NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Yang Tersembunyikan

Keesokan paginya datang dengan sangat cepat, dibawa oleh suara burung perkutut yang berkicau dari percabangan pohon jati di dekat rumah Kakek Sembilan. Cahaya matahari pagi menerobos celah-celah pepohonan dengan lembut, menyinari rerumputan yang masih ditutupi titik-titik embun seperti mutiara yang berkilauan. Udara hutan terasa sangat segar, diisi dengan aroma daun segar dan tanah yang masih lembap dari embun pagi.

Ridwan sudah bangun lebih awal dari biasanya, telah menyelesaikan latihan beladiri hariannya di halaman belakang rumah yang ditumbuhi rumput rapi. Ia berdiri dengan tubuh yang berkeringat ringan, menghirup udara segar dengan dalam sambil melihat ke arah jalan yang keluar dari hutan—jalan yang akan ia tempuh ketika saatnya tiba untuk pergi ke Bandung.

“Sudah siapkah kamu, nak?” suara Kakek Sembilan terdengar dari pintu rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu dan kayu jati yang kokoh. Ia mengenakan baju kerja yang bersih, dengan topi rotan di kepalanya dan tas kanvas tua yang tergantung di pundaknya. “Ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu sebelum kamu pergi.”

Ridwan segera menghampiri kakek dengan langkah yang ringan dan stabil, wajahnya penuh dengan rasa penasaran. Selama delapan tahun tinggal bersama Kakek Sembilan, ia tahu bahwa kakek memiliki banyak rahasia yang belum pernah ia ungkapkan—rahasia yang terkadang terlihat dari barang-barang kuno yang tersimpan di dalam rumahnya yang sederhana namun penuh dengan cerita.

“Aku sudah merencanakan hal ini sejak kamu mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu siap untuk menghadapi dunia luar,” ujar Kakek Sembilan sambil membuka pintu masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Udara di dalam rumah terasa hangat dan penuh dengan aroma kayu dan ramuan kering yang disimpan dengan rapi di rak-rak kayu yang mengelilingi ruangan utama. “Ada sesuatu yang milik ibumu—sesuatu yang dia tinggalkan sebelum dia pergi, sesuatu yang aku janjikan akan kuberi padamu pada saat yang tepat.”

Ridwan merasa hati nya berdebar kencang mendengar kata-kata itu. Ia mengikuti Kakek Sembilan melalui ruangan utama yang dihiasi dengan berbagai macam alat pengobatan tradisional—cangkir tanah liat, lesung batu, cobek dan ulekan, serta rak-rak yang penuh dengan ramuan kering yang telah dikeringkan dengan cara khusus. Di sudut ruangan, ada sebuah lemari kayu besar yang terbuat dari kayu mahoni tua, dengan pintu yang dihiasi dengan ukiran bunga-bungaan yang indah namun sudah mulai memudar akibat usia.

Kakek Sembilan berdiri di depan lemari tersebut, meletakkan tas kanvas nya di atas meja kayu yang terletak di sebelahnya. Ia melihat ke arah Ridwan dengan mata yang serius namun penuh dengan kasih sayang. “Aku menemukan barang-barang ini bersamaan dengan kamu di pinggir sungai, nak,” katanya dengan suara yang pelan namun jelas. “Mereka berada di dalam sebuah tas kecil yang kamu bawa—tas yang sudah sobek dan hampir hancur akibat terkena air dan tanah.”

Ia kemudian menarik erat ujung kain yang digunakan untuk mengikat rambutnya, membuka bagian belakang kain tersebut untuk mengambil sebuah kunci kecil yang terbuat dari besi tua. Kuncinya memiliki bentuk yang unik, seperti daun melati yang sedikit membengkok akibat usia. “Kunci ini adalah satu-satunya cara untuk membuka bagian dalam lemari ini—bagian yang aku sediakan khusus untuk menyimpan barang-barang milik ibumu.”

