Liam, menyentuh pipi Yuna. "Coba sini aku periksa."
Liam membawa Yuna ke tempat tidur dan membaringkannya. Dia memeriksa suhu tubuh Yuna dan memijat pelan keningnya.
"Mungkin kamu kecapekan aja, sayang," kata Liam, menenangkan Yuna. "Kamu istirahat aja ya. Aku bikinin teh hangat."
Yuna tersenyum lemah. "Makasih ya, sayang. Kamu emang suami terbaik."
Liam mencium kening Yuna dan beranjak dari tempat tidur. Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk istrinya.
Saat Liam sedang membuat teh, Yuna memegangi perutnya. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Dia teringat akan keterlambatan datang bulan yang sudah beberapa hari ini dialaminya.
"Apa mungkin... aku hamil?" gumam Yuna dalam hati.
Jantung Yuna berdebar kencang. Dia merasa gugup dan bahagia sekaligus. Dia tidak sabar untuk memberitahukan kabar ini kepada Liam.
Liam kembali ke kamar dengan membawa secangkir teh hangat. Dia memberikan teh itu kepada Yuna dan duduk di sampingnya.
"Diminum ya, sayang. Biar badan kamu enakan," kata Liam.
Yuna meminum teh itu perlahan-lahan. Setelah beberapa teguk, dia merasa sedikit lebih baik.
"Liam," panggil Yuna, menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.
"Iya, sayang?" jawab Liam, menggenggam tangan Yuna.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," kata Yuna, dengan suara bergetar.
Liam menatap Yuna dengan penuh perhatian. "Kamu mau ngomong apa, sayang?"
Yuna menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku kayaknya hamil, Liam."
Liam terdiam sejenak. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu... hamil?" tanya Liam, dengan nada tidak percaya.
Yuna menganggukkan kepalanya. "Iya, sayang. Aku telat datang bulan udah beberapa hari ini, dan aku ngerasa ada yang aneh di dalam diri aku."
Liam langsung memeluk Yuna dengan erat. Dia sangat bahagia mendengar kabar ini.
"Ya Tuhan, sayang. Ini beneran?" tanya Liam, dengan mata berkaca-kaca.
Yuna mengangguk lagi. "Iya, sayang. Aku yakin."
Liam mencium Yuna dengan penuh kasih sayang. "Aku sayang banget sama kamu, Yuna. Makasih udah kasih aku hadiah yang paling indah ini."
Yuna membalas pelukan Liam dengan erat. Dia merasa sangat bahagia dan bersyukur.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Liam," kata Yuna, dengan air mata bahagia yang menetes di pipinya.
Liam sudah tahu pasti, kalau Yuna akan hamil. Karna dari kehidupan sebelumnya, dia sudah mengetahui hal itu. Jadi, dia sudah menyiapkan diri, untuk kejadian ini.
Tapi, mendengar langsung dari Yuna, kalau istrinya ini sudah hamil. Entah kenapa, perasaan Liam mencapai puncak kebahagiaan, dari dua kehidupan.
Ini mungkin terjadi, karna Liam sudah hidup sangat lama, dan dia belum pernah memiliki keturunan, jadi dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sesungguhnya ini.
Dan sekarang, melihat Yuna di depannya, mengatakan bahwa dia sedang hamil. Liam melihat istrinya ini, istri yang di kehidupan sebelumnya, bukan siapa-siapa nya, tapi mengandung anaknya. Kini sedang mengandung anaknya, dan sudah menjadi istrinya.
Dia sudah berhasil menjaga istrinya, tidak membiarkan nya hancur lagi, karna mengandung anaknya.
Semua itu, masuk kedalam hatinya, yang membuat semua penyesalan nya hilang. Melihat istrinya yang sudah mengandung anaknya, Liam merasa seakan-akan tujuan hidupnya telah berubah.
Semua dendam dan penyesalan seakan hilang, tujuan baru nya adalah, untuk menjaga kedua keluarga kecilnya ini. Dia akan membuat anaknya yang belum lahir ini, menjadi anak paling bahagia di dunia.
Dan untuk melakukan itu, dia harus menyiapkan segalanya, sebelum kelahiran anaknya ke dunia.
Dia harus melakukan usaha terbesarnya, dan tersibuk nya. Untuk menyelesaikan semua masalah nya, agar saat anaknya terlahir ke dunia. Liam tidak di sibukkan lagi dengan bisnis dan dendamnya.
Dia ingin hidup santai bersama keluarga barunya, setelah anaknya lahir. Dia ingin selalu bersama keluarganya, melihat anaknya tumbuh semakin besar, mengajari anaknya semua hal yang indah, dan memberikan anaknya senyum kebahagiaan yang sempurna.
Karna jujur, dari dalam lubuk hati Liam yang terdalam. Dia sudah sangat lelah dengan semua dendam, dan bisnis yang memusingkan ini.
Dia ingin menjauh sejenak, menghilangkan semua itu, dan membiarkan dia dan keluarganya kecilnya, hidup bersama, di tempat yang indah.
Tapi, untuk melakukan itu, Liam membutuhkan kekuasaan, yang mampu memberikan apa pun yang anaknya inginkan.
Jadi, sebelum anak nya lahir, Liam harus mempersiapkan segalanya, agar saat waktunya tiba, Liam sudah bisa berpaling dari semua ini, dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.