Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Bawah
Malam turun menyelimuti Kaki Gunung Awan Hijau. Jika Puncak Utama adalah tempat tinggal para dewa yang sunyi dan agung, maka Kaki Gunung adalah tempat berkumpulnya manusia fana yang hidup dan bising.
Di sanalah terletak Pasar Bawah, sebuah area perdagangan tidak resmi di mana para Murid Pelayan, Murid Luar, dan pedagang keliling bertukar barang.
Cahaya lampion kertas merah bergelantungan di sepanjang jalan setapak, menerangi wajah-wajah yang penuh harap dan keserakahan. Aroma dupa murah, sate daging spiritual bakar, dan keringat bercampur menjadi satu.
Di tengah keramaian itu, Ren Zhaofeng berjalan perlahan.
Kain putih penutup matanya membuatnya menonjol di antara kerumunan. Beberapa orang minggir karena kasihan, yang lain karena jijik. Namun Zhaofeng tidak peduli. Dia sedang "membaca" pasar itu.
Bagi Zhaofeng, pasar ini bukan pemandangan visual, melainkan sebuah simfoni yang rumit.
Ting... Ting... (Suara koin tembaga beradu di meja judi). Gluk... Gluk... (Suara arak dituangkan ke mangkuk). Srek... (Suara pedang ditarik setengah dari sarungnya untuk diperiksa).
Dia meraba kantong uang di pinggangnya. Isinya menyedihkan: Tiga Batu Roh tingkat rendah dan lima puluh keping tembaga. Itu adalah hasil tabungannya selama tiga bulan bekerja sebagai penyapu.
"Harga satu butir Pil Penguat Tulang adalah sepuluh Batu Roh," batin Zhaofeng sambil menghela napas. "Dengan uang ini, aku bahkan tidak bisa membeli kotak kemasannya."
Tanpa pil kultivasi, menembus Penempaan Tubuh Tahap 2 dalam satu bulan adalah hal mustahil bagi orang dengan bakat rata-rata sepertinya. Dia butuh jalan pintas. Atau keberuntungan.
Zhaofeng berjalan melewati deretan kios yang menjual senjata. Para pedagang berteriak-teriak mempromosikan barang dagangan mereka.
"Pedang Baja Murni! Ditempa oleh Master Li! Bisa memotong besi seperti lumpur!" "Tombak Ular Perak! Diskon khusus untuk Murid Luar!"
Zhaofeng mendengarkan getaran logam-logam itu. Telinganya menangkap ketidaksempurnaan mikroskopis dalam struktur besi mereka.
Kring... (Suara logam pedang baja murni itu terlalu nyaring, ada rongga udara di dalamnya). Bum... (Tombak itu berat sebelah, gagangnya tidak seimbang).
"Semuanya sampah," gumam Zhaofeng kecewa. Senjata-senjata "hebat" ini bahkan tidak memiliki separuh dari kepadatan Pedang Karat miliknya yang ada di gubuk.
Dia terus berjalan hingga mencapai sudut pasar yang paling sepi dan gelap. Di sini, para pedagang menjual barang-barang aneh yang tidak teridentifikasi: pecahan artefak kuno, bijih tambang yang belum dimurnikan, atau tulang binatang buas.
Tiba-tiba, langkah Zhaofeng terhenti.
Di antara hiruk-pikuk suara pasar—teriakan, tawa, denting logam—telinganya menangkap sesuatu yang aneh.
Atau lebih tepatnya, dia menangkap ketiadaan suara.
Ada sebuah titik sunyi di sebelah kirinya, sekitar lima langkah jauhnya. Seolah-olah suara bising pasar "ditelan" oleh sesuatu di titik itu.
Zhaofeng berbelok mendekati sebuah lapak kumuh. Penjualnya adalah seorang kakek tua yang sedang tertidur, mendengkur keras. Di atas tikar usang, tergeletak berbagai macam rongsokan: gagang cermin pecah, patung kayu yang hangus, dan beberapa bongkahan batu hitam.
Fokus Zhaofeng tertuju pada salah satu bongkahan batu hitam seukuran kepalan tangan.
Batu itu jelek, permukaannya kasar dan berpori seperti batu apung. Tidak ada aura Qi yang memancar darinya. Bagi mata biasa, itu hanya sampah.
Tapi bagi telinga Zhaofeng, batu itu bernyanyi.
Bukan nyanyian melodi, melainkan dengungan frekuensi rendah yang sangat dalam dan berat. Vrrrrmmm... Getarannya mirip dengan suara Pedang Karat miliknya saat sedang "lapar".
"Kakek," panggil Zhaofeng sopan.
Si kakek terbangun, menguap lebar, memperlihatkan gigi kuningnya. Dia melirik Zhaofeng, lalu mendengus meremehkan saat melihat pakaian murid pelayan dan mata yang tertutup kain.
"Mau beli apa, Nak Buta? Kalau cari sedekah, salah tempat."
Zhaofeng mengabaikan hinaan itu. Dia menunjuk ke arah cermin pecah (sebagai pengalihan). "Berapa harga cermin ini?"
"Dua Batu Roh," jawab kakek itu asal. "Itu pecahan Cermin Hati Iblis. Masih ada sisa sihirnya."