Dengan hati-hati, Kakek Sembilan menusukkan kunci ke dalam lubang kunci yang terletak di bagian bawah pintu lemari, tepat di tengah ukiran bunga melati. Ada suara klik yang lembut namun jelas terdengar, dan kemudian ia menarik pintu lemari dengan perlahan. Di dalam lemari, selain rak-rak yang penuh dengan barang-barang biasa, terdapat sebuah bagian yang lebih dalam dan tersembunyi—sebuah ruang tersembunyi yang hanya bisa diakses dengan menarik salah satu rak kayu yang bisa digeser.

Setelah menggeser rak tersebut, sebuah ruang kecil namun rapi terbuka di hadapan mereka. Cahaya dari jendela kecil di sisi ruangan menerangi isi ruangan tersebut, membuat Ridwan terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. Di atas permukaan kayu yang halus dan bersih, terdapat tumpukan buku-buku tua dengan kulit sampul yang sudah mulai menguning dan sobek di beberapa bagian. Di tengah buku-buku tersebut, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang dihiasi dengan ukiran bunga melati yang sangat detail dan indah.

“Buku-buku itu adalah koleksi ilmu pengobatan kuno yang dimiliki ibumu,” ujar Kakek Sembilan sambil mengambil salah satu buku dengan hati-hati. Ia membukanya dengan lembut, menunjukkan halaman-halaman yang penuh dengan tulisan tangan rapi dan gambar-gambar tanaman obat yang digambar dengan sangat detail. “Ibumu bukan hanya seorang pengusaha yang sukses, nak. Dia juga seorang ahli pengobatan tradisional yang sangat berbakat—dia belajar dari neneknya sebelum dia pergi dari keluarga nya untuk menikahi ayahmu.”

Ridwan mendekat dengan hati-hati, melihat buku-buku tersebut dengan mata yang penuh dengan kagum dan kagetan. Ia melihat beberapa judul yang tertulis di sampul buku—“Ilmu Pengobatan Tanaman Lokal Jawa Barat”, “Rahasia Ramuan untuk Kesehatan Tubuh dan Jiwa”, “Cara Menanam dan Mengolah Tanaman Obat”. Setiap buku terlihat sangat berharga, bukan hanya karena usianya yang tua namun juga karena nilai ilmu yang terkandung di dalamnya.

“Ia selalu membawa buku-buku ini di mana pun dia pergi,” lanjut Kakek Sembilan, sambil menelusuri halaman salah satu buku dengan jari nya yang kasar namun lembut. “Ketika aku menemukan kamu di pinggir sungai, tas kecil yang kamu bawa berisi buku-buku ini dan kotak kayu itu. Kamu telah menggenggam tas tersebut dengan sangat erat, seolah tahu bahwa ini adalah barang-barang yang sangat berharga.”

Kemudian Kakek Sembilan mengambil kotak kayu kecil yang terletak di tengah buku-buku tersebut. Kotaknya terbuat dari kayu cendana yang memberikan aroma harum yang khas, dan ukiran bunga melati di atasnya tampak begitu hidup seolah sedang mekar di bawah sinar matahari. Ia membuka tutup kotak dengan perlahan, dan di dalamnya terdapat sebuah cincin yang terbuat dari logam putih dengan permata biru kecil di tengahnya, dikelilingi oleh ukiran bunga melati yang sangat detail dan indah.

“Cincin ini adalah warisan keluarga ibumu, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan penghormatan. Ia mengambil cincin tersebut dengan hati-hati menggunakan kedua tangannya, kemudian memberikannya kepada Ridwan. “Hanya diberikan kepada anak-anak keluarga Wijaya yang dianggap layak untuk membawa nama keluarga dengan bangga. Ibumu mengenakan cincin ini setiap saat, bahkan pada hari terakhir hidupnya.”

Ridwan menerima cincin tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar, merasa beratnya yang cukup namun tidak menyakitkan di telapak tangannya. Permata biru di tengahnya bersinar dengan indah di bawah sinar matahari yang masuk melalui jendela, dan ukiran bunga melati di sekelilingnya terasa sangat halus ketika ia menyentuhnya dengan ujung jari nya. Ia melihat bagian dalam cincin, dan di sana terdapat tulisan kecil yang diukir dengan sangat rapi: “Dewi Wijaya – Untuk Anakku yang Tercinta”.

“Ia pernah mengatakan padaku bahwa cincin ini memiliki makna yang sangat dalam bagi keluarga nya,” lanjut Kakek Sembilan, melihat Ridwan yang sedang menatap cincin dengan penuh kagum. “Bunga melati melambangkan kesucian hati dan kesetiaan, sementara permata biru melambangkan kebijaksanaan dan perlindungan. Keluarga Wijaya percaya bahwa cincin ini akan selalu melindungi pemiliknya dari bahaya dan membimbingnya ke jalan yang benar.”

Ridwan merasa getaran yang hangat mengalir melalui tubuhnya ketika ia mengenakan cincin tersebut di jari manis kirinya. Cincin tersebut pas sekali di jari nya, seolah memang dibuat khusus untuknya. Ia melihat refleksi dirinya di permukaan logam putih yang mengkilap, melihat wajahnya yang kini penuh dengan rasa tanggung jawab dan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.

“Ibu pernah bilang bahwa cincin ini adalah bukti bahwa aku adalah bagian dari keluarga besar yang mencintai aku,” ujar Ridwan dengan suara yang sedikit gemetar, ingatan tentang ibunya kembali muncul dengan sangat jelas di benaknya. “Dia bilang bahwa jika suatu hari aku merasa tersesat atau sendirian, aku hanya perlu melihat cincin ini dan ingat bahwa aku tidak pernah sendirian.”

Kakek Sembilan mengangguk dengan penuh pengertian, menepuk bahu Ridwan dengan lembut. “Ibumu adalah orang yang sangat mencintaimu, nak,” katanya. “Dia telah menyediakan segala sesuatu yang kamu butuhkan untuk menghadapi dunia luar—ilmu pengetahuan dari buku-buku ini, dan perlindungan serta kekuatan dari cincin tersebut. Sekarang terserah padamu untuk menggunakan semuanya dengan bijak.”

Ia kemudian mengambil semua buku-buku tersebut dengan hati-hati, menaruhnya ke dalam tas kanvas yang telah ia bawa. “Buku-buku ini adalah milikmu sekarang, Ridwan,” ujarnya sambil memberikan tas tersebut kepada Ridwan. “Pelajari setiap halaman dengan saksama—ilmu yang terkandung di dalamnya tidak hanya akan membantu kamu menyembuhkan orang lain, tapi juga akan membantu kamu menghadapi segala tantangan yang akan datang.”

Ridwan menerima tas tersebut dengan kedua tangan, merasakan beratnya yang cukup akibat banyaknya buku di dalamnya. Ia merasa seperti sedang menerima warisan yang sangat berharga—warisan yang tidak hanya berisi ilmu pengetahuan namun juga cinta dan harapan dari ibunya yang telah lama tiada. Ia melihat ke arah cincin yang dikenakan di jari nya, kemudian melihat ke arah buku-buku yang ada di dalam tas, merasa kekuatan yang baru muncul di dalam dirinya.

“Kamu sudah siap untuk pergi, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Hutan telah mengajarkan kamu semua yang perlu kamu ketahui untuk bertahan hidup, dan sekarang warisan ibumu akan membimbingmu untuk mendapatkan keadilan yang pantas kamu terima. Jangan pernah lupa siapa kamu dan dari mana kamu berasal.”

Ridwan mengangguk dengan tegas, matanya sudah mulai melihat ke arah jalan keluar dari hutan. Ia tahu bahwa perjalanan yang akan ia tempuh tidak akan mudah, bahwa ia akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya di jalan menuju Bandung. Tapi dengan buku-buku pengobatan kuno milik ibunya dan cincin warisan keluarga yang dikenakan di tangannya, ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan dan perlindungan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu.

Cahaya matahari pagi semakin tinggi di langit, menyinari jalan yang akan ia tempuh. Di hatinya, Ridwan berjanji kepada ibunya dan kepada dirinya sendiri bahwa ia akan menggunakan warisan ini dengan bijak, bahwa ia akan mencari kebenaran tentang kematian ibunya, dan bahwa ia akan mengambil kembali haknya yang telah dirampas oleh orang-orang yang telah menyakitinya. Waktu telah tiba untuk meninggalkan keamanan hutan dan menghadapi dunia luar—dunia yang seharusnya menjadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!