Zhaofeng menggeleng. "Terlalu mahal. Bagaimana dengan patung kayu itu?"
"Satu Batu Roh."
"Masih mahal," Zhaofeng pura-pura kecewa. Tangannya kemudian "tidak sengaja" menyenggol batu hitam yang menjadi target aslinya. "Lalu, batu ganjal pintu ini?"
Kakek itu melirik batu hitam tersebut dengan malas. "Oh, itu. Itu cuma Bijih Besi Meteorit gagal. Terlalu keras untuk ditempa, tidak bisa dilebur api biasa. Kalau kau mau, ambil saja lima puluh keping tembaga."
Jantung Zhaofeng berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar.
"Lima puluh keping tembaga untuk batu pemberat kertas? Baiklah, setidaknya bisa untuk menahan pintu gubukku agar tidak tertiup angin."
Zhaofeng mengeluarkan koin-koin tembaganya dan meletakkannya di tikar. Dia mengambil batu hitam itu.
Saat kulitnya bersentuhan dengan permukaan batu, Zhaofeng merasakan sensasi dingin yang menusuk, seolah batu itu mencoba menghisap panas tubuhnya.
"Terima kasih, Kek."
Zhaofeng segera berbalik dan pergi sebelum si kakek berubah pikiran. Dia berjalan cepat meninggalkan pasar, menahan keinginan untuk berlari.
Dia baru saja mendapatkan harta karun. Dia yakin itu.
Sesampainya di gubuk kayunya yang sunyi, Zhaofeng mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
Dia meletakkan batu hitam itu di atas meja. Lalu, dia mengeluarkan Pedang Besi Karat dari bawah tempat tidur.
Reaksi yang terjadi instan.
Saat Pedang Karat itu didekatkan ke batu hitam, Zhaofeng mendengar suara dengungan yang semakin keras. Vrrrrmmm!
Pedang itu bergetar di tangannya, seolah-olah seekor anjing kelaparan yang melihat daging segar. Karat di permukaannya berdenyut dengan cahaya merah samar—fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Kau menginginkannya?" bisik Zhaofeng takjub.
Dia menempelkan bilah pedang itu ke permukaan batu hitam.
Krak!
Bukan suara benturan keras, melainkan suara renyah seperti telur pecah.
Di depannya, dia mendengar proses yang menakjubkan. Pedang Karat itu... memakan batu tersebut.
Energi esensi logam dari batu hitam itu disedot keluar, mengalir masuk ke dalam pori-pori pedang yang berkarat. Batu hitam itu perlahan berubah warna menjadi abu-abu, lalu hancur menjadi debu halus.
Sementara itu, Pedang Karat mengalami perubahan.
Sepotong karat di bagian tengah bilah—sepanjang satu jari—rontok, memperlihatkan logam hitam kelam yang berkilau dingin di bawahnya. Bagian yang bersih itu memancarkan aura tajam yang mengerikan.
Dan bukan hanya itu.
Sebagian energi dari batu itu tidak diserap habis oleh pedang, melainkan mengalir balik ke gagang pedang, masuk ke telapak tangan Zhaofeng, dan merambat ke lengan kanannya.
"Ugh!"
Zhaofeng mengerang tertahan. Rasanya seperti ada aliran besi cair yang disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Sakit, panas, dan berat.
Energi itu merobek otot-otot halusnya, lalu dengan cepat memperbaikinya kembali menjadi lebih padat, lebih keras, dan lebih ulet.
Tulang lengan kanannya berderak.
Pop. Pop. Pop.
Suara letupan kecil terdengar dari persendiannya. Zhaofeng berkeringat dingin, napasnya memburu. Dia menggertakkan gigi, menahan rasa sakit itu dengan tekad baja.
Sepuluh menit kemudian, sensasi panas itu mereda.
Zhaofeng terengah-engah, tubuhnya basah kuyup. Namun saat dia mengepalkan tangan kanannya, dia merasakan kekuatan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Cengkeramannya terasa solid seperti catut besi.
"Penempaan Tubuh... Tahap 2," gumamnya tak percaya.
Dia baru saja naik tingkat hanya dengan menyerap sisa energi dari pedangnya?
Zhaofeng meraba bagian bilah pedang yang kini bersih dari karat. Logam itu terasa sangat dingin. Dia mencabut sehelai rambutnya dan menjatuhkannya ke atas bilah itu.
Helaian rambut itu terputus dua bahkan sebelum menyentuh logam, terpotong oleh "Niat Tajam" yang memancar darinya.
"Batu itu adalah Bijih Besi Gema," simpul Zhaofeng, mengingat legenda yang pernah didengarnya samar-samar. "Dan pedang ini... dia bisa memurnikan esensi logam untuk dirinya sendiri dan membagi sisanya untuk tuannya."
Mata Zhaofeng bersinar di balik kain penutupnya.
Masalah sumber daya kultivasinya terpecahkan. Dia tidak butuh pil. Dia butuh logam berkualitas tinggi. Pedang ini adalah jembatannya menuju kekuatan.
"Satu bulan lagi..." Zhaofeng tersenyum tipis, penuh percaya diri. "Li Dong, siapkan lehermu. Aku akan datang."
💪